
Gita dan Fara mengintip Anita yang sedang ngobrol sama Vian. Mereka berdua tampak senang melihat kedekatam Vian dan Anita. Besar harapan dari Gita dan Fara agar mereka berdua bisa menikah.
"Serasi kan mereka berdua." Kata Gita.
"Sangat serasi, tapi kenapa masih masih jaim saja." Fara melihat kearah Gita.
"Berarti itu tugas kita buat mereka semakin akrab lagi, buat mereka saling membutuhkan satu sama lain." Kata Gita.
"Beraksi nih?"
"Beraksi dong."
"Jangan aneh-aneh." Gilang menjewer telinga Gita dan membawa pergi menjauh dari Fara.
"Kamu juga, masih saja mikir macam-macam." Raka pun ikut menjewer Fara.
"Aaa... Sayang, sakit." rengek Gita. Padahal Gilang menjewernya pelan, bisa dibilang cuma menyentuh.
"Sakit apaan, cuma di pegang doang."
"Kalian berdua merencanakan apa?" Raka melipat kedua tanganya lalu matanya langsung mentap Gita dan Fara tajam.
"Rencana apaan?" Gita bingung.
"Nggak usah sok polos deh, kalian berdua pasti merencanakan sesuatu buat Vian dan Anita kan." Tuduh Raka.
"Ih.. Main tuduh aja. Lagian siapa yang merencanakan sesuatu. Bisa nggak lo berpikiran positif sama kita berdua."
"Tidak sama sekali." Jawab Raka dengan jelas dan padat.
"Iishh.."
"Kalian berdua tidak bisa memaksakan mereka berdua bersama. Biarkan saja waktu yang bekerja. Kalau memang jodoh pasti akan bersama. Nggak perlu kalian paksa-paksa, yang ada nanti cinta mereka bukan dari hati." Gilang menasehti istri dan kakak iparnya yang susah sekali di bilangin. Pasti mereka hanya akan memasukan ke telinga kanan keluar telinga kiri.
"Ya kan itu harus diusahakan, kalau diam-diam terus kapan jalannya."
"Ini masih aja ngeyel anak satu." Raka menjitak kepala Gita pelan. Gita meringis.
"Wah ada rapat apa nih, kelihatanya serius amat. Bikin ulah apaan bini-bini kalian." Kata Vian sambil berdiri dianyara mereka.
"Pasti kalian melakukan hal konyol." tambah Anita.
"Nggak, kita berdua cuma mau datang ke nikahanya Bayu. Lalu memgacak-acak semua yang disana. Biar malu.." kata Fara.
"Nggak usah datang.. Besok nggak usah datang. " Raka melarang Fara datang ke nikahanya Bayu.
"Ih.. Kenapa?"
"Yang ada kamu sendiri yang malu, mending kalau cuma di usir. Kalau di laporin ke polisi gimana?" Raka menyentil pelan hidung Fara.
"Kan ada kamu." Fara menatap Raka.
"Maksudnya?"
"Ya kan ada kamu, masa kamu tega aku di masukin ke penjara. Kalau nggak bisa damai kamu lah gantiin aku." Kata Fara tanpa merasa berdosa.
__ADS_1
"Betul." Gita mengangkat jempol kanannya.
"Heh..main betul-betul aja lo."
"Udah.. udah, besok kalian datang jadi team hore aja. Gue sudah menyiapkan kejutan yang spektakuler." Kata Vian.
"Apa?"
"Ya nanti, kalian berdua lihat saja."
"Ya ampun, gue kira lo bakalan paling dewasa dari mereka berdua ternyata sama saja." Gilang menggelengkan kepala. Mereka gila tak ada obat pokoknya.
...----------------...
Selesai barbeque, Raka dan yang lainnya pulang. Gita dan Gilang pun bebersih dan lekas untuk tidur supaya besok pagi tidak kesiangan.
Gita menarik selimutnya, wajahnya menatap lurus ke langit-langit. Gilang mengernyitkan keningnya melihat Gita begitu serius.
"Kamu mikirin apa?" tanya Gilang sambil masuk ke selimut. Dia duduk sambil membaca berkas yang belum dia selesaikan di kantor.
"Em.. Mikirin rencana Vian kira-kira apa ya? Spektakuler nggak." jawab Gita dengan pandangan masih menatap langit-langit seolah dia mencari jawaban di sana.
"Ya Tuhan, masih saja bahas itu." Gilang menghela napas pendek. Gemes banget dengan istrinya yang selalu memikirkan hal yang tidak begitu penting.
"Sayang..sayang kira-kira besok kita kado mereka apa ya?" Gita memiringkan tubuhnya dan menadahkan kepalanya ke arah Gilang. Dia menatap Gilang meminta pendapat.
"Tapi kadonya yang bagus, yang tidak akan di lupakan sama dia." Ujarnya.
"Apa?" Gilang curiga dengan pemikiran Gita.
"Benar kata Raka, mending kamu sama Fara nggak usah datang." Kata Gilang.
"Kenapa emang kok nggak boleh datang." Gita masih saja bertanya kenapa tidak di perbolehkan datang di pernikahan Bayu dan Vivi.
