Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Happy Ending


__ADS_3

Hari ini adalah upacara pernikahan Vian dan Anita. Setelah mendaparkan restu dari kedua orang tuanya mereka langsung menikah. Tidak menunda-nunda lagi.


Suasana sangat meriah meskipun hanya di datangi kerabat, karena Vian dan Anita memutuskan untuk mengundang orang terdekat saja.


Anita pergi duluan ke kamar hotel karena sudah lelah, sedangkan Vian masih menjamu tamu-tamunya.


Derrzz...derzzz.... Ponsel Anita berdering.


"Halo..."


"Nit, jangan lupa ya baju dinasnya." kata Fara.


"Kalian telpon cuma mau ngomong beginian." Anita menggelengkan kepala.


"Mengingatkan siapa tahu lupa." Gita terkekeh.


"Dasar ya kalian, udah ah gue mau mandi dulu." Anita mematikan sambungan telponya.


Meskipun Anita sudah berpengalaman namun jantungnya pun tetap berdetak kencang. Deg..degan banget, di tambah dia menikah dengan sahabatnya sendiri. Orang yang tidak pernah dia bayangkan.


Anita membersihkan bekas riasanya, lalu bergegas mandi sebelum Vian datang. Setelah mandi Anita tiduran menggunakan baju tidur di atas lutut dan berlengan kecil.


Ia membuka ponselnya melihat hasil jepretan hari ini. Melihat foto-foto pernikahanya. Anita membuka album foto pernikahnaya dulu. Lalu ia menghapusnya sampai tak ada yang tersisa satu pun.


Kreekkk pintu terbuka pelan, jantung Anita yang baru saja tenang, bergemuruh lagi.


Vian sedikit kaget melihat Anita sangat sexy. Dia canggung mau masuk, tapi tidak mungkin juga balik lagi.


"Mau mandi dulu atau makan dulu?" Anita turun dari ranjang. Mereka berdua berubah menjadi canggung.


Vian hanya terpaku diam memandangi Anita, yang benar-benar menggodanya sekarang. Lebih menggoda saat di kencan pertama itu.


"Vian, lo kok diam."


"Kok masih panggil Vian sih, sekarang aku kan suami kamu." Vian sudah mulai memanggil Anita kamu dan aku.


"Terus?"


"Panggil beib, papa, ayah.."


"Geli." Anita terkekeh.


"Kok geli sih." Vian menarik tubuh Anita ke dalam pelukanya. Vian sudah tidak dapat menahan godaan, dia memeluk Anita dan mencium belakang telinga Anita.


Anita mendorong pelan, "Mandi dulu sayang, aku udah siapin Air panas buat kamu." Anita melepaskan diri dari Vian.


"Nanti saja."


"Kamu lengket banget,bau lagi mandi dulu buruan." Anita mendorong Vian ke kamar mandi.


"Iya deh." akhirnya Vian mau mandi juga. Sebenarnya dia hanya mau bermanja dengan Anita.


Vian selesai mandi langsung nimbrung sama Anita yang sedang duduk santai di sofa.


Dia masih audah berganti dengan celana pendek dan kaos putih pendek. Anita mengambil handuk lalu mengeringkan rambut Vian.


Vian senyum-senyum, sesekali menatap Anita.

__ADS_1


"Jadi seperti ini rasanya punya istri." batinya.


"Kamu kenapa sih senyum-senyum begitu." Anita heran.


"Nggak, cuman ingat saja kata Gilang dan Raka. Kalau punya istri itu enak. Ada yang manjain."


"Bisa saja kamu mah."


Anita beranjak dari sofa mau menaruh handuk, Vian langsung menarik tangannya.


"Mau kemana?"


"Mau taruh handuk." Anita mengangkat handuknya.


Vian menarik Anita dalam pangkuanya, "Taruh saja sini." Vian mengambil handuknya lalu menaruh di sisi kananya.


Vian benar-benar sudah tidak bisa menahanya, dia menurunkan Anita di atas sofa bersiap untuk menikmati setiap inci tubuh Anita. Dia mengungkung Anita dengan kedua tanganya yang kuat.


"Sayang.." kata Anita lirik.


"Ada apa?"


"Kamu nggak mau makan dulu, pasti kamu belum makan kan?"


