Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Curhatan Dua Sahabat


__ADS_3

Sudah lama Gilang tidak ketemu Raka, jadi selesai bertemu klien dia nyamperin Raka ke kantornya.


"Siang Mbak, Pak Rakanya ada di ruangan?" tanya Gilang.


"Maaf Pak, apa sudah membuat janji?" Tanya Sari.


"Belum sih Mbak, coba saja telpon Pak Raka dan bilang adik iparnya datang." kata Gilang.


"Kemarin adiknya, sekarang adik iparnya." Sari menggerutu.


Tok..Tok...


"Permisi Pak, di depan ada orang yang mengaku sebagai adik ipar Pak Raka. Dia ingin bertemu bapak sekarang." Kata Sari.


"Suruh saja masuk Sari, dan buatkan kopi dua ya." Ujar Raka.


"Baik Pak." Kata Sari sambil kembali menemui Gilang untuk memperbolehkan masuk.


"Selamat siang, boleh masuk." Kata Gilang sambil melomhok di pintu.


"Selamat siamg adik ipar tersayang." Raka beranjak menyambut Gilang. Di langsung memeluk Gilang.


"Duduk." Pinta Raka sambil melepas pelukannya.


"Kita baru ketemu semalam loh, kok berasa bertaun-taun tidak bertemu." Gilang terkekeh sambil mengelengkan kepalanya.


"Memang kita ketemu baru semalam, tapi kan lo jarang main kesini. Lama banget kan kita tidak saling kunjung." jelas Raka.


"Benar juga, kantor lo keren banget."


"Lo terlalu memuji, oiya.. Ngomong-ngomong ada apa nih tiba-tiba kesini?"


"Nggak ada apa-apa, cuma mampir saja gue tadi ketemu klien di dekat sini."


"Oh.., Lang kita kan sudah lama tidak kerja bareng. Gimana kalau kita bikin proyek bareng." Kata Raka mengusulkan kerjasama.


"Boleh, apa nih?"

__ADS_1


"Sebentar, gue juga masih memikirkan proyeknya."


"Kita kan punya anak laki-laki, gue memikirkan tentang proyek olahraga. Selain untuk bisnis anak kita bisa memilih hal yang akan mereka sukai." Jelas Gilang.


"Boleh tuh, keren tuh ide lo. Matangkan saja ide lo itu kalau sudah pasti kita buka lapangan basket, sepak bola, tenis atau golf." kata Raka.


"Siap, nanti gue juga bakalan ngomong dulu sama Gita." Apapun yang menyangkul hal tentang bisnis baru dia akan cerita sama Gita.


"Ok. Udah baikan lo sama Gita?"


"Sudah, lo kok tahu gue sama Gita habis bertengkar?" Gilang mengerugkan keningnya. "Ah..pasti Fafa ya yang cerita sama lo." tebak Gilang.


"Bukan, tapi Gita yang datang kesini mengadu. Maafkan dia yang masih terlihat seperti anak-anak. Meskipun dia ibu satu anak, dia akan terus meminta di perhatiakan dan di manja-manja seperti anak kecil." Raka memahami sikap Gita yang masih saja manja.


"Kenapa lo minta maaf, memang itu harusnya tugas gue. Cuman kadang karena sibuk aku lupa kalau ada istri dan anak yang harus gue perhatikan." Gilang pun paham kalau Gita itu tidak hanya seorang istri saja. Dia kadang berubah seperti anak yang harus dimanja, kadang seperti teman dan kadang seperti musuh yang terus mengajak debat dan bertengkar.


"Gue senang saja, saat sedih tempat pelariannya lo. Bukan cowok lain." tambahnya.


"Terima kasih juga lo susah mau bertahan sampai sini, pasti lo akan sering emosi." Raka terkekeh.


"Bukanya lo sama dengan gue, bakalan sering emosi dengan tingkah Fara." Kata Gilang, mereka memiliki hal yang sama istri bar-bar yang susah untuk di tebak.


"Tidak, hanya saja gue harus menambah kesabaran gue berkali-kali lipat. Lo bayangin saja tukang rusuh di kantor gue semua, dan satu team."


"Maksud lo Fara dan Gita satu team." Raka terbelalak. Selama ini yang dia tahu Fara bekerja di kantor Gilang. Dia tidak bisa memnayangkan betapa hebohnya itu kantor.


"Bukan cuma Gita sama Fara, tapi Raka dan Anita. Paket komplit bukan." jawab Gilang sambil tertawa.


"Benar juga gue baru sadar, semua biang kerok ada disana. Lo kalau sudah tidak kuat bisa hubungin gue. Biar gue bantu menyelesaiakanya." Raka siap membantu Gilang kapan saja saat di butuhkan.


