
Kyra mengucek kedua matanya sembari menguap, dia langsung membuka matanya lebar-lebar ketika di mobil hanya dia sendirian.
“Di mana yang lain?” ucapnya bingung.
“Gue nggak di tinggalin di mobil sedirian kan?” tanyannya pada dirinya sendiri.
Kyra membuka pintu mobil, angin dingin langsung menerpa tubuhnya, Kyra memejamkan matanya. Menikmati udara yang segar tempat camping.
“Ky,”
“Ya Tuhan,” Kyra memegangi dadanya karena kaget ada yang memegang pundaknya.
“Ini gue,” kata Dinda.
“Lo ngagetin gue, lo dari mana saja sih?” Kyra manyun.
“Gue baru bangun tenda itu sama anak-anak,” Dinda menunjuk ke area perkemahan.
“Lo kenapa nggak bangunin gue?”
“Lo lelap banget tidurnya makanya gue nggak bangunin lo, lo kan memang lagi butuh banyak istirahat,” jelas Dinda.
“Tapi Kan ..,”
“Udah yuk, di tunggu sama yang lain,” Dinda menarik tangan Kyra.
Kyra merasa tidak enak, dia datang-datang cuma langsung gabung ikut makan. Dia sama sekali tidak membantu apa-apa.
“Sudah bangun tuan putri?” sindir Aiden.
Kyra melirik kearah Aiden yang terus mengejeknya, dia pikir Aiden memang sengaja membuatnya kesal.
“Ayo makan dulu tuan putri, nanti keburu dingin loh makanannya,” tambah Luki.
“Kalian kalau memang nggak suka gue di sini bilang. Nggak usah nyindir-nyindir begitu,” Kyra semakin kesal, pandangannya nanar. Ingin sekali dia menangis.
“Kak, jangan gangguin Kyra dong. Dinda sudah susah payah lo bikin orang tuanya mengizinkan,” pinta Dinda. Dia tahu kalau Aiden sama Luki bercanda namun sudah keterlaluan.
“Sorry,” ujar Aiden dan Luki bersamaan.
“Makan Ky, nanti keburu dingin,” Dinda mengajak Kyra makan.
“Gue nggak nafsu,” katanya sembari pergi meninggalkan tenda.
“Kalian sih,” Dinda merengut. “Ky, tunggu,” Dinda mengejar Kyra.
Kyra pergi ke parkiran mobil, dia kesal banget di perlakukan tidak menyenangkan Aiden sama Luki.
“Kyra, tunggu,” panggil Dinda.
Kyra tidak mendengarkan Dinda, Dia langung masuk di dalam mobil.
“Kyra, maafin kakak-kakak gue,” ujar Dinda saat pintu mobilnya terbuka.
“Mereka itu memang sengaja kan gangguin gue, memangnya gue salah apa coba sama dia?” tanya Kyra sama Dinda.
__ADS_1
“Mungkin maksud mereka itu bercanda,” Dinda mencoba menenangkan Kyra.
“Bercanda, sejak awal mereka terus ngatain gue. Memangnya gue salah apa sama mereka?” Kyra melipat kedua tangannya di dada, mulutnya manyun. Dadanya semakin bergemuruh karena terlalu kesal.
“Lo tenangin dulu deh di sini,” kata Dinda.
Dinda menutup pintu mobil miliknya pelan, dia kemudian kembali ke tenda. Siap-siap memarahi kakak-kakaknya yang membuat sahabatnya bersedih.
“Ih, kalian kok tega sih,” Dinda ikut manyun saat keempat sekawan itu sudah mulai makan sebelum dirinya dan Kyra bergabung.
“Tega kenapa lagi?” tanya Rafa sembari melahap pop mie.
“Ya kan gue sama Kyra belum ke sini, kok kalian sudah manan.”
“Ya kalian nggak datang-datang, ini ya nanti yang ada mie gue berubah menjadi cacing besar alaska,” sahut Aiden.
“Kyra nggak mau ini, biar buat gue saja lah,” Ibob mengambil pop mie jatah milik Kyra.
“Kak Ibob taruh ya,” tunjuk Dinda.
“Ok, ok,” Ibob mengembalikan pop mie yang diambilnya.
“Kak Ai, lo harus tanggung jawab.”
“Tanggung jawab kenapa?” Aiden bingung ketika disuruh tanggung jawab.
“Karena Kak Ai, Kyra menangis di mobil. Gimana kalau Kyra sakit karena sejak tadi belum juga sarapan,” Omel Dinda.