"Belum, aku masih kenyang. Aku cuma mau kamu aja sekarang." Vian mendekatkan wajahnya. Tubuhnya panas dingin, ini pertama kali buat Vian menyentuh terlalu dalam.


Bahkan dia baru akan memberikan ciuman pertamanya.


Vian semakin merendahkan tubuhnya, bibirnya bersentuhan dengan bibir Anita. Seketika suhu badanya meninggi.


Sentuhan yang sangat lembut, Anita pun langsung memberikan balasan. Tubuh Anita pun ikut memanas. Ini bukan pertama kali baginya. Namun dia seperti merasakan untuk yang pertama.


"Kamu sangat cantik, I love you."


"I love you too." Jawab Anita lirih.


Vian kembali mencium Anita, dia kemudian mengajak Anita ke ranjang.


"Gimana kalau kita main lebih dari ini?" ajak Vian.


"Apapun yang kamu mau, aku turuti." jawab Anita.


Dia sudah menyerahkan semua hidupnya untuk Vian. Tentu saja dia dengan senang hati melakukanya.


Vian menggendong Anita, meletakkan ke ranjang dan langsung mengukungnya. Dia mencium lagi bibir Anita, dan mulai menurun ke leher Anita.


Anita mengalungkan tanganya di leher Vian. Dia kemudian mencium leher Vian yang membuat Vian semakin bergairah.


Vian melepas kaosnya, dan sehingga kulit dadanya menyentuh kulit Anita. Rasanya menjadi panas.


Anita menciumi leher Anita sampai di dadanya, Anita mulai memanas juga. Vian membuka baju Anita memperlihatkan tubuh elok Anita.


Vian pun mencium setiap inci tanpa terlewat. Malam itu menjadi malam yang sangat indah. Jeritan-jeritan indah memenuhi kamar itu.


Vian merasa senang, dan puas malam itu hingga dia melakukan berkali-kali.


Pagi sudah tiba, mereka masih berpelukan di dalam selimut. Vian tersenyum saat membuka matanya.

__ADS_1


Kini saat dia membuka mata ada bidadari cantik di hadapanya. Bukan lagi bantal guling, atau Gita yang teriak-teriak membangunkanya saat dia menginap di rumah Gita.


Vian mulai bergerylia menciumi bibir Anita yang masih tidur.


Anita perlahan membuka matanya, karena bibirnya yang di ciumin Vian.


"Kamu sudah bangun?" tanya Anita.


"Iya sayang,"


"Aku lapar." ujarnya. Semalam dia sebenarnya lapar namun Vian yang tidak sabar membuatnya tidak makan malam.


"Ok, aku pesan makanan dulu."


"Aku mau mandi dulu." kata Anita.


"Ikut."


"Kamu pesan makanan dulu deh." Anita menolak mandi bareng.


Setelah selesai mandi mereka sarapan bersama.


"Mau jalan-jalan kemana?" tanya Vian.


"Kemana saja deh, aku mah ikut kamu saja."


"Gimana kalau di kamar saja. Lebih asyik." goda Vian.


"Modus deh."


"Kok modus sih, kan kita nggak memakan tenaga banyak kalau di kamar." Vian masih saja senyum-senyum menggoda Anita.


"Mana mungkin, di kamar pun tenagaku terkuras habis." kata Anita.


"Masa sih." Vian terkekeh.


Anita menggelengkan kepala, Vian melahap roti lalu meminum susu di hadapanya.


"Sayang, kita ambil foto disitu yuk." tunjuk Anita.


"Ok, ayo." Vian mengambil ponselnya.


Mereka berdua selfi-selfi, setelah bosan Vian menarik Anita dalam pelukanya.


"Sayang, kamu bahagia nggak?"


"Tentu saja sangat bahagia, kamu janji ya jangan tinggalin aku." kata Anita.


"Pasti, aku sangat sayang sama kamu."


"Tapi aku juga tidak akan punya anak."


"Kita berobat nanti ya, kamu jangan sedih. Kalaupun Tuhan tidak memberikan kita momongan ya sudah. Kita hidup berdua saja." Vian mengusap rambut Anita lalu mengecup keningnya.


"Makasih ya Sayang."


"Sama-sama sayang, kita akan lalui semua ini bersama-sama."

__ADS_1


Vian mengeratkan pelukanya mereka saling berciuman. Ciuman yang sangat mesra.


__ADS_2