
Sila menggunakan kesempatan ini untuk dekat dengan Aiden, dia melakukan gerakan-gerakan aneh. Bahkan bukanya menerima bola justru saat bola kearahnya dia berlari mendekati Aiden.
“Lo sebenarnya mau main nggak?” kata Aiden ketus.
“Iya gue mau main, tapi kan gue belum bisa. Gue takut kalau bolanya mengenai gue seperti dia,” Sila menunjuk Kyra yang sedang duduk di tepi lapangan sembari melihati mereka berdua.
“Udah deh lo nggak usah pura-pura lagi, lo kan tadi yang melepar bola sampai mengenai Kyra.”
“Itu gue nggak sengaja Ai, sumpah. Makanya gue sampai mengenai kepala Kyra karena lemparan gue nggak bagus,” katanya dengan wajah yang di buat sok sedih.
“Jangan banyak drama, buruan latihan,” kata Aiden. Dia bisa pusing kalau terus mengurusi Sila yang terus saja ngeles.
Sila mengambil bola yang tidak sempat bisa dihalaunya, mendadak dia punya ide agar bisa digendong sama Aiden. Sila menoleh kanan kiri, saat tidak ada yang melihatnya dia langsung akting.
“A!’ teriaknya.
Aiden berlari mendekati Sila yang memegangi pergelangan kakinya. Sila mengaduh, dia terus mengusap pergelangan kakinya.
“Lo nggak apa-apa?” tanya Aiden.
“Ai, kaki gue terkilir tadi nggak sengaja kena bola dan jatuh,” ucapnya dengan nada yang dibuat-buat.
Semua langsung berkumpul mengerubuti Sila, Aiden memegang kaki Sila ia langsung teriak.
“Ai, pelan-pelan sakit.” ujarnya.
“Lo bisa jalan nggak?” tanya Aiden. Sila menggelengkan kepalanya.
Dalam hati Sila dia gilang karena idenya berhasil, Aiden menanyakan hal seperti yang sudah dia pikirkan.
Kyra hanya bisa menatap penuh cemburu kepada Aiden, dia tidak suka Aiden peratian sama orang lain. Aiden berdiri, dia melihat sekelilingnya. Erina memegang tangan Rafa, begitu juga dengan Dinda memegang tangan Luki. Entah sebuah insting atau kebetulan Aiden mencari orang untuk menggotong Sila.
Luki tersenyum tangannya dipegang oleh Dinda, dia awalnya kaget. Namun ketika sadar yang menggandeng Dinda dia pura-pura tidak tahu. Kapan lagi bisa digandeng erat sama Dinda.
“Bob, tolong gendong Sila ke uks,” pinta Aiden. Karena hanya Ibob teman yang aman ketika menggendong Sila.
“Ai, gue maunya lo,” Sila melongok menatap Aiden, dia memegang tangan Aiden namun di tepisnya pelan.
“Ih gue juga ogah, badan gue sudah lumayan berisi masih di suruh gotong orang. Tidak kuat, tidak mampu,” Ibob mengangkat kediua tangannya.
“Biar gue saja yang gendong,” kata Roni sang ketua kelas.
“Ok, makasih Roni. Yuk yang lain bubar,” kata Aiden menyuruh yang lain untuk kembali ke aktivitas masing-masing.
“Ai,Ai gue maunya di gendong sama lo,” Sila sudah membayangkan begitu jauh. Dia membayangkan kalau kakinya bakalan di urut sama Aiden dan di temani di uks.
“Kan sudah ada Roni, gue cabut dulu ya mau meneruskan latihannya.”
__ADS_1
“Ai, please,” rengek Sila.
“Ayo Sila, mau gue gendong apa gue papah?” tanya Roni.
Aidne berlari mendekati Kyra yang sudah mulai berlatih sendiri, kini yang di dapati Sila. Kalau saja dia tidak membuat kakinya terkilir dia pasti masih main dengan Aiden.
*****
“Kenapa nggak menolongnya?” tanya Kyra sembari melakukan passing.
“Sudah kok,” jawabnya semabri mengembalikan bola kearah Kyra.
“Bantuin cari yang mau bawa dia ke uks,” Aiden menangkap bolanya. Dia mendekati Kyra dengan senyum-senyum membuat Kyra takut.
“Lo cemburu ya?” ucapnya di depan wajah Kyra.
Wajah Kyra langsung merah, Kyra membuang wajahnya agar tak terlihat oleh Aiden. Padahal Aiden sudah melihatnya dengan jelas perubahan wajahnya.
“Ng-ngak, apa juga gue cemburu. Orang kita bukan siapa-siapa?” ujarnya.
“Benar juga, kitakan bukan siapa-siapa,” katanya sambil memundurkan tubuhnya.
Kyra menghela napas lalu menggigit bibirnya, dia berkilah kalau tidak cemburu. Padahal semenjak Sila mengatakan menggantikan dirinya untuk berpatner dengan Aiden saja dalam hati sudah mengatakan tidak rela.
Aduh, panas banget sih pipi gue, batin Kyra sembari memegangi pipinya yang masih terasa panas.
