
Gita meminta Fara untuk pergi ke perusahaan milik Gio setelah dia mencari informasi dari Lila.
"Lo yakin bakal pakai cara ini?" tanya Fara.
"Yups, kata Mbak Lila perusahaan Gio sedang tidak baik-baik saja. Pastilah dia tidak mau kehilangan patner kerja. Kita bisa di mulai dari sini beraksinya." kata Gita. Meskipun rencana spontan tanpa persiapan matang dia kira akan berhasil.
"Ok deh, gue asal ikut lo aja." Kata Fara. Dia siap menerima perintah apapun kapanpun dari Gita.
"Ngomong-ngomong, kita masih butuh bantuan nggak? Misal Vian atau Anita?" tanya Fara lagi sebelum berangkat ke kantor Gio.
"Sepertinya nggak usah dulu." Kata Gita. Dia merasa
Gita dan Fara mendatangi kantor milik Gio, Gita mengawasi
situasi dulu sebelum dia turun. Dia tidak mau ketahuan oleh Indah.
“Lo beneran yakin ini akan berhail?” Fara mencoba menanyakan
kembali rencana yang di buat Gita.
“Sangat yakin, lo tunggu disini saja ya. Lo kabarin gue kalai
ada Indah disini. Takutnya rencana gue bakalan ketahuan kalau dia melihat gue
disini.” Jelas Gita.
“Ok siap.”
Gita menarik napas panjang lalu perlahan menghembusakannya.
“Lo pasti bisa Git, demi keluarga kecil lo.” Ucapnya sambil
berjalan masuk ke kantor Gio. Dia langsung menuju ke cs untuk menanyakan
keberadaan Gio.
“Permisi Mbak..” Sapa Gita.
“Iya Mbak, ada yang bisa di bantu?” tanya Cs dengan sangat
ramah.
“Pak Gio ada di ruangan atau sedang pergi?” tanya Gita.
“Apa Mbak sudah bikin janji sama Pak Gio?” Tanya Cs lagi.
“Belum sih Mbak, kalau memang ada di ruangan coba saja
tanyakan saya orang dari GG entertaiment. Pasti Pak Gio tahu.” Kata Gita.
“Baik, sebentar di tunggu ya.”
“Iya Mbak.” Kata Gita. Dia menunggu Cs menghubungi Gio.
Tak selang lama Cs mengatakan kalau Gio bersedia bertemu, dan
dia akan mengantar ke ruangannya.
“Mbak, apa Bu Indah masih bekerja disini?” tanya Gita
basa-basi.
“Masih Mbak.”
“Apa dia ada disini? Maksud saya berada di luar kantor atau
di kantor.” Gita memperjelas pertanyaannya.
“Oh.. Bu sedang ada tugas keluar. Mbak mau menitip pesan atau
apa nanti saya sampaikan?” tanya Cs.
“Tidak perlu Mbak, terima kasih nanti biar saya hubungi
sendiri saja.”
“Baiklah.”
Cs itu mengetuk pintu ruangan Gio, “Permisi Pak.”
“Suruh masuk saja.”
Gita pun langsung masuk saat di persilahkan Gio.
“Silahkan duduk.” Gio menunjuk sofa yang ada di ruangannya.
“Terima kasih Pak.” Kata Gita mengikuti Gio dan duduk
berhadapan.
Gio memandang Gita dengan seksama, dia sama sekali belum
pernah lihat Gita di perusahaan Gilang. Entah belum pernah atau dia tidak paham
dengan Gita.
“Maaf sebelumnya, anda ini benar dari perusahaan Pak Gilang?”
Gio menanyakan keaslian identitas Gita.
“Iya Pak, perkenalkan saya adalah Gita karyawan dan juga
sekaligus istri dari bapak Gilang.” Gita memperkenalkan diri sambil mengulurkan
tangannya.
“Istri Pak Gilang?” katanya kaget. Dia pun dengan ragu
menyambut uluran tangan Gita.
“Benar, saya istri dari Pak Gilang.”
“Maaf Bu Gita, tapi ada apa anda kesini? Biasanya Pak Gilang
mengutus Lila asisternnya. Tapi sekarang Bu Gita sendiri yang datang apa ada
masalah yang besar?” tanya Gio penasaran. Dan juga sedikit was-was kalau saja
ada hal yang membuat perusahaannya bermasalah.
“Begini Pak, saya kesini hanya ingin membuat penawaran kepada
bapak.”
“Penawaran apa ya Buk, saya tidak mengerti.”
“Mungkin ini bisa dikatakan tidak profesional karena ini
adalah masalah pribadi dan saya membawa ke kerjaan.” Kata Gita. Gio hanya
mengangguk, dia menunggu kejelasan dari omongan Gita yang berbelit membuatnya
__ADS_1
lumayan bingung.
