Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Gita Ngambek II


__ADS_3

Win masuk langsung menbubarkan gerombolan anak buahnya. Yang terdeteksi bergosip di pagi hari.


"Ada apa nih pagi-pagi sudah bergerombol saja. Gosip aja kerjaannya, biasakan gitu loh kerja dulu gosipnya nanti siangan." Omel Win.


"Nggak gosip Mas, lagi curhat dong mah.." Kata Vian menirukan seperti acara di tv."


"Pagi-pagi udah main curhat-curhatan saja, kerja dipikirin. Gimana konsepnyasudah jadi belun Vian?" tanya Win.


"Sudah Mas, tinggal pelaksanaan saja." Kata Vian.


"Bagus kalau gitu." kata Win.


"Mas, ngomong-ngomong Mbak Ina kemana?" tanya Anita ketika sadar Ina belum datang.


"Iya, Ina ijin karena anak kita demam."


"Udah di bawa ke dokter belum mas?" tanya Gita. Seakan kemarahanya luntur mendengat anak Win sakit. Sebagai seorang ibu dia ikut merasa cemas, dia jadi ingat Aiden.


"Sudah, mungkin sebentar lagi Ina akan segera resign." Kata Win.


"Loh.. Kenapa?" Gita kaget.


"Dia mau mengurus anak kita, biar lebih fokus." jelas Win.


"Yaah.. Nggak seru dong nggak ada Mbak Ina." kata Fara. Yang pasti kalau Ina resign nanti kalau Win marah-marah tidak ada pawangnya.


"Ya tapi gue juga belum tahu pasti, dia masih bingung juga. Sudah yuk, masih pagi kok malah curhat keluarga. Sekarang kalian akan bertemu dengan Klien sudah di tunggu di ruang meeting."


"Kita semua?" tanya Vian.


"Em.. Lo, Nino, Anita sama Gita saja. Fara lo disini temani gue." Kata Win.


"Siap Mas Win." jawab Fara dengan senang hati.


Mereka berempat langsung bergegas pergi, Gita menghentikan langkahnya dan langsung jongkok saat dia tahu bertemu kliennya sama Gilang dan juga cewek yang kemarin.


"Git, lo ngapain? Jangan aneh-aneh lo."Vian mendelik kearah Gita.


"Gue ke ruangan dulu sebentar." Gita jalan jongkok agar dia tidak terlihat sama Gilang.


Gita berdiri saar sampai di depan pintu ruangannya. Dia menoleh ke belakang lalu segera masuk.


"Loh.. Lo ngapain balik lagi kesini?" tanya Mas Win.


"Mas Win, Gita disini aja deh. Biarin Fara aja yang ikut meeting." Pinta Gita.


"Ada emang? Lo buat masalah lagi?"


"Belum. Eh.. Maksud Gita daripada nanti buat masalah lagi mending Fara saja yang ikut."


"Ya udah Fara buruan kesana, nanti keburu telat." kata Win.

__ADS_1


"Iya Mas."


Gita bernapas lega karena tidak harus berhadapan dengan Gilang dan juga cewek ngeselin itu.


Sedangkan Gilang masih celingukan di depan pintu. Dia lihat jelas tadi Gita di belakang Vian sekarang sudah menghilang.


"Cariin siapa Kak Gilang?" tanya Fara yang baru saja datang.


"Gita."


"Oh.. Dia di ruanganya, tadinya dia yang disuruh meeting, tapi tiba-tiba menyuruh gue yang datang.Perlu gue panggilin."


"Nggak usah, lo buruan masuk aja." Kata Gilang. Fara mengangguk lalu masuk duluan."Gilang menyuruh Fara masuk duluan.


"Gita benar-benar menghindari gue." keluh Gilang.


...----------------...


Tuk...tuk... Anita mengetuk pintu ruangan pelan. Win dan Gita menoleh bersamaan.


"Ada apa?"


"Pak Gilang meminta untuk satu team pergi makan bareng bersama klien." Anita memberikan kabar.


"Ok." Win siap-siap.


"Gue nggak ikut ya."


"Mas, kali ini aja,Please." Gita memohon. Dia masih malas bertemu Gilang.


"Tidak ada alasan ya. Buruan!"


