
Gita perlahan membuka matanya saat samar-samar mendengar Aiden menangis. Dia bangun lalu menggemdongnya.
"Cup..cup... Sayang." Gita menimang Aiden. Gita memberikan asi Aiden, namun dia menolaknya dan menangis.
"Sayang kamu mau apa?" Kata Gita. Dia terus menimang Aiden dan mengajaknya jalan-jalan diarea kamar.
Dia mencoba memberikan asi, setelah hampir setengah jam menangis akhirnya Aiden mau minum juga.
Gita perlahan duduk di sofa, tangannya terus menepuk Aiden agar tetap tertidur.
"Seperti ini rasanya punya bayi kecil, nggak bisa tidur nyenyak." ujarnya.
Baru saja Gita mau terlelap Aiden kembali menangis. Gita langsung membuka matanya lebar-lebar.
"Ada apa lagi sayang?" Gita mengusap wajah Aiden.
"Ngompol ya.." Kata Gita. Dia menaruh Aiden di keranjangnya lagi dan mempersiapkan baju ganti untuk Aiden.
Setelah selesai mengganti popok, Gita kembali menimang Aiden. Tak perlu lama Aiden pun akhirnya terlelap.
Gita melihat jam di dinding yang sudah menunjukan pukul setengah 3 pagi.
“Kenapa jam
segini lapar sih, kan sebentar lagi pagi.” Kata Gita sambil merebahkan tubuhnya
di sofa. Perutnya lapar namun matanya pun tak kuat untuk terjaga.
Alaram di
kamar Gita sudah berdering sangat keras, namun Gita masih saja lelap. Dia baru
saja tidur sehingga tidak medengar suara alarmnya.
Gilang
meregangkan kedua tangannya, dia langsung mematikan alarm. Gilang meraba
sebelahnya yang kosong dan dingin.
“Sayang..”
Panggilnya sambil bangun.
“Ya ampun
sayang, ngapain tidur di sofa sih.” Ujar Gilang ketika melihat istrinya tidur
di sofa tanpa bantal dan juga selimut.
Gilang mengangkat
Gita dan memindahkan ke tempat tidur, dia menoleh ke box Aiden.
“Semalam
kamu pasti begadang ya, kenapa sih kok nggak pernah bangunin aku.” Kata Gilang
sambil menyelimuti Gita. Gilang mengusap wajah Gita, kemudian dia mengecup
keningnya.
Gilang menyiapkan
segela perlengkapan kantornya sendiri, dia tidak tega membangunkan Gita.
“Sayang,
kamu udah bangun?” Gilang menggendong Aiden. Dia menimang sebentar lalu pergi
mandi.
Gilang turun
membawa tas dan juga menggendong Aiden, Bik Siti yang melihat kerepotan Gilang
__ADS_1
langsung nyamperin.
“Mas, sini
bibik gedongin Baby Ai.” Kata Bik Siti.
“Iya Bik,
makasih ya.” Kata Gilang saat Aiden sudah ada di tangan Bik Siti.
“Mbak Gita
kok belum kelihatan Mas? Biasanya udah sibuk ikut buatin sarapan buat Mas
Gilang.” Kata Bik Siti.
“Gita masih
tidur bik, dia pasti kecapean banget. Sepertinya dia begadang semalam jadi
nggak aku bangunin.” Jelas Gilang.
“Oalah,
kasian Mbak Gita. Kenapa nggak minta tolong bibik sih. Seharian kemarin kan
juga sudah repot jagain Aiden terus mikirin mbak Anita.” Kata Bik Siti.
“Yah
begitulah Gita bik, pasti dia tidak mau merepotkan orang lain. Dia aja nggak
bangunin aku apa lagi bibik. Kalau gitu nitip Aiden ya Bik,”
“Iya Mas.”
Gita
meregangkan kedua tangannya, dia menguap sebentar dan kembali memeluk bantal
“Eh.. jam
berapa ini?” Gita terbangun. Dia melihat ke ruangan kamarnya yang sudah sangat
terang.
“Wah
kesiangan ini pasti.” Dia beranjak dari kasurnya. Dia buru-buru turun untuk menemani Gilang
sarapan.
“Sayang..Sayang..” panggil Gita sambil berjalan menuruni tangga.
