
Gita meregangkan kedua tangannya, badanya terasa pegal semua. Rasanya lebih capek dari hari biasanya.
Dia bangun langsung mengecek box Aiden, kedua matanya langsung melotot saat Aiden tidak ada di boxnya.
"Sayang, kamu kemana nak?" tanya Gita sembari berjongkok di kolong box. Gita panik karena tak menemukan Aiden.
"Sayang..sayang.." Gita menggoyangkan tubuh Gilang.
"Em.." Gilang menggeliat.
"Sayang... Bangun..."
"Ada apa sayang." Gilang duduk. "Kamu kenapa menangis?" Gilang mengusap air mata Gita.
“Aiden nggak ada sayang, Aiden ilang.” Gita menangis dia turun lalu menunjuk box bayinya yang kosong.
“Kamu terlalu capek sayang sampai-sampai kamu lupakan kalau mulai kemarin Aiden tidur sama Bik Siti?” Kata Gilang sambil mengusap rambut Gita.
“Ya ampun lupa aku. Maafin aku ya sayang jadi bangunin kamu sepagi ini.” Kata Gita.
“Nggak apa-apa sayang, ayo tidur lagi.” ajak Gilang.
“Aku mau ambil Aiden dulu, nggak bisa tidur dengan tenang.” Kata Gita.
“Ya udah, aku mau tidur lagi ya.” Kata Gilang sambil menarik selimut. Gita mengangguk lalu pergi ke kamar Bik Siti untuk menemui Aiden.
Gita mengetuk pintu Bik Siti pelan, “Bik-bik Siti?” Panggil Gita pelan.
Tak lama terdengar jawaban dari Bik Siti pelan, dan pintu pun terbuka.
“Ada apa Mbak?”
“Bik, Gita ambil Aiden ya. Nggak bisa tidur Gita kebangun terus.” Kata Gita.
“Iya Mbak, gendong aja ke kamar nanti kalau udah pagi biar Bibik ambil lagi.” Kata Bik Siti.
“Maaf ya bik, jadi gangguin tidurnya Bik Siti.”
Gita menggending Aiden ke kamar lagi, dia menidurkan di pangkuannya.
"Hai gantengnya mama, kebangun ya maafin. Soalnya mama kengen sama kamu." Gita mencium pipi Aiden.
Aiden tersenyum lebar, dia bertingkah sangat gemes membuat Gita ingin menggigitnya.
"Kamu kangen nggak sama mama, pasti kangen kan. Besok weekend kita jalan—jalan sama mama sama papa." Kata Gita yang di sambut senyuman Aiden.
...----------------...
__ADS_1
Gita buru-buru berangkat ke kantor, hari ini dia janjian pukul delapan tapi dia kesiangan jadi buru-buru.
"Sayang, buruan sudah mau telat aku." Kata Gita sambil membawa roti untuk sarapan.
"Memangnya kamu ada jam telatnya?" kata Gilang.
"Em?" Gita memandang Gilang.
"Kamu pasti kemarin nggak dengerin aku ngomong, kamu itu nggak ada kata terlambat ke kantor. Kamu datang bebas nggak ada kata telat-telat buat kamu." Kata Gilang.
"Kamu tidak profesional dong."
"Aku tidak peduli, tidak ada yang boleh mengomentari, ataupun mengganggu keputusan aku yang satu ini." Gilang tidak peduli mau dibilang profesional atau tidak. Yang pasti Gita nyaman dengan aktivitasnya.
"Nanti gaji aku gimana?"
"Masih mikirin gaji lagi. Bukannya semua uangku juga uang kamu." Kata Gilang sambil melirik ke arah Gita. Gita meringis lalu tertawa kecil.
"Bilang sama team kamu, suruh berangkat duluan. Aku anterin kamu sekalian." Gilang memilih langsung nganterin Gita dulu.
"Kamu nggak apa-apa nganterin aku dulu?"
"Nggak apa-apa, udah buruan telpon biar mereka berangkat dulu. Kamu nggak akan keburu kalau harus ke kantor dulu. Orang ini macet banget ini jalannya."
"Iya, aku telpon yang lain."
