Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Perasaan jadi ibu


__ADS_3

Badan Gita rasanya mau


patah semua, matanya rasanya tak pernah mau terbuka lagi setiap pagi. Tubuhnya rasanya


lemah,letih lesu.


“Hai bestie, bagaimana


kabar lo sekarang?” tanya Fara sambil menarik tangan Gita hingga terduduk.


“Sumpah, capek banget. Gue


rasanya kalau pagi tidak bisa membuka mata. Maunya tidur terus.” Rengek Gita.


“Ya begitu kalau anak


masih bayi, pasti bakalan lebih banyak begadang. Tapi nanti semakin besar


bakalan semakin enak kok. Nggak bangun-bangun.” Kata Fara menguatkan Gita.


“Tapi lo senang kan?”


tanya Anita.


“Tentu saja, gue senang


banget. Dia itu lucu banget jadi gemes pingin banget gue gigit tahu.” Capek


Gita langsung hilang kalau sudah melihat wajah Aiden yang sangat imut. Semua rasanya


hilang saja, meskipun rasa capek nanti kumat lagi.


“Iya, dia emang gemesin


banget.” Anita mengelus pipi Aiden.


“Ponakan gue emang


nggak tanggung-tanggung gantengnya, bisa saingan nih sama Rafa.”


“Kakak adik nggak boleh


saingan, mereka akan menjadi bestie yang sangat keren.” Kata Gita. Dia tidak


mau Rafa dan Aiden bersaing, dia mau mereka menjadi seperti dirinya dan Raka.


“Iya..iya. bestie


forever.”


“Nit,” panggil Gita


serius.


“Em?”


“Kejadian kemarin terus


gimana?” Gita menanyakan kelanjutan kejadian setelah mereka menemui Bayu di


Jogja.


“Ya nggak ada


kelanjutan.” Jawab Anita dengan datar.


“Loh.. kok nggak ada


kelanjutan gimana sih.” Fara kesal.


“Iya, kan dia harusnya


melakukan sesuatu bukannya malah diam saja. Ih.. kesel banget gue, rasanya nih


pingin gue cakar-cakar itu ibu mertua lo.” Emosi Gita sampai ubun-ubun.


“Mungkin, dia sudah


nggak suka lagi sama gue. Buktinya sampai sekarang dia tidak menghubungi gue.”


Katanya dengan susah. Tenggorokannya penuh, air matanya pun langsung menetes. Anita


kini semakin sering menangis.


“Dasar lelaki kardus,


tahu begini nggak gue restuin dulu.” Omel Gita sembari mengelus punggung Anita


biar tenang.


“Benar sekali, bukannya


belain istrinya malah terus ikutin kemauan ibunya.”


“Bukankah kalau anak


laki-laki itu tetap milik ibunya.”

__ADS_1


“Iya benar, tapi ya


lihat dulu konteksnya kayak gimana.”


“Anita, lupain aja deh


Kak Bayu, dia nggak berguna. Gimana kalau gue jodohin lo saja sama Vian. Dia


itu perhatian banget dan pastinya akan terima lo apa adanya.” Tiba-tiba Gita


menjodohkan Anita sama Vian.


“Iya gue setuju.”


“Kalian apaan sih, gue


itu lagi sedih tahu malah main jodoh-jodohin lagi.” Anita menghapus Air matanya


yang masih saja mengalir deras.


“Gini Nit, dia aja bisa


seperti itu harusnya lo juga harus tunjukin sama keluarganya Kak Bayu kalau lo


juga udah punya calon yang lebih ganteng, lebih baik dari dia.” Kata Fara.


“Gue nggak butuh orang


ganteng, gue hanya butuh orang yang setia dan mau menerima gue apa adanya. Sayang


sama gue selamanya.”


“Itu ada di Vian semua


Nit, dia memang nggak ganteng tapi dia baik, penyayang dan juga peduli loh.”


Kata Gita.


“Eh.. kalian kenapa


jadi plin-plan tadi katanya Vian ganteng, sekarang nggak ganteng.” Anita


menghirup napas dalam-dalam.


