
Vian meregangkan kedua tangannya, dia membalikan tubuhnya. Lalu memeluk Gilang yang ada di sebelahnya.
Vian membuka matanya perlahan, "Eh.. Ngapain lo peluk-peluk gue?" Vian kaget. Dia dengan reflek lamgsung mendorong Gilang.
"Eh.. lo ngapain sih dorong-dorong." omel Gilang dengan nyawa yang belum kumpul semua. Dia terbangun karena kaget.
"Lo ngapain di sini? Pakai peluk-peluk lagi." Vian bergidik. Dia belum sadar kalau dirinya yang menginap di rumah Gilang.
"Dasar lo nggak ada sopan-sopannya ya sama gue, lo yang peluk gue sembarangan kalau ngomong. Coba buka mata lo lebar-lebar lo dimana?" kata Gilang sambil berajak bangun dari tempat tidur.
"Ini dimana?" Tanya Vian sambil melihat sekeliling. Tatanan tempat tidurnya tampak beda.
"Gue kan udah pulang dari hotel, kok nuansanya masih kayak di hotel." Gumamnya.
"Gue rasa lo ketempelan jin hotel deh." Ucap Gilang.
"Sembarangan, ini rumah lo Lang?"
"Iyalah.. Rumah gue."
"Terus ngapain gue kok ke rumah lo?" Vian kayak orang linglung. Lupa semua yang dia lakukan setelah mengantar Anita.
"Lo beneran ketempelan atau jangan-jangan lo mabuk ya." tuduh Gilang.
"Nggak enak aja, mabuk dapat merusak segalanya."
Gita yang dari luar langsung membuka pintu kamar tamu saat mendengar keributan.
"Ada apaan sih pagi-pagi udah ribut aja?" tanya Gita.
"Dia noh, ketempelan." Ujar Gilang.
"Ketempelan?" Gita lanjut masuk dan duduk di sebelah Vian.
"Kamu siapa? Jangan gangguin teman gue. Teman gue udah gangguan nggak perlu di ganggu." Ucap Gita sambil memegang kening Vian.
"Apaan lagi ini, gue nggak apa-apa oi."
"Ya udah gih buruan pada mandi, nanti telat lagi ke kantor." Kata Gita.
Gita mengikuti Gilang keluar kamar tamu, sampai di depan pintu Gita membalikan badan lagi.
"Vian, lo beneran kan nggak apa-apa?"
"Iya." Jawabnya singkat.
"Ok." Gita mengangkat jarinya berbentuk Ok.
Gita masih kepo dengan keanehan Vian pagi ini, dia mengikuti Gilang mau meminta penjelasan.
"Kamu ngapain ngikutin aku ke kamar mandi? Mau mandi lagi?" tanya Gilang. Gita tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Terus mau ngapain?"
"Itu Vian kenapa kok kayak gitu?"
"Yaelah, ku kira kamu kangen mandi berdua sama aku. Tahunya cuma mau tanyain Vian." Kata Gilang sambil menutup pintu.
__ADS_1
"Kan Vian aneh sayang, makanya aku tanya."
"Kamu beneran mau tahu?" Gilang memunculkan kepalanya di pintu.
"Iya." Gita memajukan tubuhnya.
"Mandi dulu bareng aku, nanti aku ceritain." kata Gilang sambil senyum-senyum nakal.
"Ih.. Genit. Dah sana mandi." Gita langsung kabur daripada dia di tarik mandi lagi. Yang ada mandi bareng berdua nggak akan kelar-kelar.
...----------------...
Gita terus menatap Vian, dia benar-benar berbeda dengan Vian semalam.
"Lo kenapa melihat gue kayak gitu Git?" Vian merasa aneh.
"Ini anak beneran nggak ingat semalam ngomong apa saja, atau jangan-jangan dia benar-benar kesambet jin hotel." Batin Gita tanpa melepaskan tatapan ke wajah Vian.
"Heloo.. ada orang?" Vian menjentikan tangannya di depan wajah Gita. Gita langsung sadar dari lamunanya.
"Vian.. Lo nggak ingat gitu semalam lo ngapain?" tanya Gita.
"Emang gue semalam ngapain?" Vian tanya balik.
"Ada apa sih sayang?" tanya Gilang. Dia menatap Gita lalu Vian.
"Istri lo tuh aneh banget. Masa ngelihatin gue kayak orang sawan." sahut Vian.
"Lo kali yang sawan. Bisa-bisanya nggak ingat semalam lo ngapain."
