Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Perasaan


__ADS_3

Anita turun dari mobil langsung berjalan mendekati kemudi.


"Nggak turun dulu?" tanya Anita.


"Nggak lah, udah malam. Lo juga butuh tenaga kan buat besok." Ujar Vian.


"Makasih ya, lo udah mau gue repotin terus dari kemarin-kemarin." kata Anita.


"Ya elah, kan gue udah bilang. Kalau lo butuh bilang saja. Gue mah selalu free nggak ada kerjaan." Ujar Vian.


"Ok lah kalau begitu, tapi lo nggak ngeluh kan habis nganterin gue gini. Ntar gue di gibahin lagi sama lo, Kak Gilang dan Raka."


"Memangnya gue itu lo, Gita sama Fara. Yang kerjaannya gibah mulu."


Anita meruncingkan bibirnya lalu tersenyum, "Ya udah gih sana buruan pulang."


"Lah..di usir."


"Ih.. Bukan ngusir tadi katanya udah malam."


"Iya..iya.. Gue balik ya." Vian menghidupkan mobilnya.


"Hati-hati ya Vian." Anita melambaikan tangannya.


Anita tersenyum, hari ini dia sangat senang dia sampai lupa kalau yang akan menikah besok itu suaminya.


Anita merebahkan tubuhnya di kasur, hari ini dia sangat capek tapi dia bahagia banget. Rasanya sudah lumayan lama dia tidak sesenang ini.


"Wah.. Ini pasti nggak bener. Gue terbawa suasana nih." Ucapnya saat dia tiba-tiba mengingat wajah Vian.


"Ah...pasti ini karena gue sering main sama pergi bareng Vian jadi keinget." Anita mencoba untuk tetap menjaga kewarasan hatinya.


...Vian...


...Buruan tidur jangan cengar-cengir saja...


"Eh.. Kok dia tahu." Gumam Anita.


...Anita...


...Nggak, gue udah mau tidur kok...


...Lo udah sampai rumah?...


...Vian...


...Masa,...


...Baru saja sampai...


...Anita...


...Vian, Besok gimana ya?...


...Gue mendadak takut...


...Vian...


...Jangan takut, ada gue....

__ADS_1


...Lo hanya perlu menggandeng tangan gue jangan sampai lepas ya...


...Anita...


...Ok...


...Vian...


...Udah buruan tidur yang nyenyak. Gaunnya nggak perlu di coba lagi. Udah pas dan cantik...


...Anita...


...Gombal lo...


...Vian...


...Udah buruan tidur, good night atau perlu sleep call...


...Anita...


...Nggak usah, night...


Anita tersenyum, gemes banget rasanya chat sama Vian seperti ini. Biasanya mereka hanya chat seperlunya sekarang ngobrol meskipun tidak jelas namun Anita bahagia.


...----------------...


Sedangkan Vian pulang ngantar Anita pun tidak bisa tidur. Ada perasaan aneh dalam dirinya.


"Masa iya gue beneran suka sama Anita." katanya sambil menaruh tangannya di bawah kepala.


"Bahaya ini, masa gue baper sama istri teman sendiri." Vian mengacak-acak rambutnya.


"Halo Vian, lo ada apa telpon malam-malam bagini?" Tanya Gilang.


"Lo lagi ngapain? Gue pusing nih bisa nggak ke rumah lo sekarang." kata Vian. Dia tidak mau sendirian daripada kepikiran Anita terus-terusan.


"Datang-tinggal datang saja Vian, gue juga belum tidur masih lembur nih." ujar Gilang.


"Otw, lo mau gue bawain apa?" tanya Vian.


"Nggak perlu, rumah gue lagi banyak makanan." kata Gilang.


Vian langsung buru-buru ke rumah Gilang, setelah Gilang masih lembur.


Setengah jam perjalanan Vian sudah sampai rumah Gilang. Dia langsung masuk ke ruang kerja Gilang setelah di bukakan pintu sama Bik Siti.


"Kenapa lo tiba-tiba mau datang kesini?" Gilang berdiri menyambut Vian.


"Lo lanjut saja lemburnya, gue cuma mau main saja butuh teman." Kata Vian sambil merebahkan tubuhnya di sofa.


"Lo ada masalah apa?" desak Gilang. Tidak biasanya Vian seperti ini.


"Bukan masalah besar, gue cuma bingung saja." katanya sambil menaruh kedua tangannya di bawah kepala.


"Bingung masalah perasaan?" Gilang duduk di sebelah Gilang.


Vian mengangguk, "Gue bingung dengan apa yang gue rasa. Gue rasa perasaan ini buru-buru datang." jelas Vian.


