
Di sepanjang perjalanan dari camping semuanya diam, tidak seheboh saat berangkat. Dinda sejak naik terus mengamati Luki yang tidur di kursi paling belakang bersama Aiden. Ai bertukar tempat duduk dengan Ibob.
“Din,” bisik Kyra.
“Hm," Dinda mengalihkan pandangannya dari Luki ke arah Kyra.
“Lo baik-baik saja?” tanyanya.
Dinda menggelengkan kepalanya. “Tidak, gue nggak enak hati,” jawabnya sembari kembali menoleh kebelakang.
“Gara-gara lo tolak cinta Luki?”
“Kok lo tahu?” Dinda mengerutkan keningnya.
“Gue tadi nggak sengaja lihat lo, jadi gue samperin. Eh malah lihat lo lagi di tembak sama Luki,” jelas Kyra.
“Iya, gue jadi nggak enak sama Kak Luki,” Dinda serba salah. Pasti nantinya akan menjadi canggung.
“Lo sudah benar kok, lo jujur kalau memang sudah punya pacar. Dan lo cewek setia karena tidak tergoda,” Kyra mengangkat kedua jempolnya di udara sembari tersenyum lebar.
“Kalian nggak pada tidur?” tanya Rafa yang sejak tadi mendengar mereka berdua bisik-bisik.
“Nggak, kita temani lo,” jawab Dinda.
“Benar, kasian kan kalau lo sendirian. Atau lo mau gue gantiin,” tawar Kyra.
“Nggak usah, kalau kalian capek tidur saja nggak apa-apa,” suruh Rafa.
"Tapi lo sendirian, nanti kalau ngantuk gimana?" kata Kyra.
"Nggak, kan gue baru saja gantiin Aiden."
"Beneran nih kita tidur nggak apa-apa?" Dinda memastikan Rafa.
"Nggak, buruan tidur."
Kyra dan Dinda pun akhirnya menyusul yang lain.
...ΩΩΩ...
Sesampai mengantar Dinda dan Kyra pulang, Aiden, Ibob dan Rafa langsung bebersih. Sedangkan Luki memilih rebahan meneruskan tidurnya.
“Luki, mandi dulu lah. Bau tahu dari kemarin sore nggak mandi,” kata Rafa setelah keluar dari kamar mandi.
“Udah biarin aja. Nanti juga mandi sendiri kalau dia mood,” ujar Aiden.
“Dia lagi badmood?” tanya Ibob sembari mengusap rambutnya yang basah.
__ADS_1
Aiden mengangguk kan kepala, ia duduk di lantai dengan karpet berbulu yang lembut. Aiden menyeruput teh hangat yang di buatkan oleh asisten rumah tangga neneknya.
“Kenapa?” Ibob ikut duduk menikmati teh yang membuat badanya terasa hangat.
“Dia di tolak sama Dinda,” jawab Aiden.
“Eh, tuh bocah udah menyatakan cinta sama Dinda?” Ibob menoleh kearah Luki yang tidur telungkap.
“Kapan?” Rafa kepo.
“Tadi sebelum pulang.”
“Makanya cari tahu dulu, main tembak-tembak saja. Sekarang patah hati nangis,” ejek Rafa.
“Siapa juga yang nangis,” Luki sudah tidak tahan di ledekin teman-temannya. Dia bangun lalu menyambar handuk miliknya.
“Ai, apa alasanya dia terlalu baik buat Dinda?” Ibob kepo dengan alasan Dinda menolak Luki.
"Atau lebih baik kita berteman saja," tambah Ibob.
“Dinda sudah punya pacar,” jawab Aiden.
“Aih, sakitnya sampai ke sini,” canda Rafa.
“Kayak lo nggak pernah sakit hati saja,” sahut Luki dari kamar mandi.
Aiden, Rafa dan Ibob duduk menghadap ke arah Luki semua, Luki menghela napas pendek.
“Lo mau apa? Kita temani,” cetus Ibob.
“Iya, lo nggak boleh down meskipun di tolak lo nggak boleh patah semangat atau sampai putus asa, dan melakukan hal-hal yang tidak-tidak,” cerocos Rafa yang membuat Luki melongo mendengarnya.
“Otak gue masih sehat, kalian terlalu over khawatirin guenya,” Luki menghela napas panjang melihat tingkah konyol sahabat-sahabatnya.
