Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Saingan


__ADS_3

Aiden dan Kyra sudah di tunggu mamanya dan juga Kris di teras rumahnya. Mereka berdua berjalan mendekati Aiden dan Kyra.


“Selamat sore tante,” Aiden mencium tangan Selfi namun langsung di tarik tangannya. Selfi terlihat jijik diajak salaman sama Aiden.


“Kyra, kamu dari mana?” Selfi menarik Kyra sampai di sampingnya.


“Dari sekolah ma,” ucapnya.


“Lo nggak usah bohongi mama lo Ky, orang gue saja sudah di sini hampir satu jam lebih. Acara sekolah sudah selesai dari tadi loh,” ujar Kris yang sengaja ingin mengompori Selfi agar dia memarahi Aiden.


“Kamu lagi, kan saya sudah bilang jauh-jauh dari Kyra. Ngeyel banget!” kata Selfi ketus.


Selfi menatap Aiden dari atas sampai bawah, dia mendengus melihat anaknya yang masih saja main sama Aiden yang terlihat miskin dimatanya.


“Maaf tante, kan saya teman satu kelas sama Kyra. Bagaimana saya tidak berteman?”


“Nggak usah banyak alasan, pokoknya kamu jauhi Kyra.”


“Ma!”


“Kyra, jangan melawan mama kamu. Itu semua demi kebaikan kamu,” ujar Kris. Dia cari muka di depan Selfi agar mendapatkan hatinya.


“Dengerin kata Kris, dia saja tahu mana yang terbaik mana yang nggak.”


Kyra mendengus, dia langsung masuk ke rumah meninggalkan mereka bertiga. Dia kesal dan malu karena mamanya yang memperlakukan Aiden dengan tidak baik.


“Ngapain lo masih di sini?”


“Tante saya pamit,” kata Aiden.


“Ya,” jawab Selfi ketus sembari masuk untuk mengejar Kyra.


“Ai,” panggil Kris. “lo itu jangan sok-sokan mau deketin Kyra. Modal motor butut kayak begini nggak akan bisa.” Kris menendang motor Aiden.


Aiden sama sekali nggak marah, dia malah tertawa dengan gertakan-gertakan yang di berikan oleh Kris.


“Cuma pakai motor butut begini saja sudah kecantol, apalagi kalau pakai mobil mewah. Bakalan nempel terus, nggak ada kesempatan sedikit pun buat lo deketin dia,” ucap Aiden sembari tertawa.


“Jangan terlalu berharap, nanti yang ada sakit hati,” Kris ikut masuk ke dalam rumah.


“Kita lihat saja nanti, siapa yang akan bersanding dengan Kyra,” ujar Aiden dengan pede.


*****


Kyra mengunci kamarnya, mamanya terus mengetok pintu namun tidak di bukakan sama Kyra.

__ADS_1


“Ky, kamu temui Kris sebentar,” ucap mamanya sembari terus mengedor pintu.


Kyra memasang ear phone, memutar lagu sehingga tidak mendengar suara pintu yang terketuk.


Kyra mengirim pesan Aiden, meminta maaf atas tindakan mamanya yang menyakiti hati Aiden. Pesan sudah terkirim lima belas menit yang lalu namun belum ada tanda-tanda di balas. Bahkan centangnya masih abu-abu.


“Apa Ai marah ya sama gue,” Kyra menghela napas.


Hatinya menjadi gundah, dia jadi takut kalau Aiden menjauhi dirinya seperti ucapan mamanya. Padahal dia sedang menikmati kedekatannya dengan Aiden, meskipun dengan embel-embel tiket dari Dinda.


Kyra mengucek kedua matanya, dia melihat ke jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


“Gue ketiduran,” ujarnya sembari menggeliat.


Kyra masih menggunkan seragam dengan atribut lengkap, dia tak sempat berganti baju gara-gara sudah bad mood. Setelah mandi Kyra turun, perutnya sudah keroncongan.


“Turun juga akhirnya kamu,” ujar mamanya yang sudah duduk di meja makan bersama Kinara adik perempuannya.


Kyra tak menjawab, perutnya yang lapar enggan menjawab mamanya yang pastinya akan berujung dengan debat.


“Lihat pa, anak perempuan kamu. Sekarang sudah nggak mau mendengarkan mama,” Selfi mengadu kepada Gunawan suaminya.


“Apa lagi sih ma, bisa nggak sehari saja nggak ribut sama Kyra,” ujarnya jengah. Tidak ada sehari pun dia menikmati kebersamaan di rumah dengan tenang.


