
Aiden dan Luki pamit kepada wanda hendak pulang. Mereka beralasan mengambil barang yang ketinggalan karena takut kalau sampai ketahuan di skors.
Pagi-pagi bersamaan dengan Rafa dan Ibob berangkat sekolah, Aiden dan Luki balik kampung. Mereka berdua merindukan keluarganya.
“Lo mau balik dulu apa ke rumah gue?” tanya Aiden.
“Gue mau balik dulu, temu kangen sama keuarga dulu,” jawab Luki.
“Ok.”
Aiden dan Luki naik taksi terpisah, mereka pulang ke rumah masing-masing. Setelah perjalanan yang sangat melelahkan karena macet parah Aiden sampai di depan rumahnya.
“Kangen sekali sama rumah.” Aiden menutup pintu taksi dengan sedikit keras.
Aiden barlari menuju rumahnya yang sepi, karena semua keluarganya sudah berangkat kerja.
“Ma, Pa, “ panggil Aiden padahal sudah tahu kalau mereka tidak ada di rumah namun mash saja memanggil-manggil mamanya.
“Eh, Mas Ai pulang.” Kata Bik Siti yang berlari dari dapur saat ada yang teriak-teriak.
“Mama sama papa ke kantor ya Bik?” tanya Aiden.
“Ya di kantor Mas, nggak bilang mau pulang sih,” Kata Bik Siti.
“Bik, sudah lama nggak ketemu makin cantik saja,” goda Aiden.
“Mas Ai jail banget sih, Bik Siti dari dulu juga begini saja.” Bik Siti menepuk pelan lengan anak majikannya itu.
“Beneran cantik, nggak percaya deh. Pasti kalau keluar komplek itu ya banyak yang suka godain kan, jujur.” Aiden menyolek lengan Bik Siti. Dia suka sekali membuat bibinya yang sudah masuk kepala lima itu tersipu malu karena ulahnya.
“Mas Ai, bibik sudah tua. Lagian siapa yang mau godain bibi. Itu Beni saja yang sudah tua belum menikah.” Bik Siti menunjuk Beni yang ada di luar rumah.
Aiden berjalan keluar bersama Bik Siti, mereka menatap kearah Beni yang sedang mencucu mobil. Beni berhenti mencuci mobilnya ketika merasa menjadi pusat perhatian.
“Mas Ai, sama Bik Siti ngapain ngelihatin Beni sampai kayak begitu?” Beni mengerutkan keningnya.
“Mas Ben, punya pacar nggak sih?” tanya Aiden.
“Kenapa memang mas?” Beni makin di bua bingung dengan pertanyaan Aiden.
“Ya kalau mau punya buruan menikah, nanti keburu ilang loh pacarnya.”
“Mas Ai mah ada-ada saja, ini pasti ajarannya Bik Siti kan,” Beni menuduh Bik Siti yang menghasut Aiden untuk mengatakan itu.
“Eh, nggak ya. Mas Ai sendiri yang bilang. Mas Ai mau makan apa biar bibik buatin?” tanya Bik Siti.
“Nggak usah bik nanti saja. Mas anterin Ai ke kantor papa sama mama yuk,” pinta Aiden.
“Siap Mas.” Beni bergegas menyelesaikan mencuci mobilnya.
*****
Seperti permintaan Aiden, Beni membawanya ke kantor mamanya.
“Mas kalau mau jalan-jalan dulu boleh. Nanti Ai telpon kalau sudah mau pulang,” pesan Aiden.
__ADS_1
“Baik Mas.”
Aiden langsung menjadi pusat perhatian orang-orang kantor karena kegantengannya. Aiden berjalan menuju repsionis kantor.
“Mbak mau tanyanya --”
“Maaf di sini belum ada lowongan kerja.” kata resepsionis kantor memotong pembicaraan Aiden.
“Ha?” Aiden menggaruk-garuk kepala. Apakah dia seperti orang yang hendak menlamar pekerjaan.
“Iya, belum ada lowongan dik. Nanti kalau sudah ada lowongan biar kakak kasih tahu. Kamu bisa meninggalkan nomor hp,” tambahnya.
“Tapi saya ke sini bukan mau melamar kerja,” jelasnya.
“Lalu?”
“Saya mau ketemu Pak Gilang atau Bu Gita.”
“Ada urusan apa ya, soalnya beliau sedang rapat. Kalau ada pesan biar nanti saya sampaikan dari pada menunggu lama,” ujarnya.
Aiden menghela napas panjang. “Saya anaknya Pak Gilang mbak, apa saya masih harus menunggu?”
