
...Gita...
...Sayang, aku izin pergi ke mall ya...
...Aku pergi sama Bani kok, tenang saja kamu nggak usah khawatir...
...Love you...
Gilang membaca pesan yang di kirim Gita. Dia menghela napas panjang.
"Halo, Bani kamu pergi sama Gita." tanya Gilang.
"Iya Mas, ini baru saja sampai mall."
"Kamu jaga benar-benar ya, jangan teledor."
"Siap Mas."
"Ngomong-ngomong, Mbak Gita ketemu sama siapa?"
"Maaf Mas, saya juga kurang paham siapa dia. Soalnya belum pernah ketemu." Jawab Bani.
"Cowok?"
"Cewek Mas. Kayaknya Mbak Gita udah kenal lama kok. Akrab banget soalnya."
"Baiklah, tetap awasi Gita ya. Makasih."
"Baik Mas."
"Kenapa Lang? Ada masalah?" tanya Vian saat melihat Gilang yang nampak gelisah.
"Nggak, biasa Gita kalau minta izin pasti udah sambil jalan.
Vian tertawa mendengarnya, "Ya jelas, dia tahu banget gimana mendapatkan izin. Kalau nggak gitu pasti dia nggak akan jadi pergi karena lo larang."
"Ya gimana, orang dia juga lagi hamil besar. Nggak mau diam banget sampaj heran. Bisa aktiv gitu ibu hamil." kata Gilang sambil geleng kepala.
"Cowok mungkin anak lo jadi aktiv gitu, ingat nggak waktu kehamilan Fara dia kan juga super aktv." Vian mengingat kejadian Fara yang super aktiv.
"Benar juga. Mungkin anak gue cowok kali ya." Gilang sumringah dia sudah tidak sabar menunggu kelahiran buah hatinya.
"Ya kali, moga-moga tingkahnya nanti nih kalau lahir kayak lo. Jangan kayak Gita bikin pusing." Jelas Vian.
"Hhm... Asik bener lagi pada ngomongin apa?" Lia tiba-tiba datang dan langsung nimbrung bersama Gilang dan Vian.
"Bu Lia, kok tiba-tiba datang kesini?" tanya Vian dengan heran. Dia ikut nimbrung di kantin.
"Iya, tadi saya cari di ruangan Pak Gilang tidak ada. Terus sekretaris kamu bilang ada di kantin ya aku samperin kesini." kata Lia.
"Memangnya ada keperluan apa? Sepertinya proyek kita lancar dan sudah di tangani sama staf-staf saya." Kata Gilang.
__ADS_1
"Benar Pak, saya datang kesini hanya mau menyampaikan undangan dari papa saya. Kami mengadakan jamuan makan malam untuk para rekan kerja." kata Lia.
"Acara apa ya buk?" tanya Vian.
"Acara jamuan biasa, pertemuan para pemegang proyek sama akan membicarakan bisnis baru. Pak Gilang harus datang ya." Lia sangat berharap dengan kedatangan Gilang.
"Saya tidak bisa janji, tapi nanti kalau memang ada waktu saya datang." Kata Gilang.
"Baiklah Pak, saya sangat mengharapkan kedatangan Bapak." Wajah Lia benar-benar sumringah.
Fara yang melihat Lia centil sama Gilang langsung beraksi. Dia membawa minum dan menumpahkan di baju Lia dengan pura-pura dia terjatuh.
"Maaf..maaf buk nggak sengaja." Kata Fara.
"Lo bisa hati-hati nggak sih, lihat baju gue jadi basah." Lia kesal.
"Maaf..maaf buk, saya nggak sengaja." Fara mencoba membersihkan baju Lia.
"Jangan sentuh baju gue, lo kalau jalan itu mata juga di pakai jangan cuma buat pajangan saja."
"Kan saya sudah minta maaf, orang nggak sengaja juga."
"Pak Gilang, kenapa bapak mempekerjakan karyawan macam dia, harusnya bapak pecat."
"Dia kan sudah minta maaf, namanya juga orang nggak sengaja." Gilang membela Lia.
"Buat permintaan maaf saya, bagaimana kalau baju ibu ini saya ganti." Fara menawarkan diri mengganti baju milik Lia.