“Mbak Gita cari siapa?” Tanya Bik Siti.
“Kak Gilang dimana bik?” tanya Gita sembari mencari Gilang.
“Ya di kantor lah mbak.”
“Udah berangkat? Yah terlambat deh,” Katanya sambil menarik kursi lalu mendudukinya.
“Bukan terlambat lagi mbak, udah ketinggalan jauh. Lihat tuh jam berapa?” Bik Siti menunjuk jam di dinding.
“Hah.. jam sebelas.”Gita membelalakan kedua matanya. Dia pikir masih pagi, ternyata sudah
siang bolong.
“Ih bibik kenapa nggak bangunin Gita sih.” Omel Gita.
“Kata Mas Gilang nggak boleh di bangunin, soalnya Mbak Gita butuh istirahat.” Jelas Bik
siti. “Mending sekarang Mbka Gita mengisi tenaga dulu, sarapan menuju makan siang.” Bik Siti menyiapkan piring
buat Gita.
__ADS_1
“Makasih bik.” Katanya.
...----------------...
Gita menikmati sarapan menjelang makan siang itu, dia pikir-pikir ada untungnya juga dia tidak kerja saat ini. Tenaganya tidak kuat jika harus begadang dan paginya bekerja.
Ting! Pesan masuk di ponselnya.
...Anita...
...Dimana?...
...Gita...
...Rumah...
...Anita...
...Gue ke situ...
"Gita.." panggil Anita.
"Eh.. Buset dah, udah sampai aja lo. Gue pikir masih di rumah." kata Gita.
"Tadi gue wa udah ada di depan." Anita merenges.
"Gila lo, tinggal masuk aja pakai acara wa-wa segala. Ada apa nih?"
"Lo ada waktu nggak?"
"Gue selalu ada waktu buat lo, lagian kan gue ibu-ibu pengangguran. Lo mau gue temanin kemana?" tanya Gita.
"Ke pengadialan agama." kata Anita dengan wajah yang sedih. Gita mendekat lalu memeluk Anita erat.
Dia tahu pasti berat bagi Anita menjalani ini, datang ke pengadilan agama bukan dengan tujuan yang bahagia.
"Lo yang kuat ya."
"Tenang saja gue kuat, gue baik-baik saja."
"Ok, kalau begitu gue mandi dulu. Lo makan dulu, makan yang banyak biar punya tenaga." Gita mengambilkan nasi ke dalam piring di depan Anita.
"Git, lo gila kasih gue makan sebanyak ini."
"Udah buruan makan, niar kuat." kata Gita.
Hari ini Gita mau nganterin Anita dengan mengajak Aiden. Dia mau ajak Aiden jalan-jalan.
"Nit, gue ajak Baby Ai ya?" tanya Gita.
"Ok, ajak aja. Nanti biar gue yang gendong ya." Kata Anita.
"Oo siap. Bik aku mau pergi dulu ya." kata Gita.
"Baby Ai mau di ajak Mbak?" tanya Bik Siti.
"Iya Bik, sekalian mau ajak dia jalan-jalan. Biar lihat dunia luar." katanya sambil menggendong Aiden.
"Pergi berdua aja sama Mbak Anita?"
"Iya Bik, kok Bik siti kelihatan cemas begitu. Anita udah mahir loh bawa mobilnya." Kata Anita.
"Nggak sama Beni saja Mbak, nanti kalau Mas Gilang marah gimana?"
"Gita man sama Anita Bik, nggak sendiri. Nanti biar Gita telpon Kak Gilang. Udah ya Bik Gita sama Anita pamit dulu."
"Ya mbak hati-hati."
Anita heran dengan Bik Siti yang terlihat tidak yakin dengan dirinya.
"Git, memamgnya mengemudi gue meragukan ya?" tanya Anita sambil menghidupkan mobilnya.
"Nggak, jadi salama ini gue kalau pergi-pergi sama Beni. Katanya biar ada yang jagain, nah kalau gue nggak sama dia pastinya mikir kalau nggak ada yang jagain." jelas Gita.
"Ah... Lo kemana-mana bawa bodiguard selama ini ya." Anita ketawa.
__ADS_1
"Ya begitulah."