
Tidak sia-sia camping kali ini, Kyra bisa merasakan dunia remajanya kembali lagi. Merasakan hatinya yang kembali sedih, namun juga bisa di buat berdegup kencang dengan waktu yang berdekatan.
Kyra melihat Aiden yang sedang bercanda dengan Luki, Ibob dan Rafa. Dia menjadi orang yang sangat berbeda. Terlihat konyol, dan seru tidak seperti biasanya datar dan ngeselin.
“Ehem, buaya mana yang lo incer,” bisik Dinda.
“Lo ngomong apaan sih?”
“Kak Ai, pasti dia kan yang bikin lo nggak berkedip,” tebak Dinda.
“Bisa nggak lo jangan merusak suasana hati gue yang sedang fresh ini,” ujar Kyra.
“Iya deh iya, suasana hati lo yang sedang berbunga-bunga kan,” goda Dinda.
Susah memang berteman dengan Dinda, Kyra yang sedang diam-diam mengagumi orang saja dia tahu. Dan lebih parahnya dia suka bikin malu dia di depan crushnya.
“Bunga bangkai,” jawabnya.
“Guys, makan dulu ini,” panggil Ibob.
“Lo dapat nasi goreng dari mana Kak Ibob?” tanya Dinda.
“Masak sendirilah kita,” sahut Luki.
“Kalian masak?” Kyra kaget.
“Kenapa kalau kita masak?” Aiden memberikan piring berisikan nasi goreng.
Kyra menggelengkan kepalanya, dia melihat nasi di piring memang terlihat sederhana karena isinya cuma nasi dan telur yang di baluri kecap.
“Ini bisa di makan?” ucapnya dengan ragu. Ia tak yakin makanan yang di berikan oleh Aiden bisa di makan.
“Sini kalau lo nggak mau, nggak usah dimakan,” Aiden mengambil piring dari tangan Kyra namun di tahannya.
“Gue makan,” ucapnya. Kyra mengambil nasi separuh sendok. Perlahan dia memasukan ke mulutnya.
Dia tidak enak kalau menolak, tinggal makan saja banyak tingkah. Kyra mengunyah pelan, ia merasakan nasi yang hanya terlihat nasi dengan telur itu lumayan enak.
Kyra pun dengan lahap menghabiskannya, Aiden yang melihat tersenyum sebentar.
“Gimana? Enak kan,” kata Ibob.
“Iya, enak.”
“Kalau kata pepatah jangan lihat buku dari covernya,” Tukas Rafa.
Kyra malu karena sudah menyepelekan keempat cowok ini, mereka lebih mahir dari pada dirinya.
__ADS_1
*****
Kyra menghampiri Aiden yang sedang duduk sendiri sembari bermain game. Kyra mendadak bingung mulai ngomongnya, ia juga takut menggangu Aiden yang sedang asyik. Dia pun memilih untuk pergi.
“Mau ngomong apa?” tanya Aiden dengan masih memainkan gamenya. Bahkan dia tidak melihat ke arah Kyra.
“Em, nggak jadi,” katanya.
“Nggak usah sungkan,” kata Aiden sembari mematikan gamenya. Dia paham kalau Kyra pasti tidak enak karena akan mengganggu dirinya.
Aiden mendekati Kyra, dia pun menjadi gugup semua kata-kata yang sudah di rangkainya tadi mendadak hilang dari otaknya.
“Apa?”
Kyra mengatur napas, jantungnya mendadak berdegup kencang membuatnya bergemetar. Di tambah lagi tatapan Aiden kali ini seakan menghipnotisnya.
“Gu -- e,” Kyra bergetar.
“Lo kenapa, yang tenang. Mantan lo datengin lo lagi?”
Kyra menggeleng cepat, “Gue cuma mau ngucapin terima kasih, lo sudah mau bantuin gue tadi.”
“Oh, nggak usah di pikirkan. Anggap saja lo tadi sedang beruntung.”
“Gue mau traktir lo makan buat ucapan terima kasih gue sama lo.”
“Gue nggak mau punya utang budi sama orang,” kekeh Kyra.
