
Tuk..tuk..
Vian mengetuk kaca mobil, Anita tersenyum sambil membuka kaca jendelanya.
“Akhirnya kalian datang juga.” Kata Anita.
“Sorry, tadi perijinan agak sulit.” Kata Gita sambil naik ke mobil.
“Iya, bujuk pak bosnya lumayan lama mana nungguin meeting sama klien lagi.” Ujar Fara.
“Vian buruan cabut yuk.” Kata Fara.
“Ok, kita mau kemana?” tanya Vian.
“Terserah, gue ikut aja kalian mau kemana.” Kata Anita.
Vian menoleh
kearah Gita dan Fara, dia meminta pendapat tentang tempat yang akan mereka
tuju.
“Gimana kalau kita makan ice cream yang ada di dekat sekolah kita dulu.” Saran Fara.
“Jangan, itu hanya akan membuat Anita semakin mengingat Kak Bayu. Gue ada ide gimana kalau kita makan bakso mercon yang ada di dekat rumah kita.” Ajak Gita.
“Boleh-boleh, sekalian biar Anita luapkan kekesalanya dengan makan pedas.” Kata Fara.
“Harusnya kan kasih yang dingin-dingin kenapa di panasin gini sih.” Kata Vian.
“Ya terus kita mau kemana Vian?” Keluh Gita.
“Ikut gue aja, kalian pasti senang lihat tempatnya.” Kata Vian.
“Ok.”
Sepanjang perjalan menuju tempat yang disarankan Vian, Gita dan Fara mencoba menghibur Anita. Sampai akhirnya mereka pada tidur karena perjalanan jauh, tinggal Vian
sendirian.
“Bangun, udah sampai.” Vian membangunkan teman-temannya.
Mereka bertiga langsung membuka mata, Gita meregangkan kedua tangannya yang pegal karena menggendong Aiden. Gita menyiapkan troli untuk membawa Aiden agar dia tidak menggendongnya.
“Sayang, kita jalan-jalan.” Katanya sambil mendorong trolinya.
“Ih.. tempatnya bagus deh. Kapan-kapan kita datang kesini bareng-bareng lagi yuk. Gue
mau ajak Raka sama Rafa sekalian.” Kata Fara.
“Ok, boleh-boleh aja. Gimana kalau weekend besok kita atur aja jalan-jalan.” Gita
setuju. Sudah lama juga mereka tidak jalan-jalan bareng di tambah lagi setelah
dia melahirkan.
Mereka seru
ngobrol namun Anita seakan tidak tertarik mengobrol bareng Gita, Fara dan Vian.
Dia terus memandangi ponselnya, dengan mata yang nanar.
“Nit, kita
datang kesini buat temani lo. Tapi lo kenapa asyik sama hp lo?” tanya Vian.
“Em..” Anita
kaget.
“Apaan sih
yang lo lihat, kenapa lo nggak happy masih saja sedih. Kita udah jauh-jauh
kesini biar lo seneng.” Kata Fara.
“Sorry..”
Anita menaruh ponselnya.
“Apa sih
yang lo lihat?” Gita mengambil ponsel milik Anita.
__ADS_1
Dia membaca
pesan dari nomor baru, sepertinya dia adalah calon istri Bayu yang mengirimkan foto
pertunangannya. Dia juga mengirim kata-kata yang menyakiti hati Anita.
“Sialan
cewek ini, gue pingin banget jambak rambutnya.” Gita tersulut emosi.
“Ada apaan
sih Git?” Fara melihat ponsel milik Anita. Fara pun sama emosinya saat membaca pesannya.
“Memang
tidak tahu diri ya.” Katanya sambil menekan gambar telepon. Fara langsung
menlpon nomor itu.
“Eh.. Fara lo ngapain?” Anita meminta ponselnya namun Fara langsung berdiri agar tak di ambil oleh Anita.
“Halo..”
“Heh! Cewek murahan..
perebut suami orang! Lo mau tunangan, nikah atau lo mau jungkir balik nggak
usah kirim-kirim ke temen gue. Nggak tahu diri banget lo ya, udah merebut
bangga banget lo pakai dipajang-pajang.” Fara murka. Mulutnya yang sejak tadi ingin ngomel akhirnya kesampaian juga.
“Jaga ya omongan lo, gue bukan perebut suami orang. Istrinya aja yang nggak pecus makanya ditinggalin.” ejeknya.