“Salah sendiri kamu nggak mau nurut sama mama, coba kamu nggak membangkang.”


“Kyra nggak berbuat apa-apa, mama saja berlebihan,” Kyra mulai nggak mood makan padahal lapar.


“Mama nggak berlebihan. Pa, masa Kyra berteman dengan bocah miskin.”


“Memangnya salah ma, lagian dia juga nggak merugikan kita. Mama jangan terlalu bergaul sama orang yang nggak bener deh. Kenapa jadi memandang orang sebelah mata,” cerocos Kyra yang nggak suka dengan mamanya yang memilih-milih.


“Berteman itu harus memilah-milah, bibit, bebet dan bobotnya jangan sembaragan. Lihat Kinara, sudah cantik nurut lagi sama mama. Nilai dia jadi bagus,” Selfi memuju Knara.


Kyra menaruh sendoknya. “Asal mama tahu, bocah miskin itu lebih genius dari Kyra. Bahkan dia sering tidur di kelas tanpa mengikuti pelajaran nilainya lebih tinggi dari Kyra,” Kira pergi meninggalkan makan malamnya yang baru di makan satu suap saja.


“Kyra, kembali. Setiap diajak bicara orang tua main kabur saja.”


“Habisnya mama mengoceh terus, pasti kak Kyra capek dengarnya. Ma jangan sombong-sombong deh. Kinara malu tahu,” Kinara ikut meninggalkan meja makan menyusul Kyra.


“Kamu itu kebiasaan, nggak bisa bikin adem anak-anak.” Gunawan meletakkan sendok dan garpunya.


“Kok jadi mama yang salah sih, ini kan Kyra yang salah,” Selfi belum mau di salahkan.


*****

__ADS_1


Kyra beberapa kali mendengus melihat ponselnya, Aiden belum juga membalas pesannya.


“Kak, boleh masuh?” Kinara mengintip di pintu.


“Ya.” Kyra menaikkan kakinya ke rajang. Kinara duduk dengan kai selonjoran di sampng Kyra.


“Kakak jangan dengarin mama, sebenarnya Kinara juga capek diatur-atur terus. Kinara jadi nggak bebas main,” keluh Kinara.


“Bukanya kamu senang, kan kamu suka diajak mama jalan-jalan. Di beliin apapun yang kamu mau, bahkan kamu masih bebas main-main sama teman-teman kamu.”


Selama ini Kyra cemburu sama adiknya meskipun nggak dia tunjukan. Meskipun Kinara diatur sama mamanya namun masih bisa bermain dengan bebas.


“Nggak juga, Nara hampir setiap hari juga les terus. Kepala Nara mau pecah rasanya,” keluhnya.


Selama ini mereka jarang ngobrol bareng karena kegiatan les mereka, kalau ketemu hanya di meja makan. Weekend pun mereka masih harus belajar di kamar masing-masing.


“Sabar deh,” Kyra hanya bisa mengatakan itu, karena dirinya pun juga tidak bisa berkutik.


“Ngomong-ngomong, teman kakak tadi ganteng banget loh.”


“Yang mana?”


“Yang dikatain mama miskin, itu pacar kakak ya?” tanya Kinara penasaran.


“Bukan, teman.”


“Yang benar?” goda Kinara.


“Beneran, kenapa sih?” Kyra mengerutkan keningnya.


“Ya kalau cuma teman, boleh dong kenalin sama Nara. Biar Nara gebet,” Kinara nyengir.


“Dih, anak kecil genit. Lagian dia nggak bakalan mau sama kamu,” Kyra menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya yang ajaib. Kenapa tiba-tiba menyukai Aiden.


“Loh kenapa, kita cuma beda tiga tahun nggak ngaruh kali,” ujar Kinara.


“Nggak boleh, dia gebetan kakak,” tukas Kyra.


“Tadi katanya nggak mau, giliran mau di ambil orang baru mengakui,” Kinara manyun.


“Lagian kamu masih kecil, enak saja main suka-suka sama orang.”


“Biarin, sudah Kak Ky sama Kak Kris saja. Pasti langsung di restui sama mama. Biarin teman kakak sama Kinara,” Kinara kekeh mau sama Aiden.


“Ogah, kamu saja sana.”

__ADS_1


“Nggak mau dia songong, gak ganteng. Pokoknya kalau dia ke sini lagi Nara mau kenalan.” Kinara turun dari kasur berlalu meninggalkan kamar Kyra.


“Pakai pelet apaan sih sampai anak-anak saja suka sama dia,” ujar Kyra. Dia mendadak pusing, kenapa saingannya itu adiknya sendiri.


__ADS_2