
Aiden mencopot topi lalu dia gunakan untuk mengipasi tubuhnya yang panas. Setiap hari senin seakan matahari tidak bisa diajak bersahabat, matahari selalu bersinar terang tanpa adanya awan yang menghalangi, di tambah angin pun seakan susah bertiup.
Aiden mendengus karena masih harus berdiri sampai pemeriksaan kelas selesai. Kakinya sudah terlalu capek untuk menopang tubuhnya.
“Pak, saya menemukan rokok di tas dia,” tunjuk Wildan seksi keamanan yang sedang mengecek milik Aiden.
“Geledah lagi,” ucap kepala keamanan sekolah yaitu Pak Hendarko.
Wildan mengeluarkan isi tas milik Aiden, dan di temukan lagi satu buah korek.
“Kak, ini bukan punya saya,” Aiden mencoba membela diri.
“Jelas-jelas ini di tas kamu, masih saja mau mengelak bukan punya kamu!” tukas Wildan dengan nada sedikit meninggi.
“Wildan, bawa di keruangan saya,” perntah Pak Hendarko.
Semua langsung saling berbisik saat Aiden di bawa keluar kelas. Rafa, Ibob dan Luki merasa ada yang tidak beres, Aiden bukan perokok.
“Rafa, apa Aiden merokok?” tanya Kyra.
“Tentu saja tidak,” jawab Rafa dengan tegas. Dia tahu semua tentang Aiden sejak lahir, bahkan mereka selalu saja pergi bersama-sama. Dia seperti anak kembar yang ke mana-mana selalu berdua.
“Tapi kenapa --”
“Ada rokok di tasnya?” Rafa memotong ucapan Kyra.
“Iya, itu kan tas milik Aiden. Pasti itu milik dia kan?” ucap Kyra.
Dia bingung mau mempercayai atau tidak, tapi dia melihat dengan jelas dua benda itu dari tas Aiden. Sangat susah juga untuk menyangkalnya.
Ibob mengambil ponselnya dari kantong lalu memasukan ke tas milik Kyra diam-diam. Dia kemudian menggeledah secara paksa.
“Ibob apa yang lo lakuin?” Kyra bingung Ibob mengacak-acak isi tasnya.
“Ponsel gue kenapa ada di tas lo?”
Kyra panik tiba-tiba ponsel Ibob bisa ada di tasnya, padahal dia tidak pernah meminjam.
“Gue nggak ngambil sumpah.” Kyra mengangkat dua jari berbentuk V.
“Tapi kenapa bisa di tas lo?”
“Kak jangan ngada-ngada deh, mana mungkin Kyra mengambil hp kakak. Dia bukan maling, Dinda sudah mengenal Kyra lama,” Dinda membela Kyra.
__ADS_1
“Tapi kan itu tas lo,” Ibob memandang kedua bola mata Kyra tajam.
Kyra langsung bungkam, dia mulai paham kenapa Ibob memasukan ponselnya ke dalam tasnya. Itu menunjukkan kepadanya kalau ada orang yang menaruh rokok dan korek di tas Aiden.
“Maaf.”
“Kenapa minta maaf, lo kan nggak ngambil. Kak meskipun kita jauh lebih lama kenal, bukan berati gue bisa diam saja ya melihat Kyra di tindas sama kalian.” Dinda berdiri siap menjadi garda terdepan Kyra.
“Dinda, ini gue yang salah kok. Gue paham yang dimaksud Ibob.” Kyra meminta Dinda duduk.
“Ha?” Dinda masih tidak paham.
“Jangan pernah menilai apapun yang lo lihat tanpa tahu kebenarannya,” ujar Luki. Ketiga cowok yang biasanya celengekan itu berubah menjadi sangat garang.
“Maksudnya gimana?” Dinda masih meminta penjelasan.
“Nanti gue kasih tahu,” bisik Kyra.
“Ok,” ucap Dinda tanpa bersuara.
*****
Aiden di dudukkan di ruangan Bk bersama Pak Hendarko, Bu Ariyani, Wildan dan juga Kris yang datang belakangan. Aiden duduk tegap, pandangannya lurus dia sama sekali tidak gentar berhadapan dengan orang yang di takuti di sekolahan ini.
“Itu bukan rokok saya bu,” jawab Aiden dengan santai.