“Anaknya Pak Gilang?” tanyanya balik.
“Iya Mbak, coba saja mbak telpon salah satu dari mereka,” ujar Aiden.
Resepsionis itu masih saja tidak percaya kalau Aiden putra bosnya, dia memang tahu kalau bosnya memiliki putra namun masih kecil.
“Ai,” seru Fara dari kejauhan. Fara berlari lalu memeluk keponakannya.
Resepsionis langsung mengkeret, ternyata benar anak di hadapannya itu adalah putra bosnya saat melihat Fara memeluknya. Gita mengerutkan keningnya melihat Fara yang memeluk erat seseorang.
Kedua mata Gita langsung terbuka lebar saat melihat semakin dekat yang di peluk Fara.
“Ai, sayang,” seru Gita dan langsung berlari menuju Aiden. Aiden melepaskan pelukan tantenya beralih keorang yang sangat di kangeni. Siapa lagi kalau bukan mama tersayangnya.
“Mama, Ai kangen banget sama mama.” ucapnya sembari memeluk Gita.
“Anak mama, kenapa nggak langsung masuk ke ruangan mama atau papa.” Gita mencium pipi Aiden berkali-kali.
“Kata mbaknya, mama sama papa sibuk jadi nggak bisa di ganggu.” Aiden menunjuk resepsionisnya.
Gita berjalan menuju ke arah resepsionisnya. “Vita, kamu ingat ya ini anak saya. Kalau dia datang langsung suruh masuk ke ruangan saya atau pak Gilang. Jangan di suruh menunggu atau di usir. Kamu sudah bekerja sudah lama kan di sini masa nggak mengelani anak saya,” omel Gita.
“Maaf Buk, saya tidak mengenalinya.” Resepsionis itu menundukan kepala. Malu dan juga takut kalau sampai di pecat gara-gara tidak mengenali anak bosnya.
“Ingat lagi ya wajah anak saya,” ujar Gita.
“Baik Buk.”
Gita membawa Aiden ke ruangan Gilang agar Aiden bisa istirahat dengan tenang.
“Far, jam berapa kita bertemu kliennya?” tanya Gita.
“Masih setengah jam lagi,” jawab Fara.
__ADS_1
“Nanti lo panggil gue ya, mau temu kangen dulu sama Aiden.”
“Ok, Ai kok Rafa nggak ikut pulang?”
“Iya tante, Rafa weekend besok baru bisa pulang karena sedang ada acara.”
“Lo kamu nggak ikut acara Ai?”
“Nggak tante, Ai mager.” Aiden merenges.
“Keturunan emaknya ini pasti, tukang mager,” cicit Fara.
“Kok gue?”
“Memangnya Aiden anak siapa?”
“Kak Gilang.”
“Kak Gilang nggak mungkin mager, genius dan selalu disiplin,” papar Fara.
“Kayak lo nggak males saja, terus Rafa keturunan siapa? Orang lo sama Raka sama-sama tukang mager.” Gita menatap Fara.
“Benar juga ya.” Fara menggaruk kepalanya.
“Berarti menurun gen papa,” sahut Aiden.
“Wah, jangan-jangan lo ada main ya sama Kak Gilang ini,” tuduh Gita.
“Gue getok juga pala kalian berdua, bisa-bisanya menuduh gue begitu,” Fara mendelik kearah Gita dan Aiden.
“Perlu tes dna nggak ini,” goda Aiden.
“Ai, kamu mau tante masukin ke perut mama kamu lagi loh.”
Aiden nyengir, “Bercanda tante.”
“Sudah sana buruan masuk ke ruangan bapak lo,” suruh Fara saat sampai di depan ruangan Gilang.
“Ok, gue temani Ai sebentar ya Far,” ujar Gita. Fara mengakat dua jempolnya dan berlalu berjalan dulu.
“Papa ke mana ma?” tanya Aiden.
“Rapat.”
“Jadi Ai di sini sendirian ini?”
“Iya, mungkin sebentar lagi papa pulang. Kamu mau makan apa biar mama pesankan.” Gita mengambil ponsel untuk memesankan gofood untuk Aiden makan siang.
Sebenarnya Aiden ingin makan siang bersama Gita dan Gilang, namun dia harus memahami kalau kedua orang tuanya itu sangat sibuk.
“Nggak usah Ma, Bik Siti sudah masak buat Ai kok. Ai cuma sebentar di sini.” ujarnya.
“Beneran kamu nggak mau mama pesankan makan?”
“Nggak usah ma, kapan-kapan saja,” jawabnya sembari tersenyum manis.
__ADS_1