Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Penggoda


__ADS_3

Gita menaruh cangkir berisikan teh


hangat dan beberapa cemilan untuk Gilang, dia juga menyiapkan baju untuk


Gilang. Sembari menunggu selesai mandi Gita menata bunga mawar pemberian Gilang


di kamarnya.


“Enaknya taruh mana ya?” ucapnya sambil


memindah-mindah mawar agar terlihat sesuai.


Ponsel Gilang berdering, awalnya cuek


saja karena itu privasi Gilang jadi dia tidak ingin tahu. Namun setelah


beberapa kali berdering membuat Gita terganggu. Dia melihat ke layar ponsel


Gilang yang ada di atas kasur.


“Sayang ada telepon!” teriak Gita.


“Siapa?”


“Nggak tahu, nggak ada namanya.”


“Angkat aja.” Gilang menyuruh Arumi mengangkat


teleponnya.


“Nggak apa-apa aku yang angkat?” Gita


ragu.


“Iya, bilang saja kamu wakilnya kalau


memang dia ingin menyampaikan hal penting.” Gilang tidak pernah keberatan kalau


Gita mengangkatkan telepon untuknya.


“Iya sayang.” Gita mengkat teleponnya,


dia menaruh di telinga.


“Selamat sore Pak Gilang, kenapa Pak


Gilang tadi tidak datang meeting.” Katanya centil dan Gita bisa menebak kalau


nomor ini pasti milik cewek ganjen yang sedang tergila-gila sama Gilang.


“Bapak kenapa selalu menyuruh asisten


bapak sih, padahal kan saya selalu membawakan makanan spesial untuk bapak.” Cerocosnya


yang membuat Gita panas hati.


“Halo, lo bisa nggak berhenti mengganggu


suami gue. Apa tidak bisa lo mencari lelaki lain di luaran sana yang masih


singgel. Gilang sudah mau memiliki anak kenapa lo terus mengubernya. Segitu


tidak lakukah lo?” Gita geram dia ingin sekali menjambak rambut Lia.


“Iini.. istrinya Pak Gilang?” Lia gugup.


“Iya, gue istrinya. Selama ini gue diam


karena masih sabar sama anak kecil macam lo. Tapi lama kelamaan lo itu tidak


tahu diri. Lo pikir dengan begini Gilang bakalan tergoda sama lo. Tidak, dia


jijik sama lo, lagian dia itu cinta mati sama gue. Jadi buang jauh-jauh niatan


lo buat gaet Gilang atau lo akan tahu akibatnya.” Kata Gita tegas. Dia


mengancam Lia kalau sampai macam-macam dengannya. Yang pasti Gita akan kerahkan


teman-temannya untuk mengurusnya.


“Jangan terlalu percaya diri, kalau


Gilang itu cinta mati sama lo. Lihat saja perbedaan kita, harusya lo sadar diri


Gilang itu bisa mendapatkan orang yang lebih baik dari lo. Karena lo hanya

__ADS_1


beban buat dia. Lihat saja nyonya Gita, kalau Gilang akan segera pindah tangan.”


“Coba saja kalau lo mampu.” Gita


mematikan sambungan teleponnya dan melepar ponsel Gilang ke kasur.


Gita memejamkan matanya, mengkontrol


emosinya agar tidak meledak. Dia menghirup napas panjang lalu menghelaikannya


perlahan.


Gilang mengerutkan keningnya, “Kamu mau


lahiran sayang?” Ucapnya sambil berjalan mendekati Gita.


Gita hanya diam, dia duduk di kasur dan


menaikan kakinya, dia menyelimuti tubuhnya sampai kepala.


“Ada apa lagi nih, pasti ada yang tidak


beres.” Batin Gilang, dia mengambil ponsel miliknya yang ada di sampingnya.


“Siapa yang telpon sayang?” Gilang


mengecek ponselnya. Sedangkan Gita tidak respon sama sekali.


Gilang membuka selimut Gita, dia


menghela napas melihat wajah Gita yang manun.


“Kamu kenapa lagi sayang? Baru saja aku


melihat kamu senyum manis sudah cemberut lagi.”


Gita duduk, dia menatap tajam Gilang


ingin sekali dia marah-marah namun dia tidak kuasa yang ada pasti dia hanya


akan menangis.