“Terserah lo deh,” Aiden pasrah.
“Gue minta nomor hp lo,” Kyra memberikan ponselnya.
Aiden mengetik nomornya lalu memberikan namanya sekalian. Kyra mendelik melihat nama Aiden di kontak di hpnya.
“Kenapa namanya cowok ganteng?” Kyra mengerutkan keningnya.
“Memang nggak ganteng?” tanya Aiden yang membuat Kyra gelagapan.
Kyra merasa Aiden memang aneh, dia memiliki kepribadian yang sangat banyak. Bagaimana bisa dengan pedenya dia menamai kontaknya sendiri dengan cowok ganteng.
“Narsis,” ujarnya sembari memasukan ponselnya ke kantong.
“Bukan narsis, ini namanya percaya diri,” kata Aiden.
“Eh, Dinda mau ngapain?” tanya Kyra saat melihat Dinda pergi menuju tepi danau sendirian.
Kyra kepo, dia meninggalkan Aiden tanpa pamit untuk mengikuti Dinda.
__ADS_1
“Dasar bocah kepo,” Aiden mengikuti Kyra.
Aiden menarik tangan Kyra agar tidak mendekati Dinda ketika dia melihat Luki sedang berjalan kearah Dinda.
“Meraka --,”
Aiden menaruh jari telunjuknya di bibirnya, agar Kyra diam dan cukup melihatnya.
“Kak Luki mau ngomong apa?” tanya Dinda bingung. Kenapa dia memilih ngobrol berdua di tepi danau.
“Dinda, sebenarnya ada yang ingin gue sampaikan sama lo,” katanya gugup.
“Iya, apa?”
Luki menggigit bibirnya, cowok jutek dan emosian ini bisa juga gugup di depan Dinda. Dia memainkan jari-jarinya, mendadak berkeringat banyak di udara yang sangat dingin.
“Kak Luki sakit?” kata Dinda saat melihat keringat di pelipis Luki.
“Ngga kok, gue baik-baik saja.” ucapnya.
Luki mengatur napasnya, “Gue suka sama lo,” katanya dengan cepat.
Dinda kaget mendadak mendapatkan pernyataan cinta yang sangat tak terduga.
“Pasti lo kaget kan, gue tiba-tiba menyatakan cinta sama lo. Tapi sebenarnya gue suka sama lo sejak dulu,” tutur Luki.
Dinda masih melongo, dia tak pernah menyangka kalau ada yang suka diantara empat orang yang selalu dia anggap kakaknya itu.
“Kok bisa Kak?”
“Gue juga nggak tahu, tapi semenjak Ai dan Rafa memperkenalkan lo sama gue. Gue langsung jatuh cinta.”
“Tapi maafin Dinda Kak, soalnya Dinda sudah punya pacar,” katanya.
Rasanya hati Luki terbesit sembilu perih, telingannya terasa ngilu mendengar jawaban dari Dinda.
“Oh, sorry,” kata Luki dengan wajahnya yang bingung campur malu, ditambah sakit pula.
“Dinda yang minta maaf sama Kak Luki, tapi terima kasih Kak Luki sudah menyukai Dinda selama itu,” Dinda benar-benar tidak enak.
“Gue yang harusnya minta maaf. Dinda lo lupakan saja kata-kata gue tadi, anggap saja gue nggak pernah mengatakan apa-apa sama lo,” pinta Luki.
“Kak Luki nggak marah sama Dinda kan?” Dinda takut kalau dengan penolakannya Luki berubah menjadi membencinya.
“Nggak Dinda, justru gue yang harusnya bertanya seperti itu. Kita masih bisa berteman kan?” tanya Luki.
“Tentu saja, lo kan sudah gue anggap kakak sendiri,” kata Dinda dengan tersenyum manis.
__ADS_1
Senyuman manis Dinda kini seperti belati bagi Luki, hanya membuatnya tergores-gores karena tidak bisa memilikinya. Cinta yang sudah dia tanam sejak lama, ternyata bertepuk sebelah tangan.