
Makanan sudah tersedia di meja, Gio dan Indah tinggal
menunggu kedatangan Gilang saja. Setelah menunggu lima belas menit, Gilang
datang.
“Selamat malam Pak Gilang.” Gio menyambut Gilang.
“Selamat malam, Pak Gio.” Jawab Gilang.
“Selamat malam Pak Gilang.” Indah menyapa Gilang dengan
senyuman yang menurutnya manis.
“Benar-benar nggak punya malu ini orang, masih saja curi-curi
perhatian sama gue, apa kurang gertaan gue sama dia.” Batin Gilang.
“Tumben Pak Gio mengajak makan malam dadakan, apa?” tanya
Gilang.
“Tidak ada hal-hal lain Pak, saya cuma sekedar mau ngobrol
saja tentang proyek yang sedang kita tangani. Banyak hal yang saya tidak tahu,
jadi saya mau mengajak anda membahas disnini.” Kata Gio.
“Baiklah Pak.”
Mereka pun asyik membahas proyek yang sedang mereka kerjakan,
tak ada rasa curiga sedikit pun kalau itu hanya rekayasaan Gio. Semua mengalir
dengan apa adanya.
Sedang asyik ngobrol ponsel Gio berbunyi, dia meminta ijin
sama Gilang untuk mengangkat telponnya.
“Pak Gilang saya permisi dulu mengangkat telponnya.” Kata
Gio.
“Iya Pak, silahkan.”
Indah makan sambil mencuri pandang dengan Gilang, sedangkan
Gilang terus saja menghindar. Gilang mulai tidak nyaman dengan pandangan dan
gerak-gerik Indah.
“Pak Gilang mau kemana?” tanya Indah saat Gilang berdiri.
“Saya mau ke toilet sebentar.”
“OK, baik Pak.”
Indah mengerak-gerakkan garpunya, dia melihat tasnya sebentar
lalu tersenyum.
“Untung gue selalu bawa ini. Pak Gilang malam ini kamu tidak
akan bisa lepas.” Katanya sambil memasukan obat tidur ke dalam minuman Gilang.
Indah merasa sangat beruntung karena terus membawa obat tidur
kemana-mana untuk senjatanya mengelabuhi para lelaki yang akan menjadikan
korbannya.
“Pak Gilang, saya minta maaf banget. Orang rumah menelpon
saya agar segera pulang. Indah kamu bisa kan temani Pak Gilang makan malam.”
Kata Gio.
“Bisa kok Pak, Pak Gio nggak usah khawatir.” Katanya dengan
senang hati.
“Saya juga akan segera pulang kok Pak. Kita pulang sama-sama
saja.”Kata Gilang.
“Tapi Pak, ini makanan masih banyak. Bahkan Pak Gilang baru
makan sedikit.” Indah panik karena rencananya bakalan gagal.
“Iya Pak, saya tidak bisa menemani. Saya permisi dulu.”
Gilang sudah tidak minat lagi makan, dia meneguk habis air
putih di sampingnya.
“Saya permisi dulu Bu Indah.” Kata Gilang meninggalkan Indah.
“Iya Pak Gilang, hati-hati di jalan.” Katanya sabil
tersenyum. Dia tahu kalau obatnya akan segera bereaksi dan Gilang akan segera
jatuh tak berdaya.
Indah meneguk minumannya, lalu berjalan di belakang Gilang.
Gilang pun sempoyongan, kepalanya tiba-tiba saja pusing.
“Pak Gilang..Pak Gilang kenapa?” Indah berlari mendekati
Gilang yang terjatuh.
“Kepala saya tiba-tiba sakit, tolong carikan bantuan.” Kata
Gilang.
“Biar saya saja yang membantu bapak. Saya akan mengantarkan
bapak pulang.”
Indah memapah Gilang, dia sama sekali tidk punya niatan
mengantar pulang melainkan membawanya ke dalam hotel.
“Pak Gilang, kamu akan menjadi milikku selamanya.” Katanya.
