Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Moodbooster


__ADS_3

Aiden melambaikan tangan sembari turun dari mobilnya ketika melihat Kyra yang keluar dari pintu rumahnya.


“Lo datang malam-malam ada apa?” tanya Kyra.


“Nggak ada apa-apa cuma mau kasih lo ini,” Aiden memberikan kantong plastik ukuran besar.


“Apa ini?” ujarnya sembari melihat isi kantong, ternyata isinya cemilan.


“Lo ke sini cuma bawain makan gue?” kedua mata Kyra berbinar mendapat suprize sederhana namun bisa membuat dirinya berbunga-bunga.


“Iya, gue nggak tahu apa kesukaan lo jadi gue beliin semua saja satu-satu biar lo pilih sendiri,” jelas Aiden.


“Makasih ya, lo pakai repot-repot bawain gue jajan segala.”


“Nggak repot, sekalian mumpung lewat sini ingat lo makanya gue beliin jajan. Biar lo tambah semangat belajarnya,” kata Aiden dengan senyuman manis yang membuat Kyra mau meleleh.


“Lo inget gue?” ucapnya malu-malu.


“Iya, lo kan suka gentanyangan di otak gue. Jadi mau makan ingat lo, mau tidur ingat lo. Mana nggak sopan banget datang ke mimpi gue. Kan jadi makin terbayang-bayang,” Aiden menggombali Kyra. Mukanya semakin memerah, jantungnya berdegup kencang.


“Gombal, lo bisa juga ya melawak,” Kyra tertawa.


Kesedihannya hari ini melebur dengan kedatangan Aiden, dia mendadak menjadi pelawak padahal biasanya kaku.


“Jangan sedih lagi ya,” katanya dengan tatapan penuh cinta. Tatapan yang membuat Kyra menjadi gelagapan.


“Kok lo tahu kalau gue sedang sedih?” tanya Kyra.


Aiden menunjuk dada Kyra lalu menyentuh dadanya, kemudia menautkan jari telunjuk kanan dan kirinya. Kyra tertawa lebar sembari menggelengkan kepalanya.


“Dasar gombal, berapa cewek yang lo gombali kayak begini?” tanya Kyra.


“Berapa ya?” Aiden menatap langit seolah mengingat-ingat berapa cewek yang dia kadalin.


“Banyak kan,” ujar Aiden.


“Nggak ada, cuma ndoro ayu,” katanya sembari mengedipkan mata kirinya.


“Dasar ganjen.”


“Ehem, jadi ini ya moodbooster kakak. Dari tadi Nara bujuk jawabnya cuma nggak, biarin. Giliran Kak Ai datang cenyum lebar,” Nara keluar dari persembunyianya.


“Apaan sih lo anak kecil, masuk sana?” suruh Kyra.


“Kak, suruh Kak Kyra makan dong. Dari tadi ngambek nggak mau makan,” adu Kinara.


“Lo belum makan?” Aiden menatap Kyra.


“Nara,” ucap Kyra pelan namun penuh penekanan.

__ADS_1


“Kak Ai, kakak ini kalau sudah marah jarang mau makan. Bisa seharian nggak makan,” Kinara bukannya diam malah semakin menjadi. Tahu ada pawangnya Kyra sekalian dia adukan semua hal yang merugikan Kyra.


“Kyra, lo nggak boleh begitu. Kalau sakit gimana coba?” kata Aiden dengan lembut.


Bagi Kyra, Aiden itu orang dengan sifat versi langkap. Galak, dingin, cool, lembut, kocak jadi satu. Bahkan dia semakin memenuhi hatinya. Awalnya dia hanya mendekati Aiden demi tiket jalan-jalan sekarang dia menjadi suka beneran.


“Kak, boleh nggak minta nomor Kak Ai. Jadi kalau kakak nggak mau makan Nara bisa mengadu sama kakak,” Kinara mengeluarkan ponselnya.


“Boleh,” Aiden memberikan nomor ponselnya.


“Makasih, kakak itu ganteng baik hati pula. Beda sama Kak Kris, kalau datang cuma mau ketemunya sama Kak Kyra. Diajak ngobrol saja nggak asyik,”


“Memangnya kakak asyik?” Aiden mengacak-acak rambut Kinara.


“Tentu, kalau saja umur kita tidak terpaut jauh. Pasti sudah Nara pacarin,” ucap Kinara ngelantur. “Atau kakak suka sama yang masih muda, kalau di pikir-pikir jaraknya cuma dua atau tiga tahun saja kan?”


“Nara, kamu kecil-kecil ganjen banget sih. Pakai segala menyatakan perasaan,” Kyra mencubit pipi Kinara. Aiden terkekeh, bisa-bisanya dia disukai anak SMP.


