
Kyra menggeliat, ia melihat jam di hpnya. Ia kembali menarik selimut saat melihat masih terlalu pagi untuk bangun di weekend.
Kyra yang mulai masuk ke dunia mimpi lagi samar-samar mendengar ketukan pintu, sehingga membuat kedua matanya terbuka lebar lagi.
“Siapa sih pagi-pagi ganggu tidur gue,” Kyra mengucek kedua matanya.
Kyra menghempas selimut dari tubuhnya, ia berjalan dengan malas untuk membuka pintu.
“Kyra!” seru Dinda yang langsung nyelonong masuk saat pintu kamar terbuka.
Kyra menutup pintunya lagi, matanya yang masih ngantuk itu menatap Dinda yang sudah menggunakan celana training dipadu dengan kaos hitam dan juga jaket.
“Ngapain bengong aja?” tanya Dinda.
Kyra menjatuhkan tubuhnya ke kasur sembari menarik selimut sampai ke dada.
“Lo ngapain pagi-pagi ke sini?” tanyanya.
“Kyra sayang, kitakan mau pergi camping. Lo sudah janji lo mau ikut,” Dinda menarik selimut Kyra.
“Kapan gue ngomong?” pura-pura tidak ingat.
Kyra kemarin cuma bercanda, dia memilih untuk tidur seharian di rumah lalu lanjut belajar lagi.
“Ah, berlaga amnesia. Gue bikin amnesia beneran lo ya,” ancam Dinda sembari mengambil ponsel Kyra siap untuk mengetuknya di kepala Kyra.
Kyra meringis, “Memangnya nyokap sama bokap gue ngasih izin?” Kyra yakin tidak akan diizinkan.
“Diizinin.”
Kyra tertawa geli, “Lo ngibul ya, mana mungkin nyokap gue kasih izin gue pergi. Mana jauh, dua hari pula,” Kyra menggelengkan kepala.
“Lo nggak percaya?” Dinda menatap Kyra.
“Nggak,” jawab Kyra dengan jelas, singkat dan padat.
“Ikut gue,” Dinda menarik tangan Kyra membawa ke depan orang tuannya. Untuk membuktikan kalau dia berhasil meminta izin nyokapnya.
Dinda membawa Kyra di depan keluargannya yang sadang berada di ruang tamu dengan aktivitasnya masing-masing.
“Tante, Om, maaf Dinda mengganggu,” ucap Dinda pelan-pelan.
“Ya Dinda ada apa?”
“Begini tante, Kyra boleh kan ikut Dinda camping?” tanya Dinda.
“Tante tadi kan sudah izinin Kyra pergi, kenapa?”
“Ini tante, Kyra nggak percaya kalau sudah diizinkan untuk pergi.”
__ADS_1
“Kyra, mama izinkan kamu pergi. Sudah sana buruan siap-siap kasihan kan teman-teman kalian kalau menunggu terlalu lama,” ujar mamanya yang membuat Kyra melongo.
Semudah itu Dinda bisa minta izin, biasanya Kyra akan meminta izin seminggu atau lima hari sebelumnya kalau mau berpergian.
“Buruan, sebelum nyokap lo berubah pikiran,” bisik Dinda.
“Makasih ya tante,” tambah Dinda.
Kyra mengambil tas ransel di lemarinya, ia mulai mengambil baju-baju yang akan di bawanya.
“Lo ngomong apa sama nyokap gue, kok bisa-bisanya gue diizinin pergi?” Kyra kepo.
“Ada deh,” kata Dinda.
“Lo nggak ngomong yang aneh-aneh kan?”
“Nggak ada.”
Kyra masih curiga dengan Dinda mengatakan hal yang aneh-aneh sampai mamanya mengizinkan pergi.
*****
Aiden, Rafa, Luki dan Ibob sampai kering menunggu Dinda dan Kyra mobil.
“Ini jadi nggak sih perginya?” keluh Ibob.
“Balik saja yok, sudah sampai berjamur kita di sini,” ajak Rafa.
“Setuju,” seru Rafa dan Luki.
“Jangan dong, sebentar lagi juga mereka keluar,” Luki menenangkan ketiga sahabatnya. Dia tidak mau acara camping bersama Dinda batal begitu saja, dia sudah mendambakan pergi sama Dinda begitu lama.
“Lo mah keenakan, ada Dinda lah kita?”
