
Paginya Anita sudah di hadang sama Gita dan Fara di lantai bawah kantornya.
"Pagi." Sapa Anita dengan wajah sumringah.
"Roman-romanya ada yang lagi bahagia nih?" kata Fara melihat wajah cerah Anita.
"Bagaimana semalam, Vian nggak macam-macam kan?" tanya Gita cemas.
"Tidak, dia nggak macam-macam kok." jelas Anita. "Yuk ke atas." ajak Anita.
"Terus kalian ngapain saja semalam?" Fara dan Gita sudah kepo.
"Gue ceritain di atas saja. Nggak enak kalau di dengar yang lain." ujar Anita.
"Ok..Ok.."
Mereka bertiga bergegas menuju ke ruangannya. Sesampai di ruanga Fara dan Gita berjalan cepat saat mejanya penuh makanan.
"Eh.. Ini makanan dari siapa?" tanya Gita sambil melihat seluruh ruangan yang masih kosong.
"Iya, mana banyak banget." Fara mengangkat cup kopi yang masih panas.
"Dari lo ya Nit?" Gita melihat-lihat makanannya.
"Bukan Git."
"Terus?"
"Dari gue, buat gantiin traktiran yang waktu itu. Kalian kan nggak sempat makan. Gimana suka nggak?" tanya Vian yang masih berada diambang pintu.
"Ooh.. Kok cuma kita berdua punya Anita mana?" Gita menanyakan punya Anita. Karena di mejanya tidak ada.
"Vian, lo boleh nggak suka sama Anita tapi jangan bedain gini dong. Gue nggak mau ambil ini." Fara meletakkan kopinya. Dia tidak mau memakanya karena Vian tidak membelikan Anita juga.
"Iya, kalau tidak bisa jadi pasangan kan setidaknya bisa jadi teman. Ambil saja semua deh, gue juga nggak mau." Hari masih pagi tapi suasana ruangan itu jadi panas.
"Heh..siapa bilang gue nggak beliin Anita, nih baru soalnya makanan kesukaan Anita lagi buka." Vian membawa dua kantong ukuran sedang yamg berisikan sarapan Anita.
"Nah gitu, oiya.. Ini dalam rangka apa kok baik banget. Lo balikan sama Bella?" tanya Fara.
"Nggak." ujarnya.
"Terus?"
"Kepo banget, dah gue mau ke ruangan Gilang dulu susah di tunggu." ucap Vian lalu pergi begitu saja tanpa penjelasan.
"Eh.. dasar ya Vian gue beri nanti pas lo balik." teriak Fara.
"Eh.. Udah masih pagi udah teriak-teriak saja." Anita menenangkan Fara.
"Semalam terjadi apa? Kok kayanya ada yang aneh dengan kalian." Gita mengamati ada yang aneh dengan mereka berdua.
"Iya, lo juga tampak lebih cerah."
"Jangan-jangan lo unboxing ya semalam?" tebak Gita sembarangan.
__ADS_1
"Heh! Sembarangan." Anita menepuk lengan Gita.
"Terus apaan dong?"
"Semalam tuh Vian melama gue." kata Anita sambil senyum-senyum.
"Serius?" ujar Fara dan Gita barengan. Mereka masih tak percaya mendengarnya.
"Nit, lo nggak lagi ngigau saking cintanya sama Vian kan?"
"Nggak lah Far, Vian emang melamar gue. Dan kita akan menikah dalam waktu dekat ini."
"Beneran,"
"Iya."
Gita saking bahagianya langsung memeluk Anita. Akhirnya kedua sahabatnya itu bisa bersatu juga setelah terjadi drama yang luar biasa.
"Kok bisa, terus Bella?"
"Jadi waktu kemarin itu Bella yang peluk Vian minta balikan tapi Vian nggak mau. Terus semalam pas kita makan juga Bella telpon minta tolong. Kita samperin."
"Ngapai lagi?"
"Mantanya meneror dia, dan meminta Vian mengusirnya. Setelah itu Vian dengan tegas mengatakan kalau itu terakhir kalinya karena sekarang sudah punya gue." cetianya dengan bangga.