“I-iya,” katanya sembari mengambil posisi untuk meneruskan latihannya.
Waktu istirahat masih kurang lima belas menit lagi, namun mereka sudah di perbolehkan istirahat. Kyra, Dinda dan Erina langsung berlari ke kantin. Mereka bertiga lapar dan juga haus.
“Ky, lo cinta nggak sih sama Ai,” tanya Erina mendadak sampai bakso yang sudah masuk ke mulutnya meluncur ke meja.
“Ih, Kyra jorok!” seru Dinda.
Kyra tidak mengurusi omongan Dinda, dia langusng mengambil minumnya.
“Kenapa memangnya gue salah ngomong sampai bakso dalam mulut lo melocat keluar lagi?” tanya Erina.
“Lagian lo kenapa mendadak tanya seperti itu?” kata Kyra kembali memasukan bakso ke dalam mulutnya.
“Gue ngomong seperti ini demi kebaikan lo juga tahu, Sila itu orangnya licik. Gue takut kalau sampai ketikung. Jadi kalau memang suka ya ungkapin saja. Setidaknya kan sudah ada hak milik dan lo bisa melabrak dia kalau macam-macam,” tutur Erina.
“Gue rasa benar juga, gue lihat gerak-gerik tadi pas olahraga. Dia ngebet banget minta gendong Kak Ai,” Dinda membenarkan perkataan Erina.
“Gue bingung. Tapi masa iya gue yang harus menyatakan perasana dulu. Tengsin dong gue, cewek masa menyatakan cinta dulu,” Kyra nggak menyetujuhi kalau dirinya menyatakan cinta dulu.
“Ya nggak apa-apa, dari pada kehilangan.”
__ADS_1
“Kalau memang gue kehilangan, berarti gue sama dia nggak berjodoh.” katanya sok bijak.
“Dih, sok bijak padahal nanti nangis-nangis tujuh hari tujuh malam,” kata Dinda.
“Ya seenggaknya gue tahu kalau lo suka sama Ai --,”
“Erina, lo jangan pernah ngomong masalah ini sama Ai,” Kyra tersadar kalau Erina itu satu rumah. Kalau dia mengataka omongan ini bisa-bisa tengsin beneran.
“Pada musyawarah apaan serius amat?” tanya Rafa yang sudah berganti menggunakan seragam putih abu-abu.
“Ini Kyra --,” Kyra menutup mulut Erina cepat-cepat sebelum mengatakan semau pembahasan ini sama Rafa.
“Ky, lo kenapa sih pakai menutup mulut pacar gue. Pasti ada yang disembunyikan ya?” Rafa melihat Erina, Dinda dan Kyra bergantian.
“Nggak ada, ya kan Er, Din.” Kyra melotot kearah Erina dan Dinda.
“Masa, kalian terlihat aneh. Gue yakin pasti kalina menyembunyikan sesuatu.
“Beneran nggak,” kata Kyra.
“Ada apa ini?” tanya Aiden yang duduk di depan Kyra diikuti Ibob dan Luki.
“Mereka menyimpan rahasia Ai,”
Aiden menatap Kyra tepat di kedua bola matanya, Kyra langsung kelimpungan dia tidak kuat kalau harus di tatap tajam seperti itu.
“Kyra masih pusing karena terkena bola tadi,” celetuk Dinda menyelamatkan Kyra.
“Benar?” tanya Aiden meskipun dia tidak sepenuhnya percaya dengan ucapan mereka.
Kyra mengangguk cepat. “Ini masih sakit, kayaknya ada yang benjol deh,” katanya semabari memengang kepalanya yang masih terasa nyeri.
Aiden pergi ke meminta es batu dengan plastik karena tidak ada kain.
“Din, pindah dulu gih dekat Luki,” pinta Aiden.
Tanpa babibu Dinda langsung pindah. Aiden menaruh es di bagian kepala yang terkena bola.
“Udah ini, gue berasa ngontak di bumi. Senang amat bikin jiwa jomblo gue meronta-ronta,” omel Ibob. Dia sering ngomel karena dia tidak memiliki pasangat sendiri. Dia belum menemukan cewek yang sreg di hatinya untuk dijadika crush.
“Makanya buruan cari pasangan, ya nggak beb,” kata Luki sembari melihat kearah Dinda.
“Jangan bab beb bab beb, kita itu hanya teman,” ujar Dinda yang membuat semua tertawa.
“Ya ampun, Luki sad boy,” kata Kyra.
“Nggak usah ngatain. Lo sama Aiden kan juga berteman belum pacaran,” Luki gantian mengejek Kyra. Kyra hanya membalas dengan menjulurkan lidah. Dia tidak bisa berkilah karena memang dia sama Aiden hanya sebatas teman. Belum ada peningkatan meskipun Aiden sangat perhatian padanya.
__ADS_1
“Nggak apa-apa teman, kan yang penting teman spesia. Setidaknya masih bisa ngucapi selamat malam di balas selamat malam. Dari pada lo selamat pagi di balasnya selamat malam. Selamat malam di balas selamat sore,” Aiden membalaskan ejekan Luki. Luki hanya bisa mendengus dengan kekalahannya.