Aiden menyeruput kuahnya, lalu mengambil pop mie milik Kyra.
Sedangkan Dinda hanya bisa mengelus dada sembari menggelengkan kepala melihat kelakuan Aiden yang masih saja tak merasa bersalah.
*****
Aiden mengetuk kaca mobil pelan, Kyra yang sedang menangis dengan cepat menghapus air matanya. Kyra tak menggubris Aiden, sehingga dia masuk meskipun tanpa ijin dari Kyra.
Aiden merasa tidak enak saat berhadapan dengan Kyra, dia ternyata benar-benar menangis.
Cengeng, batin Aiden
“Makan,” Aiden menyodorkan cup pop mie.
Kyra diam tak menanggapi Aiden, Aiden mengehela napas. Ia mengaduk pop mie lalu menyuapi Kyra.
“Lo bisa nggak jangan ganggu gue,” katanya dengan menghempaskan tangan Aiden keras.
Pop mie tumpah mengenai tangan Aiden, Aiden sedikit teriak sampai menarik perhatian Kyra. Kyra panik meihat punggung tangan Aiden memerah.
“Sorry-sorry gue nggak sengaja, ayo keluar dulu,” Kyra menyuruh Aiden keluar dari mobil.
Kyra mengambil air mineral dingin lalu menyiramkan di tangan Aiden yang ketumpahan mie.
“Masih sakit nggak?” ucapnya sembari meniupi punggung tangan Aiden.
Dia merasa bersalah, sedikit takut karena Aiden tidak ngomong sama sekali.
__ADS_1
Aiden menarik tangannya, “Gue nggak apa-apa, buruan gabung sama yang lain. Kasihan mereka tungguin lo.”
Aiden tidak membahas tangannya yang ketumpahan mie, justru dia meminta Kyra untuk gabung sama yang lain.
Kyra menutur saja, dia tidak bisa marah lagi dengan Aiden setelah dia merasa bersalah.
“Kyra, sini duduk,” Dinda menepuk kursi lipat di sebelahnya.
Aiden membuatkan mie yang baru untuk Kyra, dia meletakkan mie di depan Kyra lalu duduk di sebelah Luki berhadapan dengan Kyra.
“Loh kok buat lagi, yang tadi lo makan lagi ya Kak?” tanya Dinda.
“Gue makan tadi,” katanya sambil tertawa.
“Rakus lo,” kata Ibob.
“Kayak lo itu nggak,” sahut Rafa.
“Kalau gue masa pertumbuhan bukan rakus,” kilah Ibob.
“Serah lo Bob, asal nggak makan rumput-rumput di sini,” jawab Rafa.
Kyra semakin merasa tidak enak mendengar jawaban Aiden, kenapa dia tidak menjawab dengan jujur kalau dia yang menumpahkannya.
Kyra membawa kursi lipatnya sedikit maju mendekati danau, dia ingin menikmati keindahan danau. Namun setelah duduk diam, Kyra malah kepikiran sama Aiden.
“Hah, kenapa dia bisa begitu. Harusnya kalau dia memang mau bikin gue kesal nggak usah berbuat baik. Ah, jangan-jangan dia cuma playing victim lagi,” Kyra berpikir jelek tentang Aiden.
“Lo apa sih ngedumel di sini?” Dinda menaruh kursinya, lalu ikut bersantai dengan Kyra.
“Saudara lo itu ngeselin banget, sengaja ya bikin gue kesal,” Ujar Kyra.
“Nggak sengaja, ya memang gitu saudara gue kalau ngomong ceplas-ceplos. Tapi dia baik kok, percaya sama gue.”
“Baik apanya?” Kyra tidak setuju kalau sebenarnya Aiden itu baik, pasti dia memilili tujuan tertentu saat berbuat baik padanya. “Ky,” bisik Dinda sembari menoleh ke kanan dan juga ke kiri memastikan tidak ada empat sekawan yang mendengarnya.
“Apa?”
“Gimana kalau lo deketin Kak Ai,” saran Dinda.
“Untuk?”
“Jadikan pacar lah, masa untuk pajangan.”
“Nggak.”
“Gue bakalan beliin tiket lo jalan-jalan ke singapur bolak-balik kalau lo bisa pacaran sama Kak Ai,” tantang Dinda.
“Beneran?”
“Ya, waktunya satu bulan.”
“Nggak ah, gue males sama Ai. Dekat-dekat dia, gue bisa gatal-gatal kok malah di suruh pacaran,” ujarnya.
“Ya sudah, tiket singapur bolak-balik hangus,” bisik Dinda.
__ADS_1