“Kalau memang itu bukan punya kamu, terus punya siapa?” tanya Bu Ariyani.
“Saya juga nggak tahu, kenapa tiba-tiba rokok ada di tas saya,” jelas Aiden.
“Ngomong yang benar!” Pak Hendarko memukul meja dengan tongat berukuran kira-kira empat puluh sentimeter.
“Saya sudah jujur Pak.” Aiden membenarkan posisi duduknya lurus kembali setelah sempat menyerongkan tubuhnya saat dia kaget mendengar suara ketukan kayu dari Pak Hendarko.
“Sudahlah lo jujur saja, dari pada lo mendapatkan sanksi besar,” ucap Kris terdengar sangat bijak.
Aiden menoleh kearah Kris. “Kenapa gue harus mengakui hal yang bukan kesalahan gue.” Aiden masih tidak mau mengakui karena memang bukan kesalahannya.
“Baiklah kalau kamu nggak mau mengaku, sekolahan akan memberikan skors sama kamu,” ujar Pak Hendarko.
“Ai, katakan sejujurnya biar kamu tidak di skors,” Bu Ariyani memegang tangan Aiden.
Bu Ariyani berkata lembut agar Aiden mau mengakui. Mungkin dia tidak bisa akan mengaku jika menggunakan bahasa yang lembut.
__ADS_1
“Kalau kamu ada masalah boleh cerita sama ibu,” Bu Ariyani mencoba membujuk Aiden.
“Kita ngobrol berdua, gimana?” tanya Bu Ariyani.
“Bu, mau sampai kapan pun saya nggak akan mengaku. Orang itu bukan punya Ai,” kekeh Aiden.
“Baiklah kalau kamu tetap tidak mau mengaku, panggil orang tua ke sini sekarang juga,” perintah Pak Hendarko.
“Tapi Pak --,”
“Ai, lo kenapa banyak bicara. Segera lakukan saja perintah Pak Hendarko,” ujar Kris memutus ucapan Aiden.
Dia sangat senang Aiden mendapatkan masalah, perlahan tapi pasti dia akan menendang Aiden dari sekolahan.
“Aiden, segera telpone orang tua kamu untuk ke sini. Atau pihak sekolah akan mengeluarkan kamu,” ujar Pak Hendarko.
“Baik Pak.”
Aiden meminta izin untuk keluar untuk menelpone, meskipun ini sangat berat Aiden harus meminta neneknya datang. Sebentanya dia takut kalau neneknya jadi kepikiran karena ulahnya. Aiden kembali duduk sembari menunggu neneknya datang ke sekolah.
“Ai, kamu itu anak yang pinter, kenapa kamu harus berurusan sama barang itu?” Bu Ariyani sangat menyayangkannya.
“Ai sudah bilang berapa kali sama ibu kalau ini bukan punya saya,” Aiden kembali memberikan penjelasan meskipun itu hanya sia-sia. Karena tanpa bukti dia tidak akan memenangkan kasus ini. Karena bukti jelas ada di dalam tasnya.
“Benar Bu, saya juga sudah sering mengingatkan agar menaati tata tertib dan peraturan sekolah ini. Tapi Aiden selalu saja menyepelekan,” ucap Kris. Dia sengaja menjatuhkan Aiden.
“Jaga mulut lo, nggak perku mencari muka di sini,” sahut Aiden.
“Lihat kan Pak, Buk. Dia terus menyangkal malah menuduh saya yang tidak-tidak.” Kris menagtaan itu dengan nada sedih seolah dia adalah korbannya.
“Kris, Wildan kalian bisa kembali ke kelas masing – masing,” perintah Bu Ariyani.
“Baik Buk,” jawab Wildan sembari meninggalkan ruangan. Sedangkan Kris masih diam berdiri di tempat semula. Dia ingin tahu hukuman apa yang di berikan sama Aiden. Dia mau hukuman yang seberat-beratnya.
“Kris, kamu kenapa masih di sini?”
“Saya akan di sini sampai selesai. Siapa tahu saya di butuhkan di sini,” ujar Kris. Dia masih berusaha untuk tetap di ruang bp menyaksikan Aiden.
“Kamu kembali saja ke kelas.”
“Baik Pak.”
“Sial, gue kan jadi nggak bisa melihat kesengsaran Ai,” gumamnya pelan.
__ADS_1