
Gita melipat kedua tangannya, melihat Indah yang benar-benar ganjen sama suaminya. Gita berjalan dan sengaja sedikit menabrak Indah.
"Ganjen.." kata Gita saat bahunya menabrak Indah.
"Aa.." Seru Indah.
"Maaf nggak lihat." Kata Gita sambil jalan lagi.
Gilang menghela napas, "Sayang, kecemburuan kamu tuh lama-lama bisa bikin huru-hara." Batin Gilang.
"Eh tunggu." Indah tidak mau diam saja di katakan ganjen. Gita tak mau berhenti dia terus berjalan sampai parkiran.
"Lo dengar nggak sih gue bilang tunggu." Kata Indah saat Gita sudah berhenti.
"Mau apa sih?" Gita nggak mood.
"Tadi lo bilang apa?"
"Ganjen." Jawab Gita. Dia menyunggingkan ujung bibirnya.
"Ah.. Gue ingat sekarang. Lo karyawan pembangkang waktu itu kan." Indah ingat kalau Gita karyawan yang di suruh beli kopi. Tapi dia lupa kalau Gilang pernah mengatakan kalau dia itu istrinya.
"Dan gue juga ingat, cewek ganjen yang suka maki-maki orang." Timpal Gita.
"Ck! Siapa yang ganjen."
"Lo, suka kan sama Bos Gilang."
"Iya memang gue suka sama Pak Gilang, lo nggak suka? Ah.. Jangan-jangan lo juga suka lagi sama Pak Gilang." Indah curiga. "Gue kasih tahu ya, lo itu cuma karyawan biasa jangan sok-sokan menghayal menjadi istri bos." ejek Indah.
"Lo juga karyawan biasa nggak usah sok-sokan. Gue kasih tahu ya lo, Bos Gilang sudah punya anak dan istri. Jangan macam-macam istrinya galak banget. Nih ya kalau sampai istrinya tahu lo bisa di labrak dan di cakar-cakar tuh muka lo yang cantiknya tidak seberapa." Kata Gita yang membuat Indah bergidik.
"Indah, ayo kita ke kantor lagi." ajak Gio.
"Baik Pak," Indah menuju Gio dengan sedikit berlari.
"Makanya jangan berani main-main sama gue." Batin Gita.
Setelah Gio pergi Gilang mendekati Gita, "Sayang.. Kamu bareng aku ya."
"Nggak mau." Gita berjalan menuju ke mobil Vian. Gilang dengan cepat mengkode agar Gita tidak bisa naik mobilnya.
"Eh.. Git. Lo bareng Gilang gih. Penuh mobil gue." Kata Vian.
"Vian.. Lo mau gue pecat dari kp gue?"
"Kp apaan?"
"Kartu pertemanan, kalau lo mau bantuin Kak Gilang brati lo bukan temen gue lagi." Ujar Gita sambil berjalan mecari mobil yang kosong.
"Eh..eh... Jangan gitu dong. Ok..ok lo bareng gue." Vian membukakan pintu mobil untuk Gita.
"Sorry Lang, nggak bisa bantu lo, gue bisa-bisa di tendang dari daftar temannya."
__ADS_1
"Ok." Gilang mengerti, dia juga harus lebih sabar lagi menghadapi Gita.
...----------------...
Gilang berguling ke kanan ke kiri, dia tidak bisa tidur tanpa Gita. Gita yang masih ngambek tidur di kamar tamu.
"Nggak bisa gue di cuekin Gita terus-terusan, bisa gila lama-lama." Gilang beranjak dari tempat tidur. Dia berjalan mengendap ke kamar tamu.
Gilang mendorong perlahan pintu kamar yang tidak tertutup dengan rapat.
"Sayang..." Panggil Gilang namun tidak ada sahutan. Gilang langsung masuk dan mengecek Gita.
Gilang duduk di samping Gita, "Sayang, kamu kapan sih udahanya ngambek sama aku." Gilang mengusap rambut Gita.
Tak pakai lama Gilang merebahkan tububnya di samping Gita. Dia masuk dalam selimut dan memeluk Gita. Meskipun bertemu setiap hari namun tak saling sapa membuatnya merasa sepeti ldran.
