Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Mantan


__ADS_3

Fara meminta Raka mengantar belanja, dia sedang badmood gara-gara Anita yang marah padanya.


"Kamu kenapa sih kok marah-marah, lagi pms ya?" tanya Raka sambil menjalankan mobilnya.


"Kesal."


"Kesal kenapa?" Raka masih tidak tahu kenapa Fara mode manyun.


"Habisnya Anita, udah di sakitin sampai segitunya masih saja mikirin Bayu, mana masih berharap lagi. Kan ngeselin, mau di lamar Vian nggak mau. Jelas-jelas Vian yang lebih bertanggung jawab dan mau menerima apa adanya." Celoteh Fara dengan nada lumayan ketus.


"Sayang, kamu jangan terlalu ikut campur perasaan Anita. Aku tahu kamu sahabatnya dan juga ingin Anita yang terbaik. Tapi dia juga punya hak untuk dirinya sendiri, dia pasti tahu yang terbaik buat dirinya sendiri." Raka menasehati Fara.


"Iya, Fara udah nggak ikut campur kok. Mau kayak apa dia Fara udah bodo amat." Ujarnya.


Raka menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Fara kalau udah kesal pasti hanya akan manyun sampai waktu yang belum di tentukan.


"Kamu mau kemana sekarang?" tanya Raka.


"Makan." jawabnya singkat.


"Kamu boleh marah sama Anita, tapi jangan sama aku juga dong. Nggak enak loh diambekin kamu, ngomongnya ketus, bikin hati aku sakit." Kata Raka manja.


"Iya..deh maafin aku." kata Fara.


"Senyum dulu donk." Kata Raka, dan Fara pun tersemyum, Raka senang meskipun senyumanya di paksakan.


Fara dan Raka makan bakso di samping mall, sebelum belanja Fara mengisi amunisi dulu.


"Gimana sayang, masih mau nambah?" tanya Raka.


"Boleh?" tanya Fara.


"Boleh-boleh saja."


"Tapi nanti kalau aku gendut gimana? ini lemak semua loh." Kata Fara sambil menunjuk mangkok yang masih berisi separuh.


"Emangnya kalau gendut kenapa? Kan sehat." jelas Raka.


"Ntar kamu nggak suka lagi sama aku, nggak ah." Fara takut di tinggal Raka kalau sampai jadi gendut dan nggak cantik. Maklum Fara bertingkah seperto itu karena Raka cowok keren incaran para cowok-cowok.


"Bang, pesan baksonya yang sama kayak gini dua ya." pesan Raka.


"Buat siapa?" tanya Fara sambil mengangkat kepalanya hingga saling bertatapan dengan Raka.


"Kamu lah."


"Ha..."


"Makan yang banyak, mau seperti apa kamu aku tetap cinta." katanya sambil mengedipkan matanya.

__ADS_1


"Ganjen, modus.." kata Fara sambil geleng kepala.


"Kalau sama istri mah bukan modus, tapi kasih sayang." Kata Raka, dia tidak mau di katakan modus.


"Baiklah suamiku tersayang, sepertinya malam ini bakalan lembur sampai pagi kalau udah memuji setinggi langit begini." Kata Fara.


Raka terkekeh, "Nggak usah lembur sekali saja."


"Yakin?" Fara tidak percaya. Raka selalu saja bilang sekali tapi kenyataannya dia selalu mengajaknya lembur sampai pagi.


"Yakin."


"Awas ya kalau lebih, aku minta kamu beliin mall."


"Siap."


...----------------...


Setelah puas belanja, Fara dan Raka langsung pulang. Di parkiran ada seseorang yang menabrak Fara sampai Fara oleng untung Raka gercep menangkap Fara.


"Mbak, bisa hati-hati nggak?" Raka marah kepada orang yang menabrak Fara meskipun dia yang jatuh ke lantai.


"Maaf..Maaf." katanya sambil berdiri.


"Prisil.." kata Raka.


"Tolong apa?"


"Gue di kejar Om Sultan, lo ingat Om Sultan kan, dia terus meneror gue. Gue takut dia bakalan aniaya gue lagi seperti dulu." Prisil memegang tangan Raka.