“Indah asisten bapak itu selalu saja mengganggu suami saya.
Dia mencoba menggoda dengan berbagai macam cara. Saya tidak suka, saya mau
bapak memberikan peringatan keras untuk asisten anda.” Kata Gita.
“Hah.. jadi ini soal asisten saya?” Gio menghela napas pendek.
“Sekali lagi saya memang tidak bisa profesional disini, tapi
karena bapak adalah atasan dia. Saya kesini mau meminta bantuan bapak untuk
ikut mengungkap perlakuannya. Karena dia terus ingin menjebak suami saya.” Kata
Gita.
“Ini sepertinya di luar tanggung jawab saya, karena memang
ini adalah masalah privasi.” Gio mau angkat tangan karena pada dasarnya memang
ini bukan urusan Gio.
“Saya tahu, saya hanya sedikit minta bantua saja sama bapak.
Tapi kalau bapak tidak mau juga tidak apa-apa. Karena semua perilaku Indah akan
menjadi dampak besar untuk perusahaan ini saat tahu kalau dia itu bejat. Dan
saya juga tahu perusahaan bapak ini sedang tidak baik-baik saja.” Gita
memperingatkan Gio kalau sampai dia tidak mau membantunya.
“Anda mengancam saya Bu Gita?”
“Kedengarannya sih iya Pak, tapi saya hanya mengatakan yang
sebenarnya. Coba saja bapak pikir berapa rekan kerja bapak yang akan
membatalkan kontrak kerja. Saat tahu salah satu karyawannya terkena skandal
besar.” Gita mulai menekankan hal-hal buruk yang aka menimpa perusahaannya.
“Asal bapak ketahui, Indah juga bukan karyawan yang bagus
disini. Banyak hal yang dia sembunyikan dari Pak Gio, dia tidak pernah setia
dengan perusahaan ini.” tambah Gita.
“Kamu ngomong ngelantur yam saya tidak bisa membantu anda.
Dia karyawan saya, jadi saya harus melindunginya.”
“Baiklah Pak, kalau bapak memang masih ingin mempertahankan
satu karyawan yang sangat licik bapak daripada perusahaan.” Kata Gita sambil berdiri.
Gio tidak percaya dengan omongan Gita, dia akan segera
menemui Gilang karena tidak suka dengan sikap Gita yang tidak profesional ini.
“Ah.. iya Pak. Saya hampir lupa menujukan sesuatu kepada Pak
Gio.” Gita mengambil ponsel di dalam tasnya. Dia kemudian memutar rekaman saat
dia berada di cafe.
Lia.
“Sabar dong, dia sedang merilis prodak baru. Gue akan berikan
berkasnya kalau sudah jadi nanti. Ingat ya, bayaran gue tidak harus mahal
karena ini proyek besar.”
“Pasti Indah, gue bakalan bayar lo mahal. Bos lo yang bodoh
itu akan segera gulung tikar. Makanya jangan main-main sama Gabrelia Hanita.”
Katanya sambil tersenyum sinis.
Lia dulu ingin bekerja sama Gio, dengan tujuan menghancurkan
perusahaan Gilang. Namun Gio menolak, justru dia mengambil kerjasama bareng
Gilang.
Lia dengan mudah menemukan mata-mata disitu, yaitu Indah
sekretaris Gio sekaligus sahabat Lia. Dia membujuk dan mengiming-imingi uang
besar untuk membuat perusahaan Gio gulung tikar.
Gio tidak menyangka karyawan yang sudah tergolong lama itu
menghianatinya. Dia menggenggam tangannya erat-erat.
Gita mengambil ponselnya, “Ini nomor saya Pak, kalau bapak
berubah pikiran untuk membantu saya. Bapak bisa hubungi nomor ini.” Kata Gita.
“Saya permisi dulu.” Gita pamit lalu segera pergi dari kantor Gio.
Gita masuk ke mobil Fara, dia mengusap wajahnya lalu
menyenderka tubuhnya di sandaran kursi mobi.
“Gimana Git?” tanya Fara penasaran.
“Entah deh, gue nggak tahu Pak Gio bakalan mau bantu gue
nggak.” Ujarnya dengan lesu.
Dia masih belum yakin kalau Gio bakalan berubah pikiran
meskipun dia sudah menunjukan bukti video kalau Indah itu berkhianat dengannya.
“Terus sekarang gimana?” Tanya Fara.
“Gue harus buat rencana baru.” Gita memutar otak untuk
menemukan cara menjebak Indah dan Lia.
“Kita pulang ke kator dulu saja, kita sepertinya sudah
membutuhkan bala bantuan Vian dan Anita untuk menyelesaikan masalah ini.” Kata
Fara.
