Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Olahraga


__ADS_3

Pelajaran olahraga sedikit menyenangkan buat Kyra, dia bisa merefresh otaknya. Dia bisa duduk-duduk manis, tampa berpikir keras.


"Surga dunianya sekolah buat gue, jadi bisa sedikit santai," ujar Kyra.


"Gue nggak suka, panas, capek, banyak gerak," keluh Dinda. Dia lebih senang duduk di kursi berac dari pada harus bergerak dengan panas yang menyengat dan membuat kulitnya hitam.


"Asyik tahu, kita bisa santai. Otak kita sedikit dingin," pilihan Erina sama dengan Kyra.


Mereka duduk bertiga melihat anak-anak yang sedang berlatih voli di lapangan luar.


"Mau minum nggak?" tanya Rafa.


Erina mengangguk, Rafa membukakan tutup botol lalu memberikan air mineral dingin.


"Makasih," jawab Erina lalu meminumnya.


"Uuhuuy, gemes banget ah," Dinda meremas tangan Kyra.


"Dinda, sakit!” seru Kyra. Dia meniup tangannya memerah dan panas.


“Jangan sembarangan lo ya,” Aiden menepuk punda Dinda, lalu menarik tangan Kyra. Dia meniup tangan Kyra. Kyra mendadak diam, jantungnya berdegup kecang, suhu tubuhnya memanas.


“Ih, kok pada mesra-mesraan sih. Kan gue jadi iri,” Dinda manyun melihat dirinya yang berasa jomblo. Padahal Kyra juga sebenarnya jomblo hanya saja memiliki Aiden yaitu teman rasa pacar.


“Nih minum biar nggak panas,” Luki menempelkan botol mineral dingin di pipi kanan Dinda.


Dinda ingin mengambilnya namun langsung dinaikan sama Luki. Dinda mendengus, kesal seperti dipermainkan sama Luki.


“Lo niat nggak sih kak kasih gue,” Dinda manyun.


Luki tersenyum melihat Dinda manyun, malah gemes dimatanya. Luki memberikan airnya saat tutupnya sudah terbuka. Dinda yang keburu kesal enggan menerima minumnya.


“Tuh, giliran ada yang romantis dianggurin,” ujar Erina.


Dinda semakin manyun, dia melirik sembari perlahan mengangkat tangannya untuk menerima pemberian Luki. Namun dari belakang Ibob menyambar air itu dan langsung meneguknya.


“Kak Ibob! Ih, itukan punya gue!” seru Dinda.


“Makanya jangan banyak drama tinggal ambil juga, disamber orang kan,” kata Kyra.


“Sorry, gue kira lo nggak mau. Kan gue kasihan sama Luki,” Ibob memberikan air mineral yang masih seperempat.

__ADS_1


“Ih, ogah. Itu kan sudah kena bibir lo. Yang ada bibir gue nggak perawan lagi gara-gara minum bekas lo,” cicit Dinda yang membuat semua yang berada di situ melongo.


“Heh, lo dapat ilmu dari mana kayak begitu?” ingin sekali Aiden menempeleng kepala Dinda.


“Heh! Memangnya gue mau gitu sama lo.” Ibob langsung meneguk habis air di botol lalu memberikan kepada Dinda. Dinda melempar botol itu kembali dan mengenai perut Ibob.


“Duh, gimana dong yang baru habis. Tinggal bekas gue?” Luki mengangkat botol yang ada di tangan kirinya.


Dinda pun langsung mengambil dan meneguknya, kemudian memberikan kepada Luki.


“Lo,lo itu kan bekas Luki kenapa lo minum. Nah lo ketahuan kan lo mau nggak perawan sama Luki!” Ibob menunjuk-nunjuk Dinda.


“Wah, lampu hijau ini Luk. Buruan ambil bunga di taman depan,” goda Aiden.


“Uhuuy, tinggal Ibob nih yang jomblo akut,” ejek Rafa.


“Ih apaan sih kalian,” wajah Dinda merah merona, dia nggak tahu kalau bakalan diceng-cengin gara-gara kemakan omongan sendiri. Dia asal ambil karena dia sudah haus banget.


“Lagi ngomongin apaan ini kok seru banget,” Sila datang mau gabung keseruan Aiden bersama yang lain.


“Nggak ada,” jawab Rafa.


“Lo kenapa ketus banget sih sama gue, gue tahu lo belum bisa keputusan gue. Tapi jangan musuhin gue dong,” ucapnya dengan wajah memelas namun sedikitpun tidak mendapatkan simpati dari mereka.


