
Vian turun lebih dulu dari mobil, ia berlari saat melihat orang laki-laki yang menggedor pintu Bella. Yang kemungkinan itu mantan dari Bella.
Anita mengikuti pelan, sebenarnya memang lumayan berat melepas kekasihnya untuk membantu mantanya. Namun semua ini demi kemanusiaan.
"Berhenti." seru Vian.
"Siapa lo?"
"Gue temannya Bella, bisa nggak lo jangan ganggu dia lagi." pinta Vian dengan baik-baik.
"Punya hak apa lo ngatur, gue ini pacarnya bebas dong gue mau datang kesini kapan pun. Lo itu bukan siapa-siapa jangan sok ikut campur." Katanya sembari melihat Vian dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Lo nggak usah nyolot, gue masih baik-baik ngomongnya." Vian menahan diri. Rasanya pingin tonjok itu wajah mantan Bella.
"Memang kenapa kalau gue nyolot, nggak suka lo!" ucapnya sambil memegang kerah Vian.
"Lepasin." ucap Vian santai, dia nggak ada takut-takutnya.
Anita menjadi ketar-ketir, mereka berdua sudah sama susah emosi. Pasti akan ada baku hantam.
Anita berlari ke pos satpam yang ada di ujung namun masih terlihat rumah Bella. Dia takut kalau sampai Vian kenapa-kenapa.
"Pak..pak.. Tolong." kata Anita ngos-ngosan.
"Ada apa Neng?"
"Itu ada orang yang bikin onar."
"Dimana?" Satpam itu beranjak dari kursi yang di dudukinya.
"Rumahnya Bella." tunjuk Anita.
"Baik Neng, ayo kita kesana." Dua satpam mengikuti Anita ke rumah Bella.
Sesampi disana Bella sudah keluar sambil nangis melihat Vian dan mantannya berkelahi.
"Berhenti atau saja bawa kalian ke pihak yang berwajib." ancam satpam sambil melerai Vian dan mantan Bella.
"Dia yang mulai dulu Pak." tuduh Mantan Bella.
"Nggak pak, dia yang mengganggu Bella."
"Benar Pak, dia yang salah bawa saja dia ke polisi, selama ini dia meneror saya." kata Bella.
"Sayang, kamu kok seperti itu. Kita kan bakalan nikah, kamu kok tega sih sama aku. Mana kamu belain dia lagi. Jangan-jangan kamu selingkuh ya sama dia." tuduh mantanya.
"Dengar ya Yoga, kita sudah putus. Dan lagi kamu yang selingkuh, mana kamu posesif sama aku. Aku tidak akan pernah menikah sama kamu." ujar Bella dengan gemetar.
"Bell.. Bella sayang maafin aku. Aku akan berubah."
__ADS_1
"Pak tolong bawa pergi dia, dan tolong jangan biarkan dia masuk ke komplek kita lagi pak."
"Baik neng, kita akan bawa dia ke pihak yang berwajib."
"Bell, Bella sayang. Tolong aku, kamu nggak boleh seperti ini sama aku."
"Diam kamu, ayo jalan."
Akhirnya Yoga diamankan di pos satpam lalu di bawa ke kantor polisi.
Bella mengusap air matanya lalu memeluk erat Vian.
"Makasih Vian, lo emang paling baik. Aku benar-benar menyesal dulu terlalu mengikuti kehendak orang tuaku."
"Bell, yang lalu biarlah berlalu jangan kamu ungkit terus."
"Tapi Vian, gue nggak mau kehilangan lo lagi. Lo masih mau kan terima gue."
Mata Anita berkaca-kaca, dia baru saja di lamar Vian namun dia harus dihadapkan seperti itu.
Vian menari diri dari pelukan Bella, "Semua kisah kita itu sudah berlalu Bell. Dan gue mohon jangan pernah hubungi gue lagi, ini untuk terakhir kalinya gue datang membantu lo. Lo bisa meminta bantuan sama orang lain." Jelas Vian.
"Vian lo kok gitu, lo benar-benar nggak mau ketemu sama aku?" Bella menangis.
"Sorry Bell, ada hati yang harus gue jaga sekarang. Aku takut ada salah paham diantara kami. Meskipun aku hanya menolong kamu sebagai seorang teman pasti dia tidak akan tenang." Ucap Vian. Dia mau Bella move on, dan jangan mengganggu kehidupannya lagi.
