Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Kelahiran


__ADS_3

 Rasa takut masih saja


belum hilang, dia sadar kalau pengorbanan seorang ibu itu sangat besar.


“Bu Gita, yang tenang


ya. Kamu kan orangnya kuat yakin pasti bisa lahiran normal. Percayakan sama


saya, dan jangan lupa berdoa.” Kata Dokter Hisam yang selama ini menjadi dokter


kandungannya.


“Iya sayang, kamu kan


kuat.” Kata Gilang sambil memegang erat tangan Gita yang sudah berkeringat.


“Dok, kita mulai


sekarang?” tanya suster.


“Iya kita mulai


sekarang ya. Bu Gita ikuti sesuai aba-ba saya ya.” Kata Dokter sambil tersenyum


santai agar Gita tidak terlalu tegang. Meskipun kenyataannya mau di buat


sesantai apapun dia tetap tegang dan merasakan sakit yang luar biasa.


“Semangat sayang kamu


pasti bisa.”  Gilang terus menyemangati


Gita.


“Atur napas .. iya lalu


mengejan sekuat tenaga ya Bu Gita.” Dokter Hisam memberikan aba-aba. Dan Gita


pun mulai menarik napas.


“Ayo sedikit lagi Bu Gita.”


Kata Dokter Hisam.


Air mata Gita mulai


menetes membasahi pipinya, rasa sakit ini sangat luar biasa, sakit yang selama


ini alamai tak seberapa dengan apa yang dia rasakan sekarang. Jika melahirkan


memang dikatakan bertaruh hidup dan mati dia mempercayainya.


Hati Gilang sedih, dia


tidak bisa melihat Gita kesakitan. Ingin sekali dia menggantikannya, biarkan


dia yang merasakan sakit.


“Ya Tuhan, kuatkan


Gita, selamatkan Gita dan bayi kami.” Doa Gilang dalam hati.


“Hngggh!!”


“Ayo dorong!”


“Dorong lagi Bu Gita.”


“Bagus, ayo bu Gita


semangat.”


“Oeeek!...Oeeek..!”


Bayi laki-laki lahir


selamat, normal tak kurang satu hal pun. Bayi itu menangis sangat lantang. Gita


tersenyum, saat mendengar bayinya sudah lahir.


Gilang benar-benar


sangat bahagia, rasa dalam hatinya campur aduk setelah beberapa tahun


pernikahannya akhirnya dia di karuniai juga putra.


“Selamat Bu Gita dan


Pak Gilang, bayinya laki-laki.”


“Makasih dokter.” Kata


Gita lemas, senyum yang merekah lama-lama memudar dengan matanya yang mulai


terpejam.


“Dokter ini kenapa

__ADS_1


istri saya?” Gilang panik saat melihat Gita pingsan.


“Jangan khawatir Pak


Gilang, si ibu hanya kelelahan.” Kata Dokter Hisam.


“Terima kasih dok, udah


membatu persalinan istri saya. Suster terima kasih.” Gilang mengucapkan banyak


terima kasih untuk dokter dan suster.


“Sama-sama Pak Gilang,


biar bayinya di mandiin dulu.” Jelas Dokter Hisam.


“Iya Dokter.”


“Gilang, bagaimana cucu


dan menantu mama?” Tanya Rima saat Gilang keluar ruangan  bersalin.


“Iya Gilang, bagaimana


anak mama?” tanya Wanda.


“Bayi Gita dan Gilang


sudah lahir dengan selamat, ibu dan anak sehat semua.” Kata Gilang dengan wajah


yang sumringah. Raut wajahnya berbinar.


“Keponakan gue dimana


sekarang?” tanya Fara tidak sabar ingin melihat wajah keponakannya itu.


“Sedang di mandiin.”


Kata Gilang.


“Cucu Papa cewek apa


cowok?” Tanya Seno.


“Jagoan Pa.” Jawab


Gilang.


“Wah.. bisa satu genk


“Wah.. cucu mama jagoan


semua. Senangnya.” Kata Wanda.


“Jadi nggak sabar deh


pingin lihat.” Kata Wanda.


“Iya Jeng, saya juga


sudah tidak sabar. Pingin banget gendong.”


Setelah hampir satu jam


Gita terlelap tidur akhirnya dia sadar juga, dia sudah berpindah dari tempat


persalinan.


“Sayang, kamu sudah


bangun?” Gilang mengusap rambut Gita.


“Hem, dimana bayi kita?”


tanya Gita.


“Sebentar lagi diantar


kesini. Sayang makasih ya kamu sudah melahirkan putra yang sangat tampan.”


Gilang mengecup pipi Gita.


“Sama-sama sayang,


makasih juga ya sudah menguatkan dan juga menemani aku sampai bayi kita lahir.”


Ucap Gita.


“Cepat pulih ya sayang.”


Gilang kembali megusap rambut Gita.


“Sayang, selamat ya.”


Wanda memeluk putrinya.


“Mama juga selamat udah

__ADS_1


jadi oma yang keberapa ya?” Gita meringis.


“Iya, udah banyak


cucunya.” Kata Seno.


“Harusnya kamu kasih


mama selamat, kan ini cucu mama yang pertama.” Rima iri karena tidak di kasih


selamat sama Gita.


“Iya Mama, selamat.”


Gita memegangi tangan Rima lalu memeluknya.


“Ih mama, gitu aja iri.”


Goda Gilang.


“Permisi, bayi ganteng


datang.” Kata suster saat membawa bayi Gita.


“Ah.. sini sama mama.”


Kata Gita.


Suster memberikan bayi


kepada Gita, “ Sayang.” Ucap Gita sembari mencium pipinya. Dan Gilang pun ikut


menciumnya.


Bayi imut dengan tubuh


gembul, memberikan kebahagiaan luar biasa. Untuk keluarga besar Gita dan


Gilang.


“Sini, sama Oma.” Rima


langsung merebut bayi dari tangan Gita.


“Ih... mama Gilang saja


belum  gendong udah diminta saja.” Gilang


manyun.


“Jangan pelit kenapa,


nanti juga bakalan banyakan sama kamu tinggalnya.” Kata Rima.


“Iya, biarin sama


oma-omanya dulu.” Sahut Wanda.


“Halo... ponakan Om.”


Seru Vian saat masuk ke ruangan Gita. “Mana-mana ponakan gue.” Vian mencari


anak Gilang.


“Hey..hey... brisik


banget sih loh.” Kata Fara.


“Kenapa sih, kan gue cuma


mau ketemu keponakan gue. Pasti gantengnya kayak gue.” Vian menggerak-gerakan


alisnya.


“Vian, jangan


ngadi-ngadi kamu.” Rima nggak terima cucunya di katakan mirip sama Vian.


“Ih.. memang kenapa sih


tante. Tante Wanda, Vian kan ganteng toh?” Vian meminta pembelaaan Wanda.


“Iya, kamu gateng.”


“Tuh Tante. Kata tante


anda Vian ganteng.”


“Ngomong-ngomog siapa


namanya?” tanya Vian.


“Iya nih, siapa Gita?”


Fara juga menanyakan.


“Em..belum tahu.”

__ADS_1


__ADS_2