
Senin pagi, seperti biasa upacara bendera. Semua anak bersiap-siap bergegas ke lapangan sebelum mendapatkan peringatan dan di bawa ke barisan sebelah guru oleh keamanan sekolah.
“Ini matahari ada sepuluh kali ya, panasnya sempurna amat,” protes Ibob.
“Bersyukur, bersyukur. Lo mah nggak ada syukur-syukurnya. Di kasih panas ngeluh, dikasih hujan ngeluh,” komentar Erina yang ada di barisan depan Ibob.
“Memang lo nggak panas?” Ibob menatap Erina dengan tatapan sinis.
“Panas sih,” ucapnya nyengir.
“Ini sengaja kali kepala sekolah mau menjadikan kita ikan asin,” Aiden pun ikut komentar.
“Keluar-keluar kita sudah kering, cryspi siap makan,” tambah Ibob.
Tiga orang ini terlihat kasak-kusuk sendiri karena cahaya matahati di senin pagi.
“Ehem,” terdengar deheman dari belakang seketika mereka diam, obrolan mereka terputus saat ada keamanan sekolah.
Setelah semua keringat keluar, upacara pun berakhir. Mereka ada waktu lima belas menit sebelum pelajaran dimulai.
“Gila ya, ini panas sekali. Tenggorokan gue kek padang pasir tandus amat,” ujar Ibob. Dia menyeruput es teh yang baru saja di terimanya dari ibu kantin.
*****
“Erina,” panggil Dinda.
“Apa?” Erina menaruh buku yang baru saja dia ambil dari tasnya lalu menatap Dinda yang berdiri di sampingnya.
“Gimana rasanya dicium,” Dinda tersenyum dengan menggerak-gerakkan kedua alisnya.
Wajah Erina langsung memerah, dia malu banget karena menjadi tontonan teman-temannya kemarin.
“Apaan sih,” Erina menggeplak tangan Dinda.
“Pakai malu-malu segala,” kata Kyra dari belakang.
“Udah sana pada balik ke kursi lo ah,” Erina tidak mau menceritakan.
“Ih pelit , kita kan cuma mau tahu ya Ky,” Dinda masih tidak mau kembali ke kursinya.
“Deg-degan nggak sih?” tanya Kyra.
“Memangnya kalian belum pernah di cium sama mantan-mantan kalian?” tanya Erina yang langsung di awab dengan gelengan kepala dari keduanya.
“Luki,” panggil Erina sembari melambaikan tangan agar Luki maju ke kursinya.
__ADS_1
“Eh, kenapa lo suruh Luki ke sini?” Dinda mendadak panik.
“Ada apa?” kata Luki saat berdiri di samping Dinda.
“Noh, Dinda belum pernah dicium,” ujar Erina.
“Terus?” Luki mengerutkan keningnya, heran dengan Erina.
“Ya ciumlah.”
“Erina, lo gila ya!” Dinda medelik.
“Sinting lo,” Luki menggelenkan kepala. Dia berbalik ke kursinya lagi, sia-sia saja dia datang mendekati Erina keluh dalam hati.
“Lo ya,” Dinda mencubit Erina.
Kyra hanya tertawa melihat Dinda yang dibuat malu sama Erina.
“Gimana lo mau nggak?” bisik Aiden di telinga Kyra. Saking kagetnya sampai dia terduduk di kursinya.
Kyra menatap kearah Aiden sembari memegangi dadanya. “Lo kenapa sih tiba-tiba di samping gue.”
“Kangen,” ujarnya masih dengan tersenyum. Kyra bergidik mendengar perkataan Aiden yang aneh banget.
“Ai, bisa anterin gue ke uks nggak? Perut gue sakit,” katanya sambil memegangi perutnya.
Obrolan manis Aiden dan Kyra terputus, mereka langsung fokus kearah Sila yang sedikit menunduk dan memegangi perutnya.
“Lo kenapa?” Kyra beranjak lalu meminta Sila duduk di kursinya.
“Tamu bulanan datang, jadi perut gue rasanya nyeri,” ujarnya dengan semakin menundukan tubuhnya agar mereka semakin yakin kalau dirinya sakit.
“Ai, tolong bawa dia. Pasti sakit banget perutnya,” ucap Kyra tidak tega. Dia tahu apa yang di rasakan oleh Sila.
