
Malam ini Vian dan Anita masih di jogja, mereka akan menginap semalam karena Vian sudah terlalu capek kalau harus lanjut perjalanan.
"Langsung tidur ya, jangan nangis, jangan overthingking." Vian mengusap kepala Anita yang membuatnya tegang namun hatinya berantakan.
"Iya, lo juga jangan begadang. Besok kita kan akan pulang pagi." Anita mengingatkan.
"Sudah sana buruan masuk." pinta Vian. Anita mengangguk lalu masuk ke kamarnya.
Anita menaruh tasnya, dia bebersih sebentar lalu merebahkan badanya yang sudah sangat capek. Sambil menunggu matanya tertidur dia membuka foto-foto yang tadi selama jalan-jalan di pantai dan juga di cafe.
"Kok jadi beda gini sih rasanya gue lihat Vian." katanya sambil melihat foto dia sama Vian.
Ting.. pesan masuk ke ponselnya. Dia beralih dari galeri ke whatsappnya.
...Bayu...
...Anita sayang, dengarkan penjelasan aku. Kamu masih disini kan. Kita bisa kan ketemu sekarang...
Anita yang baru saja melupakan kesedihanya kini terungkit lagi. Dia langsung menutup ponselnya lalu menaruh di sebelahnya.
Dia berusaha menutup matanya rapat-rapat agar segera pindah ke alam mimpi melupakan segalanya.
Derrtzz...deerrtzzz... ponsel Anita berdering berkali-kali.
"Apa sih?" Katanya sambil mengambil ponselnya lagi.
Bayu berkali-kali menelopon dirinya. Anita menghela napas panjang lalu mematian telponya.
"Ini orang kan pengantin baru, bisa-bisanya malah telpon mantanya. Gimana sih." Anita langsung menarik selimut sampai ke dadanya.
Dia sudah tidak mau buang-buang waktu lagi, untuk meladeni Bayu. Dia ingin tenang, mengikuti saran Vian untuk tidur dengan cepat.
...----------------...
Anita meregangkan kedua tangannya, tidur malam ini rasanya sangat nyenyak.
Tok...tok...tok...
Terdengar sayup-sayup suara pintu terketok. Anita pun beranjak membukakanya.
"Selamat pagi." Vian menyapa Anita ketika pintunya terbuka lebar.
"Pagi." Jawab Anita sambil menguap. "Tapi ini masih sangat terlalu pagi." Anita menunjuk jam di tangan Vian yang masih menunjukan pukul empat pagi.
"Kita kan emang mau balik pagi, apa lo masih mau disini?" tanya Vian.
"Ah.. Iya lupa. Bentar deh gue siap-siap dulu." Kata Anita langsung berburu masuk dan beberes.
Vian masuk lalu duduk di tempat tidur, "Hp lo habis baterai?" tanya Vian.
"Nggak." Jawabnya sambil sibuk mengemas barang.
"Kok mati, tadi gue panggil berkali-kali kok tidak aktiv."
"Gue sengaja matiin hp gue." Ujarnya.
"Kenapa?" tanya Vian dengan mengerutkan keningnya.
Anita mengankat kopernya setelah selesai mengemas.
"Kak Bayu semalam chat, terus misscall mulu. Ya gue matiin aja langsung." Katanya sambil duduk di samping Anita.
"Gue heran, kan dia pengantin baru ya. Harusnya kan lagi senang sama istrinya. Kok malah telpon gue terus." ujarnya heran.
"Sudah jangan pikirkan, yok pulang." Vian menarik koper milik Anita. Anita mengekor Vian, dia kembali menghidupkan ponselnya.
Pesan hampir lima belas biji masuk ke ponselnya.
__ADS_1
"Rame amat." Kata Vian sambil menghidupkan mesin Mobil.
"Iya.. pesan yang sama." ujar Anita.
Vian hanya tesenyum mendengar celotehan Anita.
...Bayu...
...Anita, aku tahu kamu masih sayang kan sama aku. Aku akan menyusul kamu ke Jakarta, aku akan bawa kamu kembali lagi...
...Anita...
...Jangan pernah ganggu aku lagi!...
...Jangan pernah ganggu kehidupan aku lagi. Mari hidup masing-masing...
"Haruskah gue ganti nomor baru?" tanya Anita sama dirinya sendiri.
"Ya kalau memang itu di perlukan." Jawab Vian.
"Tapi ribet juga gue, biarin saja lah." Kata Anita.
"Lakukan sesuka hati lo, selagi tidak mengganggu tidak masalah kan." ujar Vian.
"Vian, boleh nggak gue posting foto yang kita di pantai?" tanya Anita.
"Boleh, posting saja." Jawab Vian. Vian tahu kalau tujuan dia memposting foto itu sebagai tanda kalau dia juga bisa seperti yang dia lakukan.
...----------------...
Setelah mengantar Anita pulang dia langsung ke rumah Gita. Selain mengembalikan mobil Raka dia juga di tunggu sahabat-sahabatnya.
"Raka.. Thanks ya." Vian memberikan kunci mobil ke Raka.
"Ok, lo baru sampai aja?" tanya Gilang.
