
terduduk, matanya langsung lurus tumpukan buku di atas meja belajarnya. Dia tidak bisa diam saja ada yang mulai bersaing dengannya.
“Gue nggak bisa duduk tenang seperti ini, mama pasti akan marah kalau tahu ada yang lebih unggul di sekolah,” ujarnya sembari jalan ke meja belajarnya.
Awalnya Kyra tidak begitu maniak dengan belajar, namun tuntutan dari orang tuannya membuatnya harus bekerja lebih keras.mereka hanya mau anaknya menjadi juara di sekolahnya agar mendapatkan universitas yang bagus.
Baru juga mulai membaca, Kyra sudah mulai terganggu dengan ponselnya yang terus berdering.
“Apa?” tanya Kyra saat menempelkan ponselnya di telinga.
“Weekend, lo ada acara nggak? Pastinya nggak kan?” cerocos Dinda.
“Ada apa?”
“Gue sama saudara-saudara gue mau pergi camping, lo ikut ya,” ajak Dinda.
“Nggak bisa gue --,”
“Gue harus belajar,” potong Dinda.
“Tuh lo tahu,” jawabnya sewot.
“Ya ampun Ky, lagian kan weekend. Otak lo juga butuh istirahat. Kalau lo tekan terus yang ada bukannya pinter malah meledak,” omel Dinda.
“Udah deh kalau lo cuma mau ngomel, gue matiin telponnya gue mau lanjut belajar,” tukasnya.
“Tunggu..tunggu sebentar. Pokoknya lo harus ikut acara camping besok weekend. Titik, nggak pakai koma dan juga nggak pakai kuah,” kata Dinda sembari mematikan sambungan teleponya setelah selesia ngomong.
“Terserah lo, Din,” dengusnya.
*****
Kyra menunggu Dinda di gerbang, dia sedang malas untuk langsung ke kelas. Sesekali Kyra menendangi menendang angin untuk menghilangkan rasa bosan.
“Ganteng-ganteng tapi miskin ya, ke sekolah saja naik angkot,” bisik dua orang yang baru saja melewati Kyra.
Kyra langsung menatap ke arah halte, dia melihat keempat anak baru yang membuatnya kalang kabut karena kepintaran mereka. Kyra sekarang iri dengan mereka, kenapa bisa sesantai itu menjalani hidupnya. Dan mereka pun bisa mendapatkan nilai yang bagus meskipun dengan bercanda.
“Kyra ngapain di sini?” tanya Kris yang mashih berdiri diatas motornya.
“Nungguin Dinda.”
“Gue temani ya?” Kris turun dari motornya.
“Makasih Kak, tapi nggak usah nanti ngerepotin,” ucapnya. Dia malas sekali tiap hari harus bertemu dengan Kris. Dia tahu kalau Kris sedang mendekatinya makanya dia sebisa mungkin untuk menghindarinya.
“Nggak repot kok, oiya weekend besok lo ada acar nggak?”
“Ai,” panggil Kyra. Ia terpaksa memanggil Aiden dan juga ketiga sahabatnya agar tidak meneruskan ajakan pergi weekend besok.
__ADS_1
“Hm,” jawabnya datar.
“Dinda meminta kita menunggu di sini,” ujarnya sembari berjalan menari tangan Aiden hingga berdiri di sampingnya.
“Ada apa?” tanya Rafa merasa ada yang aneh.
“Katanya mau membahas acara weekend besok,” ujarnya ngarang.
“Memangnya weekend kalian mau ke mana?” Kris gusar, dia sudah ada rencana untuk mengajak Kyra pergi namun sudah kedahuluan dengan empat sekawan.
“Mau --, tahu saja lo,” Aiden mengerjai Kris. Dia tahu kalau cowok itu sedang kesal.
“Pelit amat sih lo tinggal ngomong saja,” ujar Kris.
“lo kok marah, serah kita dong mau kemana saja,” sahut Ibob.
“Yang pasti, lo nggak diajak,” tambah Rafa.
Aiden merangkul Kyra, lalu mengajaknya jalan meninggalkan Kris sendirian. setelah lumayan jauh Kyra melepaskan tangan Aiden yang ada di pundaknya.
“Lo modus ya,” tuduh Kyra.
“Otak lo sakit ya, orang gue bantuin lo kok malah di bilang modus,” ketus Aiden.
“Kan kita sudah jauh sama Kris, apa masih merangkul gue.”
