Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Rencana


__ADS_3

Derrzzt...derrrzz... Ponsel Gilang terus berbunyi, Gita melirik melihat ke layar. Nomor yang tidak ada namanya.


"Halo." Gilang mengangkat di depan Gita.


"Pak Gilang, kenapa anda tidak datang?" katanya.


"Maaf saya ada urusan keluarga, lagian saya sudah menyuruh Lila datang bukan." Kata Gilang.


"Pak, saya mengundang anda bukan sekretaris anda. Bapak mengerti tidak, kenapa sih nggak peka."


"Sebenarnya mau kamu itu apa?"


"Pak Gilang, saya itu suka sama bapak. Harusnya bapak mengerti perasaan saya dan apa yang selama ini saya lakukan." Lia kesal karena tidak mendapat tanggapan dari Gilang.


"Saya juga sudah bilang, kalau saya sudah punya istri. Kamu lebih baik cari orang lain saja yang masih lajang, muda dan lebih baik dari saya." jelas Gilang.


Gita tersenyum, meskipun Gilang tidak mengatakan undangan yang di berikan Lia namun dia menunjukan penolakannya.


"Saya tidak peduli pak, saya mau kok di jadikan yang kedua. Saya rela menjadi yang kedua. Tidak ada yang sempurna dan sebaik bapak di dunia ini." Lia tetap ngotot mau bersama Gilang.


"Dasar gila." Kata Gilang sambil mematika ponselnya. Wajahnya berubah kesal karena Lia ngeyel mengejarnya, itu akan berdampak pada hubungannya dengan Gita.


"Lia ya?" tanya Gita.


"Iya, dia ngeyel sekali. Gue harus bagaimana ngomongnya." Ujar Gilang.


"Memang cewek satu harus gue kasih pelajaran." Fara mengepalkan tangannya.


"Heh.. Sayang kamu mau ngapain?" Ujar Raka dia takut Fara melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.


"Fara, lo jangan aneh-aneh lo." Gita memleringatkan Fara.


"Cuma gue jambak-jambak saja." kata Fara.


"Memangnya Lia itu siapa?" Anita penasaran.


"Orang yang tergila-gila sama kak Gilang." kata Gita.


"Wah bahaya nih." kata Anita.


"Tenang Gilang juga nggak bakalan nanggepin dia, tadi saja dapat undangan Mbak Lila yang berangkat." Kata Vian.

__ADS_1


Gilang memegang tangan Gita, dia menatap dengan penuh harapa agar Gita tidak cemburu padanya dan tidak terjadi kesalahpahaman.


"Gue percaya kok, Kak Gilang tidak akan pernah berpaling dari gue." Gita tersenyum sembari memegang tangan Gilang. Gilang merasa sangat lega melihatnya.


"Tapi gimana kalau dia terus mengejar, haruskah kita kasih pelajaran. Memangnya perempuan mana yang tahan melihat suaminya di kejar perempuan lain." Celoteh Fara tanpa di filter.


"Iya, pastilah hidup nggak akan tenang." tambah Anita.


"Tenang saja kalian, gue biasa aja. Selagi Kak Gilang tidak merespon gue tidak masalah." Kata Gita. Gita mendelik kearah Anita dan Fara bergantian.


"Kamu harus percaya sama aku."


"Kalian ya jangan macam-macam. Awas kalian ketahuan melakukan sesuatu. Vian, awasi meraka."


"Siap."


"Iya..iya nggak percayaan banget sama istri-istri yang cantik ini." Kata Fara.


"Kita nggak bar-bar lagi yakan Far." Kata Gita.


"Noh dengarkan adikmu wahai paduka raja Raka." goda Fara yang menbuat semua tertawa.


Suasana yang sempat tegang kini mulai mencair lagi. Mereka melupakan masalah Lia yang terus menganggu Gilang.


"Far, lo jangan terlalu bar-bar kenapa?" Kata Gita saat menunggu para suami yang sedang mengambil mobil.


"Iya, nanti kan mereka curiga kalau kita bakalan melakukan sesuatu." Anita setuju dengan perkataan Gita.


"Anita lo jangan mendesak gue, orang lo juga bar-bar. Tapi Git memangnya lo bakalan diam saja."


"Tentu saja tidak, tapi gue kesusahan bergerak kesana kemari." Kata Gita menunjukan perutnya.


"Kita ajak ketemuan saja dia, atau kalau tidak kita labrak dia ke rumah atau kantornya."


"Jangan labrak-labrak lah, lebih baik ajak saja bertemu. Takutnya Kak Gilang sama yang lain tahu malah gagal rencana kita." kata Anita.


"Benar, gini saja biar gue temui dia baik-baik saja dulu. Nanti gue ajak ngobrol berdua gue bakalan tanya apa muanya dia. Kalau ada apa-apa baru kalian samperin gue."


"Ide bagus tuh." Anita setuju.


"Ok deh, kapan emang kita bakalan meluncur." tanya Fara.

__ADS_1


"Besok, saat jam makan siang." kata Gita.


"Ok. Anita apa lo juga bakalan tinggal diam saja? Lo nggak mau cari tahu apa sebenarnya yang terjadi sama kak Bayu?"tanya Fara.


Anita terdiam, dia juga bingung harus bagaimana.


"Kalau lo belun siap tidak usah di paksa, hal terburuk dari kekepoan lo ini adalah sakit hati yang lebih dari ini." Gita memegang pundak Anita.


"Sayang, buruan naik." panggil Gilang.


"Iya. Jangan terlalu di pikirkan jika hal ini berat. Lupakan saja istirahatkan pikiran lo. Katakan saja sama kita jika lo mau melepaskan semua beban lo maka kita tidak akan pernah menanyakan masalah ini lagi." Gita tersenyum, dia berjalan menuju mobil Gilang.


"Sayang, buruan kalian lagi buat strategi pa ha?"tuduh Raka.


"Apaan sih, orang kita ngobrolin film saja. Nit duluan ya, lo bareng Vian kan?"


"Iya, kalian hati-hati ya."


"Ok."


Mobil Gilang dan Raka melaju lebih dulu, Gita melihat ke arah spion lalu duduk dengan lurus.


"Kamu ngobrolin apa sama mereka?" tanya Gilang.


"Tentang Kak Bayu." Jawab Gita masih melihat lurus.


"Bayu?"


"Ya, kan dia sama sekali tidak menanyakan kabar Anita. Pasti aneh kan mana bisa suami istri tanpa berkomunikasi kalau tidak ada masalah." kata Gita.


"Ya mungkin sedang menenangkan hatinya, agar waktu ketemu bisa bicara dengan tenang dan tidak emosi. Cowok suka malas meladeni cewek kalau marah suka tidak mendengarkan penjelasan. Daripada tersulut emosi mending diam dulu."


"Oo jadi begitu ya kalau lelaki itu, kamu juga begitu kalau nggak ngasih kabar aku." Gita menatap Gilang.


"Loh.. Loh.. Kok jadi aku. Aku kan cuma menggambarkan."


"Tapi kan kamu juga laki-laki, ngomong saja kalau kamu tidak ngabarin aku karena malas." Gita menglipat kedua tangannya di dada.


"Nggak sayang, mana ada aku malas sama kamu."


"Bohong banget." Gita manyun, dia turun dari mobil langsung nyelonong masuk.

__ADS_1


"Salah bicara nih gue, bisa-bisanya jadi ngambek begitu. Gara-gara Bayu nih gue jadi kena imbasnya." Gilang geleng kepala, dia menyesal menanyakan tentang obrolan Gita bersama sahabatnya.


__ADS_2