
Erina berdiri di samping Aiden dengan membawa kotak yang di berikan oleh Sila.
“Ngapain lo berdiri di situ?” tanya Rafa.
“Ai, tolong ya ini di terima. Gue bisa di usir dari rumahnya kalau lo nggak mau makan ini,” jelas Erina dengan sangat memohon.
“Lo tinggal di rumahnya?” tanya Ibob.
“Iya, orang tua gue tinggal di kampung. Jadi gue numpang sama dia,” jelasnya.
Erina menerima numpang bersama Sila ketika mereka bertemaan dekat. Erina menerimanya karena bisa ngirit, uang buat bayar kos bisa ia belanjakan yang lain.
“Berarti dia nggak ikhlas sama lo,” kata Aiden.
“Sila ikhlas kok,” Erina masih saja membela Sila.
“Kalau ikhlas dia tidak akan mengancam lo seperti ini,” jawab Aiden.
“Tunggu saja lo akan di tagih sama dia, dengan semua yang telah dia berikan selama ini,” ujar Luki.
Erina terdiam, ia melihat kearah Aiden, Ibob, Luki dan Rafa yang sudah kembali menikmati makanannya. Benar juga yang di katakan keempat sekawan itu, kalau memang Sila ikhlas pasti tidak akan memberikan syarat apapun.
Aiden melirrik lalu tersenyum, “Duduk,” pinta Aiden kepada Erina.
Erina menaruh kotak yang di peganginya hampir lima belas menit, ia lalu duduk di samping Aiden dan Luki.
“Makan,” Aiden meminta Erina makan nasi kotak yang di berikannya itu.
“Lo yang benar saja, gue bisa di usir tahu sama Sila,” Erina menolak permintaan Aiden yang akan menyusahkan dirinya sendiri.
“Kalau gue sih mendingan lo keluar dari sana sebelum lo semakin tersiksa,” jelas Rafa.
“Betul, mendingan kos sendiri,” sahut Ibob.
Erina menunduk, memang benar hidup sendiri jauh lebih bahagia dari pada menumpang. Meskipun hidup di tempat yang bagus hatinya sering tersakiti, di remehkan. Kadang di jadikan seperti pembantu.
“Sudah buruan makan, lo mau kasih ini sama gue kan,” Aiden menatap Erina.
Erina membuka tutup kotak, lalu memakannya dengan ragu.
“Lo pikirkan saja matang-matang, gue ada tempat kalau lo mau kos di tempat gue,” Rafa menawari tempat kos untuk Erina.
“Iya.”
Erina merasa terharu dengan keempat cowok itu, mereka sangat baik meskipun ia tak kenal dekat. Pantes saja Sila terpesona sama Aiden, selain baik ia seperti pusat di keempat orang ini.
__ADS_1
*****
Langkah Erina terhenti saat ada Sila yang berdiri tepat di depan pintu kelas, dia melipat dadanya dengan mata yang menatap tajam.
“Sil,” sapa Erina ragu-ragu.
“Erina, lancang lo ya,” maki Sila.
“Lancang kenapa?” Erina bingung.
“Gue bilang kasih makanan tadi sama Aiden, tapi kenapa lo justru duduk sama mereka dan memakannya,” Sila kesal.
Sila iri kepada Erina, harusnya dia yang duduk bersama emoat sekawan itu bukan Erina.
“Gue sudah kasih sama Ai, tapi dia malah suruh gue duduk sama dia,” kata Erina dengan takut-takut.
“Lo kan bisa menolak bego, awas saja lo sampai deketin dia. Gue bakalan usir lo dari rumah gue,” ujarnya semari masuk ke kelas meninggalkan Erina.
Erina menatap kepergian Sila dengan pandangan yang nanar, yang di katakan Luki benar. Ternyata Sila memang tidak ikhlas kepadanya.
Selama ini dia hanya terlalu buta karena ingin menghemat biaya sampai tidak memikirkan hatinya yang sering di remehkan.
Erina masuk, ia tidak duduk melainkan berdiri di samping Sila. Sila melipat tangannya di dada, wajahnya sedikit dinaikkan dengan senyuman sinis darinya.
