Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Babak Baru (Kisah Aiden)


__ADS_3

Waktu berjalan cepat, tujuh belas tahun lebih Gita menjadi seorang ibu dan belum di karuniai anak lagi.


"Aiden!!" teriak Gita.


"Yes Mom." sahutnya dari kamar.


Gita menaiki tangga dengan emosi karena tingkah putranya.


"Aiden, mama kan panggil kamu kenapa kamu tidak keluar?" Gita membuka paksa pintu kamar Aiden, dia melihat sekeliling yang sangat rapi biasanya berantakan sekali.


"Ai udah jawab tadi, terus kebelet jadi ke kamar mandi dulu." jawab Aiden sambel senyum-senyum. Sebenarnya waktu di panggil ibunya langsung beberes sebelum masalah semakin menjalar.


"Kenapa mama dapat surat panggilan ini, kamu ngelakuin apa lagi Ai?" Gita menjewer Aiden. Jiwa emak-emaknya sudah muncul. Pembawaanya menjadi ngomel dan marah-marah sama Aiden.


"Ai nggak ngelakuin apa-apa ma, emang guru BK aja yang cari perhatian sama Ai. Atau jangan-jangan naksir lagi sama Ai." Aiden berlagak shock.


"Jangan ngadi-ngadi kamu Ai, masa iya ibu-ibu naksir kamu."


"Tante.." seru Rafa di dekat telinga Gita.


"Rafa bisa nggak pelan-pelan, telinga tante bisa pecah." Satu lagi orang yang sering menguji kesabaran Gita.


"Rafa, kenapa Ai dipanggil Bk?" tanya Gita.


"Lo di panggil ke Bk? Ya ampun Ai lo nakal banget ya." Rafa pura-pura kaget.


"******.. Lo juga di panggil Bk." Maki Aiden.


"Aah.. Jadi kalian berdua bikin onar ya." Gita menjewer Aiden dan Rafa.


"Ada apa sih ribut-ribut." Kata Gilang yang baru saja pulang dari kantor.


"Lihat sayang, anak sama ponakan kamu ini bikin onar di sekolahan." adu Gita.


Gilang melihat kearah Aiden dan Rafa, mereka berdua tersenyum dan memohon perlindungan dari Gilang.


"Ai, sama Rafa begitu juga nurun siapa coba." Kata Gilang sambil melihat kearah Gita.


"Maksud papa mama dulu juga sering dipanggil Bk gitu?" Aiden langsung berjalan mendekati Gilang.


"Tanya saja mama kamu." Kata Gilang sambil pergi keluar kamar Aiden.


"Sayang..." Gita mengikuti Gilang.


"Ada apa?" kata Gilang pergi ke kamarnya.


"Kamu kan tahu aku sedang memarahi Aiden, kenapa kamu bilang seperti itu. Kan dia senang di belain kamu." omel Gita.


"Duduk sini," Gilang menepuk sofa di sebelahnya.


"Dia begitu juga nurun dari kamu kan, dulu kamu di sekolah juga sama kayak dia kan. Biar saja Aiden menikmati masa sekolahnya." Gilang mengusap kepala Gita.


"Ck, kamu tuh ya." Gita beranjak dari sofa mau menuju ke kamar Aiden lagi. Aiden dan Rafa yang tadi menguping langsung kabur. Takut ketahuan sama Gita.

__ADS_1


Sesampai di kamar mereka berdua pura-pura belajar. Gita masuk mengecek mereka belajar atau tidak.


"Bagus begitu belajar biar jadi anak pintar." kata Gita.


"Tante, Ai nggak perlu belajar sudah pinter kok. Benar-benar genius kalau di sekolah aja sering tidur dapat nilai sempurna." jelas Rafa. Seketika Aiden menepuk punggung Rafa.


"Aduh.." Rafa meringis kesakitan. Sedangkan Aiden mendelik, karena Rafa membongkar aibnya di sekolah yang akan menjadi masalah.


"Oo.. Jadi kamu sering tidur ya. Memangnya sekolahan itu rumah kamu?" omel Gita.


"Ya kan sekolah rumah kedua, jadinya ya boleh kan Ma tidur disana." jawab Aiden.