"Siap, Soal masalah Bayu apa Fara mengatakan sesuatu?" Gilang penasaran dengan kejutan yang Fara berikan kepada Bayu dan Vivi nanti.


"Yah.. Dia itu ingin buat kejutan saat datang kesana. Gue kumayan ketar-ketir dengan apa yang akan dia perbuat gue takut dia bikin masalah." Raka menghela napas panjang.


"Sama, semalam gue lihat Gita browsing tentang katak. Dia bilang masu kasih kado yang berkesan. Bisa ular, kecowa atau katak, coba bayangin saja. Gue pikir tidak akan datang tapi tahu sendiri gimana Gita. Sejuta alasan dan trik pasti akan dia lakukan." Kata Gilang. Gita tidak pernah kehilangan akal saat mau melakukan hal yang dia ingin capai.


"Gue justru nggak tahu apa yang akan di lakukan Fara nanti. Dia masih terlihat anteng, tapi lo tahu kalau dia selalu memberikan gue kejutan yang kadang bikin jantungan." Ujarnya, dari pacaran samapai menikah Fara selalu saja membuat Raka hampir jantungan dan dia hanya bisa menjadi tameng untuk istrinya itu.

__ADS_1


"Yah, kita hanya bisa menjadi tameng buat mereka. Karena hanya itu yang bisa kita lakukan untuk istri kita." Meskipun Gilang terlihat cuek saat Gita melakukan semua triknya, dan tak ingin ikut campur tapi dia selalu menjaga dari belakang tanpa Gita tahu.


"Benar, Lang. Minum gih, gue udah pesankan kopi kesukaan lo."Raka mempersilahkan Gilang.


"Lang, meskipun kita tidak bisa memaksa perasaan orang, tapi apa yang di katakan Gita sama Fara benar. Kalau Anita dan Vian itu serasi. Mereka lebih tahu satu sama lain." Kalau dipikir memang benar daripada cari yang lain yang belum tentu baik, kenapa tidak dengan yang sudah jelas baik.


"Tapi perasaan kan juga tidak bisa di paksakan."


"Bukan memaksakan tapi menciptakan, seperti kisah lo dulu sama Gita. Apa lo nggak ingat?"


Gilang langsung flashback, ke beberapa tahun silam saat dirinya mengejar Gita. Dia punya cinta besar dan Gita tak ada sedikit pun rasa dengannya.


"Benar juga, tak selamanya cinta datang sendiri. Kita juga harus menciptakan cinta itu. Tapi kalau keduanya sama-sama tak saling suka bagaiman?"


"Itu beda cerita lagi Lang, kita tidak bisa menciptakannya."


"Brati kita juga harus mendukung Fara dan Gita mencomblangka mereka berdua. Tapi kita tidak boleh menunjukannya karena nanti Fara dan Gita akan melakukan hal-hal di luar batas." Kata Gilang.


"Yup. Besok kan pernikahan Bayu, kita harus bagaiaman? Mengucapkan selamat itu pasti akan menyakiti Anita bukan. Tapi kalau tidak mengucapkan itu hari bahagia dia." Raka tiba-tiba bingung apa yang akan dia katakan nanti. "Haruskah kita mendoakan kebahagiaan dia, padahal kita tahu ada hati yang terluka parah karena kebahagiaannya.


"Tentu saja kita do'akan kebahagiaan dia. Kita tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan dia juga kan." Ujar Gilang, bukan karena Bayu teman dekat Gilang dulu. Bagi Gilang tidak semua hal jahat itu dibalas dengan kejahatan pula.


"Lo memang tidak pernah berubah Lang, lo tetap saja bijaksana. Memang tidak salah gue jomblangi lo sama Gita. Perjuangan gue dobrak hati Gita buat lo terbayar indah." Raka menepuk pundak Gilang, dia sangat bangga dengan adik iparnya.


"Bisa saja lo, dan lo tetap Raka yang gue kenal baik dan kakak yang the best." Gilang pun membalas pujian yang di berikan oleh Gilang.1


"Ok lah, gue balik dulu. Sepertinya sudah luamyan lama kita ngobrol." Gilang pamit.


"Lo nggak mau makan dulu?" tanya Raka.


"Tidak usah, gue sudah makan tadi sebelum kemari. Pasti orang kantor sibuk cariin gue, gue nggak pamit mereka." Katanya sambil terkekeh.


"Lo nggak bilang Gita juga?"


"Nggak, gue cuma bilang tadi meeting nggak bilang mau mampir kesini."


"Ok lah, gue anterin lo sampai bawah."

__ADS_1


"Ok."


__ADS_2