Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Membeli Gaun


__ADS_3

Mereka bertiga masuk ke ruangan dengan pede, tanpa merasa bersalah sekalipun. Bahkan Win pun tidak berani menegur gara-gara waktu godain Gita. Tiba-tiba Gilang datang. Dia tidak mau mendadak di pecat.


"Eh.. Kalian habis dari mana jam segini baru datang." Kata Vian.


"Nggak darimana-mana, kita dari depan saja."


"Ngapain coba, gibah pasti." tuduh Vian.


"Kepo lo." kata Gita. Gita duduk dan langsung fokus dengan komputer di depannya.


"Teman-teman kalian kerja yang benar, gue mau kalian memberikan laporan sebelum pulang kerja. Gue, Ina sama Nino akan pergi bertemu klien. Ingat jangan aneh-aneh." Kata Win sebelum pergi. Dia memeperingatkan mereka karena yang tinggal di ruangannya hanya orang-orang yang bikin onar.


"Siap Mas Win." jawab serentak.


Sepeninggalan Win, Vian menyeret kursinya mendekati Anita.


"Nit," panggil Vian pelan agar Fara dan Gita tidak mendengar dan ngrecokin dirinya.


"Ya."


"Untuk besok lo udah beli gaunnya belum?" tanya Vian.


"Belum, gue masih bingung mau datang atau tidak." kata Anita yang kembali bimbang.


"Lo bimbang lagi?" tanya Vian. Anita mengangguk pelan.


"Apa yang bikin lo bimbang? Lo takut tidak bisa move on dari Bayu?"


"Mungkin, tapi gue juga bingung kalau kesana nanti gue harus apa?" Kedua mata Anita berkaca-kaca.


"Kan gue udah bilang, ikutin saja skenario gue. Lo pasti akan puas." Kata Vian.


"Baiklah."


"Gimana nanti kalau gue temani lo memilih gaun?" Vian menawarkan diri mengantatar Anita.


"Iya. Sekalian aja pilihin yang bagus nanti." jawab Anita dengan senyuman manis.


"Ok siap."


"Astaga...naga..!" Vian memegangi dadanya saat berputar sudah ada Gita dan Fara di belakang. Mereka memandangi Vian sambil tersenyun.


"Eh.. Dasar ya kalian, bikin kaget aja. Gue kira kalian setan tahu." Vian mengelus dadanya. Jantungnya masih deg-degan tidak karuan.


"Mana ada setan secantik ini." Kata Fara.


"Far, besok pagi lo harus bangun pagi. Pergi ke salon langganan kita. Buat lo semakin cantik, biar semua orang melihat kecantikan istri sah yang sebenarnya." Saran Gita.


"Benar, lo boking aja sekarang." Tambah Fara.


"Vian, awas lo ya bajunya nggak cantik." Acam Gita.


"Ehm. Tapi ada roman-roman apa nih tiba-tiba mau bantuin pilih baju, sekalian mau beli baju buat prewwed." Kata Fara sambil mengedipkan kedua matanya ke arah Vian.


"Apaan sih lo, orang cuma bantuin apa salahnya sih." Kata Vian dengan wajah yang mulai memerah karena malu ketahuan sama Fara dan Gita.


"Fara, jangan begitu. Vian itu cuma mau bantuin kok." Gita menyenggol lengan Fara sambil tersenyum.


"Kalian berdua kebiasaan deh." Kata Anita dengan senyum dibibirnya yang tidak bisa di tahan.


"Ya kan semua harus di mulai dari kebiasaan, nanti kan nyaman juga akhirnya." Kata Gita.


"Udah.. Udah semakin nggak benar pembicaraan kalian. Udah sono pada kerja lagi." Vian mendorong Gita dan Fara agar kembali ke kursi masing-masing.


"Hhmm pakai acara malu-malu segala, orang cuma sama kita-kita ini." Gita masih saja tidak bisa diam.


