
Gita berdiri di tengah-tengah kamarnya, ia kemudian mengikat rambutnya yang sudah mulai memanjang. Kemudian siap melakukan rutinitasnya yang sudah ditinggalkan beberapa hari. Gita membuka tirai lalu membuka jendela kamarnya lebar-lebar.
Dia juga menyiapkan segala keperluan Gilang, setelah selesai menyiapkan baju milik Gilang langsung mendekatinya.
“Sayang, bangun yuk sudah siang.” bisik Gita di telinga Gilang.
Gilang menggeliat, perlahan dia membuka matanya dan tersenyum melihat istrinya yang sangat cantik. Gilang menarik Gita dalam pelukanya.
“Sayang, buruan bangun aku sudah siapin air panas buat kamu.”
“Makasih ya.” kata Gilang sambil mengecup kening Gita.
“Untuk?”
“Untuk kamu yang mau bertahan, untuk kamu yang sabar dengan tingkah aku. Kangen banget nggak dengar omelan kamu, rasanya hidupkku langsung sepi, aku nggak bisa hidup tanpa kamu.”
“Dasar buaya, sudah buruan bangun.” Gita berdiri menarik selimut Gilang untuk segera membereskan tempat tidur.
“Beneran sayang, jangan pergi-pergi lagi ya.” Gilang memohon. Dia tak mampu hidup tanpa belajan jiwanya itu.
“Ya tergantung.” Gita tersenyum, ia mulai menjaili Gilang.
“Ck, jadi kamu mau ninggalin aku begitu?” Gilang duduk dengan wajah cemberut, ia menarik Gita dalam pelukannya lalu memberikan ciuman di bibirnya.
Gita mendorong pelan dada Gilang, “Sayang, sudah siang.”
“Jawab dulu kamu mau tinggalin aku tidak, atau aku akan mencium kamu terus.” Gilang mulai mendekatkan wahnya ke Gita.
“Iya.. Iya sayang, aku tidak akan meninggalkan kamu jadi sekarang kamu buruan mandi dan bersiap ke kantor.”
“Haruskah aku pergi sekarang, sepertinya aku mau bersama istriku tercinta dulu.” Gilang menidurkan Gita, ia kembali memberikan ciuman di pagi hari.
“Sayang..”
“Please, biarkan aku libur hari ini.” Gilang memohon.
“No.”
“Sayang..”
“Tidak, kamu harus berangkat kerja sekarang, ingat masa depan Aiden.”
“Hah..” Dengan berar hati Gilang beranjak dari kasur dan siap ke kamar mandi.
“Sayang, bagaimana dengan aku bekerja.” Gita memberanikan diri menanyakan kepada Gilang, mumpung suasananya sedang tenang.
__ADS_1
“Aku mengizinkan kamu bekerja, aku tidak akan pernah melarang kamu bekerja asalkan kamu bekerja di kantor kita.” ujar Gilang dengan tegas.
“Siap.” Gita berlari memeluk Gilang.
***
Gita menghirup udara dalam-dalam, udara pagi kantor yang sudah sampir satu minggu dia tinggalkan.
“Ok, welcome back Gita.” ucapnya sambil tersenyum, ia merentangkan kedua tangannya kembali menghirup udara dalam lalu mengela perlahan.
“Gita...” teriak Anita dari belakangnya, ia berlari lalu memeluk Gita erat-erat.
“Anita..” Gita membalas pelukan dari Anita. “Sumpah gue kangen banget sama lo.” kata Gita.
“Iya, gue lebih kangen sama lo. Gue sendirian tahu disini, nggak ada teman ngobrol benar-benar sepi banget.” Anita menggandeng tangan Gita. Mereka berjalan masuk menuju ke ruangannya.
“Kan ada Vian.”
“Lo kan tahu dia masih marah sama gue, kita ngobrol hanya sebantasnya saja.” raut wajah Anita berubah lesu. Dia sangat merindukan sahabat-sahabatnya, merindukan keseruan yang di lewatinya setiap harinya yang membuat dia lupa dengan masalah hidup yang sedang di laluinya. Namun satu ucapanya membuat kesalahan yang sangat fatal. Ia di kucilkan sahabat-sahabatnya.
“Nit, boleh gue tanya sama lo?” Gita menghentikan langkahnya.
“Apa?” Anita melepaskan gandengan tangannya.
“Lo masih suka sama Kak Bayu?”
“Lo nggak perlu jawab kok, gue sudah tahu jawabannya. Gue hargai semua keputusan lo, karena itu hak lo. Yang tahu bagaimana yang terbaik itu lo sendiri. Yuk masuk.” Gita tak mau membahasnya lagi. Ia tak bisa memaksa agar Anita tidak mencintai Bayu lagi.