"Iya, habis anterin Anita gue langsung kemari." katanya dengan wajah lesu. Vian capek dan ngantuk berat.
"Gue nggak bisa berkata-kata lagi tahu sama lo." Fara juga memeluk Vian.
"Wah.. Mimpi apa gue dapat pelukan dari kalian. Biasanya kalian kan selalu KDRT." Vian merenges.
Gilang langsung menarik Gita mendekat denganya, begitu juga dengan Raka.
"Tidak sopan banget peluk cowok lain di depan suami." omel Gilang.
"Jangan sembarangan peluk-peluk orang lain." Raka ikut mengomel.
"Kak Gilang kenapa, dia kan cuma Vian bukan cowok lain." Gita mengernyitkan keningnya.
"Meskipun itu Vian, nggak boleh."
"Pada kesurupan apaan itu suami-suami lo?" Tanya Vian sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
"Vian, lo baik-baik saja?" tanya Gita cemas.
"Iya gue baik-baik saja. Lo jangan perhatian gitu. Gue takut sama lo." Ujarnya sambil memejamkan mata.
"Tidur gih di kamar, jangan di sini." kata Gilang.
"Oiya.." Vian bangu lagi. "Gue mau tanya deh sama kalian." katanya tiba-tiba.
"Apa?"
"Kalau gue tiba-tiba datang menikahi Anita kira-kira kalian bagaimana?"
"Ha?" mereka berempat langsung bengong. Mereka bukan tidak suka kalau Vian menikahi Anita namun rasanya itu sangat buru-buru.
__ADS_1
"Lo nggak lagi mabuk kan?" Raka mendekati Vian.
"Mabuk itu nggak boleh kan, masa iya gue mabuk." katanya sambil menggaruk kepala.
"Lo ngagau apa sakit?" Gilang memegang kening Vian.
"Gimana sayang?" Gita panik.
"Lumayan panas, jet leg kali dia kecapean. Raka, banyu gue bawa dia ke kamar." Gilang dan Raka mengangkat Vian ke lantai dua.
"Ya ampun Vian, ada-ada saja lo." bisik Raka.
Gilang menyelimuti Vian sampai di dada, melihatnya dia lemah membuat Gilang tak tega.
"Bisa tumbang juga ini anak." kayanya sambil melihat Raka.
"Benar, gue rasa penyakit udah nggak mau lagi kenal dia."
"Lang, Raka gue kemarin bilang sama Anita kalau gue bakalan menikahi dia. Tapi dia bilang bercanda."
"Vian, lo bisa cerita kalau lo susah sembuh. Sekarang lo istirahat saja." Gilang meminta Vian istirahat saja dulu.
"Terus gue bilang jadikan gue pelampiasanya saja. Nanti kalau udah ketemu yang dia. Dia bisa putuskan gue. Kira-kira gue kenapa ya kok ngomong seperti itu kemarin?" tanya Vian dengan lemah. Kedua matanya pun tertutup.
"Raka, tolong ambilkan obat sama kompres gih. Anak ini benar-benar sakit." Gilang meminta tolong sama Raka.
"Ok."
"Lo suka?" tanya Gilang.
"Tidak tahu, gue tidak tahu suka atau tidak. Hanya saja gue benci melihat Bayu yang menyakiti Anita. Dia tambah lagi, dia sekarang terus berusaha mengganggu Anita." katanya.
"Ini Lang."
"Vian, minum obat dulu gih." Gilang mengangkat Vian sedikit lalu memberikan obat dan meminumnya.
Tak selang lama obat itu bekerja, Vian pun terlelap tidur.
"Vian benar-benar tidak apa-apa?" tanya Gita dengan cemas saat Gilang dan Raka keluar kamar tamu.
"Tenang saja, dia cuma kecapean saja. Besok pasti udah baikan. Dia juga akan melupakan kata-kata yang tadi." jelas Gilang.
"Mulai besok, jangan ada menekan lagi Vian untuk bareng sama Anita. Jangan desak dia atau memberikan pertanyaan aneh. Biarkan dia menemukan ruangnya sendiri." Tambah Gilang.
"Kalian berdua tuh, jangan desak Vian untuk sama Anita. Kasian kan jadi bebanya." Raka menasehati Gita dan Fara.
"Iya deh iya." jawab Gita dan Fara barengan.
"Kita pulang yuk sayang." Ajak Raka.
"Loh.. Kalian nggak mau nginep sini?" tanya Gita.
"Nggak lah, Fafa mau sama siapa."
"Kita balik ya."
"Ok, hati-hati."
Gilang dan Gita mengantar Raka dan Fara sampai di mobil. Setelah mobil menghilang dari pandangan mereka kembali masuk ke rumah.
"Sayang, malam ini kamu tidur sendiri ya. Aku mau temani Vian takutnya nanti dia butuh apa-apa lagi." Kata Gilang.
"Iya sayang, tapi kamu jangan begadang. Nanti ikut sakit lagi."
"Iya, kamu mau aku temani dulu sampai tidur?"
"Nggak usah, kayak anak kecil saja."
__ADS_1
Gilang menciun kening lalu bibir Gita, "Night, mimpi indah ya sayang."
"Night."