
Aiden, Ibob dan Luki sibuk membersihkan taman milik Aiden. Mereka bukan terkena hukuman namun Aiden yang berjanji akan menggantikan Beni supir sekaligus tukang bersih-bersih di rumahnya yang sedang cuti.
“Berjalan lancar juga Rafa, kita sudah mau selesai belum juga balik,” kata Luki.
“Telpon gih, masih di sana atau di mana, ntar kita samperin setelah selesai ini,” pinta Aiden.
“Ok,” jawab Ibob sembari mengambil ponselnya.
Belum juga ketemu nomor milik Rafa, terdengar motor yang di kemudi oleh Rafa.
“Tuh dia orangnya,” kata Ibob kembali mengantongi ponselnya.
“Lama amat lo, kencan sekalian?” ujar Aiden.
Rafa tak menjawab, ia berjalan mendekati Aiden lalu memukulnya dengan keras.
“Lo kesambet apaan sih?” Aiden memegangi pipinya yang terkena pukulan.
“Raf, lo kenapa?” Ibob dan Luki ikut bingung melihat Rafa yang uring-uringan dan langsung menyerang Aiden.
Rafa menarik kaos Aiden, “Nggak menyangka lo munafik ya, bisa-bisanya lo suka sama gebetan saudara sendiri,” Rafa memberikan pukulan lagi kepada Aiden namun di tangisnya.
“Lo salah paham,” ujar Aiden sembari memberikan perlawanan kepada Rafa.
“Salah paham apa?” katanya dengan wajah merah, dadanya bergemuruh.
“Lo tenang dulu, cerita apa yang terjadi sebenarnya,” minta Ibob.
“Benar, jangan tiba-tiba seperti ini. Kalian itu saudara,” ujar Luki bijak.
“Saudara,” kata Rafa tertawa sinis.
“Kalau Ai memang saudara gue, pasti tidak akan merebut gebetan gue,” ujarnya sembari menunjuk-nunjuk Aiden.
Untung saja Aiden sudah menceritakan semua kepada Luki dan Ibob sehingga mereka tidak ikut salah paham.
“Gue nggak pernah merebut siapapun, kenapa lo bisa ngomong seperti itu?” tanya Aiden masih dengan santai. Ia sama sekali tidak marah meskipun sudah di pukul Rafa.
Aiden memiliki cukup kesabaran, jadi ia jarang marah kecuali yang bersalah itu sudah keterlaluan baru ia kan sangat marah.
“Sila menolak gue, dia bilang karena suka sama lo.”
“Terus kalau Sila suka sama gue, lo pikir gue juga suka sama dia?” ujar Aiden sembari melipat kedua tangannya didada.
__ADS_1
Rafa terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Aiden. Rafa tidak bisa berpikir karena sudah terburu emosi.
“Fa, kalau memang Ai mengkhianati lo nggak bakalan cerita sama kita. Ai juga sudah menolak Sila di parkiran. Tak hanya itu, makanan siang yang lo makan sebenarnya Sila berikan kepada Ai, bukan lo.” jelas Luki.
“Apa gue masih bisa disebut pengkhianat?” tanya Aiden dengan menatap Rafa lekat. Rafa terdiam, dadanya yang bergemuruh mulai redam.
“Fa, lo sama Ai kan sudah bareng sejak bayi masa iya bakalan hancur karena wanita yang baru ketemu kemarin,” ujar Ibob sembari menepuk pundak Rafa.
“Tenang saja, saudaramu ini nggak akan pernah melakukan itu, tapi perlu lo ingat cewek itu tidak baik. Mendingan lo cari yang lain,” Aiden menarik Rafa dalam pelukannya.
“Sorry,” ucap Rafa pelan.
“Sudahlah, lupakan. Tapi apa yang membuat lo semarah ini?” Aiden ingin tahu apa yang membuat Rafa marah besar.
“Dia bilang kalau dia lebih suka sama lo, dan lo juga suka sama dia. Kalian tidak jadian karena terhalang gue,” jelasnya.
“Wanita ular,” sahut Ibob.
“Hati-hati saja deh sama dia. Jangan sampai tertipu sama wajahnya yang cantik,” kata Luki.
“Memangnya cantik?” ucap Aiden dengan tawa sinis.
