Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Gita Ngambek


__ADS_3

Gita duduk bersila dia kasur, dia memainkan ponselnya. Gilang yang di belakang Gita langsung ikut duduk di sebelahnya.


"Sayang.."


"Nggak usah ngomong sama aku, ngomong aja sama cewek yang kamu belain tadi." kata Gita dengan memutar tubuhnya hingga membelakangi Gilang.


"Sayang, aku bukan belain dia. Aku cuma meluruskan saja kalau tadi itu salahpaham." Gilang masih dengan kekeh dengan pendapat yang dia sampaikan.


"Kamu masih saja bilang salahpaham. Jadi kalau aku ini bukan istri kamu, dia boleh melalukan seperti itu." Gita memutar tubuhnya, dia menatap Gita dengan tajam. Dia benar-benar marah.


"Tidak juga, dia tidak boleh melakukan hal itu. Hanya saja mungkin kemarin..."


"Tuh kan.. belain lagi. Sepertinya kamu memang ada apa-apa sama dia." Gita melipat kedua tangannya, mulutnya manyun matanya menatap Gilang nanar.


"Sayang, kamu jangan gitu. Jangan memebesarkan masalah sepele."


"Oo.. Jadi istri kamu dimaki-maki orang itu masalah sepele. Ok.. Kalau aku memang sudah tidak penting lagi buat kamu."


"Bu-bukan begitu. Ah.. Kenapa jadi rumit begini."


"Sekarang kamu keluar, jangan tidur di kamar ini." Gita menyuruh Gilang tidur di luar.


"Kalau tidak tidur disini aku tidur dimana?" tanya Gilang. Dia mulai kelabakan saat Gita meminta dia tidur di luar.


"Terserah kamu, bukan urusan aku." Gita nggak mau tahu, dia memberikan bantal dan selimut lalu menarik Gilang keluar kamar.


"Tapi kan ini rumah aku." kata Gilang.


"Oiya lupa, kalau gitu biar aku aja yang tidur di luar kamu tidur di dalam." Ujarnya mengambil bantal dan selimut dari tangan Gilang.


"Sayang...sayang... Jangan seperti inilah. Aku tidak bisa tidur tanpa kamu." Gilang memegang tangan Gita.


"Bukan urusan Gita. Minggir." Gita meminta Gilang geser karena menghalangi jalanya.


"Sayang...sayang, kamu yang tidur di kamar saja. Biar aku yang tidur di luar." kata Gilang.


"Nggak usah, inikan rumah kamu. Masa tamu tidur di dalam, tuan rumah di luar." Gita bergegas pergi ke kamar sebelah.


"Ya Tuhan, salah ngomong lagi. Hah..." Gilang mengacak-acak rambutnya. Gilang menutup pintunya, dia merebahakan tubuhnya yang sudah lelah.

__ADS_1


"Gita sebenarnya kenapa sih, lagi pms atau apa kenapa marah-marah mulu." Gilang menatap langit-langit. Dia melipat tangan kirinya untuk bantalan kepalanya.


Sedangkan di kamar sebelah Gita sedang menangis, dia kesal sekali kenapa Gilang masih saja membela cewek yang memakinya.


"Dasar Kak Gilang genit, di depan aku masih saja belain cewek lain." Gita sesenggukan.


...----------------...


"Mas..Mas Gilang bangun." Bik Siti menggoyangakan tubuh Gilang. Gilang membuka matanya perlahan, dia melihat samar-samar Bik Siti.


"Sayang, kamu kok berubah?" tanya Gilang dengan suara serak khas bangun tidur. Dia bangun dan mendekat ingin memeluknya.


"Mas, bangun ini Bik Siti bukan Mbak Gita." Bik Siti menghindar saat mau di peluk Gilang.


"Eh...Loh..kok berubah jadi Bik Siti. Gitanya mana?" Gilang celingukan mencari Gita.


"Mbak Gita di bawah lagi sama Baby Ai. Kata Mbak Gita bibik yang suruh bangunin Mas Gilang. Sama ini ya bajunya udah bibi siapin, air hangat buat mandi juga udah siap." ujar Bik Siti sambil membereskan kamar Gilang.