Gilang tersenyum, dia tahu apa yang di rasahan Vian. Dia pun dengan cepat tahu sumber masalah yang dia sedang hadapi.

__ADS_1


"Jangan terlalu di tekan, biarlah mengalir saja. Gue rasa lo terbawa seperti ini karena Fara dan Gita selalu menjomblangkan lo sama Anita." jelas Gilang.


"Eh.. Kok lo kalau orang itu Anita." Vian kaget, sejak tadi dia tidak menyebut inisial supaya tidak di ketahui.


"Memangnya siapa lagi kalau bukan Anita. Jelas-jelas di muka lo ada tulisanya besar banget." goda Gilang.


"Masa sih?" Vian langsung terbangun dan ngaca di ponselnya. "Ah... Lo godain gue mulu, gue kan jadi malu." katanya sambil merebahkan tubuhnya.


"Lo nggak perlu mau, sama gue ini. Sebenarnya apa yang lo rasain."


"Bingung."


"Ya sudah lo tenangkan saja diri lo, jangan terlalu di pikirkan. Coba saja beberapa hati setelah pesta bayu lo tidak usah komunikasi sama Anita yang tidak penting. Lo lihat apa yang terjadi pada hati lo." Gilang memberikan cara kepada Vian.


"Apa itu tidak mencolok?"


"Justru itu yang akan membuat kalian merasakan perasaan yang sebenarnya. Bagaimana jika kalian tidak saling berhibungan apakah akan kangen, kehilangan atau akan biasa saja." jelas Gilang.


"Benar juga, Lang lo jangan bilang sama Gita dan yang lain."


"Tenang saja, gue simpan rapat masalah lo."


"Lang, tapi jika memang perasaan ini ada apa tidak apa-apa gue mencintai milik sahabat sendiri?" Tanya Vian sungguh-sungguh. Dia takut jika dikatakan perebut apalagi milik teman sendiri.


"Bukannya mereka akan bercerai, dan tidak akan memiliki hubungan lagi. Jadi apa masalahnya kalian sama-sama singgel." Jelas Gilang. Gilang sudah tidak berpihak kelada Bayu lagi.


Cara penyelesaian masalah Bayu dia tidak setuju, dia tetap akan menganggapnya sahabat namun dia juga tidak akan mendukung kelakuannya yang menyakiti Anita.


Mereka berdua ngobrol sampai ketiduran di ruang kerja Gilang. Vian merasa tenang setelah ngobrol sama Gilang. Bahkan dia bisa tidur nyenyak. Kegelisahannya perlahan menghilang.


...----------------...


Gita menggeliat, tangannya meraba sebelah kirinya.


"Kok dingin." Batinya dengan mata yang masih terpejam.


Gita membalika badanya, dan benar Gilang tidak ada di sebelahnya. Masih tertata rapi seperti awal sebelum dia tidur.


Dia langsung terbangun, melihat sekeliling sambil mengucek kedua tangannya.


"Sayang.." panggil Gita sambil menguap. Dia mengecek kamar mandi tapi kosong.


"Kemana sih, kok nggak ada." gumam Gita. "Jangan-jangan ketidura di ruang kerja lagi." Katanya saat dia ingat waktu Gilang pamit mau lembur.


Gita mengecek ruang kerja Gilang, dia perlahan membuka pintu.


"Eh.. Kok ada dua orang. Nggak mungkin kan Aiden langsung tumbuh sebesar papanya." Gumam Gita sambil berjalan mendekati dua orang yang sedang tidur di sofa.


"Ya ampun, kenapa pada reunian disini?" Kata Gita ketika melihat sebelah Gilang adalah Vian.


Gita melihat jam dinding di atas pintu yanh sudah menunjukan pukul dua pagi.


"Mau di bangunin kok nanggung, nggak di bangunin kasian." Gita menghela napas panjang. Dia bingung enaknya mau di bangunin suruh pindah atau biarin saja.


Gita akhirnya memilih membiarkan mereka berdua tidur di sofa. Takutnya mereka baru saja tidur. Jika di bangunkan nanti tidak bisa tidur lagi.


Gita mengambil dua selimut, yang satu untuk Gilang satunya lagi untuk Vian.


"Mimpin indah ya sayang, maaf nggak aku bangunin." Ujar Gita sambil mencium kening Gilang.

__ADS_1


"Hey, Vian meskipun lo selalu durhaka sama gue. Tapi gue tetap baik -gue kasih selimut lo. Jadi baik-baik lo sama gue." Ujarnya sambil menyelimuti sampai dada Vian.


__ADS_2