Gilang sudah tidak sadarkan diri, dia sudah di bawa ke
__ADS_1
hotel. Namun di depan pintu Indah sudah
di hadang sama Lia.
“Indah maksud lo apa?” tanya Lia.
“Lia..” katanya dengan wajah kaget. “Lo ngapain disini?”
“Gue nggak nyangka lo bakalan main belakang sama gue. Lo mau
memiliki Gilang ya?!” Lia marah besar sama Indah.
“Kalau iya kenapa? Gue juga mau kali sama Gilang. Lagian ya
gue juga nggak pernah bilang kan kalau gue nggak mau sama Gilang.” Katanya
dengan santai.
“Lo berani sama gue?”
“Memangnya apa yang gue takutin dari lo? Ingat ya Lia lo sama
gue itu posisinya sama jangan berani membentak gue ataupun memerintah gue.”
Indah mendorong Lia lalu membuka pintu kamar.
Indah memidurkan Gilang, di tempat tidur baru dia kan urus
Lia. Namun sebelum sempat mengurus kepalanya tiba-tiba pusing, matanya tidak
kuat untuk terbuka.
“Gue kenapa ini?” katanya sambil memukuli kepalanya.
“Syukurin lo, makanya jangan macam-macam lo sama gue. Kena
karma kan lo.” Ujar Lia, dia mau mengangkat Gilang namun seseorang dari
belakang memebekapnya sampai dia pingsan.
“Ya Tuhan, akhirnya drama ini selesai juga.” Kata Gita setelah
dua penggoda itu pingsan di buatnya.
“Capek gue.” Kata Fara yang sejak tadi mengikuti gerak-gerik
mereka bersama Gita.
“Kalian berdua, silahkan mau apakan ini para penggoda. Ingat kalian
harus kirim foto saat kalian tidur bareng.” Kata Gita. Gita ingin foto-foto
mereka sebagai ancaman.
Meskipun itu hanya foto mereka berdampingan tidur, itu tidak
masalah karena akan menjadi senjata kuat buat mengancam mereka.
Dan beberpa video Indah dan Lia yang berkomplotan korupis
uang perusahaan Gio. Masih tersimpan
rapi, dan akan dia perlihatkan nanti.
“Terima kasih ya atas kerjasamannya.” Kata Gita kepada dua
“Sama-sama.”
Fara segera mengantar pulang Gilang dan Gita sebelum Gilang sadar.
Gita menciumi Gilang di mobil.
“Maaf ya sayang, kamu jadi gini, kasian banget kamu jadi
rebutan para penggoda. Untung kamu tidak diapa-apain.” Kata Gita langsung
memeluk Gilang.
“Git, tadi itu kecepetan sih adegan Lia sama Indah. Harusnya mereja
jambak-jambakan dulu. Baru seru.” Ujar Fara.
“Lo gila yang ada rencana runyam kali. Kak Gilang bangun
mereka juga bangun nggak jadi dapat apa-apa gue. Sia-sia doang jadiya.” Ujar
Gita.
“Kira-kira mereka diapain ya?” Fara mulai otakya kemana-mana
tidak jelas.
“Far, cukup ya. Lo tu ah..”
“Iya..Iya...., ngomong-ngomong ini gue pulangnya nanti
gimana?” tanya Fara.
“Dianterin Bani.” Bawel banget lo ya.”
Sesampai di rumah Gita langsung meminta bantuan Bani untuk
membawa Gilang ke kamarnya.
“Mbak, Mas Gilang kenapa?” tanya Bik siti cemas.
“Nggak apa-apa Bik, Cuma nggak enak badan saja. Bibik tolong
ya buatin teh yang agak panas.” Pinta Gita.
“Baik Mabk.”
“Gue balik ya Git, Raka bisa marah-marah nih kalau dia duluan
yang pulang.” Kata Fara.
“Ok, Makasih ya.” Gita memeluk Fara.
“Sama-sama, dah ah.. balik.” Melepaskna pelukanya Gita.
“Ban..Bani...” panggil Gita.
“Ya Mbak Gita.”