Sila yang sedang ingin memerankan dramanya pun gagal. Gara-gara disuruh kumpul dan mempraktekkan gerakan voly. Mereka langsung berpasang-pasang Sila mendekati Aiden.


“Ai, gue sama lo ya,” ujar Sila sembari membawa bola.


Kyra menggigit bibir bawahnya lalu berputar mencari pasangannya karena dia telat.


“Sorry, gue sudah pasangan sama Kyra,” katanya Aiden yang membuat Kyra langsung berbalik badan.


“Lo mending cari yang lain.” Aiden meninggalkan Sila, dia mengajak Kyra menuju sisi lapangan yang lain agar jauh dari Sila.


Sila menghentakkan kakinya, dia kesal banget setelah usahanya terus di patahkan sama Aiden.


“Gue kan sudah bilang, lo nggak akan bisa mendapatkan Aiden. Dia nggak suka sama lo,” kata Rafa.


“Sebenarnya dia itu suka sama gue, tapi hanya gara-gara lo dia jadi menghindar seperti ini. Semua ini salah lo tahu nggak?” Sila benci sama Rafa. Dia pikir semua ini ulah Rafa.


“Oiya, kalau saja memang benar Aiden menyukai lo. Belum tentu juga bisa bersatu, restu gue juga tidak bisa di lewatkkan sebagai kakaknya,” Rafa tersenyum mengejek. Dia menang atas semua, pacar Aiden juga akan masuk seleksinya.

__ADS_1


Sila geregetan banget, kalau bisa dia ingin menghilangkan Rafa agar bisa dengan Aiden.


“Jangan pernah berpikir macam-macam, karena semua itu akan berbalik ke diri lo sendiri,” kata Rafa.


Rafa berlari mendekati Erina, Sila menggenggam tangannya. Dia akan membuktikan sama Rafa kalau dia bisa mendapatkan Aiden. Dan bisa memiliki tanpa harus mendapatkan restu darinya.


Sila terus memandangi Aiden dan Kyra, yang membuat Kyra merasa risih.


“Sila mantan lo ya?” Kyra memberanikan diri bertnya langsung meskipun sudah di beri tahu sama Erina hubungan mereka berdua dulu.


“Bukan.” Aiden melempar bola kearah Kyra.


“Terus kenapa dia terus mengejar lo?”


“Nggak tahu,” Aiden malas membahas tentang Sila. Orang yang sudah dia hindari beberapa bulan ini malah kembali lagi.


Sila cemburu melihat Aiden dan Kyra yang tampak intens, dengan sengaja dia memukul bola kearah Kyra sampai mengenai kepalanya.


“Ahh,” Kyra memegangi kepalanya. Pukulannya itu membuat Kyra merasa sangat pusing.


“Sorry,sorry nggak sengaja.” Kata Sila sambil mendekati Kyra dan Aiden. Dia pura-pura sok baik untuk menutupi kelakuannya.


“Lo bisa hati-hati nggak sih?” bentak Aiden. “sakit banget ya?” Aiden mengelus kepala Kyra.


Sila mendengus kesal, kenapa bukannya pergi dan dia yang menggantikan justru dia lebih manis sama Kyra.


“Lo mau istirahat dulu?” tanya Aiden.


“Terus lo nanti pasangan sama siapa?”


“Iya mending lo istirahat dulu, gue anterin ke tepi lapangan. Biar Aiden berpasangan sama gue.” kata Sila. Dia tidak masalah mengantar Kyra sampai rumahnya pun asal dia bisa berpangan dengan Aiden.


“Gue bisa sendiri kok,” kata Kyra masih memegangi kepalanya.


“Gue bantuin,” Aiden merangkul Kyra agar tidak jatuh. Tekena bola voly super keras itu serasa terkena benda berat di kepalanya. Bisa saja dia pingsan kalau tidak kuat.


Aiden mengantar Kyra di tepi lapangan setelah meminta izin sama guru yang mengajar.


“Lo nggak usah ke mana-mana. Nanti kalau butuh sesuatu bilang saja sama gue.”


“Gue itu cuma sedikit pusing, bukan sakit parah,” Kyra tertawa keci. Aiden pun ikut tertawa, dia mengusap rambut Kyra.

__ADS_1


“Gue ke sana dulu,” katanya sambil berlari menuju tengah lapangan.


“Padahal masih banyak yang ingin gue tanyakan,” gumamnya.


__ADS_2