Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Ngambek III


__ADS_3

Wanda mengelus lembut rambut Gita, putri kecilnya yang kini sudah mau menjadi ibu.


"Udah mau jadi ibu saja kamu sayang, rasanya baru kemarin kamu mama gendong, ajarin jalan." kata Wanda pelan.


Tok...Tok...Tok....


"Buk, ada mas Gilang." kata bibik.


"Iya Bik." Wanda pelan-pelan beranjak turun dari kasurnya. Dia takut membangunkan Gita yang baru saja terpejam.


"Gilang." sapa Wanda.


"Mama." Gilang langsung meraih tangan Wanda lalu menciumnya.


"Iya, duduk." Kata Wanda.


"Gita kemana Ma?" Gilang celingukan mencari keberadaan Gita.


"Udah tidur, kamu mau menginap disini juga?" tanya Wanda.


"Iya Ma, Gilang nggak bisa tidur kalau nggak ada Gita." Gilang merenges.


"Kamu bisa aja, Gilang boleh mama tanya sesuatu?"


"Iya Ma, mama mau tanya apa?" Gilang deg-degan melihat raut wajah mama mertuanya yang terlihat serius.


"Apa kalian sedang ada masalah?" Wanda menatap lekat Gilang.


"Tidak kok Ma, kami baik-baik saja. Memangnya ada apa Ma?" Gilang gelisah. Takut Gita ngadu mamanya tidak mempercayainya.


"Tidak, hanya saja mama merasa ada yang aneh sama Gita. Gilang, harap kamu tidak pernah menyakiti Gita, jangan buat dia sedih atau menangis." Pesan Wanda.


"Iya Ma, Gilang selalu berusaha untuk buat Gita dan calon anak Gilang bahagia." Kata Gilang tegas.


"Makasih ya Gilang, udah mau jaga Gita." Wanda menepuk pundak Gilang.


"Gilang boleh tidur sama Gita nggak ma?" Gilang menggaruk kepalanya. Wajahnya memerah karena malu.


"Ya tentu, Gita ada di kamar mama. Mau tidur di sana sekalian apa mau pindah?"


"Pindah aja ma,"


Gilang di antar Wanda ke kamarnya, dia langsung memindak ke kamar Gita yang dulu.


"Gilang mau makan dulu?" tanya Wanda.


"Nggak Ma, tadi Gilang udah makan di kantor."


"Kalau begitu mama keluar dulu, selamat istirahat ya." Wanda menutup pintu.


Gilang berbaring di samping Gita, dia melihat wajah Gita yang terlihat sangat lelah hingga dia terlelap.


"Kamu kenapa sih begini, aku kan takut kalau kamu pergi tinggalin aku." Kata Gilang pelan. Dia mengusap wajah Gita kemudian mengecup kening Gita lalu perut Gita.


Gita meregangkan kedua tangannya, dia berusaha duduk meskipu dengan sedikit tenaga karena sudah sangat susah. Dia mengusap pinggangnya yang terasa pegal, Gita mengucek kedua matanya saat melihat Gilang ada di sampingnya.


“Kangen banget ya sama Kak Gilang, sampai-sampai aku terus melihat Kak Gilang.” Gita manyun. Dia merasa terus melihat Gilang, Gita merebahkan badanya lagi.

__ADS_1


Gita mencolek pipi Gilang, “Dasar, nakal. Kenapa sih selalu saja bikin kangen. Sampai-sampai aku terus di bikin halu.”


Gilang menarik Gita dalam pelukannya, dia lengsung melebarkan matanya.


“Loh..loh... kok nyata. Aku nggak halu.” Gita masuk dalam dekapan Gilang.


“Sayang, kamu ngapain sih pagi-pagi ngomong sendiri.” Kata Gilang dengan mata masih terpejam.


“Loh.. kan aku di rumah mama, apa Kak Gilang datang terus bawa aku pulang lagi?” batin Gita sambil melepaskan pelukan Gilang. Dia perlahan turun dari kasur.


Gita keluar kamar dia mencari mamanya ke dapur, “Ma.” Panggil Gita.


“Iya sayang, udah bangun?” Tanya Wanda yang sedang sibuk membuatkan sarapan.


“Kok Kak Gilang bisa ada disini?” tanya Gita sambil duduk di kursi.


“Iya semalam dia datang, katanya nggak bisa tidur kalau nggak sama kamu. Jadi nyusulin kamu kesini.”


“Em.” Gita ngangguk-angguk.


“Kenapa kok kayaknya nggak senang Gilang datang kemari, apa jangan-jangan kalian lagi berantem ya?” Wanda membalikan tubuhnya, dia menatap Gita menginginkan


kejujuran dari putrinya itu.


“Nggak Ma, kan Gita kesini mau tidur sama mama. Kangen gitu.”


“Gita, mama mau kasih tahu sama kamu ya. Apapun masalah kamu sama Gilang, dan mau berantem sehebat apapun sama Gilang jangan pernah kamu lari. Selagi masih bisa


diselesaikan berdua jangan pernah kamu membawa orang ketiga masuk dalam permasalahan rumah tangga kamu. Karena itu hanya akan membawa masalah baru


bukan solusi. Jadi tunggu semuanya dingin dulu, baru kalian bicarakan lagi.”