"Kamu sama Fara cuma mau bikin huru-hara. Bisa porak-poranda itu nikahan orang." Gilang memcubit hidung Gita.
"Ya kan memang itu tujuannya." Jawabnya tanpa dosa.
"Kamu nggak dengar tadi Raka bilang apa?"
"Bilang apaan emang?"
"Nanti kamu bisa di bawa ke kantor polisi, kamu di penjara."
"Ya kan ada kamu." jawaban Gita duplikat dari Fara.
"Nggak ada ya, aku nggak mau tolongin kamu. Biar kamu belajar dan tidak mengulangi lagi." Gilang pura-pura tidak mau menolong Gita.
"Tega banget kamu, memangnya kalau kamu nggak tolongin aku mau tolongin siapa?" kata Gita sambil manyun.
"Ya nggak tolongin siapa-siapa."
"Ok, kalau kamu nggak mau tolongin aku. Aku kan bisa minta tolong yang lain." Kata Gita sambil kembali menelantangkan tubuhnya.
"Minta tolong siapa?"
__ADS_1
"Banyak, ada Raka Vian, kalau mereka nggak mau juga kan ada tuh cowok ganteng di kantor kamu. Brati mulai besok aku harus lebih dekat lagi jadi kalau ada apa-apa aku bisa minta tolong sama dia."
"Memang ada cowok yang lebih ganteng dari aku?" Gilang sedikit meradang namun dia berusaha untuk tetap cool tidak menunjukan kecemburuannya.
"Adalah, ganteng banget malah. Dia itu perhatian, pengertian, mana nggak pernah menolak kalau aku minta sesuatu." kata Gita dengan wajah sumringah meceritakan.
"Siapa namanya?" Gilang mulai penasaran dengan orang yang lebih baik darinya.
"Ada aja." Kata Gita.
"Oo... Kamu mulai berani ya main hati sama cowok lain." Gilang membuka lembaran berkasnya dengan sangat keras.
"Salah sendiri kamu mulai tidak peduli sama aku, ya kan aku cari orang yang peduli sama aku." kata Gita sambil memainkan ponselnya.
"Siapa orangnya!" Gilang bicara dengan nada keras. Gita sampai kaget, hampir saja ponselnya jatuh dari tangan.
"Sayang, kamu apaan sih teriak-teriak. Bikin kaget saja." Kata Gita masih dengan nada biasa dan wajah yang biasa saja. Dia cuek saja dengan kemarahan Gilang.
"Siapa orang itu, kamu pasti sedang berhubungan kan sama dia. Awas saja, besok akan aku pecat orang itu." Gilang merebut ponsel Gita. Gilang marah-marah tidak karuan. Namun dia kemudian terdiam saat melihat ponsel Gita yang sedang browsing katak, buka sedang berhubungan dengan cowok yang di kantornya.
"Kamu kenapa sih sayang."
"Kamu yang kenapa? Mana nomor cowok itu biar aku pecat sekarang juga." Gilang kembali marah setelah beberapa dekit heran dengan pencarian Gita.
"Sudahlah, kamu tidak akan bisa memecatnya." Gita hendak mengambil ponselnya. Namun Gilang menahannya.
"Memamgnya dia siapa? Mulai besok kamu nggak usah masuk kantor lagi.
"Kenapa, ya udah hp Gita bawa sini, biar Gita telponin." Ujar Gita.
Gita langsung menekan nomor orang yang dia maksud. Tak lama ponsel Gilang berdering, namun Gilang mengabaikannya karena dia fokus kepada orang yang Gita maksudkan.
"Itu ada telepon." Kata Gita.
"Biarin saja." jawabnya singkat dan menakutkan.
"Angkat dulu, siapa tahu penting." Suruh Gita.
Meskipun sedang marah Gilang tetap saja mengikuti kemauan Gita. Dia mengambil ponsel, dia melihat layar ponsel lalu melihat Gita.
Sedangkan Gita tersenyum lebar, dia berhasil menggoda Gilang sampai marah.
"Sudah tahu kan siapa orang yang akan selalu ada buat aku." Kata Gita sambil tersenyum.
Gilang bisa bernapas lega, ternyata orang yang dimaksud Gita adalah dirinya sendiri.
"Awasnya sampai kamu berani macam-macam di luaran sana. Aku kunciin kamu di rumah." Kata Gilang sambil masuk ke selimut lagi. Dia kembali membuka berkasnya dengan bibir manyun.
"Siap kapten." Kata Gita sambil mencium lembut pipi Gilang dan kembali merebahkan tubuhnya.
Manyun Gilang memudar menjadi senyuman, dia sudah kebakaran jenggot mendengar Gita dekat dan jatuh cinta sama cowok lain. Namun ternyata hati Gita tetap saja jatuh padanya.
"Ah.. Gita susah tidur." keluhnya sambil menaruh ponselnya. Gilang langsung menutup kedua mata Gita dengan tangan kanannya agar cepat tidur.
Gita tersenyum, dia langsung memposisikan tubuhnya, tak selang lama Gita pun sudah ke alam mimpi.
__ADS_1
"Katanya nggak bisa tidur, belum juga ada lima belas menit udah pulas." Gilang terkekeh. Dia mengecup kening Gita, dan kembali mempelajari berkas untuk meeting.