Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Benjol 2


__ADS_3

Sepulang sekolah Aiden masih di dekat Kyra. Dia memastikan kalau kepalanya tidak kenapa-kenapa.


"Masih sakit ya?" tanya Aiden.


"Sedikit," katanya sembari memegang kepalanya. Aiden pun ikut memeganh sehingga tangan Kyra barada dekapan tangan Aiden.


Ya Tuhan, emang boleh sedekat ini, batinnya penuh keresahan.


Jantungnya tidak pernah aman kalau dekat dengan Aiden. Kadang mau copot, kadang rasanya mau berhenti dia punya jantung.


Kris menyaksikan kemesraan itu merasa panas. Emosinya sudah tidak bisa di bendung.


Kris menarik tangan Aiden sehingga sedikit menjauh dari Kyra. Lalu dia melayangkan pukulan diwajah Aiden.


"Gue kan sudah bilang, jangan dekati Kyra!" katanya dengan terus memukuli Aiden.”


“Lo kesambet?” tanya Aiden masih dengan santai padalah dia sudah mendapatkan beberapa kali pukulan sehingga dia tersungkur di lantai karena tidak melakukan pembelaan. Bahkan Aiden masih bisa tersenyum yang membuat Kris semakin geregetan.


“Masih bisa tersenyum lo!” Kris menarik kerah baju Aiden dengan sangat keras sampai kancing bagian atasnya lepas.


“Kak lepasin!” Kyra mendorong Krissupaya dia melepaskan Aiden namun tidak bisa dia terlalu kuat.


“Minggir lo Ky, nggak usah ikut campur sama urusan gue!” betak Kyra.


Kris pun meluapkan kemarahannya dengan terus memukuli Aiden, Kyra berteriak agar Kris menghentikan pukulannya. Setelah capek Kris menghentikan pukulannya.


Aiden sama sekali tidak melakukan perlawanan, Sila yang tahu Aiden di pukuli langsung mendekati mereka.


“Lo gila ya Kak?” Kyra berjongkok membantu Aiden berdiri. “lo nggak apa-apa?” tanya Kyra sembari mengecek wajahnya yang babak belur.


“Ai, kenapa lo nggak melawan. Hey kenapa lo pukulin Aiden apa salahnya?” Sila mendorong Kyra sehingga berpindah dari sisi Aiden menjadi di sisinya.


“Ingat ya, jauhi Kyra!” kata Kris sembari menarik tangan Kyra membawanya pergi.


Aiden menyeringai, ia memegangi pipinya yang sakit.


“Ai, kenapa lo nggak melawan sih. Lihat lo babak belur, lagian kenapa sih lo sampai berantem sama dia,” oceh Sila.


“Bukan urusan lo,” kata Aiden sembari mengambil tasnya yang berada di lantai.


“Ai, gue obatin lo,” Sila berlari sehingga berjalan sejajar dengannya.


“Nggak usah, gue bisa obatin sendiri,” katanya dengan terus berjalan dengan langkah yang panjang sehingga Sila harus sedikit berlari sehingga bisa mengimbanginya.


“Ai, tunggu!” Sila menarik tangan Aiden.


“Kenapa lo mengabaikan gue yang benar-benar suka sama lo, demi cewek yang sudah memiliki pacar,” katanya dengan nada yang ingin menangis. Dia sebenarnya juga capek terus mengejar Aiden tanpa balas.


“Karena gue nggak suka sama lo, dan berhenti mengejar gue. Itu hanya membuat gue risih. Lebih baik lo balik saja ke sekolah lama lo,” katanya sambil melepaskan tangannya.


“Ai, gue tahu lo pasti suka kan sama gue. Tapi gara-gara Rafa lo menjadi tidak suka sama gue,” katanya dengan kekeh. Kalau Aiden itu tidak mau dengannya karena Rafa dulu mencintainya.

__ADS_1


“Bukan. Bukan karna Rafa atau yang lain. Karena gue memang nggak suka sama lo dari awal. Lo ngerti nggak sih?” Aiden gereget banget.


“Kenapa lo nggak suka sama gue, gue kurang apa?” tanya Sila.


“Lo kenapa nggak suka sama Rafa?” Aiden balik tanya.


“Ya karena gue nggak suka, gue nggak ada perasaan sama sekali sama Rafa. Gue itu sukanya sama lo sejak pertama kita ketemu di tempat jogging.”


“Nah itu jawaban gue, selain gue nggak suka. Gue sudah menyukai orang lain. Jangan pernah memaksakan perasaan orang lain untuk suka sama lo. Sedangkan lo sendiri juga tidak bisa dipaksa.” Aiden segera pergi meningglkan Sila.


Sila menghentakkan kakinya, semua kata-katanya di balikan sama Aiden sampai dia tidak bisa membalasnya lagi. Semuannya benar, sehingga dirinya tak berkutik.


Aiden yang berencana mengantar pulang Kyra gagal, dia sudah meminta yang lain pulang dulu. Dan akhirnya dia harus pulang sendiri dengan wajah bonyok.


Aiden masuk rumah sembari mengendap-endap takut neneknya tahu. Dia masiti di marahin kalau tahu pulang-pulang dengan babak belur.


“Ai, kenapa baru pulang. Yang lain sudah pulang dari tadi?” tanya Wanda yang sedang duduk santai di ruang tamu sambil membaca koran.


“Iya nek, barusan Aiden ada urusan,” Aiden berjalan cepat sebelum neneknya sadar.


“Ai, sini sebentar,” panggi Wanda.


“Ada apa nek?” Aiden berhenti namun tidak melihat neneknya.


