Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Menyatukan Vian & Anita


__ADS_3

"Apa?" kata Vian ketika Gita dan Fara mendekatinya dengan senyum-senyum. Isyarat kalau mereka ingin melakukan sesuatu atau nggak menginginkan dirinya melakukan hal-hal yang aneh.


"Dih, galak banget sih." Gita menepuk pundak Vian.


"Muka-muka kalian ini yang buat gue galak, mau apa?" tanya Vian sekali lagi.


"Gini loh Vian, kita cuma mau tanya. Lo masih suka sama Anita nggak?" Tanya Fara dengan harap-harap cemas.


"Suka atau nggak emang masih ada gunanya?" Vian menyandarkan tubuhnya, dia melipat kedua tangannya di dada. Rasanya perasaan Vian sudah menghilang.


"Ya ini kesempatan lo, Anita itu udah nggak suka lagi sama Kak Bayu." jelas Fara.


"Terus?"


"Ya lo ada kesempatan, ih.." Fara gemas.


"Telat."


"Maksud lo?"


"Ya gue udah nggak bisa, Bella pulang."


"Terus kenapa kalau Bella pulang, memangnya dia pulang ke hati lo? Nggak kan." sahut Gita.


"Lah..lah.., ribet amat kisah cinta lo kayak sinetron aja." Fara menghela napas panjang. Ada saja masalahnya.


Cuma mau menyatukan hati Vian sama Anita banyak sekali halangannya.


"Jadi lo mau sama Bella lagi?" tanya Gita, mau gimana pun Gita dan Fara tak bisa memaksa Vian. Apalagi kemarin ketulusan Vian di abaikan sama Anita.


"Nggak juga." jawab Vian tengil.


"Eh.. Oncom jangan sok laku lo. Segala nggak mau dua-duanya. Udah lo sama Anita saja, besok nikah." Tukas Fara nggak sabaran.


"Ya kalau lo mau balik lagi sama Bella berarti bego, udah di tinggalin masih mau sama dia." ujar Gita.


"Sekarang, lo nggak boleh menolak. Gue bakalan siapin segala sesuatunya sekarang. Gue cari penghulunya dulu." Gita keluar ruangan untuk menemui Gilang meminta dicarikan penghulu untuk Vian.


"Woi.. Cewek-cewek gila!" teriak Vian mengejar Gita dan Fara.


"Woi.. Tunggu!" Vian terus teriak tapi tidak di gubris sama keduanya, mereka lebih memilih lari dengan cepat.


...----------------...


"Kak Gilang ada Mbak?" Gita tanya Lila.


"Ada,"


"Makasih." Gita langsung nyelonong diikuti Fara.

__ADS_1


"Sayang.."


"Iya, ada apa nih kalian berdua kesini bersamaan?" Gilang mengerutkan kening. Melihat istri dan kakak iparnya bersamaan pasti ada hal yang bakalan terjadi.


"Cariin penghulu." kata Gita singkat jelas dan padat.


"Apa? Penghulu?" Gilang membelalakan kedua matanya.


"Iya Lang, penghulu."


"Buat apa?" Gilang geleng kepala, permintaan Gita dan Fara memang sering kali di luar nalar.


"Buat nikahin Vian sama Anita besok."


"Woi.. Cewek-cewek gila. Sembarangan saja lo main nikah-nikahin anak orang." Ujar Vian dari ambang pintu, ia berjalan cepat dan berdiri diantara Gita dan Fara.


"Ini sebenarnya ada apa Vian?" Gilang di buat bingung.


"Mereka berdua tuh main mau nikahin gue aja, nikah kan juga butuh proses main nikah saja." kata Vian.


"Lagian sih lo mau nikah saja pakai drama, pakai Bella datang segala."ujar Gita.


Gilang menghela napas, " Sayang, kamu tuh ya. Ini kan hidupnya Vian, kamu jangan ikut campur yang tahu apa yang baik dan tidak kan Vian sendiri." Gilang menasehati Gita.


"Dengerin tuh suami kamu ngomong. Pada heboh sendiri-sendiri." kata Vian langsung duduk di kursi berhadapan dengan Gilang.


"Vian, kita begini agar kamu nggak jomblo terus, kan kesempatan." Ujar Fara sambil memutar kursi yang di duduki Vian.