“Maaf ya, anak ini suka asal ceplos saja. Mana cerewet lagi,” Kyra menutup mulut Kinara agat tidak terus nyerocos.


“Nggak apa-apa, seru kok punya adik seperti Nara. Gue juga pingin tahu punya adik. Bisa diajak bercanda, main bareng,” Aiden yang sudah lama menginginkan adik peremuan senang bisa mengenal Kinara.


“Angkat Nara jadi adik Kak Ai, Nara pasti akan bahagia bisa diajjak jalan-jalan terus,” cerocos Nara yang membuat Kyra malu.


“Nara mau jalan-jalan?”


“Mau dong,”


“Siap.”


“Ky?” tanya Aiden karena Kyra hanya diam.


“Udahlah kak tenang saja, mama pasti kasih izin kalau perginya sama Nara,” Kinara menatap Kyra.


“Ok deh.”


“Nara, Kyra kalian ngapain di situ sudah malam kok main di luar?” tanya mamanya dari ambang pintu.


“Lagi ambil makanan dari abang go food ma!” seru Kinara yang membuat Kyra melotot.


“Kenapa jadi abang go food.”


“Cara aman buat mama nggak marah, maaf ya kak Ai,” Kinara merenges.


Aiden mengangkat kedua jempolnya ke udara, dia sama sekali tidak keberatan mau di katakan abang go food, gojek ataupun kurir paket lainnya.


“Gue masuk dulu ya, lo hati-hati.”


“Iya, semangat ya.” Aiden mengusap rambut Kyra sebelum dia masuk meninggalkannya.

__ADS_1


“Bye-bye kak Ai,” Kinara melambaikan tangan lalu menarik tangan kakanya sebelum mamanya berteriak lagi memanggil mereka.


Aiden tersenyum melihat kakak adik yang lucu. “Jadi begini rasanya jatuh cinta,” ujar Aiden. Dia mulai mengakui perasaannya kalau dia mulai jatuh hati dengan Kyra.


Dia yang sejak awal masing ingin menjomblo kini pintunya mulai terbuka. Meskipun kisahnya lumayan rumit karena kedua pihak tidak akan merestuinya saat mereka berdua bisa jadian karena kesalahpahaman.


“Kyra, kamu bawa jajan sebanyak ini memangnya bisa menghabiskannya?” Selfi menatap kantong plasti berisikan full jajanan.


“Ya kan buat amunisi Kyra belajar,” jawabnya masih sewot.


“Ada Nara juga yang siap membantu menghabiskan,” Nara meringis.


Kyra dan Kinara meninggalkan mamanya sebelum kembali mengoceh dengan makanan yang ada di tangan Kyra.


Sesampai di kamar Kinara menuang semua isi kantong plastik sofa panjang di depan kasur. Kyra mengambil satu toples ukurang sedang yang berisikan coklat. Coklat yang sering di berikan sama Aiden.


“Kak, Nara boleh minta kan?” tanya Nara.


“Ambil saja.”


Nara menusuk dua buah susu kotak rasa coklat satu untuk Kyra satu untuk dirinya.


“Kak Ai baik banget ya kak?” kata Nara.


Kyra menaruh jari telunjuk di bibirnya. “Jangan keras-keras nanti mama bisa dengar. Mama kan nggak suka sama Ai,” jelas Kyra.


“Kenapa?” Nara tidak mengerti kenapa mamanya tidak menyukai orang seperti Aiden.


“Karena Aiden dari orang yang sederhana, di tambah lagi kemarin mama melihat kalau Ai di skors dari sekolah,” cerita Kyra.


“Kok bisa di skors, memangnya Kak Ai membuat kesalahan apa?” Kinara kepo.


“Kakak juga kurang yakin, cuma waktu pemeriksaan kelas di tasnya terdapat rokok dan korek.”


“Ha?”


“Kakak juga bingung kenapa bisa, padahal kan Aiden nggak pernah merokok.”


“Kalau kata Nara pasti ada orang yang nggak suka sama Kak Ai dan menjebaknya.”


“Kata teman-teman yang lain juga begitu, kita mau mengungkapnya namun Ai bilang nggak perlu. Nanti juga bakalan ketahuan sendiri.”


“Kak Ai baik banget ya, pantes deh kalau jadi suami Nara,” ucap Nara yang mendapat pukulan pelan dari kakaknya.


“Kamu mau jadi pelakor?”


“Memangnya kakak suka sama Kak Ai?” tanya Kinara pura-pura nggak tahu.


“Kalau nggak suka kenapa juga kakak temui dia. Sudah sana balik ke kamar,” usir Kyra.

__ADS_1


“Ya,” jawabnya sambil manyun.


__ADS_2