Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Menghibur Anita


__ADS_3

Tuk..tuk..


Vian mengetuk kaca mobil, Anita tersenyum sambil membuka kaca jendelanya.


“Akhirnya kalian datang juga.” Kata Anita.


“Sorry, tadi perijinan agak sulit.” Kata Gita sambil naik ke mobil.


“Iya, bujuk pak bosnya lumayan lama mana nungguin meeting sama klien lagi.” Ujar Fara.


“Vian buruan cabut yuk.” Kata Fara.


“Ok, kita mau kemana?” tanya Vian.


“Terserah, gue ikut aja kalian mau kemana.” Kata Anita.


Vian menoleh


kearah Gita dan Fara, dia meminta pendapat tentang tempat yang akan mereka


tuju.


“Gimana kalau kita makan ice cream yang ada di dekat sekolah kita dulu.” Saran Fara.


“Jangan, itu hanya akan membuat Anita semakin mengingat Kak Bayu.  Gue ada ide gimana kalau kita makan bakso mercon yang ada di dekat rumah kita.” Ajak Gita.


“Boleh-boleh, sekalian biar Anita luapkan kekesalanya dengan makan pedas.” Kata Fara.


“Harusnya kan kasih yang dingin-dingin kenapa di panasin gini sih.” Kata Vian.


“Ya terus kita mau kemana Vian?” Keluh Gita.


“Ikut gue aja, kalian pasti senang lihat tempatnya.” Kata Vian.


“Ok.”


Sepanjang perjalan menuju tempat yang disarankan Vian, Gita dan Fara mencoba menghibur Anita. Sampai akhirnya mereka pada tidur karena perjalanan jauh, tinggal Vian


sendirian.


“Bangun, udah sampai.” Vian membangunkan teman-temannya.


Mereka bertiga langsung membuka mata, Gita meregangkan kedua tangannya yang pegal karena menggendong Aiden.  Gita menyiapkan troli untuk membawa Aiden agar dia tidak menggendongnya.


“Sayang, kita jalan-jalan.” Katanya sambil mendorong trolinya.


“Ih.. tempatnya bagus deh. Kapan-kapan kita datang kesini bareng-bareng lagi yuk. Gue


mau ajak Raka sama Rafa sekalian.” Kata Fara.


“Ok, boleh-boleh aja. Gimana kalau weekend besok kita atur aja jalan-jalan.” Gita


setuju. Sudah lama juga mereka tidak jalan-jalan bareng di tambah lagi setelah


dia melahirkan.


Mereka seru


ngobrol namun Anita seakan tidak tertarik mengobrol bareng Gita, Fara dan Vian.


Dia terus memandangi ponselnya, dengan mata yang nanar.


“Nit, kita


datang kesini buat temani lo. Tapi lo kenapa asyik sama hp lo?” tanya Vian.


“Em..” Anita


kaget.


“Apaan sih


yang lo lihat, kenapa lo nggak happy masih saja sedih. Kita udah jauh-jauh


kesini biar lo seneng.” Kata Fara.


“Sorry..”


Anita menaruh ponselnya.


“Apa sih


yang lo lihat?” Gita mengambil ponsel milik Anita.

__ADS_1


Dia membaca


pesan dari nomor baru, sepertinya dia adalah calon istri Bayu yang mengirimkan foto


pertunangannya. Dia juga mengirim kata-kata yang menyakiti hati Anita.


“Sialan


cewek ini, gue pingin banget jambak rambutnya.” Gita tersulut emosi.


“Ada apaan


sih Git?” Fara melihat ponsel milik Anita.  Fara pun sama emosinya saat membaca pesannya.


“Memang


tidak tahu diri ya.” Katanya sambil menekan gambar telepon. Fara langsung


menlpon nomor itu.


“Eh.. Fara lo ngapain?” Anita meminta ponselnya namun Fara langsung berdiri agar tak di ambil oleh Anita.


“Halo..”


“Heh! Cewek murahan..


perebut suami orang! Lo mau tunangan, nikah atau lo mau jungkir balik nggak


usah kirim-kirim ke temen gue. Nggak tahu diri banget lo ya, udah merebut


bangga banget lo pakai dipajang-pajang.” Fara murka. Mulutnya yang sejak tadi ingin ngomel akhirnya kesampaian juga.


“Jaga ya omongan lo, gue bukan perebut suami orang. Istrinya aja yang nggak pecus makanya ditinggalin.” ejeknya.