Wanda merasa aneh karena cucunya ini tidak mau mendekatiinya, Wanda berjalan mendekati Aiden.


“Ai,” Wanda berdiri di depan Aiden.


“Ya Tuhan Ai, kenapa wajah kamu babak belur?” Wanda memegang pelan pipi Aiden. Dia kemudian menyeka darah yang ada di ujung bibir Aiden namun sudah mengering.


“Duduk, kamu duduk di situ biar nenek obati,” Wanda pergi mengambil es dan obat.


“Wah, bahaya ini mah,” Aiden menghela napas panjang karena ini tidak akan sampai di sini. Pasti neneknya itu akan bertanya terus sampai dia mendapatkan jawabannya. Dan lebih parahnya kalau sampai mengadu ke dua orang tuannya. Itu pasti lebih riweh lagi, Gita bisa saja mendatangi sekolahnya.


“Ai, ini wajah kamu kenapa? Kamu berantem?” tanya Wanda sembari menyeka luka Aiden.


Aiden berdesis saat es menyetuh kulitnya terasa perih. “Nggak nek, tadi Ai jatuh.” Aiden berbohong.


“Jatuh dari mana kok sampai begini?” kata Wanda nggak percaya. Kalau memang jatuh kenapa hanya wajahnya yang luka-luka.


“Dari atas pohon, habis nyelamatin kucing lucu,” katanya.


“Kucing?”


“Iya Nek, kucing lucu banget. Mau Ai bawa pulang kan, tapi setelah sampai bawah diambil orang,” kata Aiden.


“Nenek kok nggak percaya,” Wanda mengoleskan saleb.


“Nenek harus percaya sama cucuknya yang ganteng ini,” kata Aiden.


“Kalau bonyok begini ya nggak jadi ganteng,” kata Wanda.

__ADS_1


Aiden memeluk Wanda. “Nenek jangan cemas Ai itu nggak apa-apa. Ai kan anak laki-laki, memar-memar sedikit kan nggak masalahnya. Nenek jangan cerita ya sama mama dan papa,” Aiden membujuk neneknya supaya tidak mengadu.


Wanda mengusap pelan rambut Aiden, dia berasa kembali beberapa tahun silam saat Gita dan Raka remaja. Dia sering sekali mengobati luka milik Raka. Rasanya dia kembali ke jaman itu, namun kalau sekarang Aiden lebih sering membohongi dirinya agar dirinya tidak cemas.


Kalau Raka terlalu terang-terangan kalau dirinya berantem, namun untuk melindungi Gita yang dulu sering di buly sama temannya.


“Nenek, janji ya.” kata Aiden.


“Iya sayang, tapi kamu jangan begini terus ya. Nenek takut kalau tamu kenapa-kenapa?” ujarnya sambil mencium ujung kepala Aiden lalu memluknya erat.


“Iya nenekku sayang. Ai ke kamar dulu ya nek,” kata Aiden sambil melepaskan pelukannya.


“Iya, sudah makan belum?”


“Sudah nek.”


*****


Luki, Rafa dan Ibob melongo melihat wajah Aiden saat dia muncul di ambang pintu.


“Ai, siapa yang berani melukai lo?” tanya Luki. Dia menaruh stick gamenya mendekati Aiden.


“Kita samperin dia,” kata Rafa yang ikut mendekati Aiden.


“Perlu bala bantuan nggak buat menyerang?” Ibob siap menelepon teman-temannya.


“Gue nggak apa-apa, ini cuma luka ringan,” jawabnya sambil berjalan melewati Rafa dan Luki. Aiden merebahkan tubuhnya yang pegal-pegal.


“Ulah siapa sih Ai, lo jangan menutup-nutupi ini deh,” Luki mengejar jawaban Aiden.


“Kalau gue kasih tahu kalian nanti mencarinya, jadi nggak perlu kalian tahu,” Aiden tidak mau kalau sahabatnya nanti melakukan penyerangan terhadap Kris. Dan mereka terkena masalah di sekolah, dia tidak mau mereka terkena masalah hanya membantunya.


“Nggak, kita nggak akan melakukan apa-apa. Kita cuma ingin tahu,” kata Rafa. “iya kan Luk,” Rafa menatap Luki.


“Iya Ai, kita janji nggak akan menyerangnya. Cuma kalau ketemu dijalan bisa lah kasih sedikit pelajaran.”


“Tuh kan.”


“Luk, lo ya. Diam saja dulu kalau mau kasih pelajarannya jangan pakai di omongin segala,” tukas Ibob.


“Iye, bercanda-bercanda.”


“Kris, dia kesal karena gue bantuin Kyra.” Aiden akhirnya jujur kepada teman-temannya.


“Lo diam saja dihajar seperti itu?” Luki geregetan sama Kris, dia tidak ada henti-hentinya ngerecokin Aiden.


“Gue nggak mau cari masalah, kalian tahu kan gue sudah dua kali kena skors. Kalau gue berantem lagi bisa di keluarkan dari sekolah dong,” jelas Aiden.


“Benar juga, tapi gue gedek banget sama manusia satu sok itu. Ai, gue bakalan bawa mobil yang mewah biar dia nggak semena-mena sama kita,” Rafa sudah tidak tahan adik sepupunya itu terus di hina.


“Belum waktunya, sudah lah nikmati saja. Nanti mendadak kita populer lagi,” kata Aiden.

__ADS_1


“Kita dengan begini saja sudah terlalu populer dimata Bk dan Kris,” samber Ibob sambil tertawa.


“Tu lo paham.”


__ADS_2