Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Terakhir kalinya


__ADS_3

Vian tidak menyangka kalau Anita akan dandan secantik itu. Dia yang sudah menyiapkan beberapa topik yang akan di obrolkan di mobil jadi blank. Semua hilang karena terpukai dan bikin gugup.


"Lo cantik banget malam ini." kata Vian melirik sedikit.


"Makasih." Jawab Anita dengan nada biasa dia harus jaga image. Padahal dalam hati rasanya ingin teriak-teriak sambil loncat-loncat.


"Mau makan apa?" tanya Vian lagi, sambil cari-cari ide buat bahan obrolan.


"Kan kamu yang minta traktiran, terserah kamu aja." Ujar Anita.


Vian jadi bingung mau makan apa, "Nit, kalau kita di cafe gimana?" ajak Vian, karena dari awal memang belum menemukan tempat makan.


Sebenarnya tujuan awalnya hanya mau mengajak Anita jalan-jalan, dan menjelaskan tetan kejadian siang itu.


"Ya apa ajalah, yang penting lo senang." jawab Anita.


Vian menghentikan mobil di kafe yang tidak jauh dari kantor hanya berjarak beberapa kilo saja.


Vian membukakan pintu buat Anita, "Makasih, gue bisa sendiri kali Vian." kata Anita.


"Nggak apa-apa sekali-kali meratukan lo." Katanya sambil menggandeng tangan Anita.


"Eh..eh... Apa nih, kenapa gandeng tangan gue." Batin Anita.


Anita benar-benar di ratukan oleh Vian malam ini. Menjadikan dia bingung harus bagaimana. Dia menahan diri agar jangan baper karena Vian sudah milik Bella.


"Vian, lo kalau mau makan, makan saja nggak perlu sungkan seperti ini. Sampai bukain pintu segala." ujar Anita.


"Memangnya kenapa?"


"Vian, lo kan sudah ada Bella. Harusnya lo hargai dong dia. Bukan malah marayu perempuan lain. Apa kamu nggak pernah mikir bagaimana perasaan dia kalau dia lihat lo jalan sama gue." jelas Anita. Dia tidak mau dianggap sebagai pengganggu hubungan orang lain.


"Bukan gue yang merayu, tapi lo."


"Gue?" Anita membelalakan matanya sambil menunjuk dirinya.


"Iya, siapa suruh dandan cantik begini. Tentu saja gue tergoda." ujar Vian dengan senyum-senyum, seakan tidak akan pernah ada yang terjadi kalau ada yang melihatnya.


"Dasar, semua cowok sama saja." cerca Anita.


"Eits.. Jangan sama kan dong. Gue beda dengan Bayu. Tapi kalau mau samakan gue sama Gilang apa Raka boleh lah." kekehnya.


"Mana bisa, mereka berdua itu setia dan tegas. Lo?"


Vian beranjak dari kursinya mendekati Anita, "Memang kurang setia apa gue?"

__ADS_1


Anita mendorong dada Vian, dia di buat takut.


"Lo apaan sih, kalau lo nggak mau makan gue pulang saja. Gue gojekin besok." ujar Anita sambil beranjak dari kursi namun di tahan sama Vian.


"Lo kenapa sih kabur-kaburan saja, duduk dulu. Ada yang mau gue omongin." kata Vian.


Anita duduk lagi, "Buruan mau ngomong apa?"


"Sebenarnya..." Baru mau mulai ngomong ponsel Vian berdering. Dan Anita melihat di layar ponsel Vian kalau yang telpon yaitu Bella. Moodnya langsung menurun.


"Tuh dicariin pacarnya, udah buruan ngomong. Nanti salah paham lagi." katanya ketus.


Vian tidak menjawabnya, dia membiarkan ponselnya terus berdering.


"Anita, dengerin gue dan gue mau ngomong ini untuk yang terakhir kalinya." ucap Vian sangat serius.


"Tapi Vian itu angkat dulu telponya." pinta Anita.


"Jangan hiraukan telpon dulu, lo dengerin baik-baik saja apa yang gue omongin." kata Vian.


Anita mengangguk, ia memberikan kesempatan Vian untuk bicara.