Demi kemanusiaan Aiden pun memapah Sila ke uks, dia mengesampingkan hatinya yang tidak suka dengan Sila. Namun semua itu di manfaatkan oleh Sila. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.
Aiden membantu Sila rebahan di kasur, Sila dengan cepat menarik tangan Aiden sehingga dia sedikit membungkuk. Tangannya mengungkung dirinya. Sila menatap lekat wajah ganteng yang dimiliki Aiden.
Aiden mengangkat tubuhnya namun Sila mengalungkan tangannya di leher Aiden. Sehingga semakin mendekat, tanpa rasa malu Sila membuka satu kancing bajunya untuk menggoda Aiden.
“Lo gila ya!” katanya sambil berdiri.
“Ai, tunggu,” Sila memeluk Aiden saat hendak meninggalkannya.
“Lepaskan gue!” Aiden melepaskan paksa pelukannya.
__ADS_1
“Ai, gue suka sama lo. Kenapa lo tidak memberikan kesempatan sama gue,” ujarnya.
“Lo plin plan sekali ya, lo kemarin bilang suka sama Rafa. Bahkan sampai bergelayutan saat di depan Bu Ariyani. Sekarang lo bilang suka sama gue. Apa lo sudah tidak punya harga diri?” Aiden menatap Sila dengan kasihan.
“Soal itu gue nggak sungguh-sungguh Ai. Gue itu hanya suka sama lo, percaya sama gue.” Sila jadi bingung, ucapannya di depan Bu Ariyani kini jadi bumerang bagi dirinya sendiri.
“Gue nggak peduli lo mau beneran atau tidak, tapi jangan pernah berbuat seperti ini lagi. Itu hanya akan membuat lo semakin rendah di mata lelaki. Lo bisa saja dimanfaatkan orang, lo bisa di rusak lalu di tinggalkan. Ingat itu, gue berkata seperti ini sebagai teman sekelas lo,” kata Aiden lalu keluar meninggalkan Sila.
Aiden berdiri di ambang pintu. “Jangan hancurkan masa depan lo sendiri, karena kecerobohan lo.”
Sila mematung, rasanya tertampar oleh omongan Aiden. Dia kenapa jadi berubah bodoh hanya karena obsesinya mendapatkan cinta dari Aiden.
“Bagaimana Sila?” tanya Kyra khawatir.
“Nggak tahu,” jawabnya sambil ke tempat duduknya.
Kyra heran mengapa Aiden menjadi nggak mood setelah mengatar Sila. Kyra melihat kearah Dinda yang dijawab dengan kedua bahu yang terangkat.
*****
Aiden merasa tidak nyaman istirahat kali ini, dia merasa seperti sedang di bicarakan sama orang-orang yang di lewatinya.
“Kok gue rasa mereka terus melihat gue. Apa ada yang aneh sama gue?” tanya Aiden sama Ibob, Luki dan Rafa.
“Berhenti sebentar,” pinta Ibob.
Aiden menuruti saja, setelah itu dia memutar tubuh Aiden dan melihatnya dari ujung sepatu sampai ujung rambutnya.
“Tidak ada,” ujar Ibob.
“Perasaan lo saja kali,” kata Rafa.
“Mungkin,” kata Aiden masih dengan rasa penasarannya.
Saat sampai di kantin perasaan itu tak hilang, mereka saling berbisik saat Aiden melewatinya. Mereka sepertinya sedang menggunjung dirinya.
“Gue rasa ada yang tidak beres ini, gue nggak biasanya dilihati seperti ini,” ujar Aiden. Dia merasa risih karena terus dipandangi, dia merasa sedang di awasi.
“Kenapa kalian melihat Ai seperti itu?” ucap Luki dengan wajah garangnya.
Mereka yang sedang menggunjing Aiden langsung kabur, dia takut sama Luki yang sudah seperti preman. Luki kembali kesetelan pabrik yaitu galak dan seram.
“Kalian merasa nggak sih ada yang aneh?” kata Aiden. Dia sudah berusaha untuk cuek namun terlu banyak yang melihatnya dengan tatapan tidak biasa sehingga membuatnya semakin tidak nyaman.
“Biar gue cari tahu,” Ibob turun tangan mencari info yang sedang terjadi pada sahabatnya itu.
__ADS_1