"Iya Bik, berasa jadi abg yang belum punya bini. Semua-semua di siapin Bibik. Jadi ini ngambeknya beneran buka mimpi." Gumam Gilang sambil masuk ke kamar mandi.


Gita sudah menunggu Gilang untuk sarapan, meskipun dia kesal namun dia tetap akan menemani saat sarapan.


"Pagi sayang." sapa Gilang, dia berusaha bertingkah seperti biasa. Gita hanya diam tidak menjawab, Gilang ingin mencium Gita namn Gita menghindarinya.


Selesai makan Gita langsung bergegas untuk pergi ke kantor. Gilang ambil star duluan, dia membukakan pintu mobil.


"Beni...Ben..." panggil Gita.


"Ya Mbak."


"Anterin saya ke kantor." kata Gita. Gilang mengkode Beni agar beralasan tidak bisa.


"Kenapa nggak bareng Mas Gilang saja, itu udah di bukain pintu tunjuk Beni.


"Beni nggak usah banyak tanya, atau mau gaji kamu, aku potong seratus persen." Ancam Gita.


"Kalau seratus persen nggak gajian dong namanya. Iya Mbak saya anterin ke kantor." Beni cari aman. Dia membukakan pintu untuk Gita.


"Maaf Mas, kalau Ibu negara udah ngambek saya lebih baik berpihak padanya daripada saya babak belur segala-galanya."

__ADS_1


"Ya udah sana anterin, hati-hati bawa mobilnya." Gilang pasrah.


"Beni buruan, kamu mau gaji saya potong dua ratus persen." Seru Gita.


"Siap ibu negara!" teriak Beni sambil lari menuju kemudi.


...----------------...


Gita masuk kantor langsung duduk, dia sedikit menbanting tasnya karena kesal.


"Wah...wah...sepertinya bu bos kita sedang tidak baik-baik saja. Pagi-pagi udah manyun saja." Vian adalah orang yang paling perhatian dengan perubahan sifat teman-temannya di kantor. Terutama perubahan Gita, dia pasti akan mengetahui lebih dulu.


"Diam." kata Gita dengan wajah merengut.


"Bahaya nih, bakalan kena kita semua. Kayaknya nggak main-main." Nino ikut menyahuti.


"Lo kenapa sih Git, marah-marah aja masih pagi. Nanti wajah lo keriput tahu." Kata Fara.


"Ada apa sih bestie?"


"Kemarin nih ya..." Gita baru mulai ngomong semua langsung mendekatkan kursi di meja Gita.


"Gini nih, kalau masalah gosip kalian gercep amat." kata Gita sembari melihat temannya satu persatu.


"Udah buruan deh cerita, nanti Mas Win keburu datang."


"Kemarin kan gue tungguin Kak Gilang, eh tiba-tiba ada cewek keluar dari dalam ruangannya. Udah minta beliin kopi habis itu pakai maki-maki gue. Kan gue kesal, eh malah Kak Gilang belain dia. Kesel banget nggak sih." Gita emosi.


"Wah.. Cari masalah Gilang." Kata Fara.


"Hhm, jangan-jangan ada apa-apa lagi." kata Anita.


"Jangan pikir macam-macam, mungkin itu klien dan nggak tahu kalau lo itu istrinya." kata Vian.


"Memangnya kalau gue bukan istrinya boleh maki-maki? Lo sama Kak Gilang sama aja deh, kesel gue sama lo." Kini rasa kesal Gita bertamabah menjadi dua orang.


"Mungkin maksudnya itu, dia kan klien dan nggak tahu aturan kantor sini. Jadi..."


"Diam mas Nino, gue tahu jawaban Mas Nino juga akan sama belain dia kan. Dasar semua cowok itu sama saja." Gita semakin di buat kesal pagi ini.

__ADS_1


"Benar juga, kalian para cowok itu kenapa sih selalu saja tidak menghargai pasangannya. Mentang-mentang cewek cantik belain. Giliran pasangan sendiri di cuekin." Cerocos Fara.


Vian sama Nino langsung diam seribu bahasa, mereka berdua tidak akan mampu melawan ras paling kuat di bumi. Satu saja pasti kualahan ini tiga sekaligus bisa-bisa telinga pindah ke pantat kalau mereka berdua masih mau lanjut berdebat.


__ADS_2