Mereka seperti orang asing yang tak pernah bertemu padahal tinggal satu rumah, makan bersama namun tak ada komunikasi.
"Aku tuh hanya sayang sama kamu, tidak pernah ada yang lain. Aku harus senang atau sedih sebenarnya di cemburuin kamu kayak begini. Dulu kamu sangat cuek kini kamu cemburuan. Aku bingung sendiri sekarang." Kata Gilang.
Gilang mengecup kening Gita lalu bibirnya, dan malam ini dia bisa tidur dengan sangat nyenyak.
Gita meregangkan kedua tangannya, dia merasa tidur sangat nyenyak.
"Rasanya kenapa malam ini nyenyak banget ya." katanya sambil tersenyum.
"Jadi kangen sama Kak Gilang." Katanya sambil duduk. Tapi dia tiba-tiba gengsi untuk berbaikan dengan Gilang. Dia sudah menolak beberapa kali Gilang.
"Bik," Panggil Gita.
"Iya Mbak?"
"Kak Gilang udah bangun belum?" tanya Gita. Biasanya Gilang sudah menunggu dirinya.
"Mas Gilang sudah berangkat, baru saja." kata Bik Siti.
"Oh.." Gita sedikit kecewa. Dia pikir Gilang akan menunggunya.
Pagi ini Gita tidak bersemangat, tubuhnya mendadak tidak enak.
"Mbak Gita.."
"Ya."
"Sudah mau jam delapan, itu sarapannya nggak di makan dulu. Nanti terlambat loh."
"Bik, tolong siapin itu roti aja biar Gita makan di mobil saja." Kata Gita.
"Iya Mbak."
Gita menyenderkan tubuhnya di kursi mobil. Kepalanya mendadak pusing, tubuhnya pegal-pegal.
"Mbak Gita kenapa? Sakit?" Tanya Beni saat lihay Gita memegangi lehernya dari spion. Tak hanya itu Gita tampak pucat."
__ADS_1
"Nggak, cuman pusing dikit saja." ucap Gita.
"Mbak Gita mau pulang, atau ke rumah sakit dulu."
"Nggak usah Ben, Gita cuma pusing dikit saja."
"Beneran Mbak?"
"Iya."
Gita turun membawa berkas-berkas lumayan banyak hari ini. Dan kerjaan hari ini pun menumpuk. Gita berdiri di tengah-tengah lantai satu. Dia bingung mau langsung ke ruangannya atau ke ruangan Gilang dulu.
Dia kangen banget, pingin melihat wajahnya. Di saat tidak enak badan seperti itu dia ingin sekali manja sama Gilang.
"Hey.. Ngapain bengong disini?" tanya Anita yang juga baru datang.
"Nggak."
"Lo kelihatan lesu banget, sakit?" Anita memegang kening Gita.
"Nggak, cuma pusing dikit doang."
"Mending lo pulang saja." Kata Anita.
"Kerjaan kita kan banyak, gimana gue bisa pulang begitu saja." Gita menolak di suruh pulang.
"Ya udah yuk." Anita menggandeng tangan Gita.
"Pagi Bos." Anita menyapa Gilang saat bertemu di depan lift.
"Pagi." Jawab Gilang singkat. Dia langsung masuk saat lift terbuka.
Gita kaget melihat sikap Gilang sekarang. Dia berbalik cuek sama dirinya, bahkan lebih cuek darinya.
"Lila, apa jadwal saya hari ini."
"Jadwal hari ini full, hari ini bos ada meeting bersama tiga klien tempat yang berbeda. Nanti malam Pak Gio meminta bertemu lagi, untuk membahas proyek lanjutan kemarin yang belun selesai."
"Ok."
"Sepertinya Bapak akan pulang malam hari ini." kata Lila.
"Ok, tidak masalah atur saja." Kata Gilang tidak keberatan. Biasanya dia akan mengurangi jadwal kalau sudah terlalu malam.
"Sekarang siapa yang salah, kenapa malam Kak Gilang yang jadi cuek gini." Batin Gita.
"Git..." senggol Anita.
"Em.." Gita kaget karena dia bengong.
"Ayoo, kita udah sampai." Kata Anita.
"Ah.. Ya." Kata Gita melihat Gilang sebentar lalu keluar lift lebih dahulu daripada Gilang.
__ADS_1