"Mending mana coba, ninggalin tapi balik lagi atau yang sama sekali nggak suka sama gue?" Vian membuat pernyataan yang membuat Gita dan Fara saling berpandangan.


Mereka berdua pikir kalau Vian sudah benar-benar sakit hati dan tidak menyukai Anita lagi. Misi mereka berdua gagal.


"Udahlah kalian jangan mencampuri urusan Vian. Udah sana kembali kerja lagi." suruh Gilang.


"Ok deh." Gita dan Fara keluar ruangan Gilang dengan kecewa.


...----------------...


"Kenapa muka kalian kayak begitu datang-datang." Anita mengerutkan keningnya.


"Nit, lo jangan sedih ya. lo yang sabar." Gita mengelus punggung Anita.


"Dasar Vian, udah di kasih yang bener malah mau balik lagi sama cewek yang udah ninggalin dia, kesel gue." Fara kesel.


"Udah jangan, kesel begitu. Dia berhak kok memilih pasangan hidupnya. Semua itu salah gue kemarin masih plin-plan." Anita menyadari kalau semua itu kesalahannya. Jadi dia tak bisa menyalahkan siapun. Dan dia juga tak bisa menghalangi kebahagiaan Vian.


"Tenang aja, nanti kita cariin yang lebih ganteng, baik, yang pastinya mencintai lo." Gita memguatkan Anita.


"Iya bener, biarin aja nanti kalau di sakit hati lagi gara-gara Bella. Nggak usah di tanggepin." ancam Fara.

__ADS_1


"Eh.. Git, kita kan punya satu kandidat buat Anita. " Fara mengingat satu orang yang sangat tepat untuk mendampingi Anita.


"Siapa?"


"Arka. Nit, dia itu sepupu Gita. Ganteng banget orangnya mana baik pula, ya nggak Git." Fara menatap Gita.


"Sepertinya itu bukan rekomendasi yang baik." kata Gita lemas mengingat Arka yang menyukai dirinya.


"Kenapa?"


"Arka menyukai gue, jadi pastinya Kak Gilang nggak akan pernah merestuinya. Jika itu terjadi pasti kita nggak akan bisa berteman lagi." jelas Gita.


"Arka menyukai lo?"


"Ya."


"Masa sepupu lo suka sama lo, kok bisa?" Anita ikut heran.


"Gue juga nggak tahu kenapa bisa begitu, padahal kita sudah bersama-sama dari kecil."


"Pantesan, kemarin dia banget banget sama lo. Perhatiannya melebihi dari gue." kata Fara.


"Terus gimana dong sekarang?" Gita menggigit bibir atasnya.


"Udah kalian jangan khawatirin gue, gue baik-baik saja. Nanti kalau memang sudah waktunya gue bakalan ketemu sama pasangan gue. Di waktu yang tepat." Anita mencoba tegar.


"Yah sayang banget, padahal gue pingit banget kita bisa berpasangan semua. Jadi kalau jalan-jalan lo nggak jomblo sendirian." kata Gita.


"Tenang nanti gue sewa pacar online." kata Anita sambil tertawa renyah, di sambut Gita dan Fara.


"Wih.. Seru amat pada gibah apaan nih?" Vian yang baru masuk ruangan kerjanya langsung nimbrung sama cewek-cewek.


Anita menatap sebentar lalu menunduk, dia tak bisa menatap lama, karena masih merasa bersalah. Karena Vian belum mau memaafkanya.


"Apaan sih lo, minggir sana." Usir Fara saat tahu Anita tidak nyaman dekat-dekat Vian.


"Dih, galak bener."


"Kepo banget jadi orang, eh yok kita cari makan." ajak Gita.


"Masih jam kerja woi.. Main kabur-kabur aja."


"Terserah gue lah..mau apa lo." Gita nyolot. Ia menarik tangan Anita dan Fara meninggalkan Vian sendirian.


"Begini nih, kalau kerja sama istri bos seenak jidatnya keluar masuk." Vian geleng kepala.


"Kenapa nggak suka lo?" kepala Gita nongol di ambang pintu.


"Eh.. Buset, dengar lagi."

__ADS_1


"Dengar lah gue punya telinga dua. Emangnya lo."


"Iya..iya.. Gue salah." Vian mengakhiri debatnya, dengan dia mengalah. Karena akan semakin panjang kalau dia meladeninya.


__ADS_2