
"Sayang...Mama pulang." seru Fara saat sampai rumah. Dia langsung mencari Rafa.
"Mamam.." kata anak kecil berumur dua tahun itu nyamperin mamanya.
"Uluh..uluh.. Anak mama pinter banget ya." Fara duduk di sofa lalu memangku Rafa. "Sini anak pinter, biar mama yang batuin mamam." Gita meminta mangkuk dari pembantunya.
"Bik, Mas Raka sudah pulang belum?" tanya Fara.
"Belum Mbak, mungkin sebentar lagi."
Setelah selesai membantu Rafa makan, dan menemani bermain sebentar. Fara langsung pergi mandi tak lupa dia menyiapkan baju ganti untuk Raka. Jadi ketika dia datang, semua sudah siap.
Fara turun kembali selesai mandi, dia menunggu suaminya pulang sambil menonton tv dan juga bermain hp.
Fara
Git, jadinya lo kasih kado nggak?
Gita
Nggak, gue udah percayain sama Vian aja.
Fara
Lo yakin, Vian bakalan sukses kasih kadonya?
Gita
Yakin, tenang saja. Kali ini dia tidak akan kecewain kita semua.
Fara
Dariamana lo tahu, apa Vian udah kasih tahu lo. Tapi nggak kasih tahu gue. Wah kalian jahat sekali.
Fara langsung menghubungi Gita, dia merasa tak di anggap karena tidak di beri tahu sendiri rencana Vian.
"Halo." Tidak pakai lama Gita langsung mengangkat telpon Fara.
"Ada apa?"
"Lo jahat nggak ngasih tahu gue." Cerocos Fara.
"Kasih tahu apaan sih?" tanya Gita tidak mengerti.
"Rencana Vian."
"Yaelah, gue aja nggak ngerti apa rencananya."
"Tapi kok lo bisa percaya seratus persen sama dia." Fara masih tidak percaya kalau Gita tidak tahu.
"Dengerin deh jangan ngomel mulu, kasus kali ini beda. Ada simpati yang luar biasa di hati Vian. Jadi gue rasa dia bakalan melakukan yang terbaik. Ngerti nggak lo?"
"Ah.. Ya..ya.. Gue ngerti sekarang. Ya sudah gue tutup dulu suami gue pulang." Fara langsung menatikan sambungan teleponnya.
Dia berlari membukakan pintu untuk Raka.
"Sini sayang biar aku bawain tasnya." Fara mau mengambil tas yang di bawa Raka namun tidak di berinya.
"Aku masih sanggup bawanya." ujar Raka.
"Sayang, aku udah siapin baju, air anget juga ya. Aku tunggu di bawah." Kata Fara kembali duduk di sofa bermain lagi sama Rafa.
__ADS_1
"Siap sayang."
...----------------...
Selesai mandi Raka bergegas menemui Fara dan Rafa. Mereka bermain bersama, keluarga kecil yang sangat harmonis meskipun banyak perdebatan setiap harinya karena Fara yang suka ngeyel.
"Sayang." panggil Raka.
"Hem." Fara mengangkat kepalanya.
"Tumben kamu santai banget."
"Maksud kamu?"
"Kamu nggak ribet cari kado buat Bayu sama calonnya yang baru." Raka heran istrinya yang biasanya heboh adem ayem saja.
"Oooo, emang aku nggak cari."
"Tumben. Em.. Tapi kamu nggak sedang merencanakan yang aneh-aneh kan." Raka memandang Fara lekat.
"Nggak sayangku, kenapa sih pikiranya negatif mulu." Fara mengelus pipi Raka.
"Nggak negatif gimana, tiap hari bikin jantungan." Tukas Raka.
"He-he. Segitunya ya aku." Fara tersenyum malu. Ternyata tingkahnya selama ini memang aneh.
"Em.."
"Tapi kamu tetap cinta kan sama aku?" Fara mempertanyakan perasaan Raka.
"Tentu saja." Raka duduk mendekat kepada Fara.
"Kenapa sih, masa dekati istri sendiri nggak boleh." Raka semakin mendekat hingga menempel ke tubuh Fara.
"Lihat sayang, Rafa pinter banget kan." Fara menunjuk Rafa yang sedang asyik bermain sama bibik.
"Iya, dia menjadi bayi yang sangat aktif." Ujar Raka.