“Awas ya, gue bakalan hancurin pernikahan lo. Gue doain lo juga di tinggalin, dinikahin sehari saja.” Fara tertawa mengejek.


Gita mengambil ponsel dari tangan Fara, “Dengar ya, teman gue dapat lebih baik daripada cowok pecundang itu. Bilang dia juga sudah bahagia sama pilihannya sekarang. Ambil saja sampah, bekas teman gue. Dasar perempuan tidak tahu diri!” Maki Gita dan langsung mematikan sambungan telponnya.


Anita dan Vian hanya bengong mendengar kebrutalan kedua sahabatnya itu. Mereka berdua memang tidak pernah main-main saat membela sahabatnya.


“Git, anak lo tuh nangis.” Tunjuk Vian saat Aiden tiba-tiba menangis.


“Cup..cup sayang.. kenapa nangis?” Gita menggendong Aiden.


“Maafin mama sama tante ya. Mama nggak marah kok sama Aiden.” Gita menimangnya agar Aiden berhenti menangis.


"Emak kamu emang luar biasa Aiden, hatus terbiasa nanti kamu nak." kata Vian.


“Maksih ya,


kalian benar-benar teman terbest lah.” Anita tertawa. Dia merasa puas meskipun


bukan dia yang memaki calon istri Bayu.


“Gokil


emang, gue sampai tidak bisa berkata-kata sama kalian.” Vian pun hanya bisa geleng kepala.


“Nih ya,


kalau sampai dia kasih undangan pernikahan gue bakalan acak-acak pernikahanya. Sumpah


gue kesel banget.” Fara gemas.


“Gimana


kalau kita datangin saja, kita sabotase.” Tambah Gita.


“Udah deh


kalian jangan kelewat batas, nanti dimarahin Kak Gilang sama Raka loh. Gue udah


iklas kok.” Kata Anita.


“Gue yang


nggak iklas.” Kata Fara.


Gita tiba-tiba


diam dan memandang lekat Anita dan Vian bergantian. Dia kemudian tersenyum.


“Eh.. apa

__ADS_1


nih senyum-senyum mencurigakan lo.” Vian sadar kalau Gita seperti merencanakan


sesuatu kepadanya.


“Vian, geser


dikit deh lo.” Kata Gita.


“Geser


kemana?”


“Geser


mendekat sama Anita.” Gita beranjak dari duduknya. Dia mengatur agar Vian duduk


lebih dekat dengan Anita.


“Gita,


jangan aneh-aneh deh lo.” Kata Anita.


“Nggak aneh,


gue cuma mau lihat doang kalian itu serasi atau nggak.” Kata Gita.


“Memangnya


kenapa kalau serasi atau tidak.” Vian mulai jengah dengan tingkah Gita.


“Diam, wah


serasi banget mana bajunya senada pula.” Katanya sambil tersenyum lebar. Dia mengambil


beberapa foto Anita dan Vian.


“Iya kalian


serasi lo, nikah aja gih kan sama-sama singgel.”


“Mulut lo


Far, main nikah-nikah saja.”


“Mereka


berdua memang gila.” Anita memegang keningnya melihat kelakuan Fara dan Gita.


“Em, bagusan


yang mana ya untuk di post di instagram?” tanya Gita.


“Eh.. kok di


post sih?” Anita dan Vian menolak.


“Anita, lo


juga harus tunjukan kalau lo bahagia tanpa dia. Lo juga nggak kalah bisa cepat


mendapatkan orang yang tepat buat menemani hidup lo.” Kata Gita.


“Gue


korbanya?” kata Vian.


“Kok korban


sih, harusnya itu anugerah karena lo bisa foto sama cewek cantik.”


“Jangan lah


Git, kasian Vian. Nanti nggak ada cewek yang mendekat. Nggak nikah-nikah nanti.”


“Halah, dari dulu juga nggak ada yang mau.” Gita menjulurkan lidah.


“Sialan lo.” Vian manyun.


"Jangan gitu ah.. Kasian tahu." Anita belain Vian.


"Ciee... Dibelain Anita." Fara menggoda Vian dan Anita.


"Girang nih.. Besar kepala di belain. Bisa-bisa melayang sampau angkasa." Tambah Gita.

__ADS_1


"Ck." Vian berdecak, sejak tadi di godain tapi nggak bisa membalasnya.


__ADS_2