“Kita lo saja kali, berdua sih enak-enak saja ya nggk Bob,” Aiden menggoda Rafa.
“Yoi, kita enjoy. Fa lo kenapa sih ngebet banget mau pulang?” tanya Ibob.
Sebelum memutuskan camping, Luki dan Rafa ada perbedaan pendapat. Rafa meminta untuk pulang saja ke rumah. Namun karena banyak yang memilih camping jadi Rafa ngikut saja.
“Lo merindukan seseorang kah?” tanya Aiden dengan tepat sasaran.
“Siapa, Sila?” Luki kepo.
“Bukannya Sila sukanya sama Ai?” sahut Ibob.
“Nggak gue nggak merindukan siapa-siapa, ngaco Ai kalau ngomong,” kilah Rafa.
“Bohong banget, lo suka kan sama Erina?” Aiden menggerak-gerakan kedua alisnya sambil senyum-senyum.
__ADS_1
“Erina?” Ibob dan Luki saling berpandangan lalu melihat kearah Rafa.
“Nggak,” Rafa masih saja menyangkal tuduhan-tuduhan teman-temannya.
“Beneran lo nggak ngaku, gue telepon ini Erina,” Aiden mengambil ponsel hendak menelepon Erina.
“Eh,” Aiden mengambil ponsel Aiden. “Iya, gue pacaran sama Erina,” Aiden akhirnya ngaku kalau dia pacaran sama Eria.
“Wah, berita luar biasa. Lo kok bisa pacaran sama dia?” tanya Luki.
“Benar juga, kok bisa cepat beralih dari Sila ke Erina gimana ceritanya?”
“Ya nggak tahu, mengalir begitu saja. Eh Ai, darimana lo tahu kalau gue pacaran sama Erina?” Rafa kepo darimana dia tahu kalau dirinya pacaran. Sedangkan dia belum menceritakan sama siapa pun.
“Lo kan sering itu telepon ngumpet-ngumpet, tambah lagi kalau malam lo suka sleep call kan,” ujar Aiden.
Sebenarnya Aiden sudah tahu semenjak mereka datang ke tempat neneknya, namun dia masih diam tak mau terlalu mengkorek-korek sebelum Rafa cerita sendiri.
“Lo kok nggak kasih tahu kita sih?” kata Ibob.
“Memangnya siapa kalian, kok harus gue kasih tahu,” Aiden melihat Ibob dan Luki dengan wajah jijik.
“Siala lo,” Ibob melempar chiki yang ada di tangannya sampai tumpah di tubuh Aiden.
Keempat cowok yang sedang bercanda itu langsung diam saat pintu mobil terbuka. Mereka langsung menatap kearah pintu.
“Kalian kenapa melihat kita seperti itu?” tanya Dinda.
“Lo ikutan tidur didalam, lama amat sampai kita mau kering ini,” protes Ibob sembari melangkah ke kursi belakang.
“Maklum lah tuan putri, persiapanya kan mesti banyak. Yang penting kan dirinya orang lain mah nomor sekian,” sindir Aiden.
“Maksud lo apa ngomong kayak begitu?” ketus Kyra.
“Katanya rengkin pertama di sekolah masa tidak bisa menyimpulkan pernyataan seperti itu,” jawab Aiden dengan santai.
“Gue nggak jadi ikut,” Kyra berbalik mau masuk lagi ke rumah namun di tahan sama Dinda.
“Kyra, Kyra jangan ngambek dong. Ayo masuk,” bujuk Dinda. Ia menyuruh Kyra masuk duluan sebelum dia kabur lagi.
Dinda menepuk pundak Aiden keras-keras sampai dia nyengir.
“Lo kenapa pukul-pukul gue sih,” ringis Aiden.
“Makanya jangan ngomong sembarangan sama Kyra,” Dinda membela Kyra.
“Gue ngomong kenyataan,” Aiden melnoleh kearah Kyra yang mulutnya sudah manyun.
“Udah Kak Rafa, buruan jalan,” pinta Dinda.
__ADS_1
Kyra yang sudah malas berpergian semakin di buat badmood sama ucapan Aiden. Dia juga tidak meminta di tunggu dan diajaknya.
Sepanjang perjalanan Aiden, Rafa, Ibob dan Luki terus bercanda di tambah lagi Dinda yang ikut menimpalinya sehingga riuh. Sedangkan Kyra hanya diam, sesekali senyum terpaksa saat di suruh oleh Dinda.