Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Pesta


__ADS_3

Ting.. pesan baru masuk ke ponsel Gita, dia langsung


menengoknya. Gita menyandarkan tubuhnya lalu mengangkat ponselnya.


...Gilang...


...Sayang, hari ini aku akan pulang malam, aku akan meeting ke...


...beberapa tempat...


...Gita...


...Ok sayang, kamu hati-hati, jangan lupa makan ya. Aku tunggu...


...nanti di rumah...


Gita meletakkan poselnya, dia kembali fokus kepada kerjaannya.


Jam sudah menunjukan pukul empat sore, biasanya Gita langsung bergegas pulang tapi kali ini dia memilih untuk meneruskan pekerjaanya.


“Git, udah jam empat lo nggak mau pulang?” tanya Fara setelah melihat jam di tangannya.


“Nanggung, lagian juga Kak Gilang lembur sampai malam. Gue mau buru-buru juga mau ngapain.” Katanya dengan tangan dan mata yang tetap fokus.


“Bagus deh gue jadi punya teman lembur hari ini, kerjaan gue masih banyak banget.” Keluh Fara.


“Gue bantuin deh kalau udah kelar.” Kata Gita.


“Siap. Nit, lo ngapain diam saja?” Fara menoleh ke arah Anita yang nggak menyambung obrolan Gita dan Fara.


“Fokus gue, sebenarnya nggak mau lembur tapi Mas Win minta datanya hari ini harus kelar.” Kata Anita. Dia sebenarnya masih capek karena


perjalanan ke Jogja kemarin.


Namun karena dia ikut orang meskipun itu


perusahaan sahabat sendiri jadi dia nggak bisa seenaknya.


“Jadi ingen jaman sekolah nggak sih, kita banyak tugas dan sampai malam ngerjainnya di sekolah.” Fara mengingat masa-masa manis itu.


“Iya benar juga, mana kita cuma bertiga lagi disini.” Kata Gita.


“Mas Win, Mas Nino sama Vian belum balik ya?” Fara menoleh  ke meja mereka satu persatu.


“Kalau Mas Nino sih tadi bilangnya habis dari cek tempat langsung balik ada acara. Kalau Mas Win sama Vian kurang tahu gue.” Kata Anita.


“Kalian lapar nggak sih?” tanya Gita.


“Laparlah pastinya, kita pesan makan yuk.” Fara mengajak Gita dan Anita memesan makanan.


“Ok, pitza, ayam geprek, burger, minumnya apa ya?” Anita memegangi dagunya.


“Yakin lo mau makan semua itu?” Gita menekuk kedua alisanya.

__ADS_1


“Yakin lah, meskipun nggak semua habis setidaknya gue bisa mencicipinya semua. Kita pesta saja bertiga, sudah lama kan kita nggak makan banyak begini.” Kata Anita.


“Kalau gitu pesan saja semua menu yang ada.” Kata Gita. Dia ingin menambah menu semua makanan yang dia suka.


“Seblak, cilok, samyang apa lagi Far?”


“Tambah gorengan juga ya, kalian mau jus apa boba?” tanya Fara.


“Dua-duanya saja, eh pakai cola juga deh biar kayak di drakor.” Usul Gita.


“Siap.”


Mereka segera menyelesaikan semua kerjaan sebelum makanan datang, agar mereka bisa menkmati makanan dengan tenang dan nyaman.


Pukul enam sore semua makanan yang mereka pesan semua sudah datang. Fara yang kerjaannya kelar lebih dulu langsung menyiapkan semua menu makanannya. Dia menggelar karpet kecil yang ada di kantor. Sedangkan Anita dan Gita masih menyelesaikan sedikit kerjaan lagi.


“Git, Nit ayo buruan kesini nanti keburu dingin semua makanannya.” Kata Fara sambil duduk bersila.


“Ok.” Gita sudah menyelesaikan kerjaannya.


Gita langsung menyimpan dan sekaligus mematikan komputernya.  Anita pun menyusul Gita, dia juga langsung mematikan komputernya. Anita menaruh berkas di meja Win.


Mereka bertiga duduk melingkari makanan yang ada, meraka bertiga bingung mau mulai dari mana dulu makannya.


“Gue mau makan apa dulu nih, banyakan gini kok jadi bingung?” Gita menggaruk kepalanya.


“Apa saja.” Kata Fara. Dia mengambil pitza yang masih panas dan langsung melahapnya.


“Nggak usah bingung Git, mau di makan bareng semua juga boleh.” Ujar Anita sambil tertawa.


