Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Fitnah 2


__ADS_3

Wanda menatap Aiden dengan cemas, tubuhnya bergetar sejak Aiden menelponnya.


"Permisi Pak, Buk, " sapa Wanda yang masih diambang pintu.


"Silahkan masuk."


Aiden menggandeng tangan Wanda, memberikan membantu neneknya duduk. Jantungnya berdebar tidak karuan, dia kembali merasakan hal yang sudah puluhan tahun menghilang.


Dulu Wanda ketar-ketir ketika dipanggil ke sekolah gara-gara Gita. Sekarang yang membikin jantungan Aiden, anak Gita.


"Perkenalkan saya Wanda, neneknya Aiden Pak, Buk," Wanda memperkenalkan diri.


"Sebelumnya maaf Nek, ke mana ya orang tua Aiden. Saya akan membahas hal yang penting menyangkut Aiden."


"Orang tuanya ada di luar kota, mereka sibuk tidak bisa langsung ke sini. Ibu guru bisa bicara dengan saya.


"Begini Nek, kami menemukan rokok di tas Aiden. Jadi kami memanggil nenek datang ke sini."


"Ai, sejak kapan kamu merokok?" Wanda menyerongkan tubuhnya sampai berhadapan kepada Aiden.


Wanda kaget, tidak biasanya Aiden senakal itu sampai membawa rokok.


"Nek, Ai nggak pernah merokok. Itu bukan punya Ai," Aiden memegang kedua tangan neneknya yang bergetar.


"Nenek percaya kan sama Ai," Aiden meyakinkan neneknya.


"Buk, Pak, cucu saya ini tidak pernah merokok. Saya berani menjamin ini bukan punya cucu saya." Wanda mencoba menjelaskan kepada Bu Ariyani dan Pak Hendarko.


"Nenek, karena benda ini di tas Aiden. Kami pihak sekolah memberikan surat peringatan buat Aiden. Dan Aiden mendapatkan skors tiga hari. Dan apabila Aiden melakukan hal yang fatal lagi. Maka pihak sekolah akan mengeluarkan dari sekolah," jelas Bu Ariyani.


"Bu tidak bisakah kasih keringanan, ini kan masih belum pasti milik Ai," Wanda masih berusaha meminta keringanan.


"Nenek, nggak apa-apa. Nenek tenang saja biar Ai menjalankan hukuman ini. Yang Ai butuh sekarang, nenek percaya sama Ai kalau ini bukan salah Ai," Aiden menenangkan neneknya.


"Baik Bu, Pak. masih ada yang perlu di sampaikan?"


"Sudah nek, terima kasih atas pengertiannya.


Aiden menggandeng neneknya keluar dari ruangan Bu Ariyani.


"Apa perlu telpon papa mama kamu Ai," Wanda cemas melihat cucunya di fitnah.

__ADS_1


"Jangan nek, nanti kalau mama sama papa marah Ai malah bisa di pindah ke sekolah lain," Aiden meminta agar neneknyan merahasiakan masalah ini.


“Tapi Ai --,”


“Nenek tenang saja, Ai bisa menyelesaikan ini sendiri kok. Nenek nggak percaya sama cucu nenek yang ganteng ini?” Aiden berekspresi cool di depan neneknya.


“Nenek percaya seratus persen sama kamu, tapi orang-orang itu menyebalkan kenapa tidak mau mendengarkan nenek. Nenek ingin sekali menuntut sekolah ini, karena sudah menyusahkan kamu,” tandas Wanda.


“Nanti kalau Ai sudah menemukan bukti, dan menangkap orang yang memfitnah Ai. Baru kita tuntut sekolah ini,” ucap Aiden menyetujuhi saran neneknya.


“Tapi nenek jangan bilang sama papa dan mama dulu kalau Ai belum berhasil membuktikannya,” pinta Aiden. Wanda tersenyum, dia mengusap lembut wajah Aiden.


“Nenek jangan sedih dong, tenang Ai itu nggak apa-apa,” Aiden memeluk neneknya yang matanya sudah berkaca-kaca.


“Ai, nenek,” panggil Rafa. “Apa yang terjadi Ai?”


“Biasa, cuma di skors tiga hari lagi,” jawab Ai dengan senyum-senyum di bibirnya. Dia sama sekali tidak menampakan wajah sedihnya.


“Kenapa bisa begitu, ini kan belum pasti punya lo kenapa sudah menjatuhkan hukuman?” Rafa tidak terima.