Dengan malas Gita pun akhirnya mau ikut, dia berjalan di belang Win dan Fara agar tidak terlihat Gilang.


Gilang sudah menunggu Gita, dia membuka pintu mobil untuknya. Namun dia melipir memilih ikut dengan Vian.


"Eh.. Lo ngapain disini." kata Vian.


"Diam." kata Gita sambil menutup pintu keras.


"Wuuh... Gak main-main ini anak ngambeknya." Vian bergegas naik ke mobil.


Sesampai di restauran Gilang sudah menyiapkan kursi untuk Gita, namun Gita melewatinya. Dia memilih paling pojok sehingga jauh dari Gilang.


"Sebenarnya lo buat kesalahan apaan sih. Pusing gue lihatnya kalau Gita ngambek." Vian mulai di buat pusing sama Gita.


"Lo saja yang ketemunya bentar pusing gimana gue coba, semua cara gue lakuin biar bisa baikan tetap saja menghindar." Keluh Gilang.


"Lo berbuat apa?"


"Gue dikira belain sekretaris Pak Gio, padahal gue nggak bermaksud seperti itu." jelas Gilang.

__ADS_1


"Lo mah ada-ada aja sih, tahu nggak yang kena semua orang kalau bini lo marah tuh." Kata Vian.


"Pak Gilang, silahkan duduk."


"Iya Pak Gio."


Vian langsung mengambil tempat duduk sebelah dengan Gita. Mereka menikmati makan siang bersama, Gilang memcuri-curi pandang ke arah Gita meskipun sangat jauh. Dan Gita pun sengaja duduk sedikit mundur biar tidak kelihatan.


"Makan yang bener kenapa Git, ntar lo sakit." Fara mengbilkan daging ke piring Gita.


"Ih.. Jangan banyak-banyak ntar kalau gue gendut lagi gimana?" Gita ingin mengembalikan namun di tahan Fara.


"Mau gendut, mau kurus suami lo juga bakalan cinta sama lo. Nggak usah takut gendut kenapa." Fara mengomeli Gita.


"Iya...iya.. Nit, itu bola-bola apaan gue mau kayaknya enak." Gita ingin mencobanya.


"Jangan..jangan... Kembalikan itu udang. Jangan cari penyakit." Anita mengambil dari tangan Gita.


"Yaah... Itu enak banget kayaknya." Gita manyun.


"Lo alergi udan?" tanya Nino. Gita mengangguk pelan, dia sebenarnya ingin banget makan udang sejak dulu, hanya saja terjalang alerginya.


Gilang berjalan membawakan cumi kesukaan Gita. Gilang menggeser udang dan menggantinya dengan cumi dengan porsi besar.


"Makasih..." Kata Gita dari nada biasa hingga merendah, senyum bibirnya pun memudar saat tahu Gilang yang memberinya.


"Sama-sama, buruan makan yang banyak kalau kurang pesan saja lagi." Kata Gilang tersenyum.


"Tuh.. Suami punya niatan baik loh untuk baikan masih saja ngambek." Kata Vian.


Gita hanya diam saja, dia memindah daging ke piring Vian lalu menggantinya dengan cumi.


Meskipun Gita belum mau memaafkanya setidaknya pemberkannya dia terima.


"Pak Gilang sangat perhatian sekali sama karyawannya. Pasti menjadi idola di kantor." Kata Indah.


"Benar, bos kita ini memang selalu menjadi idola sejak dulu." Kata Vian.


"Sungguh bos idaman semua karyawan pasti, sepertinya saya harus belajar dari anda Pak Gilang." Kata Gio.


"Setiap orang pasti punya cara sendiri untuk mengatur dan membuatnyan karyawanya bukan. " Jawab Gilang.


Gita menatap Indah yang terlihat terpesona dengan Gilang. Bahkan Indah berusaha perhatian menawarkan makan untuk Gilang dan mengambilkannya.


Gita semakin kesal, dia makan kayak kesurupan saking kesalnya.


"Git, pelan-pelan kenapa. Lo kok jadi kayak orang kesurupan gini sih." Mas Nino geleng kepala.


"Diam." Kata Gita.


"Udahlah Mas, macan betina sedang ngamuk nggak usah di tanya-tanya biarin aja." Kata Vian yang mendapat pelototan dari Gita.

__ADS_1


__ADS_2