Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Cuti


__ADS_3

Gita merapikan berkas-berkas, dia sudah yakin untuk mengambil


cuti.  Dia sudah tidak risau lagi dengan


Lia. Semua pikiran-pikiran jelek tentang Gilang sudah hilang, dia sudah tidak


was-was lagi.


“Lo dah yakin, mau cuti?” tanya Vian.


“Yakin banget. Gue udah mau istirahat biar anak gue lahir


dengan sehat.” Gita megelus perutnya.


“Ponakan, buruan lahir ya pasti lo bakalan cantik banget


kalau cewek kalau cowokpasti ganteng banget.”Kata Vian.


“Tentu saja, ibu bapaknya saja cantik ganteng masa iya harus


kayak lo.” Nyinyir Fara.


“Wah.. si paling rusuh sudah masuk nih.” Kata Vian sambil


memeluk Fara.


“Kangen kan lo sama gue.” Kata Fara.


“Nggak sih, gue b aja. Lo kali yang kangen sama gue.” Kata


Vian sambil melepas pelukannya.


“Pantesan Gita udah yakin cuti, mata-matanya udah datang.”


Kata Vian.


“Awas lo ya ngadu sama Gilang, gue bejek-bejek lo Vian.” Kata


Fara.


“Nggak juga kali Vian, gue percaya sepenuhnya kok sama kak


Gilang kalau dia itu benar-benar setia sama gue.” Kata Gita sambil tersenyum.


“Gita, lo jadi cuti mulai besok?” tanya Win.


“Jadi mas Win.” Kata Gita sambil memberikan surat cutinya.


“Ok deh, selamat istirahat ya. Semoga bayi dalam kandungan lo


lahir dengan selamat, jadi anak yang sehat.” Doa win.


“Maksih Om, eh nanti anak gue panggilnya Om atau eyang ya?”


Gita terkekeh.


“Sesuka hati lo dah Git.”


“Ngomong-ngomong duo jomblo kita kapan nih mau nyusulnya?”


tanya Ina.


“Mulai..mulai..”


“Gimana kalau lo pacarin aja Lia mas Nino, biar nggak


ganjen-ganjen sama Bos Gilang.” Kata Fara.


“Parah lo Far, ya kali gue pacaran sama manusia kayak dia


yang ada hidup gue menderita sumur hidup.” Nino menolak. Dia tahu kalau Lia itu


orang yang sangat memandang fisik,harta dan tahta. Kalau dia berani mendekati


dia bisa-bisa tinggal tulang saja karena minta ini itu dengan harga yang


fantastis.


“Benar kata Mas Nino. Mas Nino itu terlalu good day buat dia


yang starbuck.” Kata Vian sambil tertawa.


“Nggak usah ngetawain, lo sama gue itu nggak ada bedanya

__ADS_1


tahu.”


“Eh jangan sama kan Mas, gue lebih ganteng daripada lo.”


“Ganteng-ganteng juga di gosting aja lo mau apa.”


“Sudah-sudah malah pada ngelantur, oiya karena hari ini


terakhir gue kerja sebelum cuti. Bagaimana kalau nanti pulang kerja gue traktir


makan.” Kata Gita.


“Ok ini mah, gue setuju. Gimana yang lain?” tanya Nino.


“Siap.” Jawab serentak.


“Mbak, Kak Gilangnya ada?” tanya Gita.


“Ada. Masuk saja.” Lila mempersilahkan Gita masuk ke ruangan


Gilang.


“Maksih.” Ucap Gita.


Gita mendorong pintu pelan, dia melihat Gilang sedang fokus


dengan laptop dan berkas-berkas di mejanya sampai-sampai tidak tahu kedatangan


Gita.


“Selamat siang bapak.”  Kata Gita dengan sangat lembut.


“Siang, Lila kebetulan kamu datang. Cek jadwal rapat buat


besok sama kumpulkan anak-anak buat meeting sekarang. Ada hal penting yang


perlu saya sampaikan.”


Gita yang awalnya mau jailin Gilang langsung menghela napas


panjang, Gilang ternyata benar-benar sedang sibuk.


