Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Marah II


__ADS_3

Gita masuk ke kamar sambil menggendong Aiden, dia menidurkan di tengah diantara Gilang dan dirinya.


Gilang sengaja tidur menghadap ke kanan, sehingga membelakangi Aiden dan dirinya. Suasana kamar yang biasanya hangat kini menjadi sangat dingin.


Perdebatan ini kembali terjadi setelah beberapa kali terjadi. Dan punya solusi, dan menurut Gita inilah kali ini benar-benar membuatnya sedih.


Dia ingin melakukannya bersamaan, mengurus suami, anak dan juga kerjaan. Bukan untuk bisa dianggap wah. Tapi dia ingin melakukannya untuk mengisi hari-harinya.


Dia bahagia bisa melakukan semua itu, dan jika dia diam saja di rumah akan tertekan. Gita menyelimuti Gilang dan Aiden dalam selimut yang sama.


Gita mengecek suhu badan Gilang, memegang kening Gilang yang sudah normal.


"Syukurlah.." ucapnya sambil kembali ke sisi sebelah tempat tidurnya.


Gita memberikan bantal di semua tepi tempat tidur, dia juga memberikan batal dia samping Gilang takut menindihi Aiden.


Gita kemudian keluar membawa laptopnya keluar, dia kembali meneruskan kerjaanya yang belum kelar.


"Mbak Gita kok belum tidur?" tanya Bik Siti.


"Iya Bik, ini mau lembur." ujarnya.


Gita ingin menyelesaikan kerjaannya, biar dia bisa tidak lembur di kantor. Dia harus pandai-pandai menyiasatinya agar tidak jadi perdebatan nanti. Dan dia tidak perlu lembur di kantor.


"Mua di bikinin kopi atau teh hangat mbak?" tanya Bik Siti.


"Kopi aja bik, sama mie kuah ya bik. Gita juga lapar dari tadi belum makan." Ujar Gita. Setelah perdebatan tadi membuat Gita lupa makan.


"Siap Mbak."


Jam sudah menunjukan pukul dua belas malam, mata Gita pun sudah mulai mengantuk. Dia mematikan laptopnya.


Gita membenarkan selimut Gilang yang sudah terlepas dari badannya.


"Aku tuh sayang sama kamu, jangan marah-marah lagi ya. Aku sedih kalau kamu marah dan cuekin aku." Gumam Gita sambil mengecup kening Gilang.


Gita masuk ke selimut, dia mencium Aiden lalu memejamkan matanya.


"Ya Tuhan, jaga keluarga kecil aku. Agar selalu harmonis, dan tidak ada yang merusaknya.


...----------------...

__ADS_1


"Kamu udah mau masuk kerja atau mau libur lagi?" Tanya Gita.


Gilang tidak menjawab, dia langsung turun dari tempat tidurnya. Dia menyambar handuk dan langsung pergi ke kamar mandi.


"Aku udah siapin air hangatnya, kamu tinggal mandi. Bajunya juga udah aku siapin." Kata Gita seperti biasa.


Dia tetap melakukannya meskipun tidak mendapatkan jawaban dari Gilang karena dia sedang marah.


Gita tetap melakukan apa yang biasanya dia lakukan. Gita sengaja mengunci lemari Gilang sehingga dia akan memakai baju yang sudah dia siapkan. Dia sudah berpengalaman kalau Gilang bakalan ambil baju lain saat dia kesal sama dirinya.


Gita sudah menunggu Gilang di ruang makan, dia duduk sambil menyuapi Aiden.


"Bik, kopi Gilang mana?" Gilang meminta kopi padahal Gita sudah menyiapkan teh sama susu putih hangat.


"Oh.. Mas Gilang mau kopi? Sebentar bibik buatkan. Biasanya kan minum teh jadi belum di sediain." kata Bik Siti sambil ke dapur.


"Iya Bik, lagi pingin kopi aja. Bosen teh mulu." Kata Gilang.


"Sayang.. Kamu pinter banget ya makannya. Kita nanti ke rumah nenek yuk. Kamu pasti kangen sama nenek, bosen kan di rumah mulu." Sindir Gita.


Gilang langsung mengangkat wajahnya, dan bertatapan langsung dengan Gita. Gita langsung membuang wajahnya.


"Ini Mas kopinya." Bik Siti menaruh kopi di depan Gilang.


Dia keluar lalu memberikan teh sama susu kepada Bani dan Pak Seno.


"Ban, ini buat kamu. Pak Seno teh hangat ya." katta Gita.


"Makasih loh mbak, tapi tadi udah di buatin sama Bik Siti." Kata Pak Seno sambil menunjuk nampan yang masih berisikan teh separuh.


"Nggak apa-apa, ini spesial buatan Gita. Pakai cinta." kata Gita sedikit keras biar sengaja Gilang dengar.


"Wiih.. Pakai hati segala Mbak. Memang istri idaman Mbak Gita. Kalau aja bukan istri Mas Gilang.."


"Kenapa coba kalau bukan istri Mas Gilang?"


"Ya nggak apa-apa." Bani nyengir kuda.


"Tak bilangin Mas Gilang kamu godain Mbak Gita." kata Pak Seno.


"Bercanda Pak, yaelah... Serius amat." kata Bani.

__ADS_1


"Ya udah, Gita masuk dulu ya."


Gita masuk langsung saja ke kamar, dia tidak menemani Gilang sarapan lagi. Gilang pun langsung menyusul Gita ke kamarnya.


"Maksud kamu apa mau pergi ke rumah mama." Gilang menarik tangan Gita sedikit kasar.


"Memangnya nggak boleh apa pergi ke rumah mama." Jawab Gita sambil menepis tangan Gilang.


"Tapi kamu kebiasaan, kalau lagi marah langsung kabur ke rumah mama." Gilang meninggikan suaranya.


"Hey.. Kamu yang marah bukan aku." kata Gita.


"Aku marah juga gara-gara kamu."


"Udahlah, aku cuma mau ke rumah mama doang. Kenapa sih."


"Nggak bisa. Kamu sama Aiden tetap di rumah."


"Kenapa nggak bisa, kamu saja bosen sama aku. Masa kami nggak boleh bosen tinggal di rumah." kata Gita.


"Memangnya siapa yang bosan?"


"Kamu bilang kan bosan tadi."


"Kamu salah paham, aku bosan sama teh makanya mau minum kopi."


"Udahlah kamu nggak usah mengelak, kalau memang udah nggak suka bilang aja. Aku tahu kamu tuh sekarang seleranya sama yang cantik, yang sexy yang lebih muda. Kayak Indah sama Lia kan." Cerocos Gita.


"Apa hubunganya sama mereka?"


"Udahlah, kamu tuh nggak usah ngelak."


"Cukup sampai sini, permasalahan ini tuh kamu nggak usah pergi ke rumah mama. Buka masalah yang lain. Kalau kamu memang masih menganggap aku suami kamu tetap di rumah ini." Gilang tidak mau membahas masalah lain yang hanya akan menambahnya semakin rumit.


"Kalau kamu masih mau jadi istri aku tetap tinggal, atau kamu.."


"Atau apa?"


"Atau kamu tidak perlu kembali lagi."


Deg.. Gita merasa sangat kecewa karena dengan ucapan Gita. Dia langsung pergi meninggalkan kamar. Dadanya rasanya sakit banget, dia memang kesal tapi bukan berarti mau pisah dengan Gilang.

__ADS_1


Gita menitihkan air matanya, "Kamu jahat banget. Kamu tega banget mau usir aku."


__ADS_2