"Eh.. Vian, lo kenapa habis anterin Anita nggak langsung pulang?" Rasa penasaran Gita masih menggebu-gebu. Meskipun dia mulai sarapan, sebelum nasi goreng mendarat di mulutnya dia masih sempat mengajukan pertanyaan sama Vian.
"Nggak tahu, pingin aja kesini. Tapi gue juga nggak kepikiran bisa nginep sini. Perasaan gue udah pamit mau pulang." Katanya.
"Vian.."
Gilang memegang dagu Gita, dia langsung memberikan kecupan di bibir Gita supaya tidak nyerocos terus.
"Ih.. kamu ih.." Wajah Gita langsung memerah. Dia malu di lihatiin Vian.
Sedangakan Vian menghela napas jengah melihat sahabatnya terus bermesraan.
"Buruan makan atau aku bakalan cium kamu terus." kata Gilang.
"Iya..iya..."
...----------------...
"Selamat pagi Pak Gilang." Indah sekretaris Pak Gio datang menyapa saat Gilang baru saja turun dari mobil bersama Gita dan Vian.
"Selamat pagi. Ada yang bisa di bantu?" tanya Gilang.
"Saya kesini mau mengantarkan berkas dari Pak Gio. Sekalian mau membahas beberapa proyek yang sedang berjalan." Kata Indah.
Gilang melihat jam di tangannya, ternyata memang sudah di agenda kalau dia akan ketemu perusahaan Gio.
"Baiklah kita bicara di ruangan saya saja." kata Gilang.
__ADS_1
"Sayang.." panggil Gita.
"Ya."
"Semangat ya, Gita kerja dulu." Dia mengecup tangan Gilang dan kecupan di pipi. Dia mau memberi tahu Indah kalau dia itu istrinya Gilang. Dia tidak bisa masuk sedikitpun.
"Iya sayang, sampai ketemu nanti." Gilang mengelus kepala Gita.
"Daa.." Gita melambaikan tangan.
Vian menatap Gita aneh, tidak biasanya Gita seperti itu.
"Tumben lo cium tangan, cium pipi di depan kantor. Pakai da..da.. centil gitu sama Gilang." Ujar Vian.
"Ih.. Kan gue da...da.. sama suami gue nggak masalah dong." Ujar Gita.
"Lo aneh banget,"
"Bukan aneh, tapi gue sedang menjaga milik gue." Katanya sambil jalan.
"Menjaga apa?" Vian masih tidak mengerti dengan ucapan Gita.
"Vian, cewek tadi itu kan cantik. Kemarin-kemarin dia diam-diam suka sama Kak Gilang. Ya gue harus tunjukin kalau dia itu milik gue." katanya.
"Harus ya?" Ujar Vian sambil menarik kursi untuk duduk.
"Vian, yang jelas-jelas sudah di tangan saja bisa di clomot sama orang. Apalagi yang diam-diam. Gue nggak mau ya kehilangan orang yang gue sayang." Kata Gita.
"Ini pagi-pagi pada ngomongin apaan sih serius amat?" tanya Fara.
"Teman lo tuh kena sawan."
"Lo kali yang kena sawan."
"Lo udah sembuh Vian?" Tanya Fara sambil berjalan mendekati Vian memegangi keningnya.
"Vian kenapa emang?" Sahut Anita yang masih di ambang pintu. Anita berjalan cepat kemudian memegangi kening Vian menggantikan tangan Fara.
"Lo sakit?" Anita tampak cemas.
"Ng-gak." Vian menggelengkan kepala. Vian tiba-tiba kaku saat matanya bertemu dengan mata Anita. Jantungnya berdetak keras, rasanya ingin menghancurkan kakunya tubuhnya.
Gita sama Fara saling berpandangan, "Apa sudah terjadi sesuatu?" tanya Fara.
"Mungkin, mereka jadi salting begitu. Apa cinta sudah bersemi. Jangan-jangan di jogja terjadi sesuatu makanya Vian seperti sawan." Bisik Gita.
Pikiran kedua sahabat Anita dan Vian ini sudah berbelok ke kanan ke kiri tak karuan.
"Ehem..." Gita dan Fara berdehem. Seketika Anita menarik tangannya, dan Vian pun fokus ke komputer.
"Bucin..bucin.." kata Gita mulai bekerja.
"Ya seenggaknya jiwa kejombloannya terbasuk air cinta yang membuat tumbuh bersemi." Kata Fara.
"Kalian ngomong apaan sih, orang gue cuma cek Vian aja."
"Lebay lo pada. Dari tadi lo juga kayak gitu sama gue." Vian mencoba biasa saja.
__ADS_1