“Nenek juga merasa begitu, tapi Ai bilang tidak apa-apa. Apa perlu nenek kembali bertemu ibu guru kamu,” Wanda yang sudah tenang kini kembali tegang karena ucapan Rafa.


“Nek, pulang yuk. Raf bawain pulang tas gue.”


“Ok.”


“Rafa, kamu baik-baik ya di sekolah,” nasehat Wanda.


“Siap nenekku sayang,” Rafa memeluk Wanda lalu mencium pipinya.


*****


Aiden mengajak pulang neneknya, dia menggandeng sang nenek. Sesekali dia membuat lelucon yang membuat neneknya tertawa.


“Nenek mau naik taksi saja?” tanya Aiden.


“Bareng kamu juga nggak apa-apa.”


“Nanti nenek kepanasan, capek gimana?”


“Nenek belum setua itu Ai, kamu ngejek nenek.” Wanda berkacak pinggang.

__ADS_1


“Nggak Nek, nanti kalau mama sama papa tahu Ai bisa dimarahin.”


“Makanya kalau jadi anak itu jangan bandel, kasihan kan nenek lo jadi kepikiran masalah lo. Cucu durhaka,” timpal Kris yang baru saja datang bersama Selfi.


“Kamu ngomong apa sama cucu saya?” Wanda tidak terima Kris mengolok-olok Aiden.


“Nek, ini kenyataan. Dia baik di depan nenek saja. Tante lihat kan kenapa saya mengatakan kalau jangan biarkan Ai berteman sama Kyra.” Kris mengompori Selfi.


“Kak, kamu jangan mengompori mama seperti ini. Berteman sama siapa saja itu baik selama baik. Jangan pernah membeda-bedakan orang.” Kyra segera ambil suara sebelum Kris berbicara macam-macam.


“Apa lo nggak lihat, dia itu tidak baik. Masih sekolah sudah merokok mau jadi apa dia?”


“Benar yang di katakan sama Kris, Kyra. Anak tidak ada masa depannya seperti dia tidak baik di jadikan teman hanya akan menularkan keburukan.”


“Kamu jangan sembarangan mengatai cucu saya. Jangan anggap cucu saya tidak memiliki masa depan. Sekolahan ini saja bisa dia beli kalau mau,” Wanda terpancing emosi.


“Nenek sudah, jangan diambil hati,” Aiden memegang tangan Wanda.


“Membeli sekolahan ini,” Selfi tertawa di sahut oleh Kris.


“Tunggu saja, kalau mama dan papanya datang. Kalian semua akan ku tendang dari sekolah ini.”


“Menunggu, jadi anak ini tidak dalam asuhan orang tuannya. Pantes saja, anak ini tidak punya tata krama, dan brutal ternyata tidak ada orang tuannya. Ternyata nggak diinginkan sama orang tuanya ya?”


“Benar kan tante yang saya bilang, mereka itu miskin dan buangan. Gue bingung kenapa sekolah bisa menerima orang macam lo. Nggak berguna dan merugikan.”


“Kyra, mulai sekarang kamu tidak boleh berteman sama dia, nanti bisa keturunan nakalnya. Mama tidak sudi kamu punya teman seperti dia.” Hina Selfi.


“Kamu anak kecil bicaranya sembarangan ya Kamu justru yang tak punya sopan santun. Memang benar cucuku ini tidak pantas berteman dengan kalian. Orang-orang angkuh, sombong. Ai, nenek tidak akan membiyarkan kamu berteman dengan mereka sampai kapan pun!” Wanda menarik tangan Aiden untuk meninggalkan sekolah.


“Itu lebih bagus!” seru Wanda.


“Nenek, tunggu nenek,” Kyra hendak mengejar Wanda dan Aiden namun di tahan sama mamanya.


“Kyra, kamu mau ke mana?”


“Ma, Kyra mau ngomong sama neneknya Ai.”


“Nggak perlu, buat apa kamu ngobrol sama orang miskin macam dia. Mana kelakuannya buruk lagi. Sudah kamu sekarang masuk ke kelas lagi.”


Kyra menatap Aiden yang di gandeng sama neneknya, belum juga dia menjelaskan kenapa dia mau bareng sama Kris kemarin malah sekarang di tambah sama neneknya yang tidak mengizinkan berteman dengannya.

__ADS_1


__ADS_2