"Jangan cepat-cepat gede ya anak mama." Fara memandang Rafa lekat. Rasanya tak ingin anak itu cepat-cepat dewasa yang akan membuatnya kangen.
"Ya jangan, biarin cepat gede menikmati hidup ini." Raka tidak setuju dengan Fara.
"Nanti kalau dia cepat gede, udah nggak mau lagi di sayang-sayang sama mamanya. Pasti nanti akan lebih sayang sama pacarnya, main sama teman-temannya terus." Oceh Fara.
"Ya nanti kalau agak gedean, kita kasih adik buat dia. Kita mulai produksi sekarang saja." Bisik Raka di telingan Fara.
"Iihh.. Genit deh. Sanaan." Fara mendorong Raka agar sedikit menjauh.
"Kenapa sih jauh-jauh." Raka mendekati Fara dan langsung mencium pipi kiri Fara.
"Jangan genit, nanti bibik lihat loh." Fara mendorong tubuh kekar Raka.
"Lihat juga nggak apa-apa."
"Jahat, nanti kalau bibi kepingin gimana?"
"Nggak..nggak,"
"Sok tahu kamu mah."
"Bik, pingin nggak?"
__ADS_1
"Nggak Mas." Jawab Bibik sambil tersenyum melihat tingkah kedua majikannya itu.
"Tuh dengar nggak bibik nggak kepingin juga." Fara menepuk lengan Raka keras-keras sampai meringis.
Raka menyenggol lengan Fara, sambil mengkode kode dengan matanya.
"Apa?"
"Rafa sudah tidur sama bibik."
"Terus?"
"Sekarang waktunya kita juga untuk tidur." Raka mempertegas kodenya. Dia menggendong Fara membawanya ke kamar.
"Heh.. kamu ya nakal banget." Fara menepuk dada Raka pelan.
"Kamu yang nakal, orang pingin manja-manja kok nggak boleh." Raka menurunkan Fara di kasur.
Raka mengurung Fara dengan kedua tanganya yang kekar. Sehingga Fara tidak bisa kabur kemana-mana.
Raka mulai mencium Fara dari kening, mata, Hidung lalu membiarkan bibirnya menempel lama di bibir Fara. Tanpa melakukan apa-apa.
Fara membuka matanya, Raka tersenyum melihat Fara sedikit bingung dengan dirinya.
Raka kemudian mencium bibir Fara dengan cepat, namun bertubi-tubi.
"Kamu kenapa hari ini?" tanya Fara.
"Nggak kenapa-kenapa? Cuma mau berduaan saja sama kamu. Menikmati malam yang indah bersama." Katanya sambil mencium kening Fara.
Fara melingkarkan tangannya di leher Raka.
"Sayangnya aku sudah mengantuk." goda Fara.
"Tidak boleh ngantuk dulu, sekali saja." Raka memohon.
"Apa hadiah untuk aku, kalau aku memberikan malam ini."
"Apapun yang kamu minta, sayang." Raka tidak mau basa-basi lagi. Dia langsung menyerang bibir Fara. Dia sudah tidak bermain lembut lagi.
Derrtzz...deerrrrzzz.... Ponsel Raka berbunyi berkali-kali.
"Sayang... Itu telpon kamu berbunyi terus." Kata Fara.
"Ya ampun siapa sih mengganggu saja." Omel Raka.
"Angkat dulu." Kata Fara.
"Biarkan saja lah, lagian sudah malam." Raka tidak memperdulikannya. Dia sedang ingin bemesraan dengan Fara. Dia kembali ingin menikmati bibir Fara namun di tahannya.
"Nanti kalau penting gimana, angkat sebentar saja. Toh aku masih bersama kamu, nggak kemana-mana juga." Kata Fara.
"Baiklah." Raka terus ngedumel, dalam hati dia sudah mengumpat kalau saja tidak penting dia pasti akan memarahinya habis-habisan ancamnya.
Tak lama Raka kembali lagi ke tempat tidur tapi sayangnya Fara sudah terlelap tidur.
"Kan, tidur juga. Dasar." Raka mendengus kesal.
Dia mencium Fara, lalu memakaikan selimut. Dia hanya bisa memeluk erat Fara.
"I love you, cintaku." Bisik Raka di telingan Fara.
__ADS_1