"Sst... Kerja. Gue aduin sama Mas Win nanti." Ancam Vian.


"Lo gue aduin sama Kak Gilang." Gita menjulurkan lidahnya.


"Udah, nanti nggak kelar loh kerjaan berantem mulu." Kata Anita.

__ADS_1


"Tuh dengarin."


"Lo.. Itu elo bukan gue." Gita pokoknya tidak mau kelah sama Vian. Vian mendengus sambil melirik kemudian fokus ke komputernya.


...Anita...


...Jangan dengerin Kata Gita sama Fara, lo tahu kan mereka selalu ngelantur...


Vian menoleh kearah Anita lalu tersenyum selepas membaca pesan dari Anita.


...----------------...


Mereka berpisah di parkiran kantor karena sudah di jemput pasangan masing-masing. Dan seperti kata Vian saat masih di kantor kalau dia bakalan temani Anita membeli gaun untuk ke acara pernikahan Bayu.


Vian membukaan pintu mobil untuk Anita.


"Makasih." kata Anita sambil naik. Vian menjawab dengan anggukan kepala dan senyuman.


Di perjalan mereka tak saling bicara, tiba-tiba saja menjadi canggung padahal biasanya juga ngobrol, bercanda saat ada yang lain.


Vian sesekali mencuri pandang, dia menggigit bibir bawahnya kenapa dia jadi kelu lidahnya.


"Lo.." Vian dan Anita ngomong bersamaan.


"Lo dulu deh, mau ngomong apa?" kata Vian.


"Lo saja dulu."


"Ladies first," Ujar Vian.


"Cuma mau tanya lo nggak sedang sibukkan?"


"Nggak, kenapa?" tanya Vian.


"Ya kalau nggak sih nggak apa-apa, tapi kalau lo lagi sebuk ada acara gitu lo nggak perlu kok nganterin gue. Gue bisa pergi sendiri." Anita mulai tidak enak kalau merepotkan Vian.


"Tenang, gue free kok. Apalagi buat lo, selalu ada waktu lo tinggal telpon apa chat gue saja." Kata Vian tanpa sadar.


"Maksud lo?"


"Ooh.. iya. Pasti kita kan sahabat ya." kata Anita sambil senyum. Dia sudah berpikiran lain dengan pernyataan Vian.


Setelah obrolan tidak jelas itu mereka kembali hening, sampai di depan butik tempat Anita ingin membeli baju.


"Benar ini butiknya?" tanya Vian.


"Iya." jawab Anita sambil turun dari mobil.


Vian mengikuti Anita yang sedang memilih gaun, dia memilih warna-warna yang soft.


"Selamat malam, mau cari gaun buat tunangan atau pernikahan?" tanya pegawai butik.


"Nggak mbak, cuma buat datang ke pernikahan teman saja." jawab Anita.


"Saya kira kalian yang mau menikah, kalian berdua serasi banget loh. Udah pantas naik ke pelaminan." cerocos pegawai butik yang membuat Vian dan Anita salah tingkah.


"Mbak bisa saja ngerayunya." kata Vian.


"Nggak merayu loh, emang kalian berdua cocok. Ini kamu coba pakai gaun ini. Dan kamu pakai jas ini."


"Nggak apa-apa nih kita coba Mbak?"


"Nggak apa-apa, pemilik butik kan gue sendiri. Sepertinya kita perlu berkenalan. Nama gu Ayu Lestari panggil saja Ayu." Pemilik butik itu memperkenalkan diri.


"Kenalin Mbak, Vian ini sahabat saya Anita." Vian memperkenalkan diri sekaligus Anita.


"Ooh.. Sahabat. Tapi nggak masalah sih sahabat juga bisa jadi cinta. Sudah buruna sana cobain gaunnya." Mbak Ayu mendorong Anita dan Vian ke ruang ganti.


Vian tak perlu berganti lama, sepuluh menit dia sudah kelar berdandan.