"Jangan pegang-pegang." Fara melepakan tangan Raka. "Lagian kalau ada masalah kayak begitu lapor aja polisi jangan seret -seret suami gue." Kata Fara dengan ketus. Dia tidak terima suaminya berurusan lagi sama mantanya.


"Gue nggak mau ngapa-ngapain gue cuma mau minta tolong." Kata Prisil dengan melas.


"Sayang.."


"Terserah kamu, mau pilih aku atau dia." Fara memberikan pilihan atas Fara dan Prisil. Raka hanya diam, dia tidak mungkin memilih prisil tapi Prisil dalam bahaya, Om Sultan adalah Om dia yang kejam selalu menyiksanya.


"Prisil, dimana kamu, ayo pulang!" teriak Sultan yang membuat Prisil langsung lari.


"Prisil.." Gumam Raka.


"Kamu kejar aku marah sama kamu." Fara sedang egois.


"Fara, ini soal nyawa kamu harusnya ngerti." kata Raka.


"Aku sedang tidak mengerti. Lagian di dunia ini kenapa kamu, memangnya dia tidak mempunyai orang lain yang bisa menbantu, di depan pun ada kan kantor polisi." Kata Fara dengan penuh emosi.


"Prisi! kembali atau kamu merasakan akibatnya." kata Sultan lagi sambil berjalan mendekat ke arah Fara dan Raka.

__ADS_1


"Maaf sayang, aku akan membantunya. Kamu tunggu di mobil ya. Hanya sebentar." Raka memberikan kunci mobil lalu berlari mengejar Prisil.


Fara sudah gondok banget, ditinggal Raka. Ternyata Raka lebih memilih Prisil mantanya.


"Tunggu!" Fara mencegat yang katanya Om Sultan.


"Siapa lo?"


"Nggak penting siapa gue, tapi please jangan bawa-bawa masalah pribadi kalian ke keluarga gue." kata Fara.


"Apa sih lo nggak jelas." Om Sultan mendorong Fara sampai jatuh.


"Ah.. Heh..lo ya berani sekali sama perempuan." Kata Fara.


"Lo yang bikin gara-gara udah tidak kenal bikin tambah emosi." Katanya sambil jalan. Namun Fara tidak bisa tinggal diam. Dia meselonjorkan kakinya hingga Om Sultan kaget dan tak bisa menjaga keseimbangannya. Dia pun terjatuh tengkurep di lantai.


"Lo juga, nggak kenal bikin gara-gara." Kata Fara sambil pergi ke mobilnya.


"Baru kali ini ketemu perempuan gila." katanya sambil beranjak pergi mengejar Prisil lagi.


Fara menghidupkan mobilnya, dia tidak mau menunggu Raka. Dia bodo amat Raka mau pulang naik apa. Kekesalanya kini berlipat ganda.


"Bisa-bisanya Raka lebih memilih mantanya daripada gue yang istrinya. Memangnya nyawa apaan, dasar Prisilnya saja lemah. Orang om-om juga lemah gitu." omel Fara sambil menjalankan mobilnya.


"Halo Git.." Fara menelpon Gita.


"Ya, ada apa?"


"Lo masih lama nggak di Surabayanya?" tanya Fara.


"Masih lima hari lagi kenapa? Lo pasti kesepian kan nggak ada gue?"


"Iya, gue mau nyusulin lo kesana." Kata Fara.


"Ada angin apa lo tiba-tiba mau nyusulin gue kesini." Gita penasaran, awalnya dia kekeh nggak mau ikut tiba-tiba mau nyusulin.


"Banyak banget ceritanya, gue lagi kesel, marah, emosi. Pokoknya jadi satu."


"Ok..Ok.. Lo buruan kesini gue tunggu. Kapan lo mau berangkat?"


"Malam ini, gue baru pesan tiketnya."


"Lo pergi sama Raka?"


"Nggak, Rafa aja yang gue ajak. Udah ya gue mau packing dulu." katanya saat mobilnya mulai masuk perumahannya.


Fara tidak peduli dapat tiket jam berapa malam ini, yang penting dia tidak bertemu Raka dulu. Dia masih kesal, dan akan mengingat jelas saat dia mengejar Prisil.


"Demi nyawa..demi nyawa.. Kesel banget gue ingatnya." Gumamnya sambil masuk ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2