Fara tersenyum penuh kemenangan, "Makanya jangan macam-macam sama gue." Batin Fara.
Gilang menatap Fara dengan curiga, dia tahu kalau Fara sebenarnya sengaja menumpahkan air minumnya.
"Kenapa ngelihatin gue seperti itu?" Fara mengerutkan keningnya. "Nggak suka ya?"
"Nggak, Vian gue mau bicara sama lo. Ikut ke ruangan gue."
"Ok."
...----------------...
"Anita, ya ampun udah lama banget kita nggak ketemu." Gita memeluk Anita.
"Iya, lama banget ya. Kapan ya terakhir ketemu?" Anita mengingat kapan terakhir bertemu dengan Gita.
"Em.. Nikahan lo bukan sih?"
"Bukan, kelahiran Rafa."
"Ah.. Iya, benar-benar." Gita mengangguk-angguk.
"Keponakan tante, yuk buruan keluar biar makin rame dunia pertemanan mama sama tante." Anita mengelus perut Gita.
__ADS_1
"Sabar dong tante."
"Duduk gih, dadi tadi berdiri saja." kata Anita.
"Ah.. Iya sampai lupa. Gimana kabar lo Nit?"
"Yah.. Lumayan."
"Lumayan apaan nih?" Gita merasa ada yang tidak beres saat melihat perubahan ekspresi Anita.
"Yah lumayan sedang tidak baik-baik saja."
"Ada apa?" Gita menegang tangan Anita yang mulai terlihat gelisah.
"Gue sedang berantem sama Kak Bayu, pernikahan gue diambang kehancuran." Katanya dengan mata berkaca-kaca.
"Loh kenapa? Apa ada orang ketiga?"
"Gue nggak tahu, cuman gue rasa masalahnya ada pada gue." Anita mulai meneteskan air matanya.
"Anita, lo jangan nangis nanti gue sedih. Lo cerita pelan-pelan." Gita pindah tempat duduk di sebelah Anita. Dia mengusap punggung Anita untuk menenangkanya.
"Gue nggak subur Git, gue nggak akan bisa punya anak. Mungkin Bayu kecewa sama gue karena tidak bisa kasih keturunan dia. Makanya dia cuek, dan berpaling."
"Mungkin perasaan lo saja, Bayu kan sibuk di kantornya jadi waktu untuk lo berkurang."
"Nggak Git, gue tahu pasti sifat dia. Sekarang dia sering marah-marah pulang telat saat tahu gue tidak subur." Tangisan Anita mulai menjadi. "Tak hanya itu, mertua gue juga terus menyudutkan gue."
"Lo susah konsultasi ke dokter?" tanya Gita.
"Belum, Bayu tidak pernah ada waktu. Bahkan gue balik ke rumah mama dia tidak mencari gue."
"Wah keterlaluan banget Kak Bayu, perlu di kasih pelajaran dia. Harusnya susah senang bersama bukan malah seperti ini." Gita geregetan sama Bayu. Dia kesal sahabatnya di perlakukan seperti itu.
"Ingat lo lagi hamil, jangan bar-bar deh. Kondisi bayi lo lebih penting, gue udah iklas kok sama hubungan pernikahan gue." Anita tersenyum getir.
"Jangan seperti itu Nit, lo udah ngobrol empat mata belum sama lo?"
Anita menggelengkan kepala, tampaknya komunikasi Anita dan Bayu tidak bagus.
"Em.. Udah deh kok jadi bahas beginian sih. Harusnya kan kita senang-senang. Oiya apa kabar Kak Gilang, Vian, Raka sama Fara?" Anita ingin mengalihkan pembicaraan.
"Mereka baik, dan Vian masih saja betah jomblo."
"Loh, bukanya dia udah mau nikah sama Bella?" Anita tercengang mendengar Vian masih jomblo.
"Bella memutuskan pergi bersama orang tuanya, dia meninggalkan Vian begitu saja tanpa pamit. Jadi ya pupus lah pernikahan Vian. Untungnya baru tunangan."
"Kasihan ya Vian, padahal dia itu sangat baik dan tulus sama Bella. Bisa-bisanya dia meninggalkan Vian."
"Iya, cuman kan kita nggak tahu isi hati dan keinginan orang."
__ADS_1