"Masih berani jawab saja ya kamu, nggak ada uang jajan buat kamu." kata Gita sambil meninggalkan kamar Aiden.


"Lo sih Fa, tahu mama lagi ngomel-ngomel malah ngomong kayak gitu. Gimana coba besok bayar uang sewa studio musiknya." kata Aiden.


"Tenang Ai, kan masih ada gue. Nanti gue minta sama mama. Ini jadi mau pergi nggak nanti malam?" tanya Rafa.


"Lo pikir setelah kejadian ini mama gue bakalan ngasih pergi." kata Aiden pesimis. Pastinya dia tidak akan boleh pergi.


"Tapi kan besok hari minggu pastinya kita boleh pergi." kata Rafa.


"Coba gue ngobrol sama papa, siapa tahu diijini pergi." Kata Aiden.


"Oke lah, sana lo bujukin Om Gilang." ujar Rafa.


"Lo tunggu sini."


"Pa.." Panggil Aiden di ambang pintu sambil tengok mengecek mamanya ada di situ tidak.


"Ada apa Ai?" tanya Gilang.


"Mama mana?"


"Ada di kamar mandi."


Aiden langsung masuk duduk di sebelah papanya yang sedang menikmati teh sambil menonton tv.


"Pa, ini kan malam minggu boleh nggak aku pergi nongkrong sama Rafa." ijin Gilang.


"Ijin gih sama Mama." suruh Gilang.


"Mama pasti nggak mau ngasih, mama kan sedang marah." kata Aiden.


"Coba dulu."


"Ada apa nih pada bisik-bisik." kata Gita.


Aiden senyum-senyum, "Ma..sini deh Aiden mau ngomong sama mama."


"Ngomong apa?"


"Ai mau main ya, besok kan minggu." Aiden memohon sama Gita.

__ADS_1


"Nggak, kamu kan lagi mama strap."


"Tapi Ma..."


"Nggak ada tapi-tapi, kamu sekarang di rumah saja. Ini hukuman buat kamu. Atau mama tambahin nih masa strapnya."


"Ya Ma."


Aiden manyun keluar kamar kedua orang tuanya. Dia masuk ke kamarya lalu menjatuhkan tubuhnya di kasur.


"Gimana?"


"Nggak boleh." kata Aiden.


"Kayak anak cewek aja deh tante Gita. Masa nggak boleh keluar."


"Lo sih masalahnya pakai ngomong gitu." Aiden menyalahkan Rafa yang los dol.


"Ya sorry kelepasan soalnya."


"Gimana kalau menginap ke rumah lo saja, nah nanti kita pergi nongkrong dulu." kata Aiden.


"Ide cemerlang, kenapa gue nggak kepikiran kayak begitu ya."


"Ya udah buruan, kasian yang lain menunggu." kata Aiden.


Mereka langsung bersiap memakai jaket masing-masing. Mereka awalnya berjalan pelan-pelan agar tak terdengar sama Gita.


"Kalian mau kemana?" tanya Gita dengan melipat kedua tangannya di dada.


"Mau nginep di rumah Rafa Ma." kata Aiden.


"Nggak ada, masuk ke kamar."


"Sayang, biarlah mereka pergi. Kayak nggak pernah muda saja." Gilang membela Aiden dan Rafa.


"Iya ma, janji deh besok nggak bakalan nakal lagi."


Gita diam, dia masih belum mau memberikan ijin. Masih marah karena Aiden di panggil Bk.


"Sayang, kasih saja kasian tuh anakku. Nanti kalau kamu kekang dia bisa-bisa perginya nggak bilang lo. Dia akan sering kabur-kaburan." bisik Gilang.


Yang di bilang Gilang benar, dia anak laki-laki akan lebih berontak daripasa anak perempuan.


"Ya udah sana, tapi kalian beneran lo tidur si rumah Rafa. Mama akan telpon Tante Fara, kalau bohong mama akan berikan hukuman yang berat lagi."


"Siap mama sayang," Aiden mencium pipi Gita di susul oleh Rafa. Mereka lalu kabur sebelum Gita berubah pikiran.


"Anak siapa sih bandel banget." Gita geleng kepala.


"Anak kita, udah jangan cemas gitu. Mending kita buat adik buat Aiden."


"Modus saja kamu mah." Gita masuk lebih dulu ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2