“Awas ya, gue bakalan hancurin pernikahan lo. Gue doain lo juga di tinggalin, dinikahin sehari saja.” Fara tertawa mengejek.
Gita mengambil ponsel dari tangan Fara, “Dengar ya, teman gue dapat lebih baik daripada cowok pecundang itu. Bilang dia juga sudah bahagia sama pilihannya sekarang. Ambil saja sampah, bekas teman gue. Dasar perempuan tidak tahu diri!” Maki Gita dan langsung mematikan sambungan telponnya.
Anita dan Vian hanya bengong mendengar kebrutalan kedua sahabatnya itu. Mereka berdua memang tidak pernah main-main saat membela sahabatnya.
“Git, anak lo tuh nangis.” Tunjuk Vian saat Aiden tiba-tiba menangis.
“Cup..cup sayang.. kenapa nangis?” Gita menggendong Aiden.
“Maafin mama sama tante ya. Mama nggak marah kok sama Aiden.” Gita menimangnya agar Aiden berhenti menangis.
"Emak kamu emang luar biasa Aiden, hatus terbiasa nanti kamu nak." kata Vian.
“Maksih ya,
kalian benar-benar teman terbest lah.” Anita tertawa. Dia merasa puas meskipun
bukan dia yang memaki calon istri Bayu.
“Gokil
emang, gue sampai tidak bisa berkata-kata sama kalian.” Vian pun hanya bisa geleng kepala.
“Nih ya,
kalau sampai dia kasih undangan pernikahan gue bakalan acak-acak pernikahanya. Sumpah
gue kesel banget.” Fara gemas.
“Gimana
kalau kita datangin saja, kita sabotase.” Tambah Gita.
“Udah deh
kalian jangan kelewat batas, nanti dimarahin Kak Gilang sama Raka loh. Gue udah
iklas kok.” Kata Anita.
“Gue yang
nggak iklas.” Kata Fara.
Gita tiba-tiba
diam dan memandang lekat Anita dan Vian bergantian. Dia kemudian tersenyum.
“Eh.. apa
__ADS_1
nih senyum-senyum mencurigakan lo.” Vian sadar kalau Gita seperti merencanakan
sesuatu kepadanya.
“Vian, geser
dikit deh lo.” Kata Gita.
“Geser
kemana?”
“Geser
mendekat sama Anita.” Gita beranjak dari duduknya. Dia mengatur agar Vian duduk
lebih dekat dengan Anita.
“Gita,
jangan aneh-aneh deh lo.” Kata Anita.
“Nggak aneh,
gue cuma mau lihat doang kalian itu serasi atau nggak.” Kata Gita.
“Memangnya
kenapa kalau serasi atau tidak.” Vian mulai jengah dengan tingkah Gita.
“Diam, wah
serasi banget mana bajunya senada pula.” Katanya sambil tersenyum lebar. Dia mengambil
beberapa foto Anita dan Vian.
“Iya kalian
serasi lo, nikah aja gih kan sama-sama singgel.”
“Mulut lo
Far, main nikah-nikah saja.”
“Mereka
berdua memang gila.” Anita memegang keningnya melihat kelakuan Fara dan Gita.
“Em, bagusan
yang mana ya untuk di post di instagram?” tanya Gita.
“Eh.. kok di
post sih?” Anita dan Vian menolak.
“Anita, lo
juga harus tunjukan kalau lo bahagia tanpa dia. Lo juga nggak kalah bisa cepat
mendapatkan orang yang tepat buat menemani hidup lo.” Kata Gita.
“Gue
korbanya?” kata Vian.
“Kok korban
sih, harusnya itu anugerah karena lo bisa foto sama cewek cantik.”
“Jangan lah
Git, kasian Vian. Nanti nggak ada cewek yang mendekat. Nggak nikah-nikah nanti.”
“Halah, dari dulu juga nggak ada yang mau.” Gita menjulurkan lidah.
“Sialan lo.” Vian manyun.
"Jangan gitu ah.. Kasian tahu." Anita belain Vian.
"Ciee... Dibelain Anita." Fara menggoda Vian dan Anita.
"Girang nih.. Besar kepala di belain. Bisa-bisa melayang sampau angkasa." Tambah Gita.
__ADS_1
"Ck." Vian berdecak, sejak tadi di godain tapi nggak bisa membalasnya.