“Lo kalau mau nangis, nangis aja nggak usah ditahan-tahan,” Aiden menepuk pundak Luki. “Lo boleh bersandar di pundak Ibob,” tambah Aiden.
“Kenapa jadi pundak gue, nggak punya lo saja,” protes Ibob.
“Ya kasihan pundak gue kalau Luki lama-lama bersandar sama gue. Kalau nyaman kan gue juga yang repot,” celoteh Aiden yang membuat Luki tersenyum.
Sejak penolakan Dinda, wajahnya kembali datar seperti dulu Aiden mengambilnya menjadi teman.
“Terus lo nggak pikirin pundah gue, bagaimana kalau lelah, apakah nggak kasihan nanti yang jadi pacar gue nggak bisa bersandar di bahu gue karena sudah miring,” cicit Ibob.
“Kayak ada yang mau bersandar di bahu lo saja,” timpal Luki.
Luki sangat bahagia mendapatkan sahabat seperti Aiden, rafa dan Ibob. Mereka selalu ada cara untuk membuatnya bangkit. Mereka tidak pernah membiarkan salah satu sahabatnya itu bersedih. Pasti ada saja tingkah mereka bertiga yang membuatnya tertawa lagi.
__ADS_1
“Main ps yuk, guys,” ajak Luki.
“Ok, kita kasih hukuman buat yang kalah gimana?” tanya Rafa.
“Boleh, apa hukumannya?”
“Setiap yanh kalah harus melepas salah satu yang melekat di tubuhnya?” ide Rafa.
“Setuju gue,” jawab Aiden.
“Harusnya ada ceweknya, pasti seru,” canda Ibob yang langsung mendapat pelototan dari ketiga sahabatnya.
“Yaelah,kalian biasa saja kali ngelihatnya. Orang gue cuma bercanda juga.”
Malam semakin larut, permainan pun semakin seru. Mereka berempat nggak ingat waktu. Padahal besok hari senin, di mana harus datang lebih awal dari hari-hari lainnya.
“Guys, sudah jam dua, kalian nggak pada mau tidur?” tanya Aiden, ia sudah menguap beberapa kali.
“Bentarlah, lagi seru,” Luki belum mau berhenti bermain.
“Gue tidur dulu ya,” pamit Aiden merebahkan tubuhnya di ranjangnya. Kedua matanya langsung tertutup sempuran untuk menuju alam mimpi.
“Luk, gue juga sudah nggak tahan ini,” Ibob menjatuhkan tubuhnya di karpet. Disusul dengan Rafa, meeka teler setelah main sembari makan cemilan sampai berantakan.
Luki pun tidur dengan duduk, tangannya masih memegangi stik ps. Dia memaksakan diri main sendirian. Namun matanya yang tak kuat lama-lama tertidur.
*****
Alarm berbunyi nyaring, saling bersahut-sahutan dari hp masing-masing. Namun diantara mereka tidak ada yang bangun. Pintu kamar mereka di ketuk dengan keras, namun telinga mereka seperti tertutup rapat sampai bunyi-bunyian tidak terdengar.
“Ya ampun anak-anak,” kata Wanda. Dia bergeleng kepala melihat kamar yang berantakan, dan tidur yang tidak teratur.
“Ai, bangun Anak,” Wanda menggoyang-goyangkan tubuh Aiden pelan. Aiden menggeliat, matanya masih terlalu berat untuk terbuka.
“Bangun sayang, ini sudah pukul enam,” kata Wanda.
“Iya Nek,” katanya sembari duduk.
“Kalian buruan bangun, nenek tunggu sarapan di bawah,” Wanda mengusap kepala Aiden lalu turun.
“Fa, bangun,” Aiden membangunkan Rafa sebelum dia pergi ke kamar mandi.
“Ya,” jawabnya namun belum juga bergerak, bahkan matanya pun tak terbuka sama sekali.
Aiden keluar kamar mandi langsung membuka tirai lebar-lebar agar cahaya matahari masuk ke kamar. Rafa, Ibob dan Luki langsung menggeliat tubuhnya mulai memanas.
“Ya ampun, siapa sih yang buka tirai pagi-pagi,” Protes Luki.
__ADS_1
“Gue, kalian mau pada bangun atau gue tinggal sekolahnya,” anca Aiden.
Mereka bertiga duduk sembari mengucek matanya, mereka langusng berrebut ke kamar mandi saat Aiden sudah berdandan rapi.