Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Rencana Gagal


__ADS_3

Gita meminta Fara untuk pergi ke perusahaan milik Gio setelah dia mencari informasi dari Lila.


"Lo yakin bakal pakai cara ini?" tanya Fara.


"Yups, kata Mbak Lila perusahaan Gio sedang tidak baik-baik saja. Pastilah dia tidak mau kehilangan patner kerja. Kita bisa di mulai dari sini beraksinya." kata Gita. Meskipun rencana spontan tanpa persiapan matang dia kira akan berhasil.


"Ok deh, gue asal ikut lo aja." Kata Fara. Dia siap menerima perintah apapun kapanpun dari Gita.


"Ngomong-ngomong, kita masih butuh bantuan nggak? Misal Vian atau Anita?" tanya Fara lagi sebelum berangkat ke kantor Gio.


"Sepertinya nggak usah dulu." Kata Gita. Dia merasa


Gita dan Fara mendatangi kantor milik Gio, Gita mengawasi


situasi dulu sebelum dia turun. Dia tidak mau ketahuan oleh Indah.


“Lo beneran yakin ini akan berhail?” Fara mencoba menanyakan


kembali rencana yang di buat Gita.


“Sangat yakin, lo tunggu disini saja ya. Lo kabarin gue kalai


ada Indah disini. Takutnya rencana gue bakalan ketahuan kalau dia melihat gue


disini.” Jelas Gita.


“Ok siap.”


Gita menarik napas panjang lalu perlahan menghembusakannya.


“Lo pasti bisa Git, demi keluarga kecil lo.” Ucapnya sambil


berjalan masuk ke kantor Gio. Dia langsung menuju ke cs untuk menanyakan


keberadaan Gio.


“Permisi Mbak..” Sapa Gita.


“Iya Mbak, ada yang bisa di bantu?” tanya Cs dengan sangat


ramah.


“Pak Gio ada di ruangan atau sedang pergi?” tanya Gita.


“Apa Mbak sudah bikin janji sama Pak Gio?” Tanya Cs lagi.


“Belum sih Mbak, kalau memang ada di ruangan coba saja


tanyakan saya orang dari GG entertaiment. Pasti Pak Gio tahu.”  Kata Gita.


“Baik, sebentar di tunggu ya.”


“Iya Mbak.” Kata Gita. Dia menunggu Cs menghubungi Gio.


Tak selang lama Cs mengatakan kalau Gio bersedia bertemu, dan


dia akan mengantar ke ruangannya.


“Mbak, apa Bu Indah masih bekerja disini?” tanya Gita


basa-basi.


“Masih Mbak.”


“Apa dia ada disini? Maksud saya berada di luar kantor atau


di kantor.” Gita memperjelas pertanyaannya.


“Oh.. Bu sedang ada tugas keluar. Mbak mau menitip pesan atau


apa nanti saya sampaikan?” tanya Cs.


“Tidak perlu Mbak, terima kasih nanti biar saya hubungi


sendiri saja.”


“Baiklah.”


Cs itu mengetuk pintu ruangan Gio, “Permisi Pak.”


“Suruh masuk saja.”


Gita pun langsung masuk saat di persilahkan Gio.


“Silahkan duduk.” Gio menunjuk sofa yang ada di ruangannya.


“Terima kasih Pak.” Kata Gita mengikuti Gio dan duduk


berhadapan.


Gio memandang Gita dengan seksama, dia sama sekali belum


pernah lihat Gita di perusahaan Gilang. Entah belum pernah atau dia tidak paham


dengan Gita.


“Maaf sebelumnya, anda ini benar dari perusahaan Pak Gilang?”


Gio menanyakan keaslian identitas Gita.


“Iya Pak, perkenalkan saya adalah Gita karyawan dan juga


sekaligus istri dari bapak Gilang.” Gita memperkenalkan diri sambil mengulurkan


tangannya.


“Istri Pak Gilang?” katanya kaget. Dia pun dengan ragu


menyambut uluran tangan Gita.


“Benar, saya istri dari Pak Gilang.”


“Maaf Bu Gita, tapi ada apa anda kesini? Biasanya Pak Gilang


mengutus Lila asisternnya. Tapi sekarang Bu Gita sendiri yang datang apa ada


masalah yang besar?” tanya Gio penasaran. Dan juga sedikit was-was kalau saja


ada hal yang membuat perusahaannya bermasalah.


“Begini Pak, saya kesini hanya ingin membuat penawaran kepada


bapak.”


“Penawaran apa ya Buk, saya tidak mengerti.”


“Mungkin ini bisa dikatakan tidak profesional karena ini


adalah masalah pribadi dan saya membawa ke kerjaan.” Kata Gita. Gio hanya


mengangguk, dia menunggu kejelasan dari omongan Gita yang berbelit membuatnya

__ADS_1


lumayan bingung.