Anita masih terdiam tak mengikuti Gita, “Gita.” panggilnya.
“Ya.” Gita menoleh.
“Gue sudah tidak mencintai Kak Bayu, hanya saja gue sedang berusaha berdamai dengan keadaan kalau semua sudah berakhir. Dan mencoba membuka perasaan gue sama Vian, gue sadar perasaan ini mulai berubah sejak dia selalu ada menghiburku. Aku merasa nyaman, tapi aku masih takut kalau perasaan ini terasa seperti pelampiasan.”
Gita tersenyum, ia mendekati Anita lalu memegang kedua tangannya, “Gue tahu perasaan lo, sekarang lo kembali yakinkan hati lo agar tak menyesal. Dan gue dukung penuh kalau lo benar-benar mau menerima cinta Vian.”
“Makasih Git, lo memang sahbat yang paling mengerti gue. Tapi..”
“Tapi apalagi?”
“Fara?”
“Soal Fara, lo tenang saja gue akan bantu buat kalian berdamai.”
“Apa dia mau memaafkan gue, soalnya gue sudah benar-benar membuatnya tersinggung. Gue jahat sama dia.”
__ADS_1
“Gue tahu, dan pastinya Fara akan memakluminya nanti. Sudah jangan khawatir begitu kita temui dulu. Ya saran gue mau Fara ngomong apa lo diam saja. Iyain saja semua kemauannya nanti akan kembali baik-baik saja lagi.” Ujar Gita menenangkan Anita. Gita menyarankan agar tidak melawan saat Fara mengomelinya.
“Hai bestie..bestiku..” seru Gita saat memasuki ruangannya.
“Pusat mengabarkan satu biang kerok sudah memasuki area, siap-siap ketenangan di ruangan ini menipis.” Vian tidak menjawab sapaan Gita justru ngedumel.
“Bener juga,” sahut Win dan Nino.
Beberapa hari ini kantor sangat adem-ayem tanpa suara yang cetar membahana dengan tidak hadirnya Gita dan Fara.
“Pagii!” seru Fara dari ambang pintu.
“Komplit sudah biang kerok kita.” kata Win.
“Kenapa diam saja sih, sambut dong teman kalian yang paling cantik ini.”
“Selamat pagi biang onar.” jawab Vian, Win dan Nino.
“Dih..”
“Kayaknya ada yang mau pindah devisi atau kalau nggak turun jabatan ini.” Goda Gita, mengancam teman-temannya memanfaatkan posisinya sebagai istri bos.
“Gini..nih.. Nggak lucu banget bercandanya.” Gita, Fara dan Anita terkekeh mendengar para cowok di ruangannya ngedumel.
Jam makan siang Gita mengajak Fara dan Anita untuk makan bareng di kantin. Fara awalnya menolak, namun dengan keras Gita membujuk Fara.
“Lo pasti mau bikin gue sama Anita baikan kan, sudah deh Git gue masih kesel sama dia.” Fara melipat kedua tangannya di dada.
“Mau sampai kapan sih lo begini, kemarin bilang kalau mau baikan sama Anita.”
“Ya kemarin, pas lihat lagi itu kesel banget bawaanya.”
“Far..” Anita mendekati Fara dan Gita. Fara hendak pergi namun di tahan sama Gita.
“Far, dengerin gue sebentar saja, kalau lo sudah denger lo boleh kok pergi dan kalau memang lo nggak mau berteman dengan gue. Gue bakalan terima.”Anita legowo kalau Fara memang nggak mau berteman dengan dirinya lagi.
“Iya Far, berikan kesempatan buat Anita sebentar.”
“Hem,” Fara tidak jadi pergi.
“Gue tahu gue salah, karena membentak lo, padahal lo sudah perhatian banget sama gue. Lo mikirin perasaan gue, tapi gue justru menyakiti hati lo. Gue minta maaf banget sama lo, dan meskipun lo nggak mau nganggap gue sahabat lagi gue nggak masalah. Tapi selamanya lo adalah sahabat gue.” Anita mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan terakhir kali sebelum Fara melupakannya selamanya.
Fara menarik tangan Anita sampai dia dalam pelukannya, Anita kaget, ia terdiam sejenak lalu menangis sejadinya. Ia tak menyangka kalau Fara bakalan memeluknya.
“Lo janji ya jangan bentak-bentak gue demi orang yang nggak penting itu.” Kata Fara sambil menangis.
__ADS_1
“Gue janji.”
Gita tersenyum, akhirnya Anita dan Fara berbaikan juga setelah beberapa hari bermusuhan. Gita mendekati Fara dan Anita lalu ikut berpelukan.