
Badan Gita rasanya mau
patah semua, matanya rasanya tak pernah mau terbuka lagi setiap pagi. Tubuhnya rasanya
lemah,letih lesu.
“Hai bestie, bagaimana
kabar lo sekarang?” tanya Fara sambil menarik tangan Gita hingga terduduk.
“Sumpah, capek banget. Gue
rasanya kalau pagi tidak bisa membuka mata. Maunya tidur terus.” Rengek Gita.
“Ya begitu kalau anak
masih bayi, pasti bakalan lebih banyak begadang. Tapi nanti semakin besar
bakalan semakin enak kok. Nggak bangun-bangun.” Kata Fara menguatkan Gita.
“Tapi lo senang kan?”
tanya Anita.
“Tentu saja, gue senang
banget. Dia itu lucu banget jadi gemes pingin banget gue gigit tahu.” Capek
Gita langsung hilang kalau sudah melihat wajah Aiden yang sangat imut. Semua rasanya
hilang saja, meskipun rasa capek nanti kumat lagi.
“Iya, dia emang gemesin
banget.” Anita mengelus pipi Aiden.
“Ponakan gue emang
nggak tanggung-tanggung gantengnya, bisa saingan nih sama Rafa.”
“Kakak adik nggak boleh
saingan, mereka akan menjadi bestie yang sangat keren.” Kata Gita. Dia tidak
mau Rafa dan Aiden bersaing, dia mau mereka menjadi seperti dirinya dan Raka.
“Iya..iya. bestie
forever.”
“Nit,” panggil Gita
serius.
“Em?”
“Kejadian kemarin terus
gimana?” Gita menanyakan kelanjutan kejadian setelah mereka menemui Bayu di
Jogja.
“Ya nggak ada
kelanjutan.” Jawab Anita dengan datar.
“Loh.. kok nggak ada
kelanjutan gimana sih.” Fara kesal.
“Iya, kan dia harusnya
melakukan sesuatu bukannya malah diam saja. Ih.. kesel banget gue, rasanya nih
pingin gue cakar-cakar itu ibu mertua lo.” Emosi Gita sampai ubun-ubun.
“Mungkin, dia sudah
nggak suka lagi sama gue. Buktinya sampai sekarang dia tidak menghubungi gue.”
Katanya dengan susah. Tenggorokannya penuh, air matanya pun langsung menetes. Anita
kini semakin sering menangis.
“Dasar lelaki kardus,
tahu begini nggak gue restuin dulu.” Omel Gita sembari mengelus punggung Anita
biar tenang.
“Benar sekali, bukannya
belain istrinya malah terus ikutin kemauan ibunya.”
“Bukankah kalau anak
laki-laki itu tetap milik ibunya.”
__ADS_1
“Iya benar, tapi ya
lihat dulu konteksnya kayak gimana.”
“Anita, lupain aja deh
Kak Bayu, dia nggak berguna. Gimana kalau gue jodohin lo saja sama Vian. Dia
itu perhatian banget dan pastinya akan terima lo apa adanya.” Tiba-tiba Gita
menjodohkan Anita sama Vian.
“Iya gue setuju.”
“Kalian apaan sih, gue
itu lagi sedih tahu malah main jodoh-jodohin lagi.” Anita menghapus Air matanya
yang masih saja mengalir deras.
“Gini Nit, dia aja bisa
seperti itu harusnya lo juga harus tunjukin sama keluarganya Kak Bayu kalau lo
juga udah punya calon yang lebih ganteng, lebih baik dari dia.” Kata Fara.
“Gue nggak butuh orang
ganteng, gue hanya butuh orang yang setia dan mau menerima gue apa adanya. Sayang
sama gue selamanya.”
“Itu ada di Vian semua
Nit, dia memang nggak ganteng tapi dia baik, penyayang dan juga peduli loh.”
Kata Gita.
“Eh.. kalian kenapa
jadi plin-plan tadi katanya Vian ganteng, sekarang nggak ganteng.” Anita
menghirup napas dalam-dalam.