“Ya, aku sampaikan sama Mbak Lila.” Katanya sambil membalikan


Gilang langsung mengangkat kepalanya, “Sayang, maaf-maaf aku


nggak tahu kalau itu kamu.” Gilang berajak nyamperin Gita.


“Iya kan kamu lagi sibuk, biar aku sampaiin sama Mbak Lila.”


“Kamu ada apa kesini?”


“Aku cuma mau memberi tahu kamu kalau mulai besok aku udah


cuti.”


“Kamu yakin?” Gilang tampak sumringah, akhirnya Gita mau cuti juga. Dia sudah


lama menginginkan Gita cuti agar bisa beristirahat di rumah. Kalau perlu dia


resign cukup mengurus anaknya nanti.


“Iya, rasanya aku juga sudah tidak kuat.”


“Ya sudah, kamu istirahat saja di rumah nanti kalau bosen


boleh ke sini. Cukup duduk disini menemani aku.” Gilang mengusap rambut Gita


lalu mencium keningnya.


“Emang boleh? Kamu nggak takut tergangu?” kata Gita.


“Tentu saja tidak, kamu itu penyemangatku bagaimana bisa


mejadi pengganggu.”


“Baiklah suamiku tersayang, katanya tadi mau meeting sama


anak-anak.” Ujar Gita sambil merapikan dasi dan jas Gilang.


“Iya.”


“Aku bali ke ruangan dulu ya, mau pesan-pesan sama Fara

__ADS_1


perkerjaan yang mau aku tinggal.”


“Iya sayang, hati-hati ya.”


“Siap komandan.”


“Oiya sayang.” Gita membalikan tubuhnya lagi dia lupa


berpamitan untuk pergi sama anak-anak.


“Iya sayang?”


“Nanti sehabis pulang kerja aku mau makan sama anak-anak.


Bolehkan?”


“Iya, nanti kalau meeting aku kelar cepat aku menyusul.”


Waktu sudah menunjukan pukul empat sore, Gita bergegas


siap-siap untuk pulang. Dia melihat sekitar yang masih sibuk tidak ada yang


bergegas untuk pulag seperti dirinya.


“Kalian nggak pulang?”


“Git, kayanya kita nggak bisa makan bareng deh kerjaan buat


besok numpuk banget gue harus lembur.” Kata Fara.


“Iya, kita semu lembur Git. Mohon di maklumi ya?” kata Win.


“Iya, tenang saja Mas. Besok-besok kan juga bisa. Kalian


semangat ya, maaf nggak bisa bantuin?”


“Nggak apa-apa, lo pulangnya hati-hati ya. Selamat istirahat


Gita.”


“Iya makasih, Gita pulang dulu ya.”


Gita keluar ruangan dengan kecewa, tapi dia tidak bisa


berbuat apa-apa karena keadaan yang tidak tepat. Gita langung menelpon Gilang,


siapa tahu dia sudah selesai meeting dan bisa makan bareng.


“Halo sayang, meetingnya udah kelar belum?” tanya Gita.


“Maaf sayang belum kelar, mungkin aku kan pulang larut malam


kamu tidur saja dulu nanti ya. Kamu hati-hati pulangnya, Bye sayang love you.”


Gilang langsung menutup telponnya.


“Hah.. cuti belum juga di mulai udah kesepian saja gue.”


Ujarnya.


Gita menelpon restauran yang tadi sempat dia pesan, dia


meminta untuk membungkus semua makanan yang sudah di pesannya dan di kirim ke


kantornya.


“Loh.. kok lo balik lagi?” tanya Vian.


“Iya, gue kan udah janji bakalan traktir kalian makan. Karena


kita nggak bisa keluar ya udah gue bawa ke sini saja.” Kata Gita sambil


membagikan makanan ke teman-temannya.


“Bu Bos kita emang the best dah.” Kata Fara sembari menerima


box dari Gita.


“Emang, nggak ada bos yang sebaik Gita.” Puji Nino.


“Ada sebenarnya, tapi kalian belum berjumpa saja.” Gita tidak


mau terlalu di puja.

__ADS_1


__ADS_2