“Memang, cewek mah selalu begitu. Habis manis sepah di buang,” sahut Rafa.
“Kalian juga, beraninya menyerang cewek,” Kyra manyun karena terus di maki sama Aiden, Luki dan Rafa.
“Dah yuk, ntar nangis lagi. Kan gue nggak punya permen,” Aiden mengajak yang lain meninggalkan Kyra.
“Hei ketua osis, Kyra bohong kalau weekend kita bakalan pergi. Dia nggak suka sama lo!” teriak Ibob.
Kyra mendelik, kearah Ibob dan Aiden yang sedang tos. Dia melihat kearah Kris lalu berlari mengejar mereka berempat.
“Awas lo ya,” ancam Kyra.
Kyra mengejar mereka berempat sampai ke kelas, Kyra berhenti di tempat duduknya. Dia mengatur napasnya yang terengah-engah lari dari dekat gerbang sampai ke lantai dua kelasnya.
“Lo kenapa Ky, kayak habis di kejar-kejar depkolektor saja,” Dinda heran melihat sahabatnya lari-lari.
“Lo kok sudah di sini?” tayanya masih dengan napas yang ngos-ngosan.
“Lah memang gue dari tadi udah di sini,” Dinda makin heran.
“Gue dari tadi tungguin lo di gerbang,” Kyra kesal, dia duduk di samping Dinda dengan wajah merengut.
Aiden menedang kursi milik Kyra, “Apa?” ketus Kyra.
__ADS_1
“Minum dulu biar nggak marah-marah mulu. Cantik-cantik kok marah-marah ntar cantik lo pindah ke Ibob lo,” goda aiden.
“Lekong dong gue nanti,” Ibob bertingkah centil dengan merapikan rambutnya ke belakang telinga.
“Nggak perlu,” katanya kembali menghadap ke depan lagi.
“Ya udah kalau mau ke kurangan mineral, nanti bisa dehidrasi dan --,” Aiden menghentikan ucapannya.
“Pingsan, menjadi tontonan seluruh anak-anak di dekolah kita,” tambah Ibob.
“Din, Bob kalian berdua jadi saksi ya. Kalau malaikat menannyakan kenapa tidak membantu yang sudah. Kalian harus bantuin jawab kalau gue sudah berniat membantunya,” cerocos Aiden.
Kyra menoleh ke belakang, dia merebut air mineral di tangan Aiden.
“Makasih,” kata Aiden.
“Sama-sama,” jawab Ibob.
Kyra tidak menggubris Aiden dan Ibob, dia semakin kesal saja di jadikan bahan bercandaan mereka berdua. Sedangkan Aiden senang menggoda Kyra, meskipun dia sangat jutek. Tapi lucu saja saat melihatnya marah.
“Ky, lo kenapa sih kok uring-uringan mulu? Pms?” tanyanya.
“Tanya saja itu sama saudara tersayang lo,” ucapnya sembari meneguk air mineral sampai setengah botol.
“Mereka gangguin lo?”
Kyra terdiam, sebenarnya mereka semua tidak menggangguinya, tapi entah kenapa dia itu kesal saja kalau melihat mereka berempat. Padahal mereka sudah membantu dirinya lepas dari Kris.
“Lupakan lah,gimana lo bisa ikut kan campingnya?”
“Nggak,” jawabnya cepat.
“Kenapa?”
“Din, lo kan tahu keluarga gue kayak bagaimana. Mana boleh gue pergi, mereka cuma mau gue itu belajar,” jelasnya.
“Ya kan itu weekend, masa ya nggak ada waktu istirahat buat lo.”
“Nggak ada.”
“Gue nggak mau tahu lo harus ikut, gue akan pergi izinin lo ke rumah besok jum’at sore.”
Dinda tidak mau mendengar alasan Kyra, ia akan tetap datang menjemputnya.
“Ya coba saja kalau lo bisa bujuk orang tua gue,” tantang Kyra.
“Ok, kalau gue bisa bujuk kedua orang tua lo, janji ya bakalan ikut nggak boleh ingkar janji,” Dinda meraih jari kelingking Kyra.
“Ya gue janji,” jawab Kyra dengan tersenyum. Dia tahu kalau orang tuanya tidak bakalan mengizinkanm dan tahu jawaban dari mereka. Mereka pasti akan mengatakan kalau itu adalah hal yang tidak bermanfaat, nanti kalau sudah sukses kamu boleh pergi sesuka hatimu.
__ADS_1