“Tenang, Vian itu bisa
mengikuti kemauan lo kok. Mau jadi ganteng bisa, jelek emang udah dari lahir.”
Malam ini Gita mnunggu
kepulanagan Gilang di ruangan depan, dia menggendong Aiden sambil melihat tv.
gendongin?” tanya Bik Siti.
“Nggak usah bik, lagian
kan sekarang udah jatahnya Gita. Kalau besok pagi baru bibik.” Gita sudah membuat
jadwal kalau yang mengurus Aiden kalau malam Gita dan Gilang dan pagi Bik Siti.
“Sayang..” Panggil
Gilang dari luar. Dia langsung berlari mendekati Aiden.
“Eh.. cuci tangan dulu.”
Gita menghalangi Gilang yang ingin mencium Aiden.
“Dikit aja sayang, aku
tuh kangen.”
“Nggak boleh, cuci
tangan, mandi dulu aja.” Gita tetap tidak memberikan ijin.
“Kalau gue boleh kan.”
Vian yang di belakang Gilang pun langsung nyosor.
“No...no..no... kalian
berdua mandi sana baru boleh mencium dan gendong baby Ai.”
“Ok deh, gue numpang
mandi disini.” Kata Vian langsung bergegas pergi ke kamar tamu.
“Kalau yang ini boleh
kan.” Gilang mencium pipi Gita.
“Sayang, kan udah di
bilang mandi dulu.” Gita manyun.
“Iya..iya. Pelit aman
__ADS_1
nih istri aku.”
Vian turun lebih dulu
karena dia memang pergi lebih duluam dari pada Gilang.
“Git, siniin nih baby
Ai.” Vian meminta Aiden untuk di gendongnya.
“Lo kan bukan bapaknya,
kenapa mau gendong Aiden dulu. Biarin Kak Gilang dulu kenapa.” Gita masih belum
mau memberikan Aiden untuk dia.
“Kenapa emangnya?”
“Eh.. nannti kalau taunya
dia lo itu bapaknya kan repot. Nggak boleh biarin Kak Gilang dulu yang gendong.”
Kata Gita.
“Ya Tuhan pelit amat
ini emak-emak satu. Baby Ai juga nggak mungkin salah pilih bapaknya kali.
Ngadi-ngadi ini bocah.” Vian langsung merebut saja dari tangan Gita.
“Heh..hati-hati anak
gue bisa jatuh. Itu ngeluarinnya susah tahu. Tapi benar juga dia juga tahu mana
bapaknya mana tukang rujak kan.” Kata Gita sambil terkekeh.
“Sembarangan mulut lo.
Hey baby Ai kalau udah gede jangan kayak mak lo ya mulutnya lancip banget. Pedes
dengarnya, kayak bapak lo aja.”
“Eh lo, dia anak gue
juga kenapa harus mirip bapaknya semua.”
“Lo no good.”
“Gue gaplok juga lo.”
“Ada apaan sih
ribut-ribut mulu, bisa ngga kalau ketemu itu kalem damai bukannya malah
berantem mulu. Kasian Aiden.” Gilang mengambil dari tangan Vian. Namun Vian
langsung menghindar dia belum puas menggendong Aiden.
“Ya ampun Lang, gue
juga belum puas gedong Baby Ai.” Kata Vian.
“Gue juga udah kangen
kali.”
“Eh.. kasih nggak ke
bapaknya, atau gue tendang.” Ancam Gita.
“Istri lo emang serem
Lang, mainnya tangan. Gue bisa laporin nih karena kasus KDP.”
“Apaan KDP?”
“Kekekrasan Dalam
Pertemanan.”
“Idih bodo amat.”
Gilang geleng kepala,
dia membawa sedikit menjauh Aiden dari Vian dan emaknya yang terus saja beradu
mulut.
“Kita disini dulu ya
sayang, mama kalau udah perang sama paman Vian nggak akan ada habisnya.” Kata
Gilang sembari menimang Aiden.
Capek yang di rasakan
Gilang pun sekejab terobati oleh keimutan Aiden. Padahal hari ini dia sangat
__ADS_1
sibuk, tapi dia tidak bisa mengabaikan putranya itu.