“Kamu selingkuh ya?” katanya dengan


kedua mata yang sudah berkaca-kaca.


mungkin aku selingkuh dari kamu.”


“Cewek gatel itu terus menelpon kamu,


dia sudah menyiapkan inilah itulah. Aku tahu memang aku tak sebanding dengan


dia. Aku hanya karyawab biasa, jelek dan tidak sexy seperti dia.” Gita


mengeluarkan kekesalanya.


“Sayang..”


“Kalau kamu memang sudah tidak suka aku,


tinggalkan saja aku tak perlu kamu mendua.” Gita terus saja nyerocos sampai


Gilang tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan.


Gilang kesal, dia langsung membungkam


Gita dengan mencium bibirnya. Seketika Gita terdiam, matanya sedikit terbelalak


karena dia kaget.


Gita mendorong Gilang, “Kamu jangan


menggodaku, aku sedang marah sama kamu.” Ucapnya.


“Bukan aku yang menggoda kamu, tapi kamu


yang terus menggodaku.” Kata Gilang. Dia kembali mencium Gita, perlahan dia


menidurkan Gita sehingga dia bisa menikmati ciumannya yang lebih dalam.


“Aku kan sudah bilang sedang marah sama


kamu.” Kata Gita kembali mendorong Gilang agar menjauh darinya.


“Tapi aku sedang merindukan kamu.”

__ADS_1


Gilang mencium belakang leher saat Gita menghindar untuk di cium bibirnya.


“Kamu perlu tahu, kalau kamu itu selalu


membuat aku jatuh cinta lagi dan lagi. Kamu selalu membuat aku ketagihan, kamu


makanan favorit aku bagaimana bisa aku pindah ke lain hati yang belum tentu


senikmat kamu.” Gilang mulai mencium dada Gita yang membuat Gita berubah panas


dingin.


“Dasar gombal.” Ucap Gita.


“Ini bukan gomalan semata, tapi ini


benar-benar keseriusan dari aku. Aku sama sekali tidak pernah bertemu dia lagi.


Kalau ada kerjaan sama dia pasti Lila yang aku suruh kesana.” Perlahan Gilang


menjelaskan sama Gita. Dia tidak akan pernah bisa menjelaskan langsung disaat


Gita emosi yang ada hanya akan berantem.


“Tapi dia bilang..”


“Jangan dengarkan dia.” Gilang mengecup


bibir Gita lagi, dia tidak mau membuat Gita berasumsi lain dengan ucapan Lia yang


pasti aneh-aneh.


“Cukup dengarkan aku, percaya sama aku.


Kamu mengerti?” Gilang menatap Gita dengan penuh harapan kalau sang istri


bakalan percaya dengannya di bandingkan orang lain. Gita mengangguk, meskipun


suka labil tapi sebenarnya dia percaya sama suaminya itu.


“Terima kasih sayang, kamu sudah mau


percaya sama aku.”


“Iya sayang, maafkan aku yang suka


labil.”


“Tidak masalah bagi aku, asal kamu tidak


pernah meninggalkanku.” Gilang mencium kening Gita.


Gilang ingin kembali menikmati Gita,


namun kembali di tahan.


“Minum dulu tehnya nanti dingin.”


Ujarnya sambil mendorong Gilang. Gita pun ikut duduk di samping Gita.


“Aku tidak mau teh, aku maunya kamu.”


Gilang kembali menaikan Gita di ranjang. Dia ingin melepas penatnya dengan


bermesraan dengan Gita.


“Dasar nakal.” Kata Gita.


“Kok nakal sih, kan aku cuma mau


beristirahat.” Ucapnya.


“Kalau istirahat itu tidur, istirahat


kok malah mau lembur.” Goda Gita dengan menggeser tubuhnya.


“Ya kalau sama kamu itu bukan lembur,


tapi happy-happy.” Kata Gilang sambil cengar-cengir. “Sinilah sayang, aku tuh


haus banget.”


“Kalau haus itu ada teh udah aku siapin.”


“Aku hausakan ciuman kamu.” Gilang

__ADS_1


memeluk Gilang dan menutup selimut sampai kepala mereka berdua.


__ADS_2