“Indah asisten bapak itu selalu saja mengganggu suami saya.


Dia mencoba menggoda dengan berbagai macam cara. Saya tidak suka, saya mau


bapak memberikan peringatan keras untuk asisten anda.” Kata Gita.


“Hah.. jadi ini soal asisten saya?”  Gio menghela napas pendek.


“Sekali lagi saya memang tidak bisa profesional disini, tapi


karena bapak adalah atasan dia. Saya kesini mau meminta bantuan bapak untuk


ikut mengungkap perlakuannya. Karena dia terus ingin menjebak suami saya.” Kata


Gita.


“Ini sepertinya di luar tanggung jawab saya, karena memang


ini adalah masalah privasi.” Gio mau angkat tangan karena pada dasarnya memang


ini bukan urusan Gio.


“Saya tahu, saya hanya sedikit minta bantua saja sama bapak.


Tapi kalau bapak tidak mau juga tidak apa-apa. Karena semua perilaku Indah akan


menjadi dampak besar untuk perusahaan ini saat tahu kalau dia itu bejat. Dan


saya juga tahu perusahaan bapak ini sedang tidak baik-baik saja.” Gita


memperingatkan Gio kalau sampai dia tidak mau membantunya.


“Anda mengancam saya Bu Gita?”


“Kedengarannya sih iya Pak, tapi saya hanya mengatakan yang


sebenarnya. Coba saja bapak pikir berapa rekan kerja bapak yang akan


membatalkan kontrak kerja. Saat tahu salah satu karyawannya terkena skandal


besar.” Gita mulai menekankan hal-hal buruk yang aka menimpa perusahaannya.


“Asal bapak ketahui, Indah juga bukan karyawan yang bagus


disini. Banyak hal yang dia sembunyikan dari Pak Gio, dia tidak pernah setia


dengan perusahaan ini.” tambah Gita.


“Kamu ngomong ngelantur yam saya tidak bisa membantu anda.


Dia karyawan saya, jadi saya harus melindunginya.”


“Baiklah Pak, kalau bapak memang masih ingin mempertahankan


satu karyawan yang sangat licik bapak daripada perusahaan.” Kata Gita sambil berdiri.


Gio tidak percaya dengan omongan Gita, dia akan segera


menemui Gilang karena tidak suka dengan sikap Gita yang tidak profesional ini.


“Ah.. iya Pak. Saya hampir lupa menujukan sesuatu kepada Pak


Gio.” Gita mengambil ponsel di dalam tasnya. Dia kemudian memutar rekaman saat


dia berada di cafe.


Lia.


“Sabar dong, dia sedang merilis prodak baru. Gue akan berikan


berkasnya kalau sudah jadi nanti. Ingat ya, bayaran gue tidak harus mahal


karena ini proyek besar.”


“Pasti Indah, gue bakalan bayar lo mahal. Bos lo yang bodoh


itu akan segera gulung tikar. Makanya jangan main-main sama Gabrelia Hanita.”


Katanya sambil tersenyum sinis.


Lia dulu ingin bekerja sama Gio, dengan tujuan menghancurkan


perusahaan Gilang. Namun Gio menolak, justru dia mengambil kerjasama bareng


Gilang.


Lia dengan mudah menemukan mata-mata disitu, yaitu Indah


sekretaris Gio sekaligus sahabat Lia. Dia membujuk dan mengiming-imingi uang


besar untuk membuat perusahaan Gio gulung tikar.


Gio tidak menyangka karyawan yang sudah tergolong lama itu


menghianatinya. Dia menggenggam tangannya erat-erat.


Gita mengambil ponselnya, “Ini nomor saya Pak, kalau bapak


berubah pikiran untuk membantu saya. Bapak bisa hubungi nomor ini.” Kata Gita.


“Saya permisi dulu.” Gita pamit lalu segera pergi dari kantor Gio.


Gita masuk ke mobil Fara, dia mengusap wajahnya lalu


menyenderka tubuhnya di sandaran kursi mobi.


“Gimana Git?” tanya Fara penasaran.


“Entah deh, gue nggak tahu Pak Gio bakalan mau bantu gue


nggak.” Ujarnya dengan lesu.


Dia masih belum yakin kalau Gio bakalan berubah pikiran


meskipun dia sudah menunjukan bukti video kalau Indah itu berkhianat dengannya.


“Terus sekarang gimana?” Tanya Fara.


“Gue harus buat rencana baru.” Gita memutar otak untuk


menemukan cara menjebak Indah dan Lia.


“Kita pulang ke kator dulu saja, kita sepertinya sudah


membutuhkan bala bantuan Vian dan Anita untuk menyelesaikan masalah ini.” Kata


Fara.


