Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Menjomblo


__ADS_3

Setelah memarkirkan motornya di garasi, Aiden menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua. Ibob dan Luki mengekor Aiden. Aiden menaruh tas di kursi belajarnya. Ia menjatuhkan tubuhnya tanpa melepas seragamnya.


Luki duduk di sofa dan langsung memainkan game di ponselnya, Ibob yang langsung berlari ke kamar mandi karena mendapatkan panggilan alam setelah kekenyangan saat makan di kantin di istirahat terakhir.


“Menurut lo Rafa bakalan berhasil nembak Sila nggak?” tanya Luki.


“Sepertinya tidak,” jawab Aiden dengan jujur.


“Masalahnya?” Luki melihat ke arah Aiden.


“Dia terlalu gugup, dan sekarang pasti dia sedang kebingungan mencari topik pembahasan dengan Sila,” tebak Aiden.


“Sila lo mau makan apa?” sahut Ibob menirukan suara Rafa. Ia menirukan dengan nada yang bergetar. Aiden dan Luki langsung tertawa.


“Gue suka sama lo, mau nggak jadi pacar gue,” Luki pun ikut menirukannya.


“Maaf, kita berteman saja. Lo terlalu baik buat gue,” Aiden memeragakan sebagai Sila.


Mereka langsung tertawa heboh, menebak-nebak yang sedang di lakukan Rafa dan Sila.


“Ai, menurut lo mereka cocok nggak?” tanya Luki.


“Gue nggak tahu, tapi ini terlalu cepat untuk Rafa menyatakan perasaanya,” jelas Aiden. Ia merasa ragu dengan kedekatan Sila dan Rafa.


“Ya kan lebih cepat lebih baik, daripada nanti diembat orang lain. Apa lagi Dimas, sayang banget kan Silanya.”


“Terlalu buru-buru juga tidak bagus, hasilnya sering kali tidak baik,”


“Ai, lo sepertinya tidak senang dengan kedekatan mereka berdua, lo suka ya sama Sila?” Ibob tidur di sebelah Aiden.


“Jangan ngacau, gue rasa mereka berdua masih perlu pedekate dulu sebelum memutuskan untu pacara.”


Aiden bukannya tidak suka dengan hubungan sepupunya itu, apa lagi di katakan suka sama Sila. Dia hanya mau Rafa lebih mengenal Sila dahulu.


“Ai, kalau lo mau punya cewek seperti apa?” tanya Luki. Ia menghentikan gamenya lalu ikut gabung rebahan di kasur Aiden.


“Seperti mak gue,” jawabnya enteng.


“Lo kenapa nggak kreatif, masa ngikutin jejak bokap lo,” Ibob menepuk lengan Aiden.


“Ya biarin, yang penting sefrekuensi dan saling cinta. Kalau lo Luki?”


“Kayak Dinda,” Luki merenges. Dia jatuh hati kepada Dinda anak dari Vian dan Anita.


“Dinda anaknya Om Vian sama tante Anita?” Aiden duduk sembari menarik bantal guling untuk di peluk.


“Iya, itu manis banget,” jawabnya sembari nyengir kuda.


“Tapi memang manis sih itu anak, awas ya lo kalau sampai nyakitin Dinda,” ancam Aiden.

__ADS_1


Dinda anak terkecil diatara sahabat orang tuanya, ia dan Rafa menganggap Dinda sebagai adik kecilnya. Mereka bersama-sama sejak kecil, sehingga mereka bertiga saling menyayangi.


“Dinda yang sering kemari?” tanya Ibob.


“Iya, lo nggak suka sama dia juga kan Ai?” tanya Luki.


“Nggak, dia adik gue bagaimana bisa suka.”


“Ya siapa tahu, kalian kan bukan anak kandung ataupun saudara sedarah. Ya kalau lo suka gue mundur,” jelas Luki yang ikut duduk.


“Tenang saja, belum ada cewek yang bisa membuat gue jatuh cinta. Mungkin gue akan menemukan cinta gue pas gue di kuliah nanti,” kata Aiden.


Saat ini dia belum menyukai siapa-siapa, dia masih senang dengan status jombolnya.


*****


Aiden membuka komputernya, ia siap untuk bermain game online. Matanya tersita dengan layar ponselnya yang terus hidup.