Gilang sibuk mencari jalan agar Gita bisa cepat sampai di tempat survei. Sedangkan Gita sibuk memakan sarapannya.
"Ok, baiklah kita jalan-jalan. Mau kemana?"
"Jalan-jalan dekat-dekat sini saja. Kita makan habisin waktu bertiga saja." Kata Gita.
"Baiklah. Sudah sana turun udah sampai." Kata Gilang.
"Ah.. Udah sampai." Gita sibuk mempersiapkan barang-barang yang akan di bawanya. Gilang turun mobil dulu lalu membukakan pintu mobil.
"Makasih sayang." Kata Gita sambil turun. Tangan Gilang langsung memegang atas pintu, agar Gita tidak tejedot pintu. Dan benar, perhitungan Gilang sehingga kepala Gita mengenai tanganya.
Gita mengambil tangan Gilang lalu mengecupnya, setelah itu dia mencium pipi dan Bibir dengan cepat.
"Makasih sayang, kamu hati-hati ya." Gita memeluk Gilang.
"Buk..buk... Buruan sudah telat. Pacarannya nanti lagi ya!" tetiak Vian.
"Ganggu aja. Da..da.. Sayang."
"Da..da.."
__ADS_1
Mereka langsung survai untuk proyek baru, tempatnya lumayan bagus untuk syuting iklan terbaru dari produk mereka.
"Jadi ingat dulu waktu survei pertama kali." Kata Fara.
"Iya, waktu masih jadi anak magang." Kata Gita.
"Awas ya kalian buat masalah, gue tendang kalian satu persatu." Kata Nino. Dia sebenarnya was-was pergi sama orang-orang konyol seperti mereka.
"Tenang Mas, kita itu sekarang bukan anak magang lagi." Kata Vian.
"Iya Mas, jangan negatif terus sama kita." kata Gita.
Survei tidak berlangsung lama karena tempatnya sudah bagus dan layak untuk syuting. Mereka langsung kembali ke kantor lagi pas jam makan siang.
"Langsung mau pulang ke kantor apa makan dulu?" tanya Gita.
"Makan dulu aja kali ya." Ajak Anita.
"Mas, boleh nggak makan dulu?" Gita tanya sama Nino.
"Udah di pesanin makan sama Win, kita disuruh makan di kantor." Kata Win setelah membaca pesan dari Win.
"Ok, baiklah." Jawab mereka serentak.
Mereka pun bergegas langsung ke kantor, Vian langsung tancap gas. Nino langsung tidur, dia selalu menggunakan waktu perjalanan untuk tidur. Sedangkan cewek-cewek menghabiskan waktu untuk ngobrol, makan dan juga gibahin orang - orang yang tak di kenal. Dan Vian selalu menjadi sopir sekaligus pendengar gibahan teman-temannya.
"Guys lihat deh.." Fara menunjukan ponselnya kepada Gita dan Anita.
"Secepat itu? Kamu pasti selama ini main hati kan sama Vian." Baca Gita keras-keras.
"Wah.. Apa tuh kok bawa-bawa nama gue." Vian melihat dari spion depan.
"Lo sih Git, kan gue jadi yang kena. Pasti pikir dia gue yang selingkuh." Kata Anita dengan wajah sedih.
"Ih.. Jangan sedih begitu. Biarin aja dia pikir gitu. Sini biar gue balas dia." Gita mengambil ponsel dari tangan Fara.
Gita membalas Bayu, dia tidak terima kalau tamannya di sudutkan.
"Kalau lo aja bisa bisa nikah lagi, kenapa Anita nggak boleh bahagia sama yang lain. Gue jawab gini gimana?" tanya Gita.
"Udah kirim aja, biarin aja makin panas." Fara langsung mengirimnya.
"Wah.. Gue bakalan kena getah dari kelakuan kalian nih." Vian benar-benar pasrah sama kelakuan Gita dan Fara.
"Udah hapus aja, kasian Vian." pinta Anita.
"Udah biarin saja, toh Vian nggak akan pernah ketemu sama mereka. Lo juga bakalan cerai dan nggak bakalan ketemu setelah sidang." kata Gita.
__ADS_1
"Lo beneran udah mau cerai?" Tanya Vian.
"Iya, gue udah capek."