Gita masih terdiam, meminta bantuan Vian yang menyangkut

__ADS_1


kehidupannya, rumah tangganya harus benar-benar menekan dia agar tidak bilang


sama Gilang.


Dia bisa di bilang mata-mata Gilang dalam hal apapun,


meskipun kadang dia juga bisa menjadi mata-matanya. Tapi dia lebih sering


berpihak kepada Gilang, mengadukan semua kelakuanya.


“Ya, tapi mengajak Vian itu gue harus benar-benar menyumpal


mulutnya. Dia kan ember banget kalau sama Kak Gilang. Yang ada nih, dia bakalan


mengacau rencana gue lagi.” Kata Gita.


“Benar juga, dia kan ember sekali kalau sama laki kita.” Fara


pun menyetujui kalau Vian ember.


“Terus rencana lo sekarang mau gimana? Pending dulu?”


Katanya.


“Jangan, gue tidak boleh selakahpun tertinggal. Yang harusnya


terjadi gue dua langkah lebih cepat dari rencana mereka.”


“Sekarang kita pulang saja, gue akan mencari ide di rumah


siapa tahu ada jawaban di rumah.” Kata Gita.


“OK.”


Fara langsung melajukan mobilnya, dia mengantar Gita pulang lalu


kembali ke rumahnya langsung. Hari ini mereka berdua membolos kerja. Bilang


sama Win ijin sebentar namun kenyataanya mereka langsung saja pulang.


Gita gelisah dia tidak bisa tidur karena belum menemukan cara


ke dua untuk menjebak Indah dan Lia. Dia pikir ancaman yang dia berikan kepada


Gio akan langsung berhasil nyatanya tidak.


“Sayang, kamu belum tidur?” Gilang mengucek matanya lalu


duduk. Dia terbangun karena Gita terus begerak.


“Maaf sayang, aku tidak bisa tidur.” Kata Gita.


“Kamu kenapa? Mimpi buruk?” tanya Gilang sambil menguap. Gita


mengangguk saja, dia tidak tahu mau beralasan apa.


“Berbaringlah.” Ajak Gilang. Gita pun menuruti Gilang, mereka


kembali merebahkan tubuhnya.


“Kamu akan aman di pelukan aku, aku akan menangkal semua


mimpi buruk yang akan menghampiri kamu.” Kata Gilang denan satu tangan memeluk


Gita, dan satu tangannya lagi menutup mata Gita.


Tak lama Gita pun terlelap tidur, memang benar Gilang sangat


nyaman baginya. Sampai semua kegelisahannya pun perlahan menghilang dan dia


ikut terlelap tidur bersamanya.


Gita meregangkan kedua tangannya, dia juga melakuka


peregangan pada badannya.


“Gimana udah nggak mimpi buruk lagi kan?” tanya Gilang yang


sudah berpakaian rapi.


Gita tersenyum, “ Kamu tumben bangun lebih pagi dari aku. Mana


udah rapi pula pagi-pagi mau kemana?”


“Ya ke kantor dong sayang.”


“Kok pagi banget?” Gita heran.


“Pagi? Coba deh lihat itu jam berapa?” Gilang menunjuk jam di


dinding.


“Ya ampun, gue telat.” Gita buru-buru beranjak dari tempat


tidurnya. “Kamu kok nggak bangunin aku sih.” Omel Gita.


“Kamu kan semalam nggak bisa tidur, jadi pas aku bangun kamu


masih lelap nggak tega aku sama kamu.” Ujar Gilang.


“Ya tapikan aku jadi terlambat ke kantor.”


“Bukannya kamu nggak ada batas datang dan pulang terlambat.”


Kata Gilang sambil menarik Gita lalu memmeluknya.


“Tapi kan..”


“Sudah sana mandi nggak usah buru-buru, nanti kamu pergi sama


Bani. Aku berangkat dulu.” Gilang mengecup kening Gita lalu berangkat ke


kantor.


“Iya, hati-hati.” Kata Gita sambil kembali duduk di tempat


tidurnya.


Kegalauan mulai menghampiri dirinya, dia belum juga menemukan


rencana jitu untuk menjebak Kedua wanita penggoda itu.


“Harusnya gue lebih kejam lagi kemarin kali sama Pak Gio biar


dia mau membantu. Atau gue bakalan coba datang lagi kesana? Tapi bagaimana


kalau gue di usir dari sana?” Katanya sambil mengacak-acak rambutnya.


“Tenang-tenang Gita, lo harus tenang biar lo bisa memunculkan


ide-ide brilian lagi.” Katanya sambil berdiri. Dia menyambar handuk di

__ADS_1


sampingnya lalu dia segera mandi agar tidak semakin kesiangan ke kantornya.


__ADS_2