“Gue mau keluar dari rumah lo,” ujar Erina.
Sila kaget, jawaban dari Erina di luar pikirannya. Biasanya Erina akan menuruti semua yang dimintanya meskipun mendapatkannya dengan susah payah.
“Terima kasih selama ini sudah memberikan tumpangan sama gue,” kata Erina sembari duduk di samping Sila setelah mengungkapkan isi hatinya.
“Maksud lo apa?” Sila duduk menyampig sehingga bisa melihat Erina dengan jelas.
“Gue mau mandiri Sil, biar nggak banyak ngerepotin lo,” jelas Erina sembari tersenyum. Ia sebisa mungkin tersenyum kepada Sila agar tidak tersinggung meskipun dalam hatinya sakit.
“Erina, kenapa mendadak. Lo nggak suka gue bilang kayak tadi?”
“Nggak Sil, gue sudah memikirkan ini sejak lama.”
*****
Luki mengernyitkan kening saat melihat tidak jauh dari kelas ada Erina, sepertinya dia sedang menunggu seseorang.
“Ada apa Luk?” tanya Aiden.
“Itu Erina kan, Ngpain dekat kelas kita?” tanya Luki sembari melihat kearah Aiden. Aiden mengangkat dua bahunya.
__ADS_1
“Palingan juga mau ketemu sama Ai, buat ngasih barang-barang dari Sila,’ sahut Rafa.
“Bisa jadi,” Ibob nongolin kepalanya dari bawah.
Erina yang sadar sudah menjadi pusat perhatian empat sekawan itu langsung nyamperin mereka.
“Ada apa?” tanya Ibob sembari berdiri. “Ai, tidak menerima pemberian dari Sila,” tambahnya.
“Nggak kok, gue ke sini cuma mau tanya yang tadi soal kos-kosan masih ada?” Erina melihat kearah Rafa.
“Lo jadi mau pindah?” tanya Rafa.
“Setelah gue pikir-pikir benar juga kata kalian, jadi gue memutuskan untuk pindah,” kata Erina.
“Ok, masih ada kok satu kamar yang kosong. Kapan lo mau pindah?”
“Ini gue baru mau kemasin barang, boleh bagi nomor lo biar gue bisa hubungin lo kalau gue sudah siap,” Erina mengeluarkan ponselnya.
“Boleh.”
“Gimana kalau sekalian kita bantu Erina pindahan?” usul Ibob.
“Boleh juga, kasian kan kalau bawa barang banyak,” Aiden menyetujuhi ide dari Ibob.
“Nggak usah, gue malah merepotkan kalian lagi,” Erina tidak enak. Di bantuin dapatkan kos-kosan saja sudah terima kasih.
“Nggak usah sungkan,” kata Rafa.
Mereka berempat mengantar Erina, kalau sampai seluruh sekolah tahu apalagi Sila pasti akan sangat iri. Bisa bareng sama empat sekawan yang katanya sudah di tembus pertemanannya.
Tak lama mereka sudah sampai di rumah besar tiga lantai, Erina bergegas turun untuk mengambil barag-barangnya. Sila yang melihat Erina membawa cowok-cowok ganteng itu langsung kegirangan.
“Erina, lo bawa mereka ke rumah gue. Ya ampun gue nggak nyangka banget. Gue bakalan jajanin lo sebulan penuh,” katanya sembari memegang kedua tangan Erina.
Dia pikir Erina mengajak empat sekawan itu untuk di pertemukan dengan dirinya. Sila merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena dia habis rebahan.
“Sil, tapi gue ke sini mau ambil barang-barang gue. Gue jadi keluar rumah lo hari ini,” jelas Erina sebelum Sila salah paham berkepanjangan.
“Jadi mereka ke sini bukan untuk menemui gue?” wajahnya langsung berubah suram.
“Gue keatas dulu ya Sil,” izin Erina kepada Sila.
Erina menggelengkan kepalanya, ia bergegas masuk ke kamarnya untuk berkemas. Erina tidak enak kalau mereka berempat harus menunggunya terlalu lama.
“Memang tidak tahu diri Erina, selama ini gue sudah menampung dia. Ini balasanya,” Sila kesal.
__ADS_1