Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Kedatangan Gilang -Raka


__ADS_3

Surabaya pagi ini sangat sejuk, Gita duduk di kursi panjang di taman rumah.


"Papa kamu benar-benar nggak kangen sama kita." ujar Gita sambil membersihkan area mulut kecil Aiden yang gelepotan.


Beberapa hari di tinggal pergi Gita, mereka berdua tidak ada komunikasi sama sekali.


"Kamu duduk di sini dulu ya sayang, mama mau kepoin papa kamu dulu." Gita menaruh Aiden di stoler.


Gita mencoba melepon Bik Siti untuk memastikan Gilang sedang apa.


"Halo Bik."


"Iya Mbak Gita."


"Mas Gilang sudah ke kantor ya?" tanya Gita.


"Ini mbak, jadi semalam Mas Gilang pulang bentar lalu pergi lagi. Sampai sekarang belum pulang." cerita Bik Siti.


"Pergi kemana bik?"


"Kurang tahu mbak, buru-buru banget sampai bibik nggak sempat mau tanya." jelas Bik siti.


"Ya udah bik, makasih ya. Gita tutup dulu." Gita memutus sambungan teleponnya.


Tubuhnya tiba-tiba melemas mendengar kalau Gilang tidak pulang semalaman.


"Terus, papa kamu kemana sayang?" wajah Gita berubah sedih.


Pikiran Gita langsung kemana-mana, selama ini Gilang hanya beberapa kali tidak pulang itupun masalah kerjaan.


"Hey, bestie ada apa pagi-pagi udah sedih begitu?" tanya Fara.


"Gue udah nggak sabar pingin cepat-cepat pulang." kata Gita sambil menatap Fara.


Fara yang tadinya santai langsung serius melihat Gita yang nampak cemas.


"Ada apa?"


"Kak Gilang tuh semalam nggak pulang, dia pulang sih tapi buru-buru pergi lagi." ucapnya dengan mata berbinar.


"Bestie, lo jangan terlalu berpikir negatif. Siapa tahu ada kerjaan Kak Gilang." Fara mencoba menenangkan Gita.


"Tapi Far, gimana kalau Kak Gilang menemukan cewek lain." Gita masih saja berpikir negatif tentang Gilang.


"Git, kak Gilang tuh cinta banget sama lo. Nggak mungkin dia sama yang lain. Lo lihat kan pas di godain si Indah." ujar Fara.


"Tapi kalau dia bosan, dan akhirnya memilih sama yang lain. Sampai sekarang pun belum ada dia menghubungi gue." perasaan Gita sudah tidak karuan.


"Percaya deh sama gue, kalau Kak Gilang tuh nggak akan macam-macam. Telpon Mbak Lila deh atau Vian." saran Fara.


"Benar juga, kenapa gue nggak kepikiran dari tadi." Gita mengambil ponselnya.


"Ta.. Fara.. Ayo sarapan dulu." panggil Wanda.

__ADS_1


"Iya Ma, sebentar." seru Fara.


"Eh.. Buruan, kita udah mau berangkat nanti keburu siang. Katanya Gita mau pulang nanti." tutur wanda.


"Iya Ma." Gita pun mengurungkan niatnya untuk menghubungi Vian. Dia menggendong Aiden di bawanya masuk untuk sarapan.


...----------------...


Mereka berangkat jalan-jalan, suasana hati Gita pun mulai tenang. Dia sudah tidak secemas pagi.


Dia fokus bermain sama Aiden, sudah lama dia tidak main bersama anaknya itu jadi ia berpikir untuk mengenyampingkan perasaannya.


"Lo kelihatannya nggak seneng gitu hari ini kita jalan-jalan?" tanya Arkan.


"Enggak kok seneng."


"Kok wajah kamu kelihatan kusut, cemas seperti ada masalah?"


"Gue baik-baik saja Arkan, lo jangan cemas gitu deh." Gita tertawa kecil.


"Beneran? Lo baik-baik saja kan sama suami lo, dia nggak nyakitin lo kan?"


Gita sedikit kaget mendengar perkataan Arkan yang tiba-tiba dan memang pas dengan kondisinya saat ini.


"Tentu saja tidak, dia sayang banget kali sama gue."


"Awas aja dia sampai nyakitin lo, gue bakalan habisin dia." katanya dengan sungguh-sungguh.