“Kamu mengertikan maksud mama?” Wanda takut Gita salah mengerti dengan nasehatnnya.


“Gita mengerti ma.”


“Ya sudah, sekarang bangukan suami kamu. Lekas sarapan, kalian nggak mau telat ke kantor kan?” Wanda mengusap rambut Gita lalu menciumnya.


“Iya ma,” Gita beranjak pergi ke kamar untuk membangunkan Gilang.


Gita masuk perlahan, dia mematikan lampu kamar dan membuka tirai beserta jedela kamarnya. Udara semilir memasuki kamar Gita, Gilang yang merasa tubuhnya dingin langsung menarik selimut sehingga menutupi semua tubuhnya.


“Sayang, bangun.” Gita duduk lalu menggoyangkan tubuh Gilang, namun Gilang tidak kunjung bangun.


“Sayang, nanti kamu telat loh ke kantor kalau nggak bangun-bangun.” Gita menggoyangkan tubuh Gilang lebih cepat. Gilang membuka matanya, tubuhnya masih terasa capek


sehingga dia enggan untuk bangun.


“Lima menit lagi.” Katanya kembali memejamkan matanya.


“Sayang, ayolah. Nanti kamu terlambat.” Gita menarik tangan Gilang.


“Iya..iya bangun.” Gilang duduk. Dia melihat Gita lekat, banyak hal yang ingin dia sampaikan dan juga tanyakan. Namun rasanya mulut Gilang tidak mampu.


“Kenapa sih memandangi aku seperti itu?” Gita jadi salting.


“Kamu cantik sih.” Gilang merenges.

__ADS_1


“Gombal, Kak Gilang ngapain nyusulin Gita kesini?”


“Kamu masih marah ya sampai nggak mau ketemu sama aku?” Gilang balik bertanya.


“Gita nggak marah.” Jawabnya datar.


“Kalau nggak marah kenapa kamu kesini sendiri, pamit juga lewat pesan doang. Aku telpon nggak diangkat, sayang sumpah aku tuh nggak ngapa-ngapain aku hanya sayang sama kamu nggak ada yang lain.” Gilang memegang kedua lengan Gita.


“Percaya sama aku sayang, aku tidak akan pernah tergoda sama siapapun. Kamu adalah wanita pertama dan terakhirku. Tidak ada yang lain.” Tambah Gilang untuk meyakinkan Gita lagi.


“Gombal.”


“Benar sayang, perasaan aku sama kamu tidak akan pernah berubah.”  Gilang memegang kedua tangan Gita, lalu menciumnya.


“Sayang, bilang sama mama kalau papa cinta mati sama kamu.” Bisik Gilang di dalam perutnya. Gita langsung tersenyum lebar.


“Tuh kan kalau sama kamu mama langsung tersenyum.” Lirik Gilang.


“Kalau senyum begini kan cantiknya nambah berkali-kali lipat, jadi tambah sayang.” Kata Gilang.


“Dasar tukang gombal.”


“Nggak gombal sayang, beneran.” Gilang memegang pipi Gita yang mirip bakpau. Dia kemudian memajukan wajahnya, Gita memejamkan kedua matanya saat bibir Gilang


menyentuh bibirnya.


Gilang sangat merindukan vitamin paginya yang beberapa hari ini tidak dia dapatkan karena Gita ngambek. Dia selalu saja menolak jika Gilang ingin menciumnya.


“Manisnya masih selalu sama, dingin lembut seperti es crema.” Kata Gilang.


“Dasar gombal.” Gita hendak berajak karena malu namun Gilang belum mau jauh dari Gita, dia kembali menarik Gita dalam pelukannya dan ingin mencium Gita terus. Gita memang selalu bikin candu dirinya.


“Sayang, ini udah siang. Nanti kita telat loh.”  Gita menaruh tangan di bibir Gilang sebelum mendarat di bibirnya.


“Sebentar lagi, aku masih kangen sama kamu.”


“Sayang, lihat itu jam berapa.”  Gita menunjuk jam di diding.


“Ya udah kalau nggak mau, aku nggak mau ke kantor.” Gilang menjatuhkan tubuhnya di kasur.


Gita tersenyum, melihat tingkah suaminya yang kekaknak-kanakan. Gita ikut merebahkan tubuhnya lagi, dia langsung memberikan ciuman sebentar.


“Sudah kan, ayo anak pintar harus nurut ya.” Gita mengacak-acak rambut Gilang.


“Masih belum tersasa.” Gilang masih ingin terus menciumi sang istrinya, dia


benar-benar ingin terus melakukannya.


"Sebenarnya aku mau meminta lebih dari ini. Apa boleh?" bisik Gilang yang mendapat pukulan kecil dari Gita.


"Ingat, ada bayi disini. Sabar dong sayang" Gita mengusap perutnya.


"Hah.. bayi sampai kapan kamu di dalam perut."


"Sampai waktunya tiba, udah ah sayang buruan mandi."


"Nanti kalau udah keluar bayi kita, aku mau meminta hakku. Pokonya semalam full." Ujar Gilang sambil berjalan ke kamar mandi.

__ADS_1


"Lihat itu bayi, papa kamu lucu kan." Gita mengusap perutnya.


__ADS_2