087 825 xxx xxxx


Hey, gue Sila


Aiden


Ya


087 825 xxx xxx


Aiden


Ada perlu apa?


087 825 xxx xxx


Tidak ada, gue cuma mau kenal sama lo saja. Boleh?


Aiden


Bukanya kita sudah kenal


Aiden menaruh ponselnya, ia sudah tidak minat lagi membalas pesan dari Sila. Bahkan dia juga tidak menyimpan nomor Sila, bagianya tidak penting.


Gita mendorong pintu kamar Aiden, ia berjalan mendekati Aiden yang sedang heboh main gamenya sampai tidak sadar sang ibu sudah ada di belakangnya.


“Bob, maju, maju,” seru Aiden memberikan pengarahan kepada Ibob.


“Bagus ya, disuruh belajar malah main game?” Gita menjewer telinga kiri Aiden.


“Ma,ma sakit,” rengek Aiden sambil memegangi tangan Gita.

__ADS_1


Gita melepaskan jewerannya, saat Aiden berdiri karena tinggi badanya yang menjulang tinggi melebihi dirinya jadi dia agak kesusahan.


“Mama suruh apa tadi?”


“Mengerjakan tugas,” jawab Aiden sembari memegangi telingannya.


“Terus kenapa kamu malah main game?”


“Tugas Ai sudah selesai Ma, ini lihat,” Aiden memberikan buku tugasnya yang sudah selesai di kerjakan.


Gita hanya melihat tulisannya saja, ia tidak tahu itu jawabanya benar atau salah. Karena dia tidak tahu jawabanya, matematika selalu mejadi musuh bebuyutannya sampai dia sudah menikah.


Untung saja Aiden memiliki kecerdasan seperti bapaknya, yang mebuat Gita selalu bersyukur dan jarang khawatir dengan prestasi anaknya. Namun sebagai ibunya, ia tetap berperan sebagaimana seorang ibu yang sering memarahi anaknya kalau tidak mau belajar, kerjaannya main game saja.


“Sayang,” panggil Gilang sambil menaiki tangga menuju kamar Aiden.


“Iya, aku di kamar Ai,” seru Gita.


“Ada apa ini?” tanya Gilang saat melihat anak dan istrinya berdiri sembari membawa buku tugas Aiden.


“Kamu kena hukum lagi Ai?”


“Nggak Pa, mama lagi ngecek tugas Ai, nggak percaya kalau anaknya sudah mengerjakan tugas,” adu Aiden kepada Gilang.


“Sayang coba cek, ini benar nggak Aiden mengerjakannya,” Gita memberikan buku yang di bawanya kepada Gilang.


Gilang membaca sekilas, ia tersenyum karena jawabanya benar semua.


“Sudah kasih anaknya main game,” katanya sambil menutup bukunya.


“Kok begitu, besok nggak hari libur loh,” cerocos Gita.


“Anak kamu itu sudah SMA sudah besar, dia sudah bisa memanage waktunya.” bisik Gilang di telinga Gita.


“Tapi,”


“Sayang, beri kepercayaan sama dia.”


“Benar kata papa, Aiden sudah gede sudah bisa memanage waktu. Kayak mama suka belajar saja dulu,” ujar Aiden yang membuat Gilang tertawa.


“Mama suka belajar.”


“Nenek Wanda bilang mama itu nggak suka belajar, sukanya tidur di kelas sama kayak Om Raka. Jadi jangan salahin Ai dong kalau suka tidur,” kilah Aiden.


“Hey, dulu sama sekarang itu beda. Kamu tidak boleh membantah mama,” Aiden mendapatkan jeweran lagi.


“Pa,pa bikin adek sana biar mama ngurusin adek bayi. Ai bisa tenang,” kata Aiden sembari memegangi telinganya.


“Sayang, kasian ah anaknya,” Gilang menarik pelan tangan Gita.

__ADS_1


“Ma, sana keluar sama papa. Honey moon atau keluar negeri, bikin adik buat Ai.”


“Kamu itu ya, ada saja tingkahnya,” Gita geleng kepala sembari meninggalkan kamar Aiden. Ia malu di godain sama anaknya.


__ADS_2