“Tolong anterin Mbak Fara pulang ya.”
“Siap Mbak Gita.”
__ADS_1
Gilang memegangi kepalanya yang masih pusing, matanya
perlahan terbuka. Dia melihat dirinya yang sudah berganti pakaain dan sudah
tidur di rumahnya.
Dia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam, terakhir yang
dia ketahui kepalanya pusing saat mau pulang.
“Sayang.. kamu sudah bangun?” tanya Gita sambil duduk di
sebelahnya.
“Aku kenapa ya, kepalaku pusing banget.” Katanya sambil
memegangi kepalanya.
“Semalam kamu tiba-tiba pingsan, Pak Gio menelpo aku lalu aku
samperin kamu ke sana.” Kata Gita.
“Aku pingsan?”
“Iya, kamu sih kebanyakan kerja jadi kecapean. Kamu mau
minum?” Tanya Gita.
“Ya boleh.” Kata Gilang. Gita mengambilkan cup berisi teh
yang sudah menghangat yang diasiapkan sebelum Gilang bangun.
“Makasih.”
“Gimana sayang sudah enakan?” tanya Gita.
“Lumayan enakan sih.”
“Lebih baik hari ini kamu nggak usah ke kantor dulu,
istirahat di rumah.” pinta Gita.
“Kalau aku istirahat di rumah, tentunya kamu juga harus
menemani aku istirahat. Kamu nggak boleh kerja.” Kata Gilang.
“Iya deh, aku temani suamiku.” Kata Gita menuju pelukan
Gilang.
“Maafin Gita ya Kak Gilang, sebenarnya Gita yang buat Kak
Gilang seperti ini.” Batin Gita.
Libur dadakan Gilang dan Gita di gunakan untuk bermain dengan
Aiden di rumah.
“Sayang...” Panggil Gita sama Aiden. Aiden dengan imutnya
langsung tersenyum membuat Gita dan Gilang gemas.
“Sudah lama sekali ya kita tidak seperti ini, anak kita sudah
mau besar juga.” Kata Gilang.
“Benar kita terlalu sibuk sama kerjaan, sampai-sampai kita
tidak punya waktu untuk Aiden.” Kata Gita.
“Iya, kita akan kehilangan banyak momen sama Aiden. Bagaimana
kalau setiap akhir pekan kita selalu gunakan untuk kumpul sama Aiden.” Gilang
mmberikan ide sama Gita.
“Ok, deal ya setiap liburan tita quality time bersama aku dan
Aiden.” Kata Gita.
“Iya, aku akan berusaha luanagkan waktu buat kalian.”
“Maaa...” terdengar lembut suara meemanggil ma. Gita langsung
menoleh ke Aiden yang sedang asik memegangi bola.
“Apa sayang, ayo bilang katakan lagi,” Kata Gita dengan
sumringah.
“Maaa.” Kata Aidn.
“Sayang, Aiden anak mama, anak pintar kamu sudah bisa panggil
mama. Ah.. sayang sama kamu banyak-banyak.” Gita menggendong lali menciuminya.
“Ayoo sekarang bilang.. Pa..Pa..pa.” Gilang mengajari Aiden
untuk memanggilnya. Namun Aiden justru
mengatakan Maaa... membuat Gita gemas.
“Ih.. kamu curang masa nggak mau panggil papa.” Kata Gilang.
“Sabar dong sayang, kan kalau anak yang di cari pertama pasti
memanya. Jadi kosa kata yang akan keluar pertama dari mulut anak kita Ya.. ma.”
Gita mengarang bebas.
“Filosofi darimana itu.” Ujar Gilang.
“Coba saja tanya orang-orang.”
“Cari makan yuk, lapar.” Kata Gilang.
“Mau cari makan atau minta bik siti masak aja. Aku mager mau
jalan-jalan capek.
“Ya udah deh, minta bik Siti aja masakain yang enak.” Kata
Gilang.
“OK siap suamiku tercinta, tersayang.” Kata Gita sambil
mencari Bik Siti.
__ADS_1