"Nah, kan kelihatan ganteng banget." Vian tampak gagah menggunakan jas yang dipinjami oleh Mbak Ayu.

__ADS_1


Tak selang lama Anita pun keluar, Vian terpana matanya hampir tak berkedip. Anita sangat cantik menggunakan gaun waran putih yang sangat elegan.


"Gimana?" tanya Mbak Ayu. Vian masih bengong terpana dengan kecantikan Anita.


"Tuh kan apa gue bilang Anita, lo cantik banget sampai sahabat lo bengong terpana seperti itu." Mbak Ayu menyenggol Vian. Vian pun langsung tersadar.


"Lo emang cantik banget pakai gaun ini." Puji Vian.


"Makasih." Anita tersipu malu.


"Mbak Ayu, tapi acara besok gue mau lihat Anita menjadi pusat perhatian orang-orang di pesta. Dia tidak bisa bepakaian anggun seperti ini. Gue mau dia yang lebih berani." kata Vian.


"Ok.. Ada..ada ini juga akan keren banget di pakai Anita." Mbak Ayu bergegas mencarikan gaun yang di maksud Vian.


Mbak Ayu mengambilkan gaun merah pas lutut dengan lengan di bahu. Sehingga bahu terlihat lebih terbuka dan ****. Di tambah baju ketat pas membungkus tubuh bagus Anita. Tidak langsing namun tidak gemuk juga.


"Apa ini tidak terlihat mencolok nantinya, gue rasa ini terlalu **** buat gue." Anita sedikit bergidik melihat gaunnya.


"Itu kan tujuannya, buruan deh coba." Pinta Vian.


Vian benar-benar akan menunjukan kecantian Anita besok. Dia akan membuat Bayu menyesal telah menyia-nyiakan gadis sebaik dan secantik Anita.


Anita menutup dadanya, dia tidak pede karena benar-benar terlihat **** sekali. Dan Vian semakin terpesona.


"Wah..wah.. gaun ini memang pantas buat lo, pas banget." Kata Mbak Ayu.


"Tapi gue malu, ini **** banget gue nggak biasa." Kata Anita.


"Untuk acara besok saja Anita, lo harus percaya diri." Kata Vian yang masih menatap Anita.


"Apa tidak apa-apa?"


"Percaya saja sama gue. Mbak bungkus yang itu ya." Vian langsung membungkus gaunnya.


"Siap."


Vian mengeluarkan kartu ATM namun di tahan sama Anita.


"Lo mau ngapain?"


"Bayarlah, memangnya mau ngapain?"


"Nggak usah, biar gue saja yang bayar. Ini kan baju gue." Anita tidak mau di bayarin Vian.


"Sudah, anggap saja ini hadiah karena lo sudah move on." Vian kembali berjalan ke kasir.


"Kok tiba-tiba rasanya aneh gini ya." Anita memegangi dadanya.


...----------------...


"Makasih ya Vian, lo jadi bayarin gaun gue." Kata Anita.


"Sekali-kali Nit, lo udah lapar belum?" tanya Vian.


"Lapar."


"Gimana kalau kita cari makan dulu. Gue juga lapar nih." ajak Vian.


"Boleh."


"Mau makan apa?"


"Terserah lo aja, gue ngikut." Ujarnya.


"Ok."


Vian mengajak Anita makan di restauran yang paling dekat.


"Makan disini gimana?" tanya Vian. Restauran yang kecil namun memiliki pemandangan lampu kota yang sangat bagus.


"Ya, nggak masalah makan dimana aja. Yang penting enak dan bikin kenyang." kata Anita sambil nyengir kuda.

__ADS_1


"Ok lah."


Mereka duduk menikmati indahnya kerlap-kerlip lampu kota sambil menunggu hidangan datang. Tak ada komunikasi diantara mereka, hanya diam menata perasaan masing-masing.


__ADS_2