"Gita, kita foto di situ yuk." ajak Arkan.


"Ok." jawab Gita tidak keberatan.


Gita berdiri bersebelahan dengan Arkan yang sambil menggendong Aiden.


"Wah.. Keren banget. Kayak ibu anak sama bapak." ujar Fara saat melihat hasil potretannya.


"Coba lihat." Gita berlari ke arah Fara. Fara menunjukan hasil bidikannya.


"Wah... keren." kata Gita.


"Iya, keren. Sayangnya lo sepupu gue." kata Arkan yang sudah berdiri di antara Gita dan Fara.


"Maksud lo?"


"Ya, kalau saja lo bukan sepupu gue. Pasti kita benaran jadi ayah, ibu dan anak seperti di foto ini." kata Arkan.


Semenjak kecil Arkan sangat mengagumi Gita, dia sayang banget sama Gita. Hanya saja, semua terhalang karena mereka saudara.


"Ih.. Ngaco deh." pukul Gita dengan wajah memerah.


"Arkan, kalau aja kita ketemu lebih awal. Kira-kira lo mau nggak jadi bapak dari anak-anak gue." Fara cengar-cengir.


"Heh.!" Gita langsung memukul lengan Fara. Arkan hanya tersenyum, baru kali ini dia ketemu cewek gila Fara.

__ADS_1


"Gue aduin sama Raka lo."


"Yee.. Kan ini cuma seandainya. Lagian nih ya kalau lo kan nggak mungkin bisa. Kalau gue kan bisa aja kalau dulu lo kenalin gue lebih cepat." kata Fara.


"Emang Arkan mau sama lo."


"Mau nggak Ar?" tanya Fara yang membuat Arkan salah tingkah, dia merasa sedang di tembak terang-terangan. Padahal itu semua cuma seandainya saja.


"Mau apa?" tiba-tiba Raka dan Gilang muncul.


Gita dan Fara langsung mendelik melihat para suaminya datang.


"Raka, hai." Arkan mengulurkan tangan lalu memeluk Raka.


"Hai, apa kabar?" Raka membalas pelukan Arkan.


"Git, kok mereka berdua bisa kesini?" bisik Fara.


"Gue juga nggak ngerti?" Gita mengangkat kedua pundaknya.


"Oiya Arkan, ini Gilang suami Gita. Lo pasti belum pernah ketemu kan." Raka memperkenalkan Gilang.


"Arkan." Arkan mengukurkan tangannya.


"Gilang." Gilang pun menyambutnya. Dia menatap penuh cemburu dengan Arkan.


"Sorry, bisa gue gendong anak gue." katanya meminta kepada Arkan.


"Ah.. Tentu saja. Lo pasti kangen ya sama Aiden." Arkan memberikan kepada Gilang.


"Ya, gue kangen banget sama Aiden." Kata Gilang.


"Pasti kangen banget, gue pun yang baru saja ketemu beberapa hari bakalan kangen banget nanti kalau kalian udah pulang. Lucu banget soalnya kayak ibunya." kata Arkan yang langsung membuat Gilang melirik tajam ke arah Gita.


"Emang gue selucu itu ya?" ucapnya tanpa sadar suaminya sudah gondok.


"Iya, lo masih saja tetap gemesin."


"Kalau gue gimana?" Fara mancing-mancing.


"Lo gokil banget sih, bakalan seru kalau kita bisa nongkrong bareng." kata Arkan.


Raka langsung merangkul Fara, dia sedikit meremas lengan Fara.


"Sayangnya kita nggak akan bisa nongkrong bareng, selain sibuk kita kan beda daerah." kata Raka. Fara nyengir menahan sakit.


"Ya kan bisa Arkan main ke rumah kita, iya nggak Ar?" kata Gita.


"Ehem.." Gilang berdehem, dia pun mendekati Gita dan merangkulnya. "Kamu jangan main-main, atau bakalan menyesal nantinya." bisik Gilang.


"Bener juga, cuman sayangnya gue bakalan balik lagi ke Jepang minggu besok. Jadi nggak bisa deh main ke rumah kalian."


"Ah.. Nggak apa-apa, kapan-kapan aja. Atau kalau perlu nggak usah balik lagi ke Indonesia." kata Raka.

__ADS_1


__ADS_2