Anita tersenyum mendengar perkaraan Vian, sebenarnya dia sudah takut kalau sampai Vian luluh lagi dengan Bella.
"Ah iya. Bell aku balik dulu ya. Jaga diri baik-baik. Carilah lelaki yang bisa menjaga , dan menghargai kamu." Katanya sambil berjalan mendekati Anita.
Luluh lantahlah perasaan Bella, dia sudah menyia-nyiakan orang yang baik dan tulus berkali-kali. Awalny dia pikir Vian masih sama seperti dulu yang masih menunggunya.
...----------------...
"Sakit ya?" tanya Anita di dalam mobil saat melihat luka memar di wajah Vian.
"Enggak kok, cuma ngilu dikit saja." ujar Vian agar tidak membuat cemas Anita.
"Em.. Tentu saja tidak terlalu sakit. Kan udah dapat pelukan bisa jadi obat dong."
Vian langsung menoleh ke arah Anita, dia sudah menyangka bakalan seperti ini.
"Aq tidak membalas pelukanya, sumpah." katanya sambil mengangkat dua jari berbentuk huruf V.
"Kenapa?" tanya Anita.
"Ha?" Vian di buat bingung.
"Kenapa nggak balas?"
__ADS_1
"Udah deh, kita itu baru aja jadian masa udah mau marahan. Ini terakhir kalinya gue sama dia ketemu. Setelah hari ini gue sama dia hanyalah teman biasa."
"Hmm."
"Lo nggak percaya?"
"Percaya."
Vian gemes banget di godin Anita, ia meles sabuk pengamannya lalu mendekatkan tubuhnya dengan Anita.
Anita di buat kaget, apalagi Vian sengaja menurukan kursi yang di duduki Anita. Wajah keduanya semakin mendekat.
Jantung mereka saling beradu, Vian tergoda dengan bibir merah merona dari Anita. Ingin sekali dia mengecupnya.
Sedangkan Anita di buat panas dingin oleh Vian. Dia takut kalau Vian tiba-tiba melakukanya padahal mereka baru saja jadian dan belum menikah.
"Vian.." ucapnya lirih.
"Ya.."
Anita semakin panas saat Vian mengembuhkan napas mengenai wajahnya.
"Lo mau apa?" Ucapnya takut-takut.
"Gue hanya mau memandang wajah cantik lo." kataya terlihat santai padahal jantungnya susah disko.
"Jangan begini, nanti dilihat orang." katanya.
"Besok kita nikah yuk." ajak Vian.
"Kamu gila masa ya besok, kita juga belum ketemu keluarga besar." Anita mendorong dada Vian, namin Vian menekannya dia sehingga makin mendekat.
Saat melihat Anita memejamkan mata Vian tetsenyum lalu mengangkat tubuhnya kembalinke tempat duduknya. Dia siap mengemudi mengantarkan Anita pulang.
"Kamu tahu kedua sahabat kita yang lebih gila sebenarnya." kata Vian.
"Maksud lo Gita sama Fara?"
"Memang siapa lagi sahabat lo selain dia?" Vian melirik ke arahnya langsung fokus lagi ke jalan.
"Memangnya apa yang mereka lakukan?" Anita bingung, apalagi yang di lakukan sama kedu sahabatnya itu.
"Sebelum kita baikan, dan tepat saat Bella datang mereka langsung mau cari penghulu buat nikahin kita." Vian geleng-geleng kepala saat mengingat kejadian itu.
"Apa?" Anita melongo, dia juga geleng kepala dengan tingkah kedua sahabatnya yang suka di luar nalar. Mungkin orang lain tidak akan pernah kepikiran namun beda banget dengan dua bocah itu.
"Iya, dia lari dari ruangan kita ke Gilang."
"Mereka memang suka konyol, tapi mereka lah yang selalu ada buat aku, buat kita sebenarnya. Bahkan kita bisa bersama pun pasti ada campur tangannya." Anita sangat berterima kasih dengan Gita dan Fara.
__ADS_1
"Benar, bahkan gue pun tidak tahu harus membalas kebaikan mereka dengan apa."