“Tenang, Vian itu bisa


mengikuti kemauan lo kok. Mau jadi ganteng bisa, jelek emang udah dari lahir.”


Malam ini Gita mnunggu


kepulanagan Gilang di ruangan depan, dia menggendong Aiden sambil melihat tv.


gendongin?” tanya Bik Siti.


“Nggak usah bik, lagian


kan sekarang udah jatahnya Gita. Kalau besok pagi baru bibik.” Gita sudah membuat


jadwal kalau yang mengurus Aiden kalau malam Gita dan Gilang dan pagi Bik Siti.


“Sayang..” Panggil


Gilang dari luar. Dia langsung berlari mendekati Aiden.


“Eh.. cuci tangan dulu.”


Gita menghalangi Gilang yang ingin mencium Aiden.


“Dikit aja sayang, aku


tuh kangen.”


“Nggak boleh, cuci


tangan, mandi dulu aja.” Gita tetap tidak memberikan ijin.


“Kalau gue boleh kan.”


Vian yang di belakang Gilang pun langsung nyosor.


“No...no..no... kalian


berdua mandi sana baru boleh mencium dan gendong baby Ai.”


“Ok deh, gue numpang


mandi disini.” Kata Vian langsung bergegas pergi ke kamar tamu.


“Kalau yang ini boleh


kan.” Gilang mencium pipi Gita.


“Sayang, kan udah di


bilang mandi dulu.” Gita manyun.


“Iya..iya. Pelit aman

__ADS_1


nih istri aku.”


Vian turun lebih dulu


karena dia memang pergi lebih duluam dari pada Gilang.


“Git, siniin nih baby


Ai.” Vian meminta Aiden untuk di gendongnya.


“Lo kan bukan bapaknya,


kenapa mau gendong Aiden dulu. Biarin Kak Gilang dulu kenapa.” Gita masih belum


mau memberikan Aiden  untuk dia.


“Kenapa emangnya?”


“Eh.. nannti kalau taunya


dia lo itu bapaknya kan repot. Nggak boleh biarin Kak Gilang dulu yang gendong.”


Kata Gita.


“Ya Tuhan pelit amat


ini emak-emak satu. Baby Ai juga nggak mungkin salah pilih bapaknya kali.


Ngadi-ngadi ini bocah.” Vian langsung merebut saja dari tangan Gita.


“Heh..hati-hati anak


gue bisa jatuh. Itu ngeluarinnya susah tahu. Tapi benar juga dia juga tahu mana


bapaknya mana tukang rujak kan.” Kata Gita sambil terkekeh.


“Sembarangan mulut lo.


Hey baby Ai kalau udah gede jangan kayak mak lo ya mulutnya lancip banget. Pedes


dengarnya, kayak bapak lo aja.”


“Eh lo, dia anak gue


juga kenapa harus mirip bapaknya semua.”


“Lo no good.”


“Gue gaplok juga lo.”


“Ada apaan sih


ribut-ribut mulu, bisa ngga kalau ketemu itu kalem damai bukannya malah


berantem mulu. Kasian Aiden.” Gilang mengambil dari tangan Vian. Namun Vian


langsung menghindar dia belum puas menggendong Aiden.


“Ya ampun Lang, gue


juga belum puas gedong Baby Ai.” Kata Vian.


“Gue juga udah kangen


kali.”


“Eh.. kasih nggak ke


bapaknya, atau gue tendang.” Ancam Gita.


“Istri lo emang serem


Lang, mainnya tangan. Gue bisa laporin nih karena kasus KDP.”


“Apaan KDP?”


“Kekekrasan Dalam


Pertemanan.”


“Idih bodo amat.”


Gilang geleng kepala,


dia membawa sedikit menjauh Aiden dari Vian dan emaknya yang terus saja beradu


mulut.


“Kita disini dulu ya


sayang, mama kalau udah perang sama paman Vian nggak akan ada habisnya.” Kata


Gilang sembari menimang Aiden.


Capek yang di rasakan


Gilang pun sekejab terobati oleh keimutan Aiden. Padahal hari ini dia sangat

__ADS_1


sibuk, tapi dia tidak bisa mengabaikan putranya itu.


__ADS_2