“Cantiklah,” jawab Ibob.
*****
Pelajaran pertama hari ini adalah ekonomi, yang diajar oleh Bu Rina. Aiden mulai menguap setelah hampir empat puluh lima menit Bu Rina menjelaskan. Aiden menaruh kepalanya dia meja, baru saja ia hendak mengerjamkan matanya sudah di senggol Ibob lengannya.
“Apa sih,” Aiden kesal.
“Bangun, Bu Rina ada di sebelah lo,” bisik Ibob.
Aiden langsung duduk tegak, ia menoleh ke arah Bu Rina sambil nyengir.
“Kebiasaan kamu Ai, sekarang jelaskan ilmu ekonomi?” Bu Rina memberikan pertanyaan kepada Aiden secara mendadak.
“Ilmu ekonomi sebenarnya didasarkan pada tiga konsep penting, yaitu kelangkaan, pilihan dan pengambilan keputusan. Ilmu ekonomi muncul karena manusia selal ingin mendaatkan sesuau yang melebihi sumberdaya yang dimiliki,” jawab Aiden dengan sangat lancar.
Bu Rina lumayan takjub kepada jawaban Aiden, ini adalah bab baru yang diajarkan. Namun Aiden sudah menguasainya.
“Ok,” jawab Bu Rina sembari kembali ke depan meneruskan menerangkan materi.
“Wah, lo memang genius,” Ibob mengangkat kedua jempolnya.
__ADS_1
Aiden kembali menaruh kepalanya untuk lanjut tidur, ya cowok pintar ini tidak akan kena marah langsung. Palingan nanti Aiden akan mendapat surat peringatan kalau dia tidur terus di kelas.
Suara bel tanda istirahat sudah meraung-raung, semua berhamburan ke luar kelas. Aiden meregangan kedua tangannya.
“Ai, memangnya lo semalam begadang lagi. Suka banget molor di kelas?” tanya Ibob.
“Nggak juga,” jawabnya sembari berdiri.
“Hati-hati, ntar kalau ketahuan sama tante Gita loh.”
“Asal kalian nggak ngadu sama mama saja gue nggak bakalan ketahuan. Terutama lo Raf, awas ya ngadu sama mama,” ancam Aiden.
“Nggak-enggak,”
Langkah keempat cowok itu terhenti ketika ada Sila dan Erina di depan pintu. Rafa langsung merengut, ia tahu kalau Sila datang ke kelas untuk menemui Aiden bukan dirinya.
“Ai, gue punya makanan buat lo,” Sila memang tidak punya hati, setelah menolak Rafa dengan pedenya dia memberikan makanan kepada Aiden di depannya.
“Gue nggak lapar,” ujarnya sembari melewati Sila dan Erina.
“Ai, Aiden tunggu,” Sila mengejar Aiden, ia menarik tangannya yang langsung di tepis sama Aiden.
“Ai, lo kenapa galak banget sih sama gue,” ucap Sila dengan wajah sedih untuk menaklukan Aiden. Biasanya cewek akan berekspresi sedih atau imut untuk menggaet orang yang di sukainya.
“Gue biasa,” jawab Aiden dingin.
“Makanya kalau nggak mau jangan di paksa,” ujar Luki.
Luki merangkul Aiden dan berjalan duluan meninggalkan Rafa dan Ibob yang masih di belakang.
“Ini semua pasti gara-gara lo kan,” Sila menyalahkan Rafa, Aiden menolaknya pasti karena dia.
“Jangan terlalu pede, lagian selera Aiden bukan kayak lo wanita ular tidak punya hati,” cerca Ibob.
“Bob, jalan,” Rafa merangkul Ibob meninggalkan Sila yang kesal karena di katai wanita ular sama Ibob.
“Awas ya lo,” katanya kesal.
Sila memberikan makanan kepada Erina, “Gue mau lo kasih ini makanan sama Aiden.”
“Tapi kan Aiden tidak mau,” Erina bingung.
“Gue nggak mau tahu, lo harus kasih ini dan memastikan dia memakannya atau lo bakalan gue usir dari rumah gue,” ancam Sila.
__ADS_1
Erina mendengus kasar setelah kepergian dari Sila, ia menatap kotak makanan yang baunya terasa enak namun tidak membuatnya selera hari ini.