“Ini enak banget loh.” Katanya dengan mulut yang penuh.


“Pedesnya gimana?” tanya Anita yang tidak begitu suka dengan pedas.


“Pas, nggak begitu pedas kok. Lo bisa makan sambil minum.” Ledek Gita.


“Sialan lo.”


Mereka bertiga brutal sekali makannya hari ini, semua di lahap begitu saja. Tanpa memikirkan efek yang akan mereka dapatkan setelah


makan pedas.


Vian sama Win yang baru saja datang pun langsung mendelik melihat anak buahnya malah sedang pesta.


“Eh.. kalian bertiga ngapain? Piknik disini?” Win


geleng-geleng kepala.


“Eh... Mas Win, sini Mas duduk makan bareng masih banyak loh makananya.” Kata Gita dengan mulut yang menahan pedas.


“Wah.. kalian mukbang nggak ngajak-ngajak gue nih.” Vian langsung duduk dan ikut makan bareng.


“Gue kira lo langsung pulang.” Anita mengusap keringat yang mengucur ke wajahnya.

__ADS_1


“Awalnya sih gitu, tapi Mas Win minta ke kantor dulu. Mau ambil berkas yang lo kerjain.” Vian menyantap ayam gerpek yang pas di depannya.


“Mas Win, nggak mau makan bareng?” Tanya Gita sambil menatap Win yang masih berdiri bengong melihat tingkah laku anak buahnya.


“Udah Mas, makan dulu. Biar nanti gue yang bilang Mbak Ina. Gue kirim foto juga sama Mbak Ina biar percaya.” Vian menarik tangan Win sampai dia duduk.


Vian mengambil foto mereka bersama lalu mengirim ke Ina sebagai bukti kalau Win itu beneran makan di kantor bersama team bukan pulang malam karena macam-macam.


Win pun tak bisa menolak, apalagi perutnya memang sudah lapar sekali.


“Udah Mas, buruan makan. Ini udah di acc Mbak Ina.” Vian menunjukan Wanya sama Ina.


“Nih Mas, kopi tadi gue sempat pesan kopi juga masih panas kok.” Gita memberikan kopinya.


“Ini kalian acara apaan sih makan-makan besar seperti ini. Ini makanan bisa buat dua devisi kenapa di makan sendiri?” Win mulai melahap


satu persatu makanan yang ada.


“Acara makan saja Mas, tadi kita lapar jadi pesan-pesan saja yang bakal kita makan.” Gita menyeruput bobanya.


“Kalian memang gila, baru kali ini gue dapat team segokil ini.” Kata Win.


“Makanya Mas, sering-sering main sama Kita biar lo merasakan hal-hal yang ajib.” Kata Vian.


“Gue sudah tua, bisa jantungan gue main sama kalian. Kalian itu selalu saja bikin gue senam jantung tahu.” Kata Win.


Mereka langsung tertawa, mendengar jawaban Win. Memang benar berteman dengan mereka itu harus memiliki mental yang kuat untuk menghadapi tingkah bar-bar mereka.


“Ah.. perut gue kenyang banget. Rasanya sudah mau pecah ini.” Kata Anita sambil mengusap perutnya.


“Bibir gue doer, pedes banget ini semua makanan.” Kata Win.


“Gue nggak kuat jalan.” Kata Gita.


Setelah makanan habis, mereka bergegas membereskan tempat dan segera untuk pulang karena waktu sudah menunjukan pukul delapan malam.


“Lo pulang sama siapa Git?” tanya Fara.


“Gue di jemput Bani.” Kata Gita sembari mengambil tasnya.


“Ok, kalau gitu gue jalan duluan boleh nggak? Raka udah jemput di depan nih.” Kata Fara.


“OK, hati-hati.”


Fara berjalan lebih dulu, lalu di susul Win tinggal Vian, Anita yang masih menunggu Bani datang menjemput Gita.


“Kalian pulang dulu saja nggak apa-apa, sebentar lagi Bani juga datang.” Gita menyuruh Vian mengantar Anita duluan.


“Kita tungguin Git, lagian sudah sepi juga kantor.” Kata Anita.


“Iya, bisa di gorok gue sama Gilang kalau lo sampai kenapa-kenapa.” Kata Vian.  Gita hanya


tersenyum, meskipun Gilang tidak sesadis itu, tapi Gilang pasti akan sangat marah kalau dia sampai di tinggalkan sahabat-sahabatnya dan kenapa-kenapa.

__ADS_1


Tak selang lama, jemputan Gita pun datang. Mereka langsung berpisah di gerbang kantor.


__ADS_2