"Gue suka sama lo, mau nggak lo jadi istri gue?" Vian melamar Anita. Anita benar-benar tidak menyangka, jantungnya bergemuruh. Dia sangat senang dilamar Vian, namun dia juga sedih saat ingat saat Vian dan Bella berpelukan.


"Anita, ini terakhir kali gue bertanya sama lo. Gue nggak akan pernah mengatakannya lagi lain kali." Vian hanya memberikan kesempatan satu kali lagi buat dirinya sendiri. Kalau memang dia di tolak, dia akan langsung move on. Dia tidak mau terlaku berlarut juga.


"Apa wajah gue terlihat berbohong?"


"Tapi Bella.."


"Gue sama Bella sudah tidak ada hubungan apa-apa. Saat dia pergi semua selesai." ujarnya.


"Tapi kemarin gue lihat lo pelukan mesra sama dia."


"Soal itu, dia memang ingin kembali sama gue. Tapi hati gue sudah terpaut sama lo Anita. Gue mau menikah dan hidup bahagia sama lo."


"Vian, tapi gue tidak bisa hamil." Anita memperjelas ketidaksempurnaan dirinya. Dia kasihan kalau sampai dia tidak memiliki keturunan.


"Gue tidak peduli, gue mau lo apa adanya. Untuk soal momongan lo bisa berobat. Yang penting kita berusaha dulu, pasti Tuhan akan kasih jalan." kata Vian.


Anita terharu, matanya tiba-tiba basah. Dia tidak bisa berkata-kata lagi dengan kebaikan Vian yang mau menerimanya dirinya yang seorang janda dan tak bisa memiliki keturunan.


"Lo kenapa nangis?" Vian mengusap air mata Anita.


"Gue nggak bisa berkata apa-apa lagi Vian,"

__ADS_1


"Jadi lo terima atau tidak?" Vian memastikan.


Anita mengangguk, "Gue terima." jawabnya dengan menangis.


Bibir Vian mengembang lebar, ia langsung memeluk Anita. Rasanya lega banget, akhirnya penantianya terbayar lunas juga.


"Lo nggak bakalan tinggalin gue kan?" tanya Anita dengan terbata-bata.


"Tentu saja tidak, buat apa gue susah-susah ngejar lo kalau mau gue tinggalin. Buang-buang waktu saja."


Anita membalas pelukan Vian, rasanya tennang, bahagia. Meskipun bukan tempat yang romantis, namun suasnanya berubah drastis.


Ponsel Vian terus berdering, Bella tidak ada hentinya menlpon Vian.


"Mengganggu saja." keluh Vian.


"Angkat saja dulu, siapa tahu penting." suruh Anita.


"Nggak apa-apa gue angkat telponya?" Vian takut kalau Anita salah paham karena notabenya Bella itu mantanya.


"Nggak apa-apa, takutnya dia butuh bantuan. Dan cukup kali ini saja, besok-besok nggak boleh kalau nggak darurat." kata Anita.


"Siap." Vian hormat sama Anita.


Vian mengangkat telponya, lalu menempelkan di telingannya.


"Hallo."


"Hallo Vian, tolong aku takut mantanku datang ke rumah. Dia terus mengancam kalau aku tidak keluar." ceritanya sambil menangis.


"Ok, gue kesana sekarang." Vian menutup telponya.


"Ada apa?" tanya Anita.


"Mantanya Bella datang, dia mengancam Bella." kata Vian sambil memasukkan ponsel ke kantong celana.


"Ya udah ayo samperin, dia pasti ketakutan banget." Anita tahu pasti kalau Bella sekarang ketakutan. Dia juga merasakan saat di teror Bayu.


"Iya." Vian melepas kemeja kotak-kotaknya lalu memakaikan ke badan Anita.


"Eh.. Kenapa dilepas?" Anita ingin melepasnya supaya di pakai Vian lagi.


"Lo pakai baju kebuka begini pasti dingin. Siapa sih yang kasih ide buat lo dandan begini?" Ujar Vian sambil membenarkan hem ke di tubuhnya Anita.


"Lo masih tanya?"

__ADS_1


"Ah.. Pasti duo soplak itu kan. Emang bener-bener ya mereka. Kemarin mau nikahin dadakan sekarang dandanin lo kayak gini. Gimana kalau ada cowok yang naksir. Kalah saing gue pasti." Cerocos Vian.


__ADS_2