Gita masih terdiam, meminta bantuan Vian yang menyangkut
__ADS_1
kehidupannya, rumah tangganya harus benar-benar menekan dia agar tidak bilang
sama Gilang.
Dia bisa di bilang mata-mata Gilang dalam hal apapun,
meskipun kadang dia juga bisa menjadi mata-matanya. Tapi dia lebih sering
berpihak kepada Gilang, mengadukan semua kelakuanya.
“Ya, tapi mengajak Vian itu gue harus benar-benar menyumpal
mulutnya. Dia kan ember banget kalau sama Kak Gilang. Yang ada nih, dia bakalan
mengacau rencana gue lagi.” Kata Gita.
“Benar juga, dia kan ember sekali kalau sama laki kita.” Fara
pun menyetujui kalau Vian ember.
“Terus rencana lo sekarang mau gimana? Pending dulu?”
Katanya.
“Jangan, gue tidak boleh selakahpun tertinggal. Yang harusnya
terjadi gue dua langkah lebih cepat dari rencana mereka.”
“Sekarang kita pulang saja, gue akan mencari ide di rumah
siapa tahu ada jawaban di rumah.” Kata Gita.
“OK.”
Fara langsung melajukan mobilnya, dia mengantar Gita pulang lalu
kembali ke rumahnya langsung. Hari ini mereka berdua membolos kerja. Bilang
sama Win ijin sebentar namun kenyataanya mereka langsung saja pulang.
Gita gelisah dia tidak bisa tidur karena belum menemukan cara
ke dua untuk menjebak Indah dan Lia. Dia pikir ancaman yang dia berikan kepada
Gio akan langsung berhasil nyatanya tidak.
“Sayang, kamu belum tidur?” Gilang mengucek matanya lalu
duduk. Dia terbangun karena Gita terus begerak.
“Maaf sayang, aku tidak bisa tidur.” Kata Gita.
“Kamu kenapa? Mimpi buruk?” tanya Gilang sambil menguap. Gita
mengangguk saja, dia tidak tahu mau beralasan apa.
“Berbaringlah.” Ajak Gilang. Gita pun menuruti Gilang, mereka
kembali merebahkan tubuhnya.
“Kamu akan aman di pelukan aku, aku akan menangkal semua
mimpi buruk yang akan menghampiri kamu.” Kata Gilang denan satu tangan memeluk
Gita, dan satu tangannya lagi menutup mata Gita.
Tak lama Gita pun terlelap tidur, memang benar Gilang sangat
nyaman baginya. Sampai semua kegelisahannya pun perlahan menghilang dan dia
ikut terlelap tidur bersamanya.
Gita meregangkan kedua tangannya, dia juga melakuka
peregangan pada badannya.
“Gimana udah nggak mimpi buruk lagi kan?” tanya Gilang yang
sudah berpakaian rapi.
Gita tersenyum, “ Kamu tumben bangun lebih pagi dari aku. Mana
udah rapi pula pagi-pagi mau kemana?”
“Ya ke kantor dong sayang.”
“Kok pagi banget?” Gita heran.
“Pagi? Coba deh lihat itu jam berapa?” Gilang menunjuk jam di
dinding.
“Ya ampun, gue telat.” Gita buru-buru beranjak dari tempat
tidurnya. “Kamu kok nggak bangunin aku sih.” Omel Gita.
“Kamu kan semalam nggak bisa tidur, jadi pas aku bangun kamu
masih lelap nggak tega aku sama kamu.” Ujar Gilang.
“Ya tapikan aku jadi terlambat ke kantor.”
“Bukannya kamu nggak ada batas datang dan pulang terlambat.”
Kata Gilang sambil menarik Gita lalu memmeluknya.
“Tapi kan..”
“Sudah sana mandi nggak usah buru-buru, nanti kamu pergi sama
Bani. Aku berangkat dulu.” Gilang mengecup kening Gita lalu berangkat ke
kantor.
“Iya, hati-hati.” Kata Gita sambil kembali duduk di tempat
tidurnya.
Kegalauan mulai menghampiri dirinya, dia belum juga menemukan
rencana jitu untuk menjebak Kedua wanita penggoda itu.
“Harusnya gue lebih kejam lagi kemarin kali sama Pak Gio biar
dia mau membantu. Atau gue bakalan coba datang lagi kesana? Tapi bagaimana
kalau gue di usir dari sana?” Katanya sambil mengacak-acak rambutnya.
“Tenang-tenang Gita, lo harus tenang biar lo bisa memunculkan
ide-ide brilian lagi.” Katanya sambil berdiri. Dia menyambar handuk di
__ADS_1
sampingnya lalu dia segera mandi agar tidak semakin kesiangan ke kantornya.