"Wah.. Vian keren banget, akhirnya kalian berdua bersatu juga. Senang gue dengarnya." kata Gita.
"Nit,.beneran kemarin nggak ngapa-ngapain?" tanya Fara mulai nyleneh.
"Masa Vian nggak tergoda, semalam tuh lo cantik dan sexy loh. Ngaku saja lo nggak usah malu sama kita yakan Far."
"Masa sih nggak terjadi apa-apa, Vian itu normal nggak sih, cewek secantik lo dianggurin." kata Fara lagi.
"Far, udah jangan di bahas lagi. Emang orang nggak ngapa-ngapain. Belum menikah nggak boleh." Anita di buat kelimpingan sama Fara dan Gita.
"Cium dikit jug nggak?"
"Git, ih kalian nih ya. " Anita merona.
"Vian tidak bisa memaanfaatkan keadaan." ujar Fara.
"Ya Tuhan, punya sahabat kena gini amat ya." Anita menepuk jidat. Sedangkan Fara dan Anita langsung tertawa
...----------------...
Vian mendatangi Gilang membawakan sarapan juga.
"Pagi Lang." Vian masuk dan meletakkan sarapan buat Gilang.
"Apa nih?"
"Sarapan."
"Tumben banget." Kata Gilang sembari menarik kantong plastik.
__ADS_1
"Ya, ucapan terima kasih gue sama lo. Selama ini telah menasehati gue." ujarnya.
"Lo tuh pakai ucapan terima kasih segala kayak sama siapa saja. Nggak usah sungkan." kata Gilang.
"Lang, gue udah memilih."
"Oiya, siapa?"
"Anita."
"Sukur deh, terus apa rencana lo sekarang?"
"Gue akan menikah dalam waktu dekat ini." cerita Vian.
Gilang tersenyum, dia beranjak dari kursinya lalu memeluk Vian.
"Selamat Vian, akhirnya lo bakalan nikah juga. Lo harus jaga benar-benar pilihan lo. Jangan pernah sedikitpun lo sakiti dia." Gilang menasehati Vian.
"Iya Lang."
"Apapun yang terjadi, saat marah pun lo nggak boleh mengatakan putus,cerai atau membencinya. Lo harus tenangkan diri dan ingat masa-masa seperti ini. Dimana masa lo berjuang mendapatkannya."
"Siap Lang, gue akan selalu ingat nasehat lo."
"Sayang..." teriak Gita dari luar ruangan yang membuat Gilang dan Vian mentap ke arah pintu.
"Ada apa sayang?" tanya Gilang.
"Lo ngapain disini Vian?" Gita tidak menjawab Gilang justru bertanya sama Vian.
"Emang nggak boleh?"
"Boleh sih."
"Ada apa?" Gilang menghampiri Gita lalu memegang wajah Gita hingga mengarah padanya.
"Aku mau membawa kabar gembira, tapi Vian udah disini. Nggak jadi." ucap Gita.
"Ooh, iya Vian udah cerita."
"Vian lo keren, lo memilih yang tepat. Selamat ya akhirnya lo mau menikah juga." Gita memeluk Vian.
Gita sayang banget sama Vian, dia lah orang yang sejak dulu menjaganya saat Gilang dan Raka tidak di sampingnya.
Gilang menarik Gita dari pelukan Vian, "Jangan lama-lama." ujarnya.
Gita mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes.
"Loh Git lo kenapa nangis?" Vian panik.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Aku tuh nangis bahagia tahu, aku nggak bisa berkata-kata lagi jadinya nangis." Ucap Gita mulai sesenggukan.
"Ya ampun sayang." Gilang memeluk Gita.
__ADS_1
Segitu besarnya rasa cinta sahabatnya membuat Vian trenyuh. Mereka berdua kadang terasa seperti orang tua baginya. Meskipun mereka seumuran.
"Makasih ya kalian berdua emang the best." Vian memeluk Gita dan Gilang.